
Zhia memang menyadari sudah mempunyai calon suami, akan tetapi nama Iyas masih belum beranjak dari sudut hatinya.
Mendengar Iyas akan dijodohkan, Zhia merasakan nyeri didadanya.
"Baguslah Iyas mau menikah juga," celetuk Syauqi seenaknya tanpa beban.
Nayla langsung melepaskan pelukannya pada Zhia, kemudian mereka berdua menatap aneh pada Syauqi.
"Mas Syauqi kenapa bicara seperti itu?" tanya Nayla tak mengerti.
"Ya keputusan Iyas itu sudah tepat, akhirnya dia sadar Zhia tercipta hanya untukku," jawab Syauqi bangga.
"Tapi Iyas masih mencintai Zhia, bagaimana mungkin dia secepat itu bisa menerima orang lain?" tanya Nayla tak mengerti.
Mendengar pernyataan Nayla, Syauqi langsung tertawa keras.
"Heh anak kecil, jika memang Iyas mencintai Zhia dengan sungguh-sungguh, dia tidak akan melepaskan Zhia semudah itu. Dia akan terus berjuang walaupun nyawa taruhannya " sindir Syauqi.
"Mungkin Iyas melepaskan Zhia karena ingin melihat Zhia bahagia," balas Nayla merasa tak terima dianggap anak kecil.
Syauqi tertawa lebih keras lagi.
"Hanya orang bodoh yang berkata seperti itu. Bagiku cinta harus memiliki, karena hanya dengan itu seseorang punya alasan untuk melindungi, menjaga dan membahagiakannya. Aku jika sudah mencintai seseorang dengan cara apapun harus mendapatkannya dan tidak akan pernah melepaskannya," kata Syauqi pada Nayla, walau sesungguhnya dia berniat menyindir Zhia.
Nayla merasa apa yang dikatakan Syauqi masuk akal.
"Mas Syauqi kan baru saja pulang dari perjalanan jauh, sebaiknya istirahat dan tidur di rumah supaya tidak sakit karena kelelahan," usir Zhia pada Syauqi secara halus.
"Baiklah, aku juga tak mau ikut-ikutan obrolan para wanita," kata Syauqi berlalu pergi.
"kalau memang tak ingin kenapa tadi banyak bicara,"
batin Zhia dalam hati, dia merasa jika barusan disindir Syauqi.
"Zhia, bantu aku supaya bisa berubah seperti dirimu?"pinta Nayla merayu.
"Apa?" tanya Zhia tersentak kaget, karena barusan dia melamun.
"Aku mau berubah seperti dirimu. Memakai jilbab, belajar agama, biar nanti Iyas bisa menyukaiku. Sebelum mereka menikah aku masih punya kesempatan kan?" kata Nayla semangat.
Nayla teringat perkataan Syauqi tadi. kalau Cinta harus diperjuangkan walau nyawa taruhannya.
Zhia hanya tersenyum mengangguk.
"Nayla, aku senang karena cintamu padanya bisa membuat kamu berubah menjadi lebih baik, aku berharap setelah kamu sudah belajar agama,secara perlahan kamu akan beribadah niat ikhlas karena Alloh.Bukan karena Iyas."
"pertama apa yang harus aku lakukan?" tanya Nayla.
"Kita ke toko buku dulu mencari buku tentang agama Islam dan tuntunan sholat," jawab Zhia yang juga ikut senang.
"Bagaimana kalau besok sore saja? aku jemput kamu ya," kata Nayla.
Setelah mereka berdua sepakat Nayla berpamitan pulang.
**********************************
Setelah Sholat Ashar Zhia menunggu Nayla di depan Ruko, tak lama kemudian orang yang dinanti datang juga.
Nayla menunggu di pinggir jalan karena malas harus putar balik.
__ADS_1
"Mau kemana, Dek?" tanya Kakaknya sehabis dari musholla kecil diikuti beberapa orang.
"Mau ke toko buku menemani Nayla," jawab Zhia.
"Hati - hati ya, jangan pulang terlalu malam!" kata Rian mengingatkan.
"Iya, Mas Rian. Assalamu'alaikum," pamit Zhia.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rian.
Zhia keluar dari pekarangan menuju mobil Nayla, mereka segera pergi ke toko buku yang berada di dekat kampus.
Dari dalam mobil Zhia melihat kampus yang dulu pernah dijadikan tempat menimba ilmu. Zhia merindukan masa-masa yang telah terlewati.
"Kamu tak punya keinginan kembali ke kampus?" tanya Nayla.
"Tidak, sebentar lagi aku menikah. Lagi pula pasti tidak akan diizinin sama Mas Syauqi," jawab Zhia.
"Terkadang aku masih ingin belajar lagi, tetapi sebentar lagi aku akan menikah dan menjadi seorang ibu. Aku harus mengubur keinginanku supaya bisa merawat Anakku dengan baik."
Tak berapa lama mereka sampai di toko buku. Tempatnya memang tidak terlalu besar tapi selalu ramai karena harganya lebih murah, sangat cocok untuk kantongnya mahasiswa.
Zhia merekomendasikan beberapa buku yang menurutnya sangat penting dipelajari untuk perempuan muslimah.
"Zhia, ini buku tentang pernikahan. Sepertinya menarik," kata Nayla meminta pendapat.
Benar saja, Zhia yang sebentar lagi akan menikah juga merasa tertarik, dia langsung mengambilnya.
Mengingat tentang pernikahan Zhia jadi teringat dengan calon suaminya.
"Walaupun aku belum bisa membuka hatiku pada Mas Syauqi, akan tetapi sebentar lagi dia menjadi suamiku. Secara perlahan aku harus bisa membimbing dia menjadi imam yang baik untukku juga anakku. Aku berharap kelak bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah,dan warrohmah."
"Zhia aku sudah mengambil buku panduan sholatnya," tutur Nayla melihat Zhia juga memegang buku yang sama dengannya.
"Ini untuk Mas Syauqi," jawab Zhia tersenyum malu.
"Cie... "goda Nayla.
"Apaan sih, ayo buruan kita ke kasir sebelum antriannya semakin banyak," ajak Zhia.
Mereka berdua berdiri diantrian nomer tujuh.
"Padahal rame, kenapa kasirnya cuma satu ya?" bisik Nayla di telinga Zhia.
"Hush... nanti kedengeran yang punya toko bisa malu kita," tegur Zhia kalem, sedangkan Nayla malah terkekeh.
Beberapa detik kemudian jantung Zhia serasa berhenti berdetak, kedua matanya bertatapan langsung dengan Iyas yang baru masuk ke toko dengan seorang perempuan cantik yang juga berhijab.
Bukan hanya Zhia, Nayla yang melihat Iyas bersama wanita lain merasa terbakar hatinya.
"Assalamu'alaikum," sapa gadis yang bersama Iyas.
"Wa'alaikumsalam," jawab Zhia dan Nayla bersamaan, keduanya merasa canggung.
Sedangkan Iyas hanya diam, matanya menatap sendu ke wajah Zhia.
"Aku merindukanmu Zhia...
Apa yang harus kulakukan untuk bisa mengubur perasaan ini."
__ADS_1
"Maaf, bukankah kamu Zhia kan? Zhiadatul kaysa?" tanya gadis yang di samping Iyas.
"Iya, apa kita pernah mengenal?" tanya balik Zhia yang merasa heran.
"Aku Silvia, aku putrinya Pak Shodiq teman Ayah kamu waktu di pesantren. Bukankah dulu kita sering bermain saat ada acara alumnian di pesantren" jawab Silvia antusias.
"Oh maaf, aku hampir tak mengenalimu. Seingatku dulu kamu gemuk sekarang langsing dan tambah cantik," jawab Zhia tersenyum senang bertemu teman lama.
"Kamu masih cantik seperti dulu ya, aku ingat dulu kamu sangat pemalu, berteman denganku saja awalnya kamu takut hihihii," canda Silvia.
"Iya, makanya aku tidak punya banyak teman," jawab Zhia apa adanya.
"Tapi kan Mas Iyas selalu jadi pengawalmu, setiap ku tanya katanya khawatir kalau kamu tersesat lagi," gurau Silvia lagi. Namun Iyas sama sekali tak merespon.
"Setelah kita lulus SD kenapa kamu tak terlihat lagi diacara alumnian?" tanya Zhia penasaran.
"Ayahku pindah mengajar di Mesir. Setelah itu aku melanjutkan sekolah di sana," jawab Silvia.
"Wah... hebat!" puji Zhia tulus.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?"pinta Silvia.
"Baiklah."
Dengan senang hati Zhia membagikan nomor ponselnya.
Cukup lama mereka mengobrol, sampai Nayla sudah sampai di depan kasir.
"Zhia, mau bayar sekalian atau antri sendiri?" tanya Nayla setengah berteriak.
"Tunggu, aku nitip sekalian," Zhia menaruh buku miliknya kemeja kasir dan memberi beberapa lembar uang pada Nayla.
Nayla tadi langsung kembali keantrian sengaja menghindar dari Iyas, gadis itu merasa malu dan minder karena bajunya yang ketat.
"Setelah ini aku akan memborong baju yang sama dengan milik Zhia dan gadis itu."
Setelah belanjaan dibungkus Zhia dan Nayla pamit pergi, Silvia tersenyum ramah sedangkan Iyas masih diam mematung.
"Kenapa jarak terasa jauh disaat kita saling berhadapan?.
Memang semua salahku yang terlalu lemah sampai kamu terlepas dariku."
Iyas merasa tidak tahan lagi dengan kerinduan yang selama ini dipendam.Tanpa memperdulikan Silvia dan Nayla. Iyas langsung menarik tangan Zhia keluar dari Toko buku.
Silvia dan Nayla terkejut, tapi melihat buku - buku Zhia yang berjatuhan Nayla langsung memungutnya.
Zhia terpana, selama 14 tahun saling barsama baru kali ini dia merasakan lembutnya tangan Iyas yang menyentuh jemarinya.
Iyas terus menarik lembut tangan Zhia sampai di Taman Umum yang terletak di seberang jalan.
Dari dalam toko Silvia dan Nayla bisa melihat jika Iyas langsung memeluk tubuh Zhia.
"Oh my God," pekik Nayla.
Gadis itu melirik ke Silvia yang sudah berurai air mata.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saja. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya, semoga novel CINTA yang terpaksa ini bisa berkembang lebih baik lagi🤗