CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Indahnya berkeluarga


__ADS_3

Nayla mengakui jika suaminya sangat perkasa, semalaman dia tidak tidur karena terus di hajar Rendra.


Sampai Adzan Subuh, mereka baru selesai,


"Bagaimana? Masih mau menantang lagi?" tanya Rendra menggoda istrinya.


"Kali ini ampun deh! Aku sudah lelah sekali," jawab Nayla mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


"Ayo kita mandi sekalian! Setelah itu kita sholat," ucap Rendra sambil bangkit dari ranjang.


Nayla segera bangun, namun sela-sela pahanya terasa sakit dan nyeri.


Melihat istrinya yang merintih pelan, Rendra langsung menghampiri istrinya,


"Apakah sakit sekali?" Rendra sangat cemas.


"Iya, setelah selesai terasa nyeri," jawab Nayla jujur, karena ini adalah pengalaman pertamanya.


"Apa kita lanjutkan lagi? Supaya tidak terasa sakit," goda Rendra tersenyum nakal.


Nayla langsung memukul lengan suaminya lumayan keras,


"Ini saja pinggangku serasa mau patah!" protes Nayla, wajahnya memerah menahan malu.


"Maafkan aku ya? lain kali aku akan lebih lembut lagi," tutur Rendra lembut sambil memeluk tubuh ramping istrinya.


"Jangan! Lain kali lebih hot lagi!" jawab Nayla tertawa.


Rendra tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya, tapi kenakalan Nayla malah membuat Rendra selalu merindukannya.


Rendra menggendong Nayla ke kamar mandi, setelah itu mereka Sholat subuh berjamaah.


"Sayang, ayo kita tidur!" kata Rendra sambil menarik tubuh istrinya berbaring di ranjang.


"Yoo! mau mempermalukan istri sendiri di depan mertuanya ya?" sindir Nayla kesal.


"Apa maksud kamu?" tanya Rendra tak mengerti.


"Masa iya, hari pertama aku bertemu mama mertua langsung menunjukkan sikap pemalas! Izinkanlah istrimu ini untuk mencari muka sedikit sebagai menantu yang baik," sergah Nayla sambil melepas pelukan dari suaminya.


Rendra tertawa keras, dia tidak menyangka istrinya sangat lucu sekali,


"Sudahlah! Tanpa perlu mencari muka, Mama sudah sangat menyayangimu," jawab Rendra menarik tubuhnya Nayla lagi di pelukannya.


"Tidak! aku masih punya rasa malu," balas Nayla kesal.


"Baiklah... baiklah, terserah kamu saja! sekarang aku mau tidur dulu," bujuk Rendra mengalah, meskipun Nayla lembut tetapi kalau sudah memiliki keinginan susah di cegah.


Nayla berdiri dan mencium pipi Rendra, kemudian dia segera keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Di ruang tamu Mama mertuanya sedang ngopi,


"Kok sudah bangun? duduk sini temani Mama ngobrol," Laela tersenyum ramah.


"Iya, Ma. Orlin belum bangun ya?" Nayla duduk di samping mertuanya, dia merasa nyaman karena Mamanya Rendra sangat hangat.


"Mungkin sebentar lagi, kamu mau minum apa Nak? Biar dibuatin Bik Imah," tanya Laela lagi.


"Tidak usah, Ma. Nanti biar Nayla buat sendiri saja," tolak Nayla halus.


"Kamu jangan sungkan begitu, kalau mau apa-apa tinggal suruh Bik Imah. Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan apapun, cukup sayang sama Orlin saja Mama sudah sangat bahagia, kasian dia selama ini tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Dan aku sebagai neneknya juga kejam, baru menemuinya setelah dia sudah besar," tutur Laela dengan raut wajah pilu.


Nayla terenyuh juga, karena dia sendiri sebenarnya sudah lama mengetahui cerita itu dari suaminya.


Tiba-tiba mereka berdua di kejutkan dengan suara Rendra,


"Pagi, Ma. Orlin masih belum bangun?" sapa Rendra sopan pada Mamanya.


"Belum, biasanya jam setengah enam baru bangun," jawab Laela berubah riang, karena dia tak pernah ingin membuat putranya gelisah.


"Ma, nanti bilang sama Orlin kalau Mama dan Papanya sedang ada urusan penting sehingga tidak bisa mengantar sekolah dulu, tapi nanti pulangnya dijemput dan akan di ajak jalan-jalan," pinta Rendra.


"Iya, hati-hati kalian berdua." jawab Laela.


Setelah berpamitan Rendra menarik lembut lengan istrinya, kemudian mengajaknya keluar rumah dan masuk ke mobil.


"Ada urusan penting apa, Mas?"tanya Nayla penasaran.


Nayla hanya diam dan mengikuti saja apa yang di perintahkan suaminya, dua puluh menit kemudian Rendra menghentikan mobilnya di parkiran Hotel yang tidak jauh dari tempat sekolah Orlin.


"Mas, ngapain kita ke hotel?" tanya Nayla heran.


"Ya tidur, mau ngapain lagi memang?" jawab Rendra asal-asalan.


"Kenapa harus di hotel?" tanya Nayla lagi penasaran.


"Kalau tidur sendiri tidak enak, sedangkan di rumah kamu pasti merasa sungkan," jawab Rendra pengertian.


"Yah, mau bagaimana lagi! kalau dipaksa, aku juga nggak enak terus-terusan menolak," balas Nayla santai, dia langsung turun dari mobil dan tidak sabar segera tidur.


Nayla memang sangat mengantuk, dan tubuhnya rasanya lemas sekali. Setelah memesan kamar hotel akhirnya Nayla menjadi orang pertama yang semangat untuk berbaring di ranjang.


Rendra tertawa, karena dia tahu jika istrinya sebenarnya pemalas dan tukang tidur. Apalagi setelah semalaman tidak tidur, dia sangat menghawatirkan kesehatan istrinya.


Hanya beberapa detik, keduanya sudah terlelap dalam pelukan yang hangat.


****************


Tak berbeda jauh dengan Syauqi, dia juga semalaman begadang untuk menjaga kedua bayinya.

__ADS_1


Setelah sholat subuh Syauqi tertidur sampai jam tujuh pagi.


Sebenarnya Zhia tidak tega membangunkan suaminya, namun karena Syauqi belum makan dia menjadi khawatir,


"Mas, Ayo makan dulu!" bujuk Zhia lembut.


Mendengar suara merdu istrinya Syauqi segera bangun dengan senyuman manisnya,


"Dimana Kaysa dan Syadev?" tanya Syauqi penasaran.


"Lagi mau di mandiin sama Mama dan Kak Tia," jawab Zhia.


Syauqi langsung bangkit, dia segera ke ruang santai menghampiri kedua anaknya,


"Biar aku yang mandiin saja," pinta Syauqi.


"Syauqi! Mama di sini cuma satu Minggu, masa tidak boleh ikut mengurus cucu sendiri," sergah Mamanya Syauqi.


"Iya, Syauqi! Kak Tia juga pengen ikut mandiin keponakan tampan ini," timpal Kak Tia.


"Syauqi! Kamu jangan pelit-pelit gitu dong, biarlah Kak Tia dan Mama yang mengurus Kaysa dan Syadev selama mereka di sini," sela Elly sambil tertawa.


Merasa di keroyok tiga wanita, Syauqi memilih mengalah.


"Sudah Mas! Sebaiknya kita makan dulu saja," bujuk Zhia lembut.


"Apa kamu belum sarapan?" tanya Syauqi.


"Ya belumlah! istrimu itu mana mungkin mau makan kalau kamu sendiri belum makan," sindir Elly.


"Iya Maaf, aku ketiduran. Semalam begadang jagain Kayla dan Syadev," jawab Syauqi membela diri sendiri.


"Kalau begitu nanti malam biar Kaysa dan Syadev tidur di kamarku ya?" bujuk Elly.


"Tidak! Kak Elly kan sedang hamil tua, tidak boleh begadang," sergah Syauqi.


"Kamu ini pelit sekali, Qi!" jawab Elly kesal.


Semua tertawa, karena pagi-pagi sudah di suguhkan pertengkaran kakak-beradik itu.


Syauqi segera menghampiri Zhia yang sedang menantinya sarapan,


"Lain kali kalau mau sarapan jangan menunggu aku! Kamu kan butuh nutrisi banyak supaya ASI-nya lancar," tutur Syauqi lembut pada istrinya.


"Iya, Mas. Aku memang belum sarapan nasi, tetapi tadi pagi aku sudah makan roti, buah, pisang goreng, minum susu," jawab Zhia tertawa lirih.


Syauqi ikut tertawa, dia tahu jika Setelah melahirkan porsi makannya dua kali lipat darinya. Mungkin karena ASI-nya di ambil sehingga mudah merasa lapar.


"Sudah makan apa belum, Bu?" tanya Syauqi kepada ibunya Zhia yang lewat sambil menuntun Alifya.

__ADS_1


"Sudah, Nak Syauqi," jawab Ibunya Zhia ramah, dia segera bergabung bersama orang-orang yang sedang memandikan kedua cucu kecilnya.


Kaysa dan Syadev memang sangat lucu dan menggemaskan, mereka menjadi rebutan karena semua ingin menggendongnya. Syauqi yang sangat ingin bermain dengan kedua anaknya saja hanya mendapat giliran saat malam ketika semua orang sudah tidur.


__ADS_2