
Babak pertama Jamila kalah, sebab lawannya memang sangat tangguh. Namun, Jamila tidak ingin menyerah begitu saja. Apalagi jika dia bisa ikut turnamen kedepannya dia akan semakin mudah untuk mendapatkan beasiswa ke Universitas Andromeda.
Dibabak kedua pertandingan semakin sengit. Jamila sudah mengerahkan semua taktik serta tenaganya tapi lawan juga semakin tangguh.
Deby yang menonton ikut berdebar – debar , bagaimanapun juga ini merupakan langkah awal bagi Jamila untuk menggapai impiannya.
‘’Jamila, keluargamu datang kemari. Cepat selesaikan pertandinganmu dengan membawa kemenangan agar mereka bangga,’’ teriak Deby asal – asalan.
Jamila bisa mendengar teriakan Deby, seketika Jamila langsung lebih gesit dan tangkas. Sehingga di babak kedua ini dia bisa menang. Sebelum menentukan pemenangnya, para pemain di suruh istirahat. Jamila langsung mendekati Deby.
‘’Serius keluargaku kemari?’’ tanya Jamila senang.
Deby hanya meringis sambil menggigit bibirnya, Jamila tahu jika itu merupakan tanda – tanda Deby tengah berbohong.
‘’Kamu ini, buat aku ser - seran saja tadi,’’ ujar Jamila setengah kesal.
‘’Tapi kamu jadi semangat dan menangkan?’’ balas Deby.
‘’Iya deh, aku tahu kamu membohongiku demi membuatku semangat,’’ jawab Jamila tertawa.
Kemudian Jamila melirik ke arah bangku penonton yang ditempati oleh Yudistira, ternyata pemuda itu masih duduk disitu dan tersenyum manis padanya sambil terus memberikan dukungan. Jamila dan Yudistira hanya saling melambaikan tangan saja
Begitu juga dengan Arka dan Deby. Perasaan saling mendukung dan menyemangati seperti itu sangat membahagiakan sekali.
Jarangnya pertemuan, komunikasi, tapi saling mencintai dan merindukan merupakan sebuah perasaan cinta yang istimewa. Diam – diam dari jauh mendoakan dan memberikan dukungan. Cinta suci tanpa dinodai oleh nafsu sesaat. Membuat ikatan cita mereka semakin besar.
Dalam penentuan ini Jamila tiada hentinya berdoa sebisa mungkin, dia berusaha mengingat betapa keluarganya di kampung yang berharap kesuksesannya. Dan mengingat kehidupan pahitnya dulu sampai dia hampi menjual diri untuk menutupi hutang ke rentenir.
‘’Aku harus bisa, aku sudah melangkah sejauh ini jangan sampai semua usahaku berakhir sia – sia,’’ batin Jamila.
Jamila bertarung sebaik mungkin, kini dia tampak begitu bersemangat dan semakin lincah. Padahal dari pihak lawan sudah semakin capek.
Sejak kecil Jamila sudah biasa kerja keras, bahkan renang melawan ombak dan juga mengangkat barang berat. Biarpun perempuan akan tetapi daya tahan tubuhnya begitu tinggi dan tidak mudah capek.
Pada akhirnya Jamila bisa menang, saat itu Jamila sekilas melihat Yudistira yang sampai sujud syukur dengan kemenangannya. Jamila sadar, seseorang yang bukan dari keluarganya tapi paling berusaha untuk masa depannya adalah Yudistira. Jamila terharu melihat pengorbanan pemuda tersebut.
__ADS_1
‘’Jamila, kamu menang. Selamat ya,’’ ucap Deby langsung turun ke lapangan dan memeluk sahabatnya itu suka cita.
‘’Terima kasih,’’ jawab Jamila senang.
Para penonton mulai meninggalkan ruangan, tak terkecuali Yudistira dan Arkananta.
‘’Ayo kita segera pulang dan mandi,’’ ajak Deby.
‘’Iya,’’ jawab Jamila yang sudah bermandikan keringat.
Tapi ketika mau keluar, tiba – tiba pintu masuk tertutup. Kemudian datang dua orang yang menatap penuh kebencian.
‘’Gadis miskin yang pernah menjadi perempuan malam demi uang, dan sekarang berharap menjadi seorang cinderella? Jangan bermimpi ya, dan jangan berani – beraninya kamu mendekati Yudistira!’’
Jamila hanya bengong, tidak disangka mengenai identitasnya ada yang mengetahuinya.
‘’Kenapa diam? Tidak berani membalas kan? Oh iya, kamu kan anak beasiswa, tentu saja jika terlibat kasus bisa – bisa beasiswamu dicabut dan kamu kembali ke dunia malam itu,’’ timpal yang satunya.
Jamila terdiam, bukan karena takut berkelahi melawan dua orang tapi dia takut jika gara – gara masalah sepele ini akan merusak usahanya selama ini.
‘’Iya,’’ jawab Deby yang juga malas membuat masalah.
Saat Jamila melewati kedua gadis yang bermulut tajam itu, tiba – tiba dia terjatuh karena kakinya di janggal. Tentu saja Jamila tersandung dan tersungkur ke lantai.
‘’Ops… Maaf,’’
Jamila masih bisa menahan kesabaran, sedangkan Deby sangat tidak rela melihat temannya ditindas seperti itu.
"Jamila, kamu tidak apa - apa?" tanya Deby sambil membantu Jamila berdiri.
"Iya, tidak apa - apa," jawab Jamila meringis kesakitan di bagian lututnya.
Dengan kekuatan penuh Deby mendorong kedua gadis di depannya sampai mereka terjatuh.
‘’Jamila memang takut bermasalah, tapi kalau aku tidak! Apa dengan berlagak seperti ini kalian merasa hebat dan pantas dihormati? Ingat namaku baik – baik, aku DEBY. Dan aku heran, ini sekolah Andromeda tidak pernah memandang status kaya atau miskin, tapi kemampuan. Kalau kalian berani merendahkan lagi aku akan lapor ke Bk karena ada dua murid yang tidak punya akhlak seperti kalian!’’ ancam Deby.
__ADS_1
‘’Silahkan saja lapor, karena kepala BK adalah papa aku,’’ balas salah satu dari mereka dengan bangganya.
‘’Wih, baru tahu aku. Anak seorang guru BK berkelakuan bejat begini, aku yakin kalian datang kesini tidak niat belajar. Melainkan hanya untuk mencari calon suami kaya, nyatanya di sini setiap hari diberi pelajaran soal sopan santun dan ahklak dan kalian masih saja buruk begini,’’ sindir Deby.
Kedua gadis itu terdiam, sebab apa yang dikatakan oleh Deby memang sangat menusuk.
‘’Oh iya, satu kali lagi. Kamu bilang tadi melarang Jamila untuk mendekati Yudis? Astaga… Siapa kamu? Tahukah kamu kalau Jamila bisa masuk ke sini karena Om Syadev hendak menjodohkan Jamila dengan Yudis. Makanya Jamila dikirim ke sini untuk belajar!’’
Deby tersenyum penuh kemenangan lalu menggandeng temannya untuk pergi.
‘’Kenapa tadi kamu bilang begitu? Bagaimana kalau semua orang tahu jika hal itu merupakan kebohongan,’’ bisik Jamila cemas.
‘’Biar saja mereka tahu rasa, enak banget merendahkan orang lain hanya karena papanya guru BK. Masih untung aku tidak menghajar mereka,’’ balas Deby.
‘’Kalau kita dilaporkan ke Bk bagaimana?’’ tanya Jamila semakin resah.
‘’Haiyah, tak perlu takut. Kan aku yang mendorong mereka, lagian mereka duluan yang salah aku yakin mereka tidak akan berani melapor. Kalau mereka sampai melapor dan papanya yang katanya Guru BK itu membela yang salah, silahkan saja siap – siap dipecat. Kamu tenang saja, lain kali kalau mereka menindasmu, langsung bilang saja padaku,’’ jawab Deby santai.
Jamila menghembuskan napasnya berharap jika kedepannya akan baik – baik saja.
‘’Deby, mungkin ini juga merupakan salah satu ujian yang harus kita hadapi. Seperti kamu, pertama di uji cinta, setelah itu orang yang tiba – tiba mencari gara - gara. Entah kedepannya lagi ujian apa, semoga kita bisa kuat,’’ ujar Jamila.
‘’Kamu benar, tapi menurut aku sabar itu ada batasnya. Kalau mereka sampai melukai dengan tangan masa iya kita mau diam saja, itu namanya orang bodoh. Jadi antara sabar dan bodoh itu harus ada Batasan,’’ sela Deby.
‘’Iya, tapi aku hanya merasa bodoh jika beasiswa aku samoai tercabut karena mereka. Jadi aku harus mengendalikan amarahku ini,’’ ucap Jamila.
‘’Baiklah, lain kali kalau urusan mukul memukul serahkan saja padaku,’’ balas Deby tertawa.
Jamila juga ikut tertawa, sungguh beruntung bisa memiliki teman dekat seperti Deby yang ceria dan apa adanya.
"Ayo buruan pulang, badanmu sudah bau banget nih," goda Deby.
"Ye, biarpun keringatku bercucuran juga nggak bau loh," segah Jamila.
"aku hanya becanda," balas Deby.
__ADS_1