CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 76


__ADS_3

Sesampainya di rumah Inge, Anggun di suruh tidur di dalam kamarnya. Karena mereka merasa lebih asyik satu kamar biar bisa saling mengobrol.


"Inge, dimana orang tua kamu?" tanya Anggun.


"Mama paling sedang tiduran di dalam kamar," jawab Inge.


"Bagaimana kondisi mama kamu? Aku dengar pindah kesini karena berobat?" tanya Anggun lagi.


"Mama sudah baikan, kini hanya dalam fase pemulihan," jawab Inge senang.


Anggun ikut bahagia juga, baginya yang tidak memiliki siapa-siapa juga merasa sedih saat ada temannya yang kehilangan salah satu keluarga.


"Anggun, aku tidak menyangka Syadev bisa bersikap seperti itu padamu," kata Inge serius.


"Semua juga bilang begitu, apa kamu duku akrab dengan Syadev?" tanya Anggun serius.


"Akrab apaan, aku sapa saja dia hanya mengangguk kemudian berlalu pergi. Dulu aku lebih suka Kaysa. Dia asyik dan ramah, enak di ajak ngobrol," kata Inge jujur.


"Memang iya, biarpun Kaysa dan Syadev saudara kembar tapi mereka berbeda jauh," jawab Anggun tertawa. Dia merasa menjadi perempuan yang istimewa di hati Anggun.


"Nanti malam aku ada acara pesta ulang tahun pacar aku, apa kamu mau ikut? Dari pada di rumah kamu jenuh," ajak Inge.


"Tidak ah, aku kan tidak di undang," jawab Anggun malu.


"Santai saja, ayo sekarang antar aku membeli kado. Dari kemarin aku tidak sempat terus, sekalian kita membeli baju buat nanti malam," ucap Inge bersemangat.


Kedua gadis tersebut segera berpamitan pada mamanya Inge dan segera pergi ke pusat perbelanjaan.


Di sana banyak sekali mode baju yang keren-keren, tapi harganya juga fantastis. Anggun meskipun sudah di beri kartu Kredit oleh suaminya tapi merasa takut juga untuk membeli barang yang harganya mahal. Dia selalu mengingat bagaimana kerja kerasnya Syadev yang pulangnya kadang sampai larut malam.


Namun Inge sudah memilihkan baju yang sangat bagus, sesuai dengan dirinya yang berjilbab tapi terlihat kekinian. Anggun merasa segan juga untuk menolak baju tersebut.


Setelah semua dibeli, Anggun hendak membayar ke kasir. Namun seketika Inge menurunkan tangan Anggun.


"Biar aku yang bayar saja," kata Inge.


"Eh jangan, harganya mahak. Biar aku yang bayar sendiri," tolak Anggun merasa sungkan.


"Biasa saja, anggap sebagai hadiah pertemanan kita. lagi pula aku juga yang meminta kamu menemaniku," jawab Inge tersenyum ramah.


Akhirnya Anggun memasukkan lagi kartu miliknya. Mereka berdua segera pulang ke rumah Inge.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Kaysa dan Alarik berpamitan pada keluarganya untuk segera pulang. Apalagi mereka juga akan segera mampir ke panti asuhan.


"Hati-hati ya, Sayang. Jangan bandel, jangan membuat Suamimu susah!" nasihat Syauqi lembut.


"Apa selama ini aku sering membuat Ayah susah?" tanya Kaysa seperti anak kecil.


"Oh tidak pernah, putriku ini anak patuh dan tidak pernah nakal kok," jawab Syauqi tersenyum.


Zhia dan Alarik hanya nyengir sendiri mendengar jawaban Syauqi yang jelas-jelas penuh dusta.


"Flora, kalau hari libur main ke rumah Kak Kaysa ya?" Pinta Kaysa pada adik perempuannya.


"Iya, Kak. Nanti aku akan mengajak Kak Zahra dan Kak Alifya juga," jawab Flora tersenyum manis.


"Nah gitu dong, liburan jangan di rumah saja, sesekali keluar mencari hiburan!" balas Kaysa.

__ADS_1


Flora gadis ABG yang baru kelas satu SMP itu hanya tersenyum. Putri bungsu Syauqi Malik itu memang beda sendiri, tidak pernah mau keluar jalan-jalan bersama teman-teman pada umunya. Gadis itu lebih memilih berdiam diri di rumah sambil belajar. Kalau bisa baca komik tentang detektif dan petualangan.


"Ayah, Bunda. Jaga kesehatan baik-baik ya? Kami berangkat sekarang, assalamualaikum," ucap Alarik sopan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Syauqi dan Zhia merasa kehilangan. Tapi mereka berdua mencoba tegar karena Kaysa sudah menjadi tanggung jawab suaminya.


Alarik segera mengajak istrinya pulang, tapi kali ini mereka di antar sopi karena Alarik tidak membawa mobil sendiri.


"Rumah langsung sepi tanpa Kaysa," ujar Zhia yang tiba-tiba menangis.


"Loh, kok jadi nangis. Flora, cepat Bundanya di cup- cup," goda Syauqi yang bisa lebih bersikap tegar.


Zhia tak bisa menahan tertawa saat diperlakukan layaknya anak kecil.


"Ayo kita masuk," ajak Zhia sambil menghapus air matanya sendiri.


Zhia berjalan sambil menepuk pundak putrinya yang baru beranjak remaja, beberapa tahun lagi Flora juga akan seperti kakaknya yang dibawa pergi suaminya.


Sebagai Bundanya Zhia berharap kelak flora memperoleh suami yang baik seperti Alarik.


Tak lama kemudian ponsel Syauqi berbunyi.


"Flora, kamu temani Bunda dulu ya! Ayah mau bicara dengan Om Dony mengenai bisnis baru," pinta Syauqi mencium kening istri dan putrinya secara bergantian.


"Iya, Ayah," jawab Flora patuh.


Syauqi memilih keluar rumah dan duduk di ayunan bawah pohon. Di sana dia bisa dengan leluasa bertanya tentang putranya yang kini sedang memenuhi pikirannya.


Ditelepon Dony menceritakan pertemuan awal sampai dirinya menginap di rumah Syadev. Syauqi hanya bisa tertawa mengejek kekonyolan Dony yang dipermainkan anak kecil. Diam-diam dia bangga pada taktik putranya tapi di sisi lain juga kesal.


"Don, percuma aku gaji kamu dengan bayaran tinggi tapi urusan sepele seperti ini kamu nggak bisa," ejek Syauqi.


"Tenang, Bro. Aku punya ide agar rubah kecil itu bisa menyerahkan diri tanpa kita capek-capek mengejar," ucap Dony serius.


"Bercanda, habisnya aku juga mangkel sendiri menghadapi putramu itu," jawab Dony jujur.


"Apa rencananya?" tanya Syauqi penasaran.


Dony menyampaikan idenya, awalnya Syauqi tidak setuju. Namun lama-kelamaan dia menyetujuinya. Karena dia juga ingin Syadev bisa segera lulus kuliah dan menggantikan dirinya di perusahaan.


"Baiklah, tapi jangan sekarang. Kita tunggu beberapa saat dulu. Jika terlalu cepat nanti malah tidak terlihat alami. Jadi biarlah Syadev bekerja di perusahaan itu dulu, itung-itung mengasah ilmunya," jawab Syauqi lega.


Setelah sambungan telepon diputus Syauqi segera kembali ke dalam rumah. Dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh putranya itu. Menyerah atau memiliki akal licik lain.


"Ayah, kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Flora.


"Ayah senang karena kerja sama Ayah dengan perusahaan besar di Amerika sukses," jawab Syauqi.


"Alhamdulillah," ucap Flora dan Zhia bersamaan.


"Flora, sekarang belajar dulu sana," tutur Syauqi lembut.


"Iya, Ayah," jawab Flora patuh.


Syauqi segera menarik tangan istrinya menuju kamar. Dia ikut sakit saat istrinya tersebut terlihat murung.


"Kenapa lagi? Kaysa sudah dewasa. Memang sudah saatnya dia membina rumah tangganya sendiri," tutur Syauqi.


"Aku hanya berpikir, Flora beberapa tahun lagi juga sudah dewasa. Saat nanti dia menikah maka kita hanya tinggal berdua saja," jawab Zhia pilu.

__ADS_1


"Oalah, bagaimana kalau kita buat lagi?" tanya Syauqi serius.


"Kita ini sudah tua, malu sama orang lain kalau punya anak lagi," jawab Zhia.


"Aku bilangnya cuma buat, masalah jadi atau tidak jadi itu sudah kehendak Alloh," jawab Syauqi langsung mencium istrinya.


Sebenarnya Zhia sedang tidak bersemangat, tapi belaian suaminya serta ciumannya yang dahsyat membangkitkan birahi Zhia sekekita.


Alangkah bahagianya jika memiliki pasangan hidup yang tulus saling mencintai, biarpun usia sudah tak lagi muda tapi cinta itu takkan surut. Namun banyak juga seseorang yang kurang beruntung mendapatkan jodoh, ada yang salah pilih ada pula yang ketika berpacaran baik tapi setelah menikah berubah.




Kaysa dan Alarik mampir sebentar ke penjual jajanan, mereka membeli makanan untuk oleh-oleh anak panti.


"Sebaiknya beli apa ya?" tanya Alarik bingung.


"Martabak manis saja, sepertinya enak. Sama susu kotak dan cemilan," saran Kaysa.


"Baiklah, bagaimana kalau ditambah buah-buahan?" tanya Alarik lagi.


"Iya, beli yang banyak loh," ucap Kaysa.


Setelah membayar mereka langsung menuju panti, di sana anak-anak menyambut mereka dengan bahagia.


"Lain kali kakak main ke sini lagi ya?" Pinta anak-anak.


" Oke, tapi seandainya kakak nanti tidak bisa ke sini pasti kakak akan mengirim makanan dan baju baru ya?" ucap Kaysa.


"Yee…." teriak anak-anak.


"Terima kasih ya, Nak. Kehadiran kalian membuat anak-anak senang," ucap pengasuh panti. Lelaki itu adalah pamannya Teguh.


Biarpun panti ini sudah menjadi milik Syadev tapi tidak ada orang yang mengasuhnya, jadi Syadev meminta paman itu untuk tetap di sana mengurus anak-anak. Karena untuk mencari orang yang benar-benar amanah sangat sulit.


"Sama-sama, Paman. Kami di sini juga permintaan Syadev," jawab Kaysa jujur.


"Nak Syadev sangat mulia sekali, sering mengirim anak-anak uang biarpun dia berada di Amerika. Namun semenjak Nak Anggun menolak menikah dengan Teguh, adikku jadi tidak pernah memberikan donasi. Apalagi kini panti ini semakin banyak anak-anak yang berdatangan, sedangkan hasil donasi hanya cukup untuk biaya sekolah dan makan sehari-hari, jadi uang jajan mereka terbatas. Seandainya aku seperti adikku yang kini hidup sukses aku ingin sekali membahagiakan mereka. Karena aku tidak memiliki anak jadi mereka sudah aku anggap sebagai anak sendiri" ucap mencocba Paman tersenyum tegar.


Kaysa merasa terenyuh melihat mereka yang hanya diberikan makanan saja sudah sangat bersyukur. Dia sadar betapa selama ini dia suka menghambur-hamburkan uang sedangkan di sisi lain banyak anak yang hidupnya kurang beruntung.


Sejak kecil Kaysa menganggap kedua orang tuanya memiliki harta melimpah, jadi ingin membeli apapun pasti bisa. Namun karena Kaysa memiliki watak pamer dia selalu ingin menjadi yang terbaik dalam segala hal. Sedangkan baju dan barang-barang mewah yang yang sudah dipakai hanya dijadikan pajangan saja.


"Do'akan saya memiliki kesehatan dan Riski lancar, Paman. Insya Alloh saya akan membantu untuk memberikan uang jajan pada mereka," ucap Alarik tulus.


"Terima kasih banyak ya, semoga kalian selalu diberi kesehatan dan Riski lancar," jawab Paman pengasuh panti tersenyum ceria.


Istri paman yang baru selesai menggoreng singkong langsung memberikan hidangan tersebut kepada Kaysa dan Alarik.


"Silahkan di makan, tapi hanya seadanya saja," ucap wanita setengah baya itu ramah.


"Terima kasih, Bibi," jawab Kaysa dan Alarik sopan.


Karena sudah semakin malam Kaysa dan Alarik berpamitan pulang, melihat senyum ceria anak-anak memberikan pikiran baru dalam otak Kaysa.


Dalam perjalanan Alarik tertidur dan bersandar pada paha Kaysa.


Kaysa hanya tersenyum sambil membelai rambut suaminya.

__ADS_1


Betapa bahagianya Kaysa memiliki suami yang pengertian dan bertanggung jawab. Hanya saja dia sering bersikap semaunya sendiri. Kaysa menyesal kenapa menyadari keburukannya tidak dari awal. Kini dia ingin belajar menjadi istri yang patuh dan lebih baik lagi.


Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yaπŸ€—πŸ€— Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author😍


__ADS_2