CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 81


__ADS_3

Enam bulan telah berlalu, Kaysa sudah berubah menjadi seorang istri yang baik dan dewasa. Kini dalam pikirannya bukan hanya tentang fashion dan kecantikan saja, melainkan menghabiskan waktu luangnya dengan belajar memasak dan belajar cara mengasuh anak.


Setiap pulang kuliah dia akan bergegas masak dan mengantarkan hasil masakannya ke kantor suaminya. Kemudian mereka akan makan siang bersama.


Alarik senang sekali dengan perubahan istrinya, pemuda itu semakin memanjakan Kaysa dengan membelikan barang-barang mewah.


"Aku senang sekali dengan hadiahnya, tapi lain kali tidak perlu beli yang semahal ini!" ucap Kaysa.


"Bagiku uang tidak masalah asalkan kamu bahagia," jawab Alarik.


"Iya, aku tahu. Tapi sebaiknya kalau mau membelikan aku emas batangan saja. Nanti mau aku tabung di bank," jawab Kaysa tertawa.


Alarik hanya tersenyum saja melihat perubahan istrinya dalam waktu singkat.


Waktu memang bisa membuat orang berubah, seperti Orlin yang kini bisa bersikap biasa dan tidak mencari perhatian pada Alarik. Rupanya gadis itu sudah menerima kenyataan jika Alarik hanya menganggap dirinya sebatas teman.


"Kaysa, kamu sekarang sudah seperti Tante Zhia ya?" puji Orlin tulus.


"Ah, Kak Orlin jangan bercanda deh. Mana mungkin aku bisa dibandingkan dengan Bunda," elak Kaysa tertawa.


"Kok kamu bawa masakan banyak, yang ini untuk siapa?" tanya Orlin.


"Ini untuk Kak Reki, kasihan dia nafsu makannya tidak baik. Mungkin bosan dengan masakan rumah sakit. Katanya Kak Gio sih Mamanya sudah sering bawain makanan, tapi Kak Rekinya yang gak mau. Jadi aku coba saja buatkan makanan siapa tahu dia mau," ujar Kaysa.


Alarik semakin bangga pada istrinya yang memiliki perhatian lebih pada sepupunya. Biarpun duku Reki jahat tapi Alarik merasa kasihan juga. Karena Mamanya Reki di penjara akibat ulahnya sendiri. Sedangkan Reki masih di rumah sakit karena jiwanya sedikit terguncang. Apalagi enam bulan yang lalu pemuda itu juga pernah berniat bunuh diri. Untuk saja saat itu ada Gionino yang membesuknya, sehingga nyawa Reki masih bisa tertolong.


"Kalau aku yang ke sana pasti Reki juga tidak akan mau menerimanya. Sebaiknya biar Orlin yang antar kamu saja ya!" ucap Alarik.


"Tapi Kak Orlin sibuk apa tidak? Kalau sibuk biar aku sendiri saja," tanya Kaysa memastikan.


"Aku di sini adalah bawahannya Alarik. Jadi apapun yang dia katakan aku tidak bisa membantah. Lagi pula aku juga bosan berada di kantor terus, ayo sekalian kita jalan-jalan," jawab Orlin riang.


Mereka berdua berpamitan untuk pergi, Alarik merasa lega jika hubungan Kaysa dan Orlin bisa seperti dulu lagi. Alarik sempat takut jika Orlin membenci Kaysa, tapi rupanya gadis itu tidak dendam pada Kaysa. Dan istrinya sendiri juga murah hati dan tidak merasa cemburu lagi jika Alarik bersikap layaknya teman seperti dulu.


Kaysa dan Orlin di sepanjang jalan saling mengobrol dan bercanda, sesampainya di rumah sakit mereka segera menemui Reki.


Kaysa sedih juga melihat penampilan Reki yang dulu gagah kini terlihat lebih kurus dan matanya juga cekung. Kaysa memahami, mungkin saat ini kakak sepupu suaminya itu tengah depresi karena seluruh hartanya sudah kembali pada pemilik yang asli, Mamanya masuk penjara sedangkan papanya mengkhianatinya.


Kaysa berpikir mungkin Reki merasa seolah sendiri di dunia ini. Dia tahu sebenarnya Reki tidak sepenuhnya salah, semua itu karena Mamanya yang tidak bisa mendidik Reki dengan benar.


"Kak Reki, selamat siang," sapa Kaysa ceria.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Reki acuh.


"Aku hanya ingin main saja ke sini, sudah lama kita tidak bertemu," ucap Kaysa basa-basi.


"Sejak kapan kita seakrab ini? Kalau kamu datang ke sini berniat untuk memaksa aku menerima keluarga Gio makan sebaiknya kamu pergi!" kata Reki tegas.


"Alah… Kak Reki jangan galak-galak sama adik iparnya yang cantik dan lemah lembut ini, nanti kalau aku menangis bagaimana?" rayu Kaysa.


Orlin menahan tawa melihat Kaysa yang tengah membujuk Reki dengan gaya memelas, wajah istri Alarik yang cantik dan pandai berakting itu memang bisa dengan mudah menipu dan membujuk orang lain.


"Lalu ngapain kamu ke sini?" tanya Reki berubah sedikit kalem.


"Aku sedang belajar memasak, dan aku ingin Kak Reki mencobanya. Kalau aku minta saran Suamiku, racunpun akan dibilang madu. Kalau Kak Reki aku yakin bisa berkata jujur," jawab Kaysa.


"Kenapa harus aku? Di sampingmu ada orang kan?" tanya Reki melirik cuek ke arah Orlin.


"Kak Orlin ini juga tidak berani berkata jujur, makanya aku pilih orang yang tidak suka padaku. Jadi jika mencicipi masakanku bisa dengan jelas berkata kekurangannya. Aku ingat terakhir orang yang tidak menyukaiku adalah Kak Reki, jadi aku langsung datang ke sini deh," rayu Kaysa.

__ADS_1


"Cepat! Tapi setelah itu kamu pergi," jawab Reki berwajah ketus.


Kaysa dalam hati merasa senang, akhirnya berhasil juga memaksa kakak sepupu Alarik itu untuk makan.


"Ini, aku mau cari air mineral dulu sama Kak Orlin


Nanti aku kembali lagi untuk mendengar komentar kakak," ucap Kaysa sengaja meninggalkan Reki sendirian.


Karena Kaysa tahu jika dia masih di sana pasti Reki akan gengsi untuk memakan banyak.


Kaysa segera menarik lembut lengan Orlin, setelah itu mereka menunggu di luar. Karena sebenarnya di dalam tas Kaysa sudah ada dua botol air mineral ukuran 600 ml.


"Kaysa, kalau dilihat-lihat Reki hampir mirip Alarik ya?" bisik Orlin.


"Mirip apaan, Suamiku mana pernah berbicara ketus seperti itu padaku," jawab Kaysa tidak terima.


"Aku tidak berbicara tentang sifat, tapi wajah. Hanya saja lebih tinggi dan lebih putih Alarik," sela Orlin.


"Tentu saja, Suamiku tiada tandingannya," jawab Kaysa bangga.


Orlin hanya tertawa, gadis itu tidak lagi merasa sakit seperti dulu.


Setelah lima belas menit, Kaysa dan Orlin masuk lagi ke dalam ruangan Reki.


"Bagaimana rasanya?" tanya Kaysa.


"Biasa saja, sama seperti masakan pembantuku," jawab Reki.


Kaysa sebenarnya kesal, karena makanan yang dia bawakan tadi sudah habis tanpa sisa. Tapi dengan mudahnya Reki membandingkan masakannya sama seperti pembantu.


"Baiklah kalau begitu besok aku akan datang ke sini lagi dan akan aku pastikan Kak Reki bilang kuat biasa," kata Kaysa mencoba tersenyum ramah.


"Baik, aku sekarang pergi dulu," balas Kaysa berlalu pergi bersama Orlin.


"Kak Orlin, aku tidak percaya jika masakan aku rasanya biasa saja. Setengah tahun loh aku kursus masak," ucap Kaysa nggedumel kesal.


"Kalau tidak enak kenapa bisa habis? Itu karena dia gengsi saja berkata jujur," hibur Orlin.


"Besok akan aku buat dia bilang enak dan minta lagi," balas Kaysa tidak terima.


"Tapi aku salut, dengan begini dia juga bisa makan dengan baik," ucap Orlin jujur.


Orlin dalam hati memuji Kaysa yang pandai mempengaruhi orang lain. Gadis itu mulai sadar jika banyak hal yang tidak ia miliki dari dalam diri Kaysa.


"Ayo kita kembali ke kantor. Aku tidak sabar menceritakan ini semua pada suamiku," ajak Kaysa antusias.


"Ayo," jawab Orlin riang.


Sesampainya di kantor Kaysa menceritakan semuanya tanpa kekurangan satu kata pun. Alarik hanya tersenyum senang karena kakak sepupunya mau makan.


"Istriku memang hebat," puji Alarik.


"Mana hadiahnya?" tanya Kaysa manja.


Alarik langsung mencium bibir Kaysa tanpa izin dulu. Kaysa yang tidak ada persiapan langsung menggigit pelan bibir suaminya.


"Kok nggigit," sergah Alarik.


"Kunci duku pintunya," balas Kaysa tersenyum menggoda.

__ADS_1


Alarik girang sekali, pemuda itu langsung segera mengunci pintu kantornya agar tidak ada orang yang masuk.


Di kantor ada sofa besar, Kaysa langsung mendorong tubuh suaminya di sana.


Kaysa melepas jilbabnya, dia mulai menyerang dukuan.


Di luar pintu sebenarnya ada salah satu karyawan yang hendak memberikan laporan. Tapi karena pintu terkunci karyawan tersebut itu tidak berani mengetuk pintu. Karena tahu jika di dalam sedang ada istri dari pimpinan perusahaan.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Syauqi sebernarnya sudah memberikan kesempatan pada Syadev jika dengan di sambi bekerja putranya itu masih bisa mendapatkan prestasi yang gemilang.


Namun dalam enam bulan ini Syadev malah turun peringkat menjadi yang kedua. Syauqi sebenarnya juga merasa wajar, karena putranya itu harus memikirkan pekerjaan yang rumit dikantor temannya. Namun di sisi lain Syauqi kecewa karena nanti Syadev akan lama untuk lulus kuliah.


Bagaimana pun juga Syauqi berharap lebih pada Syadev untuk segera lulus dan menggantikan posisi dirinya mengelola perusahaan pusat.


"Maafkan aku nak, tapi Ayah terpaksa harus menekanmu agar bisa cepat lulus."


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Syadev baru saja selesai bekerja, dia sedang menunggu Darren yang masih dalam perjalanan.


Tiba-tiba ponselnya berdering karena ada panggilan dari Ayahnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Syadev sopan.


"Wa'alaikumsalam. Syadev, Ayah mau bilang sesuatu. Dengarkan baik-baik!" jawab Syauqi tegas.


"Iya, Ayah," balas Syadev penasaran.


"Di Amerika Ayah punya teman namanya Wensky. Kami berdua sedang merencanakan untuk menjodohkan kamu dengan putri tunggalnya. Ayah rasa ini akan menjadi pertunangan terhebat karena bisa menyatukan dua perusahaan yang besar," kata Syauqi.


"Tapi,Ayah,"


"Ya sudah, Ayah masih banyak pekerjaan ya! Akan lebih baik jika kamu menemui calon tunanganmu. Namanya Inge, kamu masih ingat kan? Dulu sewaktu masih SAMA kalian sudah bertemu beberapa kali," kata Syauqi langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Ayah… Ayah…" panggil Syadev setengah berteriak, tapi percuma saja karena Ayahnya tidak bisa mendengar lagi.


Beberapa detik kemudian Darren datang, tapi Syadev seperti biasanya hanya dimanfaatkan tapi larut dalam lamunan.


Syadev setiap memiliki masalah tidak pernah langsung bercerita, tapi mencari jalan keluar terlebih dahulu baru menceritakan pada orang lain. Sebab dia tidak ingin membuat orang lain ikut terbebani Dnegan masalahnya.


Sesampainya di rumah Anggun sudah menantinya dengan senyuman hangat, tapi saat Anggun hendak meraih tas Kantor Syadev, tiba-tiba Anggun berlari ke kamar mandi.


"Anggun… Kamu kenapa?" tanya Syadev dan Darren mengetuk pintu kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Anggun keluar, wajahnya pucat sekali.


"Aku hanya pusing dan mual-mual sejak tadi siang. Mungkin aku masuk angin," jawab Anggun lemas lalu berlari lagi ke kamar mandi.


Syadev anak yang cerdas, dia ingat jika istrinya itu juga telat datang bulannya. Dia merasa jika istrinya itu tengah hamil, karena dulu saat hamil Flora bundanya juga seperti itu.


**Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yah🤗🤗🤗


Hay readers, menurut kalian apa yang akan dilakukan Syadev jika istrinya beneran hamil?


A. Meminta Inge untuk pura-pura bertunangan dengannya


B. Mengajak Anggun pulang ke Indonesia dan jujur pada keluarga tentang hubungan mereka.

__ADS_1


Silahkan di komen ya😘😘😘**


__ADS_2