
Kaysa segera mengajak suaminya ke dalam kamar. Dia dengan bangga menceritakan dari awal sampai akhir.
Alarik hanya mendengarkan tanpa merespon. Dia pura-pura marah meskipun sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya tersebut.
Kaysa memang memiliki bakat untuk menjadi sutradara sekaligus aktris juga, hal sepele jika keluar dari bibirnya merubah jadi menarik. Alarik juga berpikir jika istrinya jadi sales pasti banyak yang laku terjual. Pokoknya bibir Kaysa itu sesuatu.
"Sudah ceritanya?" tanya Alarik dingin.
"Kak Al tidak bangga padaku?" rengek Kaysa.
"Apa yang perlu dibanggakan kalau tidak patuh pada suami sendiri. Cepat mandi dan kita sholat ashar dulu!" Perintah Alarik tegas.
Kaysa ngeloyor begitu saja masuk ke kamar mandi. Setelah itu Alarik senyum-senyum sendiri melihat ekspresi istrinya yang lucu itu.
Alarik memang butuh kesabaran yang lebih untuk mendidik agar istrinya menjadi lebih dewasa. Namun biarpun Kaysa memiliki sikap yang seperti itu tapi dia juga punya kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Yaitu Selalu peduli pada orang lain dan membela yang lemah agar tidak di tindas. Jika orang lain lebih memilih pura-pura tidak tahu agar aman disaat itu pula Kaysa justru maju melawan ketidak adilan tanpa rasa gentar.
Setelah sholat berjamaah, Kaysa mencium lengan suaminya dan menarik sampai tubuh Alarik rubuh diperlukannya.
Alarik hanya diam, pemuda itu ingin melihat apa yang akan dilakukan istrinya untuk meminta maaf.
"Suamiku, maafkan aku ya," ucap Kaysa.
Alarik masih diam tak merespon. Kaysa kesal juga dikacangin seperti itu, dia akhirnya mencium bibir suaminya berkali-kali. Tapi Alarik masih saja diam dan cuek.
"Kalau tidak mau berbicara aku tidak mau pulang ikut ke kota A. Lebih baik di sini saja bersama Ayah dan Bunda yang tidak pernah marah padaku," kata Kaysa cemberut.
"Yakin tidak mau ikut bersamaku? Nanti setiap malam tidak punya mainan mengasyikkan loh," jawab Alarik sudah mencair.
"Ku pukul," teriak Kaysa mendorong tubuh suaminya. Dia sendiri menindih di atas sambil menggigit janggut Alarik.
"Jangan di situ, bawahnya saja," goda Alarik menahan tawa.
Kaysa biarpun sering berpikiran mesum tapi jika digoda dengan kata-kata seperti itu dia merasa malu.
Kaysa mencium bibir Alarik dengan gemas, seperti memakan tebus yang dikuras habis sarinya. Sebenarnya Alarik sudah sangat bernafsu, tapi begitu mendengar suara Ayah Syauqi Alarik segera bangun.
"Kita lanjutkan nanti malam di rumah saja ya! Tadi Syadev menelepon meminta kita untuk menjenguk sebentar anak-anak panti," ucap Alarik.
"Oke, berarti nanti setelah makan malam kita langsung pamit pulang saja," jawab Kaysa senang.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Setelah selesai kuliah Syadev mengantarkan istrinya masuk ke dalam mobil milik Inge.
"Istriku, jaga diri baik-baik ya? Kita berpisah hanya sementara saja. Kalau kamu ingin makan apa-apa bilang saja langsung pada Inge. Dan setiap saat harus sering-sering mengabari," ucap Syadev lembut.
"Aku sudah biasa apa-apa sendiri, jangan khawatir tentang aku. Justru aku khawatir padamu bagaimana nanti kamu makan?" tanya Anggun sedih.
"Soal makan tidak masalah, nanti bisa beli. Kamu jangan lupa sholat ya?" balas Syadev perhatian.
"Aishh…Kupingku tidak tahan sekali! Kalian ini seperti mau berpisah selama bertahun-tahun saja!" Sergah Inge yang kepanasan mendengar keromantisan Syadev dan istrinya.
"Ini tidak seberapa, bagaimana kalau kamu jadi aku? Sudah jauh dari pacar eh malah setiap hari lihat yang beginian," timpal Darren.
"Kalau tidak mau melihat tinggal saja di hotel, dari pada menumpang gratisan di rumahku," sindir Syadev kesal.
"Aku hanya bercanda kamu sangsi banget sih," jawab Darren.
" Nanti biar aku bilang Papamu, buat belikan kamu rumah sendiri kalau tidak betah tinggal di hotel," sindir Syadev.
__ADS_1
"Alahhh… Kau ini tahu kan kalau aku takut sendirian?" rengek Darren.
"Minta Mamamu ke sini untuk menemani," balas Syadev masih kesal.
Anggun dan Inge hanya tertawa melihat perkelahian kedua sahabat itu.
"Baiklah aku mau segera pulang dulu," sela Inge.
"Inge, jangan ajak Anggun ke tempat macam-macam ya!" Kata Syadev.
"Santai," jawab Inge melajukan mobilnya.
Setelah kepergian istrinya, Syadev juga masuk ke dalam mobilnya sendiri. Seperti biasa dia menyuruh Darren yang menyetir.
"Syadev, apa kamu yakin jika membiarkan Anggun tinggal bersama Inge. Aku dengar dia pergaulannya bebas loh," tanya Darren.
"Kamu pikir siapa lagi yang bisa aku mintai tolong? Dari pada menyuruh Anggun di hotel kasihan dia sendirian. Apalagi bahasa Inggrisnya masih kaku begitu," jawab Syadev.
Darren juga berpikiran sama, untuk sementara pemuda itu juga tidak bisa mengantar jemput istri temannya untuk kuliah.
Syadev segera pulang dan berganti pakaian kantor, menggunakan jas dan dasi rapi membuat dia terlihat gagah seperti Syauqi Malik. Biarpun masih muda kharisma Syadev sudah kuat seperti seorang pimpinan.
Di kantor biarpun Syadev masih baru tapi banyak yang segan padanya, tatapan yang seperti elang juga gaya bicara yang lugas membuat dia tampak berwibawa. Apalagi keistimewaan Syadev yang oaling unggul adalah bisa banyak bahasa asing dan jenius.
Dalam pertemuan Syadev menunggu tamunya alias Papanya Darren di sebuah restoran mewah yang sudah disiapkan perusahaan.
Dony sendiri kaget saat melihat jika yang dijadikan perwakilan adalah Syadev.
"Selamat datang, Tuan Dony," sapa Syadev tenang dan berwibawa.
"Sial, rasanya aku ingin memukul anak ini. Bisa-bisanya melihat aku dengan santai begini," batin Dony meringis
"Saya adalah perwakilan dari perusahaan yang hendak bekerja sama dengan perusahaan Anda," jawab Syadev formal.
Gedubrak…. Dony ingin pingsan saja melihat gaya bicara Syadev yang keren seperti Syauqi. Rasanya anak itu memang jelmaan Syauqi. Sangat cocok dijadikan sebagai pimpinan.
Mau tak mau Dony bersikap formal juga, Papa Darren itu tidak mau terlihat konyol di depan anak ingusan saat bekerja.
Setelah semua disepakati, mereka berjabat tangan.
"Apa kabar, Om Dony. Tidak mengira jika kita bisa bertemu dalam rangka pekerjaan," sapa Darren dengan sikap seperti keponakan.
"Aku kira kamu akan memanggilku dengan sebutan Tuan Dony terus," sindir Dony.
"Aku ini sedang belajar bersikap profesional om," balas Syadev tertawa lirih.
"Hei, kenapa kamu dan Darren tinggal di mana? Kenapa tadi pagi aku cari dihotel tidak ada?" tanya Dony mulai mengintrogasi.
"Aku beli rumah kecil yang dekat Universitas, lagi pula jika dipikir malah lebih irit beli sekalian dari pada tinggal di hotel teman Ayah itu," jawab Syadev santai.
"Lalu kenapa pindah Kuliah segala? Bukankah Universitas yang disarankah Ayahmu itu yang terbaik?" tanya Dony tak mengerti.
"Kalau aku di tetap sekolah di sana bagaimana dengan Darren Om, nilainya sama sekali tidak masuk kualifikasi," jawab Syadev tanpa basa-basi.
Dony seakan tertimpa langit ke tujuh. karena apa yang barusan dikatakan putra bosnya sama saja menghina dirinya.
"Kamu memang anak yang baik, mau mengalah demi teman," Hanya itu yang bisa terucap dari bibir Dony.
"Sebentar lagi Dony datang menjemput, sebaiknya Om Dony langsung ikut kami saja. Di sana masih ada satu kamar yang kosong," ucap Syadev santai.
__ADS_1
Dony mengira jika awalnya Syadev akan terlihat panik dan cemas jika ditanya tempat tinggal, siapa sangka justru mengejutkan seperti ini seolah tidak ada sesuatu yang dirahasiakan.
Yah, Dony harus ingat. Jika yang saat ini tengah dihadapi adalah Putra Syauqi yang licik seperti rubah berekor sembilan.
Rupanya yang dinanti-nantikan datang juga, Darren datang dengan senyuman cerianya.
"Papa," teriak Darren girang.
"Ya ampun Putraku, kamu sekarang tambah berisi saja," balas Dony lega.
"Iyalah? Ayo masuk," pinta Darren.
Syadev duduk di kursi belakang, dia memberikan kesempatan pada mereka untuk saling mengobrol.
"Mamamu hampir setiap malam menangis mengkhawatirkan kamu jika tidak cocok dengan makanan dan cuaca di sini," ucap Dony.
"Tenang saja Ayah, selagi ada Syadev semua baik-baik saja," jawab Darren jujur.
Dony sendiri juga merasa lega jika putranya bersama Syadev, biarpun putra Syauqi itu masih muda tapi sangat bisa diandalkan.
"Kamu bawa mobil siapa?" tanya Dony.
"Milik Syadev," jawab Darren.
"Syadev, setahuku Ayahmu meminta kamu untuk diantar jemput oleh sopir. Tidak boleh menyetir sendirian," tanya Dony gantian pada anak yang duduk dibelakangnya.
"Aku memang belum mobil baru, tapi aku tidak menyetir. Tanya saja pada Daren," jawab Syadev santai.
" Iya, Pa. Jadi setiap hari aku yang mengantar jemput Syadev," jawab Darren meyakinkan.
Dony tidak mengira jika dengan mudahnya Syadev lolos daru semua ini.
"Lalu kamu beli mobil dan rumah menggunakan uang dari mana? Kamu bekerja juga baru sebentar," tanya Dony penasaran.
"Selama pindah SMA di sini aku tidak menahan diri lagi untuk menunjukkan kemampuanku, jadi aku mewakili lomba antar pelajar jenius. Aku memang dapat banyak uang, tapi karena Ayah juga sering mengirim uang juga, jadi uang hasil beasiswa aku tabung," jawab Syadev santai.
Dony terkejut juga, tidak mengira jika setelah Syadev pisah dengan Kaysa prestasinya meroket gemilang.
"Aku juga masih ada sisa dari penjualan mobilku yang lama, ditambah kemarin Kak Al ke sini bersama Kaysa. Dia memberikan aku uang yang banyak," jawab Syadev.
"Berapa?" tanya Dony semakin penasaran.
"Sekitar enam bulan gaji Om Dony," jawab Syadev jujur.
"Wah banyak sekali! Tapi sekarang Alarik sudah menjadi pemilik perusahaan, jadi uang segitu baginya tidak apa-apa," ujar Dony ikut senang.
Akhirnya tanpa terasa mereka sampai di rumah mini Syadev. Dony diam-diam bangga juga melihat anak-anak itu yang tumbuh dewasa dengan cepat.
Dony melihat tidak adanya kehidupan perempuan di rumah itu. Tapi dia juga yakin jika informasi dari mata-matanya tidak mungkin salah.
"Syadev, kenapa kamu bekerja? Aku rasa Ayahmu memeberikan jatah bulanan yang lebih dari cukup," tanya Dony masih tak ingin melepaskan Syadev begitu saja.
"Om Dony kan tahu, jika kelak akulah penerus Ayah. Jadi kalau hanya belajar teori saja itu tidak cukup. Aku harus terjun langsung dari nol. Biar nanti aku juga bisa mengembangkan perusahaan Ayah lebih baik lagi," jawab Syadev masuk akal.
"Apa Ayahmu sudah tahu?" tanya Dony memancing.
"Belum, makanya aku harap Om Dony tidak perlu menceritakan tentang aku yang bekerja ini pada Ayah. Takutnya Ayah cemas karena takut mengganggu belajar," pinta Syadev.
Dony tersenyum kecut, permintaan Syadev barusan sama saja menyuruh untuk mengubur diri hidup-hidup. Sebab kedatangannya ke sini selain bekerja juga bertugas menyelidiki Syadev. Tiada di sangka jika Syadev seperti belut yang susah di tangkap.
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya, biar Author semangat Up terus 🤗