CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 18


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan antara Syadev dan Anggun, mereka sama-sama merasa canggung dan gugup. Hanya saja Syadev masih memasang wajah cool jadi masih terlihat biasa.


"Kenapa aku jadi begini? Malu-maluin saja," batin Syadev kesal pada diri sendiri.


"Syadev, terima kasih karena sudah membantu aku," ucap Anggun yang mulai berani mengatakannya.


"Bukan masalah, karena jika aku diam saja nanti Kaysa bisa mengamuk padaku," jawab Syadev yang seketika mendapat ide menggunakan nama Kaysa.


"Iya, Kaysa sangat baik. Dulu dia juga pernah menolong aku. Bahkan dia sampai berani menentang mereka di depan Ketua OSIS," jawab Anggun.


Syadev hanya tertawa, karena saudara perempuannya itu dipuji layaknya seorang wonder women.


Lama-lama mereka berdua mulai bisa mengobrol dengan santai, rasa kecanggungan di antara mereka sedikit demi sedikit luntur.


"Kenapa kamu bisa tinggal di panti asuhan? Bukankah kamu masih punya nenek?" tanya Syadev penasaran.


"Nenekku sudah meninggal. Aku hanya anak yatim piatu, dan akhirnya para tetangga membawa aku ke panti asuhan," jawab Anggun tersenyum tegar.


Syadev melirik sebentar ke arah Gadis di sampingnya, kemudian fokus menatap jalanan di depan.


"Kalau diperhatikan dia manis juga. Astaga... pikiran konyol apa ini," batin Syadev bergejolak.


"Tadi aku melihat seperti ada dendam lama di antara kamu dan Siska, apakah kalian berdua pernah mengenal sebelumnya?" tanya Syadev.


"Bibirku ini kenapa tidak bisa diam? Aku masih saja terus penasaran mengenai gadis ini," gumam Syadev dalam hati.


Anggun tersenyum senang, karena Syadev sudah mulai bersikap ramah padanya. Dulu setiap di dekatnya saja gadis itu merasa ketakutan.


"Dulu aku dan Siska satu angkatan saat di SMP, dan dia berpacaran dengan Kak Teguh, anak dari pemilik Panti Asuhan. Karena Aku dan Kak Teguh dekat seperti Kakak Adik akhirnya Siska cemburu dan sekarang mereka berdua putus," jawab Anggun panjang lebar.


"Sekarang yang namanya Teguh itu di mana?" tanya Syadev.


"Aku tidak tahu, karena semenjak kita lulus SMP keluarga Kak Teguh pindah entah ke mana. Dan Panti Asuhan juga diserahkan pada Pamannya Kak Teguh," jawab Anggun.


"Owh..." ucap Syadev.


Mereka mengobrol sampai tidak terasa sudah berada di pekarangan rumah megah milik Syadev.


Di kamar sudah ada banyak orang, termasuk orang tua Syadev.


"Kak Anggun, sepertinya hari ini tidak ada jadwal les," kata Flora pada guru lesnya.


"Iya, Flora. Kak Anggun datang ke sini karena ingin menengok Kak Kaysa," jawab Anggun lembut.


"Syadev, Bunda sama Ayah akan ke rumah nenek lagi. Sakitnya masih belum sembuh," kata Zhia.


"Aku ikut, Bunda, Ayah," rengek Flora.


"Iya, sayang. Bunda sudah menyiapkan baju seragam dan buku-buku untuk jadwal besok. Jadi besok kamu berangkat sekolah sama Ayah dari rumah nenek," jawab Zhia pada Putri kecilnya.


"Aku juga ikut," pinta Syadev.


"Kamu di rumah saja menjaga Kakakmu!" perintah Syauqi pada putranya.


"Aku tidak mau, karena nanti pasti Kaysa meminta yang aneh-aneh. Merepotkan sekali," keluh Syadev.


"Kaysa nanti kalau kamu mau apa-apa tinggal bilang padaku saja! Dengan senang hati aku akan membelikan untukmu," sela Darren pada Kaysa.


"Seandainya saja yang menjadi saudaraku itu Darren," sindir Kaysa sambil melirik ke arah Syadev.


"Kenapa kamu tidak menginap di sini sekalian! Dengan Zahra," kata Syadev pada Darren.


"Apa boleh, Om Syauqi?" tanya Darren beralih pada sahabat Papanya itu.


"Ide yang bagus! Kalian semua malam ini menginap di sini saja. sejak dari tadi pagi aku merasa bosan dan jenuh karena sendirian," sela Kaysa antusias.


"Baiklah," jawab Syauqi tersenyum senang. Daddy tampan itu merasa bahagia melihat senyum ceria putrinya.


"Kaysa, Syadev. Bunda Berangkat dulu ya. Dan kalian jangan sungkan-sungkan di sini. Kalau lapar tinggal minta pada pelayan, Assalamu'alaikum," ucap Zhia berpamitan sambil memegang tangan Flora.


"Wa'alaikum salam," jawab semuanya bersamaan.


Kemudian Syauqi, Zhia dan Flora keluar dari kamar Kaysa.


"Wajahmu kenapa, Anggun?" tanya Kaysa yang melihat bekas merah di wajah temannya.


Anggun hanya diam menunduk.


"Pasti ulah Siska dan Maya lagi. Berani-beraninya dia menindas temanku, akan aku hajar mereka sampai babak belur," umpat Kaysa berapi-api.


"Dari pada memikirkan menghajar orang lain, lebih baik pikirkan kesembuhan kakimu dulu!" sindir Syadev sambil memberikan Bungkusan plastik.


Kaysa tidak menghiraukan ucapan saudara kembarnya barusan. Dia lebih tertarik dengan bungkusan plastik yang berisi keripik singkong rasa balado.


"Hem... enaknya! Ini sih bisa cukup untuk cemilan nanti malam," ucap Kaysa sambil makan keripiknya.


Syadev tak habis pikir pada saudara kembarnya itu, dalam keadaan sakit masih saja doyan makan dan ngemil.


"Kaysa, Maaf. Sepertinya aku tidak bisa menginap di sini, aku takut kalau nanti di cari Paman penjaga Panti," ucap Anggun merasa tidak enak.


"Bagaimana kalau aku dan Darren antar kamu ke panti minta Izin?" sela Zahra.


"Apa tidak merepotkan kalian?" tanya Anggun.


"Tidak, ayo sekarang!" jawab Darren riang.


"Baiklah, kalau begitu nanti aku ambil buku pelajaran untuk besok dan memetik obat herbal untuk Kaysa," kata Anggun senang.


"Obat herbal?" tanya Kaysa.

__ADS_1


"Iya, di samping Panti ada banyak tumbuhan apotik hidup. Begini-begini aku juga bisa memijat refleksi loh," jawab Anggun.


"Wah hebat, ayo buruan biar Kaysa cepat sembuh," kata Darren bersemangat.


Mereka bertiga segera berpamitan keluar. Syadev yang dari tadi hanya diam tapi matanya melihat ke arah Anggun. Dan saudara kembarnya itu menyadarinya.


"Ha ha ha ha ha... " tawa Kaysa sangat keras.


"Apa yang sedang kamu tertawakan?" tanya Syadev kesal.


"Tidak kusangka. Pangeran Syadev yang seperti robot bisa jatuh cinta," sindir Kaysa.


"Tertawalah sepuasmu!" balas Syadev jutek sambil merebut bungkusan keripik singkong dan membawanya ke luar dari kamar Kaysa.


"Syadev! Kembalikan padaku!" teriak Kaysa.


"Ambil sendiri!" jawab Syadev sambil masuk ke kamarnya sendiri.


Kaysa kesal sekali, tapi dia terlalu malas ke luar karena kakinya masih terasa nyeri.


"Tenang, masih ada stok banyak dari Darren dan Zahra," gumam kaysa sambil membuka bungkusan plastik di sampingnya.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Alarik sekarang sudah berhasil menduduki kursi yang seharusnya menjadi miliknya sejak dulu. Namun pekerjaan membuat dirinya menjadi semakin sibuk.


Tiba-tiba ada telepon kantor berdering. Alarik segera mengangkatnya.


"Pak, ada tamu perempuan yang katanya saudara Anda," ucap seseorang dari seberang.


"Silahkan masuk," jawab Alarik kemudian menutup teleponnya kembali.


Beberapa menit kemudian datang seseorang yang membuat Alarik semakin terkejut.


"Orlin?" ucap Alarik.


"Kenapa melihatku kamu seperti melihat hantu?" tanya Orlin tertawa lirih.


"Tidak, aku kira kamu sudah kembali ke London," jawab Alarik sambil mengajak sahabatnya itu duduk di sofa.


"Setelah aku pikir-pikir sepertinya aku ingin tinggal di Indonesia saja, biar bisa melihat Kakek dan nenek," jawab Orlin.


"Terus, rencana kamu selanjutnya bagaimana?" tanya Alarik.


"Karena sahabatku sekarang sudah berhasil mengambil alih perusahaannya, makanya aku datang ke sini untuk melamar menjadi sekertaris pribadi," ucap Orlin tertawa.


"Apa Om Rendra mengizinkanmu?" tanya Alarik.


"Tentu saja, aku sudah dewasa. Dan kini saatnya aku mandiri," jawab Orlin tegas.


"Baiklah, kebetulan aku juga butuh seseorang yang bisa aku percaya di sini," jawab Alarik senang.


Alarik sudah mengenal temannya itu dari kecil, dia tahu jika Orlin cerdas dan juga cekatan.


"Wah, ini scincare milik siapa?" tanya Orlin yang melirik ke arah meja kantor.


"Itu punya Kaysa, dia meminta kompensasi karena kemarin aku tinggal disaat dia sakit," jawab Alarik santai.


"Berarti Kaysa memiliki selera sangat tinggi," cetus Orlin tertawa lirih.


"Dia juga baru kali ini meminta barang, biasanya yang diminta adalah makanan," balas Alarik.


"Mungkin karena dia tahu jika Kakaknya sekarang sudah kaya raya dan menjadi bos besar," ujar Orlin.


"Kaysa malah tidak tahu tentang ini. Dan jangan kamu beritahu dulu ya?" pinta Alarik.


"Kenapa? Jangan-jangan dia juga tidak tahu kalau kamu kakak angkatnya?" tanya Orlin heran.


"Iya, kalau sudah saatnya akan aku beritahu semuanya. Tapi untuk sekarang jangan dulu! Takutnya kalau dia kecewa," jawab Alarik serius.


Orlin mengerti, karena selama ini Kaysa sangat dekat dengan Alarik seperti kakak kandung sendiri.


"Kapan kamu pulang ke rumah?" tanya Orlin lagi.


"Aku tidak tahu, pekerjaan masih menumpuk karena banyak yang harus aku pelajari," jawab Alarik.


"Aku besok pagi mau ke sana. Aku sangat penasaran dengan rumah baru Om Syauqi karena aku belum pernah melihatnya," ucap Orlin.


"Kalau begitu aku nitip Skincare ini untuk Kaysa ya! Bilang maaf jika aku sedang sangat sibuk,"


"Siap, Bos," jawab Flora riang.


Setelah itu Flora pamit pulang, gadis itu tahu jika Alarik sangat sibuk.


"Aku tahu jika niat Orlin ke sini untukku. Tapi aku juga tidak bisa menolak. Karena selama ini keluarga dia sudah banyak membantu aku. Namun secara perlahan aku akan memberitahu padanya kalau akau hanya mencintai Kaysa. Tapi aku harus sabar, menunggu saat Kaysa sudah dewasa dan keadaan sudah mendukung," batin Alarik sambil beralih ke kursi kerjanya lagi.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Malam ini Kaysa sangat senang karena teman-temannya berkumpul di kamarnya. Apalagi anggun sedang mengurut kakinya dengan sesuatu yang dia tidak tahu dari apa bahannya.


"Anggun, nyaman sekali. Sepertinya kamu cocok jadi Dokter khusus seperti ini," puji Kaysa.


"Dulu sewaktu aku kecil pernah bercita-cita menjadi Dokter umum. Tapi sepertinya itu hanyalah angan-angan saja," jawab Anggun.


"Jangan menyerah, otakmu cerdas! Kamu harus lebih giat belajar agar bisa mendapat beasiswa khusus kedokteran," ujar Kaysa.


"Itu benar, Anggun. Kamu harus semangat untuk mengejar cita-citamu!" sela Darren.


"Iya, terima kasih. Kalau cita-cita kalian apa?" tanya Anggun penasaran.

__ADS_1


"Aku ingin jadi Dosen sejarah," jawab Darren bersemangat.


"Aku ingin jadi perancang busana," timpal Zahra malu-malu.


"Kalau aku ingin menjadi... apa ya? Aku belum memutuskan," jawab Kaysa kebingungan.


"Kamu cocoknya jadi ratu drama. Sebab aktingmu sangat hebat," sindir Syadev jutek.


Semua tertawa kecuali Kaysa yang mulai ngambek.


"Diam! Mana keripikku tadi?" bentak Kaysa.


"Ambil sendiri di kamar!" jawab Syadev cuek.


"Darren..." panggil Kaysa dengan suara manja.


"Iya, Tuan Putri," jawab Darren yang sudah mengerti. Pemuda itu segera keluar.


Zahra seketika berubah muram.


"Aku ke dapur dulu ya! Aku lapar," ucap Zahra berlalu pergi.


Darren yang baru kembali segera menyerahkan bungkusan plastik pada Kaysa dan berlari mengejar Zahra.


"Aku ikut!" teriak Darren yang suaranya bisa terdengar dari kamar Kaysa.


Kini hanya ada Kaysa, Anggun dan Syadev. Lama-lama Kaysa yang keenakan di pijat perlahan memejamkan matanya dan tertidur pulas.


"Dasar anak itu!" umpat Syadev.


"Kaysa lucu sekali ya?" ucap Anggun tertawa lirih.


Seketika Syadev terpana melihat Anggun yang seperti itu.


"Biasanya Anggun selalu terlihat penuh beban dan bersedih, tapi melihat dia tertawa lepas kenapa aku ikut senang?" batin Syadev kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain karena takut ketahuan.


"Anggun, ayo kita makan! Kamu dari pulang sekolah belum makan," ajak Syadev.


Anggun berdiri dan mengikuti Syadev dari belakang.


Di tangga, mereka berdua berpapasan dengan Darren dan Zahra yang sedang naik menuju lantai dua.


"Loh sudah selesai?" tanya Anggun.


"Iya, kalian makanlah! Aku dan Darren akan ke kamar Kaysa," jawab Zahra.


"Kaysa sudah tertidur," jawab Syadev.


"Darren, kalau begitu kita ke taman depan yuk? Melihat bintang sambil duduk di ayunan sepertinya menyenangkan!" ajak Zahra.


"Kalian nanti juga menyusul ya!" pinta Darren pada Anggun dan Syadev.


"Iya," jawab Anggun tersenyum senang.


mereka berpisah, Syadev dan Anggun menuju meja makan.


Anggun merasa malu karena mereka hanya makan berdua.


"Makanlah yang banyak!" ucap Syadev.


"Iya," jawab Anggun semakin gugup.


Suasana benar-benar sunyi, hanya ada suara sendok yang menyentuh piring.


Setelah selesai makan mereka berdua segera menyusul Darren dan Syadev.


Karena Ayunan hanya ada dua, Darren mengalah dan duduk di kursi dekat dengan Syadev.


Anggun sangat senang, gadis itu terus berayun seperti anak kecil.


"Ini menyenangkan sekali!" teriak Anggun.


Zahra juga ikut-ikutan seperti Anggun yang terus berayun.


Tapi lama kelamaan dua gadis itu merasa pusing juga. dan berhenti berayun.


"Jadi kalian sungguh beruntung ya? Tidak perlu mengkhawatirkan hari esok, karena ada orang tua yang selalu mendukung. Hari-hari hanya perlu belajar dan selebihnya bermain sepuasnya," kata Anggun lirih.


"Siapa bilang? Kamu juga beruntung di beri kecerdasan. Orang seperti aku dan Darren harus belajar keras untuk bisa masuk sekolah SMA Nusantara. Sedangkan kamu dengan mudah bisa memperoleh peringkat dua," hibur Zahra.


"Aku di masa kecil juga sering sakit-sakitan, Sampi aku tidak bisa bermain bebas seperti teman-teman. Orang yang kehidupannya sempurna itu adalah Syadev," timpal Darren merasa iri.


Semua beralih menatap penuh iri pada Syadev. Sedangkan Syadev hanya menghembuskan napasnya dengan berat.


"Apa menurut kalian menjadi saudara kembar Kaysa itu mudah?" tanya Syadev dengan nada ketus.


Mereka bertiga tertawa, karena tahu kelakuan Kaysa yang suka bikin onar.


"Benar, tidak ada kehidupan yang sempurna. Tapi Kaysalah yang paling beruntung, karena dia memiliki jiwa yang bebas, tanpa beban dan selalu riang," jawab Zahra.


"Itu karena Kaysa tidak punya perasaan dan tidak punya pikiran," sergah Syadev.


Mereka berempat kemudian tertawa terbahak-bahak. Tapi mereka dalam hati juga menyadari jika Kaysa sosok setia kawan dan peduli pada orang lain.


Jadi siapapun yang mengenalnya akan merasa jengkel dan sayang dalam waktu yang bersamaan.


**Terima kasih yang sudah Like dan Vote🤗 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.


Bagi yang belum jangan lupa ya🙏

__ADS_1


Semua semuanya selalu di beri kesehatan, kebahagiaan dan Risky lancar🌷🌷**


__ADS_2