
Sore harinya flora dan kakak - kakaknya akan mengunjungi orang tua mereka ke Villa di puncak perbukitan. Semua itu memang sudah menjadi kegiatan rutin perkumpulan keluarga selama dua Minggu sekali.
Untuk memeriahkan acara mereka tak lupa membawa oleh - oleh makan bersama.
Setelah mobil yang ditumpangi flora sampai, rupanya keluarga Kaysa sudah terlebih dahulu sampai di sana.
"Yee… Sudah aku bilang akulah pemenangnya," teriak Arkananta riang.
"Papa sih, lama sekali mampir ke restorannya!" rengek Sagara kesal pada papa Syadev.
"Maafin papa, ya? Lain kali kita pasti sampai duluan ya?" bujuk Syadev pada putra keduanya.
"Huft, apa untungnya sih! Kalian ini kekanakan!" sindir Yudistira pada Arkananta dan Sagara.
Syadev dan Anggun hanya tersenyum dengan sikap Yudistira yang sok dewasa itu.
Syauqi dan Zhia yang tengah menanti sambil duduk bersantai di depan rumah tertawa melihat cucu - cucu mereka yang lucu.
Yudistira sangat dingin dan cuek, tidak suka di ganggu dan yang jelas suka kedamaian.
Sedangkan Sagara dan Arkananta memiliki watak yang hampir sama, hangat, ceria dan suka sekali bermain - main.
"Ayo semuanya masuk," ajak Zhia yang kecantikannya itu masih memancar.
Kaysa dan Anggun langsung menyiapkan makanan yang tadi di bawanya. Sungguh menyenangkan sekali saat - saat indah seperti ini.
"Katanya Darren dan Zahra mau datang ke sini?" tanya Syauqi.
"Tidak jadi Ayah, putri mereka sedang demam," jawab Kaysa.
"Wah, sayang sekali, padahal Ayah juga ingin bermain dengan Rachel," balas Syauqi kecewa.
Syauqi sudah memiliki tiga cucu laki - laki, dan dia begitu mengharapkan kehadiran cucu perempuan yang nakal seperti Kaysa dulu.
"Ayah kalian ini pengen cucu perempuan loh, semalam sampai kebawa dalam mimpi," ucap Zhia tertawa geli.
"Benarkah, Ayah? Aku dua saja sudah pusing mengatasinya, Kaysa itu baru punya satu!" celetuk Syadev.
Kaysa hanya meringis sambil menatap ke arah suaminya yang duduk santai.
"Aku sih mau - mau saja. Tapi Kaysa tuh yang belum siap katanya," jawab Alarik.
"Enak saja kalau ngomong! Aku yang hamil, aku yang melahirkan. Di kira semua itu tidak sakit?" sergah Kaysa dengan tatapan kesal.
Alarik langsung berdiri dan mengelus kepala Kaysa agar tenang.
"Jangan teriak - teriak, tidak baik di depan anak - anak," bujuk Alarik tersenyum menggoda.
Arkananta langsung bergelayut manja pada Kakaknya.
__ADS_1
"Kek, kasihan papi Lo. Setiap hari dimarahi terus sama Mami," ucap Arkananta mengadu.
Kaysa langsung mendekati putranya dan menggelitik perutnya sampai putranya itu tertawa menahan rasa geli.
"Masih kecil sudah pandai mengadu ya? Mami marah karena papimu yang menjengkelkan," kata Kaysa tertawa.
"Papi… Tolong aku!" teriak Arkananta.
"Maaf sayang, papi takut nanti bisa di lempar keluar sama mamimu," jawab Alarik yang menikmati pemandangan itu.
Walaupun Kaysa baru memiliki satu anak tapi kelurga mereka juga tak kalah heboh.
Empat tahun berlalu itu sudah merubah semuanya.
Darren dan Zahra sudah memiliki putri cantik berumur dua tahun.
Reki dan Orlin juga memiliki putra berumur tiga tahun. Tapi mereka sudah lama tinggal di London. Sebab tidak ada yang meneruskan usaha Rendra kecuali mereka.
Sedangkan Alifya dan Bima juga memiliki putri berumur dua tahun. Mereka berdua sukses membuka toko oleh - oleh dan katering yang besar. Bahkan toko mereka juga sudah tersebar di berbagai kota.
Mereka sudah sibuk dengan kehidupan masing - masing. Hanya sesekali saja bertemu sebab mereka juga memiliki pekerjaan dan urusan yang berbeda.
Setiap kali bertemu mereka menghabiskan waktu untuk bercerita tentang kehidupan pasing - masing, soal bercerita tentunya Kaysa yang paling banyak berbicara dan kisahnya panjang seperti rel kereta.
Walaupun Syadev juga masih sering berdebat dengan Kaysa tapi dia diam - diam menikmati saat saudara kembarnya itu mengoceh. Sebab kisah Kaysa memang luar biasa.
Alarik sendiri terkadang heran, sebab istrinya selalu mengalami hal - hal yang konyol dan seru.
Mereka bertiga akan di gilir sesuai urutan, dan kali ini yang pertama tampil adalah Sagara. Putra kedua Syadeva Malik itu akan menceritakan tentang pengetahuan sains nya yang luar biasa. Di antara ketiga cucu Syauqi memang Sagara lah yang memiliki otak jenius seperti papanya.
Selanjutnya penampilan dari Arkananta, putri Kaysa itu selalu menunjukkan skill di bidang olah raga. Kemarin sudah menunjukkan gaya basket yang keren ala pemain profesional. Dan kali ini anak itu menunjukkan bela diri taekwondo. Para orang tua sering dibuat terkejut oleh Arkananta, sebab anak sekecil sering membuat prank. Kadang pura - pura jatuh dan kakinya patah. Setelah semua geger barulah pemuda itu tertawa terbahak - bahak.
Dan yang terakhir tampil adalah putra pertama Syadev, yaitu Yudistira. Biarpun memiliki wajah yang hampir sama dengan saudara kembarnya tapi mereka berdua memiliki kesenangan yang berbeda. Kali ini Yudistira memainkam skill bermain piano. Kali ini para orang tua di buat hanyut sebab lagu yang dimainkan oleh Yudistira bernada lembut dan syahdu.
Syauqi begitu bangga memiliki keturunan yang berbakat. Air matanya sampai menetes saking bersyukurnya.
"Kalian kemarilah! Sebelum kakek memberi hadiah kalian ceritakan dulu cita - cita jika sudah besar menjadi apa?" tanya Syauqi semangat.
Ketiga cucu tampan itu berkumpul, Sagara dan Arkananta duduk dipangkuan Kakek. Sedangkan Yudistira di pangkuan sang nenek.
"Aku mau jadi atlet," jawab Arkananta.
"Aku mau menjadi Ilmuwan," jawab Sagara bersemangat.
"Aku mau jadi maestro musik dunia," jawab Yudistira.
"Kalian ini memiliki impian yang hebat. Tapi tidakkah di antara kalian yang ingin menjadi pengusaha seperti orang tua kalian?" tanya Syauqi.
Yudistira dan Sagara langsung menggeleng - gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak mau, Kakek. Karena nanti jadi seperti papi. Setiap malam lembur terus membuat mami marah - marah," jawab Arkananta polos.
Kaysa kali ini dibuat malu oleh putranya sendiri. Dia segera mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya.
"Ayah, katanya flora mau melanjutkan ke universitas di kotaku lo," ucap Kaysa.
"Benarkah Flora?" Sela Zhia penasaran.
"Iya, Bunda. Aku ingin sekolah di sana. Nanti bisa tinggal bersama Kak Kaysa," jawab Flora lembut.
"Baguslah, Bunda setuju saja," jawab Zhia senang.
"Tapi kamu yakin bisa diterima? Sekarang seleksinya semakin ketat," tanya Syauqi ragu.
"Ayah, Flora memiliki nilai yang lumayan kok. Dia juga mahir diberbagai bahasa asing. Pasti itu bisa jadi nilai plus," sela Syadev.
"Benarkah? Wah… Ayah malah baru tahu," timpal Syauqi kaget.
"Iya, Ayah. Setiap hari Kak Syadev mengajariku bahasa Inggris, Jepang, Korea dan China. Kalau aku tidak bisa nanti uang jajan akan dipotong," rengek Flora yang baru menceritakan semuanya.
"Wah.. Kakakmu sadis sekali. Tapi itu juga bagus sekarang kamu jadi pandai," puji Syauqi.
"Aku iri sekali, Kak Alarik malah hanya bisa bahasa Inggris saja," sakit Alarik juga bangga.
"Entahlah, Kak Syadev mengharuskan aku bisa bahasa itu," kata Flora.
"Kamu mau masuk ke jurusan apa?" tanya Kaysa penasaran.
"Aku suka sastra kakak," jawab Flora.
"Ya sudah, pilihlah sesuai kemauan kamu saja. Yang penting kamu nyaman dan bahagia," balas Kaysa.
Zhia menangis bahagia, dia teringat masa mudanya dulu yang terpaksa berhenti kuliah karena tidak ada biaya. Sekarang anak - anaknya bisa hidup berkecukupan tanpa kekurangan suatu apapun.
"Bunda kenapa malah menangis?" tanya Flora.
"Bunda hanya teringat masa lalu, dulu untuk bisa kuliah Bunda harus bekerja sambilan. Sampai Bunda harus hidup sehemat mungkin. Tapi suatu hari nenek kalian sakit parah, sedangkan paman Rian waktu itu hanya jadi buruh pabrik. Akhirnya Bunda terpaksa berhenti kuliah dan bekerja jadi karyawan Tante Elly," kata Zhia.
"Jadi Bunda dan Ayah bertemu karena Bunda bekerja di butik Tante Elly ya?" tanya Kaysa antusias.
"Iya, dulu hidup Bunda penuh perjuangan karena Bunda juga anak yatim. Jadi kalian harus bersyukur dengan apa yang kalian miliki saat ini. Kalian sejak kecil selalu hidup berkecukupan bahkan tergolong mewah," tutur Zhia.
"Bunda, aku penasaran dengan kisah cinta kalian?" tanya Alarik antusias.
"Dulu Ayah adalah pemuda sukses yang sangat tampan, tapi Ayah memiliki sikap yang buruk. Arogan dan berdarah dingin. Ayah juga selalu berambisi menjadi sukses sampai Ayah jarang pulang ke rumah. Suatu hari saat Ayah pulang ternyata Kak Elly memiliki asisten kecil yang cantik dan polos. Ayah tahu dalam pandangan pertama diam - diam asisten itu mengagumi Ayah. Jadi Ayah langsung melamarnya," sela Syauqi yang membuat semua anak - anaknya tertawa.
Zhia sungguh kesal dengan perkataan suaminya barusan, sebab sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Tapi Zhia juga tidak mungkin menceritakan kebenaran yang tragis itu. Apalagi sikap Syauqi di masa muda sangat tidak baik untuk dicontoh.
Terima kasih sudah membaca karya saya, jangan lupa Like dan Vote ya?
__ADS_1
Bahagia banget deh diepisode ini, keluarga yang bahagia bikin iri.