CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 16


__ADS_3

Alarik tak berdaya melihat adiknya terluka, meskipun Kaysa berlagak kuat tapi dia tahu jika adiknya itu tengah kesakitan.


"Syadev, cepatlah kamu telepon dokter! Kaki Kaysa sepertinya semakin parah," perintah Alarik panik.


Syadev segera mematuhi perintah Kakaknya itu.


Sedangkan Alarik langsung membawa Kaysa ke kamarnya.


Beberapa menit kemudian dokter yang dipanggil sudah datang. Dokter tersebut mengompres dan memberikan sedikit pijatan ringan.


"Sepertinya sembuhnya cukup lama, sebaiknya jangan beraktivitas yang berat selama seminggu ini!" ucap Dokter tersebut.


"Iya, terima kasih banyak, Dok," jawab Alarik sopan.


kemudian Dokter tersebut berpamitan pulang.


Alarik menyuruh Syadev untuk mengantarkan Dokter itu sampai di depan rumah.


Sedangkan dia sendiri masih menunggu Kaysa yang sejak tadi meringis kesakitan.


Darren juga masih di sana, pemuda itu sangat mengkhawatirkan sahabatnya.


"Kaysa, apa sebaiknya besok kamu tidak usah masuk sekolah saja?" ucap Darren.


"Aku tidak mau absen dan aku juga tidak mau sampai ketinggalan pelajaran!" jawab Kaysa tegas.


"Kamu kan sedang sakit, izin beberapa hari juga tidak masalah," timpal Alarik menasihati adik perempuannya.


"Aku nggak mau hanya gara-gara ini aku jadi kalah dengan Syadev," jawab Kaysa keras kepala.


"Bodoh! Kamu sampai memaksakan diri seperti ini sedangkan aku tidak pernah menganggap kamu sainganku," sela Syadev yang baru kembali ke kamar saudara kembarnya.


"Apa maksudmu?" tanya Kaysa tak mengerti.


"Sejak dulu aku pernah bilang padamu kan? Kalau peringkat itu tidak penting bagiku. Jadi kamu jangan keras kepala seperti ini," jawab Syadev.


Kaysa merasa kesal, tapi dia juga tidak bisa menjawab apa-apa.


Tiba-tiba terdengar bunyi dering dari ponsel milik Darren, pemuda itu langsung mengangkatnya.


Beberapa detik kemudian Darren pamit pulang.


"Kaysa, semoga cepat sembuh ya!" ucap Darren yang sebenarnya masih ingin berlama-lama.


Tapi pemuda itu harus pulang karena orang tuanya juga khawatir karena sejak pagi belum pulang ke rumah.


"Iya, Darren. Terima kasih, kamu juga hati-hati di jalan ya?" jawab Kaysa perhatian.


Orang tua Kaysa yang baru saja sampai rumah berpapasan dengan Darren di ruang tamu.


"Om, Tante. Saya pamit pulang dulu ya? Sudah di cari Mama dan Papa," ucap Darren sopan.


"Iya, salam untuk orang tua kamu ya!" jawab Zhia dan Syauqi.


Syauqi merasa heran karena sepi, kemudian kepala keluarga yang masih gagah dan tampan itu mengajak istrinya sambil menggendong putri kecilnya yang tertidur ke lantai dua.


Zhia semakin penasaran karena Alarik dan Syadev berkumpul di kamar Kaysa.


"Kamu kenapa Kaysa?" tanya Zhia yang melihat Kaysa terbaring sambil meringis.


Kaysa hanya diam menunduk.


Kemudian setelah meletakkan Orlin di kamarnya Syauqi juga menyusul ke kamar Kaysa. Wajah Ayah Kaysa itu berubah cemas.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Syauqi cemas.


Alarik tidak ingin membuat kedua orang tua angkatnya semakin gelisah, dia langsung menceritakan kejadian tadi siang dari awal sampai mereka mau pulang.


Zhia yang mudah terenyuh dan ketakutan sampai meneteskan air matanya karena terlalu mengkhawatirkan putrinya itu.


Zhia memeluk erat Kaysa yang sedang duduk bersandar pada bantal.

__ADS_1


"Sayang, kamu ini lain kali harus hati-hati! Jangan berbuat sesuatu yang bisa mencelakaimu sendiri," ucap Kaysa.


Syauqi menepuk punggung istrinya supaya tenang. Meskipun dirinya juga cemas tapi mencoba bersikap tenang karena tidak ingin membuat Zhia semakin gelisah.


"Sekarang bagaimana dengan mereka?" tanya Syauqi.


"Tenang, Ayah. Mereka sudah di tangkap polisi," jawab Syadev santai.


"Pokoknya Kaysa tidak boleh sekolah sebelum kakinya sembuh!" kata Zhia tegas.


Kalau bundanya sudah seperti itu Kaysa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Meskipun Bundanya itu lembut tapi Kaysa tidak pernah sanggup untuk membantah ucapannya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Syadev merasa kesepian karena di sekolah tidak ada Kaysa. Apalagi Darren dan Zahra termasuk pendiam jika tidak di ajak ngobrol terlebih dahulu.


"Aku selalu kesal dengan tingkah Kaysa yang menjengkelkan dan kekanakan! Tapi tidak ada si bodoh itu aku juga jadi jenuh, tidak ada sesuatu yang menarik," batin Syadev di kelas seorang diri.


Hari ini kelasnya sedang jam kosong. Syadev hanya tiduran saja, karena dia juga tidak begitu kenal dengan teman kelas yang lainnya, lebih tepatnya tidak mau mengenal.


"Syadev, kenapa Kaysa tidak masuk sekolah?" tanya Anggun yang tiba-tiba sudah duduk di bangku Kaysa.


"Kakinya sakit karena keseleo," jawab Syadev biasa.


"Nenekku dulu dukun pijat khusus keseleo dan patah tulang, aku juga pernah diajari cara membuat ramuan dari bahan alami supaya memperlancar peredaran darah dan urat yang tergelincir. Bolehkan sepulang sekolah aku mengunjungi Kaysa?" ucap Anggun takut-takut.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu, nanti kamu bareng aku sekalian," jawab Syadev terkejut.


"Iya, terima kasih," jawab Anggun sedikit takut pada Syadev, karena pemuda itu selalu terlihat dingin dan cuek.


Sebenarnya Syadev ada banyak pertanyaan, tapi semua kata-kata tersebut tidak bisa keluar dari mulutnya. Akhirnya Syadev hanya memilih diam. Kemudian Anggun kembali ke bangkunya sendiri.


Dari luar kelas ada seseorang yang tidak sengaja melihat Anggun duduk di samping Syadev. Gadis itu tidak lainadalah Siska yang tadinya berniat ingin ke toilet.


"Dasar gadis miskin itu! Berani-beraninya menggoda Syadev. Dulu sudah membuat aku putus dengan pacarku, sekarang mau bersaing lagi denganku. Awas kamu!" batin Siska yang merasa geram.


Kemudian Siska tidak jadi ke toilet tapi kembali ke dalam kelasnya sendiri.


Kehadiran cowok tampan itu membuat para siswi terpesona. Namun Syadev sangat cuek dan tidak mau melihat mereka sama sekali. Dia hanya fokus pada tujuannya.


"Darren, nanti kamu yang mengantar Zahra pulang ya! Karena Anggun akan ke rumahku menengok Kaysa," ucap Syadev.


"Tadi Aku dan Zahra juga berniat ingin menengok Kaysa," jawab Darren tersenyum senang.


"Baiklah kalau begitu, ayo sekarang kita ke kantin saja!" ajak Syadev.


Baru saja mereka berdua keluar kelas, Zahra sudah ada di sana.


"`Mau ke kantin ya?" tanya Zahra.


"Iya, ayo!" jawab Darren ramah.


"Tidak ada Kaysa jadi sepi ya?" celetuk Zahra.


"Iya,"jawab Darren yang tiba-tiba merindukan Kaysa.


"Kaysa di rumah sedang apa ya? Kasihan sekali dia pasti sedang kesepian," batin Darren.


"Anggun, ayo ikut kita ke kantin," teriak Darren pada Anggun yang masih di kelasnya.


Anggun dengan senang hati menyetujuinya. Karena semenjak gadis itu bekerja jadi pembimbing belajar Flora, Anggun jadi punya uang jajan, sebab Syauqi sengaja memberi bayaran seminggu sekali.


Di kantin mereka segera memesan makanan, dari kejauhan terlihat Gio yang sedikit-sedikit melirik ke arah mereka berempat.


"Apa kalian merasa jika Ketua OSIS itu dari tadi melirik ke arah kita?" ucap Anggun pelan.


"Mungkin mencari Kaysa," jawab Darren.


"Sebenarnya Kak Gio itu suka Kaysa atau Kak Yuki?" tanya Zahra penasaran.


"Menurut pandanganku sih sepertinya Gio lebih tertarik pada Kaysa, kalau tidak kenapa Ketua OSIS itu tidak segera jadian dengan Wakilnya?" jawab Syadev yang biasanya malas ikut ngegosip.

__ADS_1


Wajah Darren berubah masam karena merasa ada saingan.


"Darren, apa kamu pikir Kaysa mudah ditaklukkan cowok seperti itu?" sindir Syadev yang bisa menebak pikiran teman lelakinya itu.


Darren hanya tertawa. Sebab apa yang di ucapkan Saudara kembar Kaysa itu ada benarnya juga.


Zahra hanya fokus menikmati makanannya, apa yang sedang dipikirkannya tidak ada yang mengetahuinya.


Setelah makan mereka berempat segera keluar dari kantin. tiba-tiba Mahen yang juga mau masuk ke kantin sengaja menabrak bahu Zahra sampai membuat sepupu Kaysa itu mundur beberapa langkah.


Syadev yang ada di samping Zahra langsung mendorong tubuh Mahen dengan keras.


"Jangan cari masalah lagi! Urus saja pacarmu itu!" bentak Syadev.


"Heh Adek kelas, apa kamu berani melawanku?" tantang Mahen.


"Apa kamu sedang becanda?" jawab Syadev tertawa kemudian melayangkan tinjunya tepat mengenai wajah Mahen.


Dua teman Mahen langsung ikut melawan Syadev. Darren tidak bisa berdiam diri melihat temannya di keroyok, pemuda itu juga ikut berkelahi.


Baru beberapa detik perkelahian mereka langsung terhenti karena Ketua OSIS dan Empat anggota lainnya melerai.


"Ada apa ini?" tanya Gio marah.


Syadev memalingkan wajahnya karena malas menjelaskan.


Keadaan semakin bertambah rumit karena kedatangan Verra.


"Apa-apaan ini? Jangan bilang kalian berantem karena masalah Zahra lagi," teriak Verra yang emosi.


Kali ini Zahra tidak ingin ditindas lagi, apa yang dulu pernah di ucapkan sepupunya itu ada benarnya, jika terlalu lemah hanya akan diperlakukan seenaknya oleh orang lain.


"Kak Verra, kali ini aku tidak salah. Kak Mahen duluan yang mencari gara-gara. Jalanan ini sangat luas tapi kenapa dia menabrak aku," jawab Zahra berani.


Syadev tersenyum, karena sepupunya itu mulai bisa membela diri.


"Mahen! Apa kamu menyukainya? Kenapa kamu mengganggunya?" bentak Verra pada pacarnya.


"Aku hanya iseng saja," jawab Mahen ketakutan.


"Hanya iseng? Dan kamu melakukannya berkali-kali pada banyak perempuan? Aku sudah tidak tahan denganmu! Kita Putus! Mulai sekarang jangan pernah menemui aku lagi!" teriak Verra pada pacarnya.


"Jangan katakan putus! Aku mohon, maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya," jawab Mahen yang memohon sambil membuntuti kepergian Verra.


"Kamu tidak apa-apa Syadev?" tanya Gio berubah baik.


Syadev hanya geleng-geleng kepala dan berlalu pergi.


Ketiga teman Syadev langsung mengikutinya dari belakang.


"Darren, apa kamu baik-baik saja?" tanya Zahra cemas.


"Tidak apa-apa , aku sudah terbiasa dalam situasi seperti ini," jawab Darren santai.


"Memangnya ada masalah apa?" tanya Zahra penasaran.


Darren menceritakan kejadian kemarin yang menyebabkan Kaysa terluka.


Zahra merasa khawatir pada Kaysa. tapi di sisi lain gadis itu juga merasa cemburu.


Tet.... Teett....


Bel berbunyi, tanda istirahat berakhir.


Mereka segera kembali ke dalam kelas masing-masing.


Di dalam kelas Anggun melirik pada Syadev.


"Dia seperti seorang pangeran yang sangat tampan. Meskipun luarnya terlihat dingin tapi sebenarnya hatinya ada sisi lembut."


Syadev tahu jika dia diperhatikan Anggun, tapi dia pura-pura cuek dan tidak mempedulikannya.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah Like dan Vote🌷 Bagi yang belum jangan lupa yaπŸ™ Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi AuthorπŸ€—


__ADS_2