
Malam ini Reki tidak bisa tidur, dia terus terngiang suara Orlin yang seperti menangis. Meskipun dia sangat penasaran tapi ditahan untuk bertanya lebih lanjut, sebab tadi teleponnya buru-buru ditutup oleh gadis tersebut.
"Ada apa dengan Orlin? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?"
Perasaan Reki tidak tenang, dia tak tahu kenapa tiba-tiba jadi seperti ini.
Malam ini jiwa Reki gelisah sebab kepikiran dengan Orlin terus, akan tetapi sepupunya menghubunginya mengenai pekerjaan besok.
"Sebaiknya aku fokus tentang pekerjaan, bagaimanapun juga Alarik sudah memberikan kepercayaan padaku. Aku tidak boleh mengecewakan dia. Aku juga harus menjadi seseorang yang sukses agar nanti bisa memberikan keyakinan pada Orlin jika aku mampu membahagiakannya."
Setelah selesai berbincang pada Alarik, Reki berniat tidur agar besok bisa segar bugar. Beberapa bulan tidak masuk ke kantor membuat dirinya merasa agak minder, apalagi kejadian memalukan yang menimpanya.
Saat mata Reki terpejam bayangan Orlin yang manis membuatnya tersenyum sendiri.
"Sepertinya aku sudah gila!" umpat Reki merasa konyol.
Beberapa detik kemudian ponsel miliknya berdering, rupanya nomor salah satu dari pacarnya dulu.
"Reki, bagaimana kabarmu?" tanya gadis itu lewat seberang.
"Aku sangat baik, ada apa menghubungiku?" tanya Reki cuek.
"Aku merindukanmu," bisik pemuda itu.
"Simpan saja rindumu, karena aku sebentar lagi akan menikah," jawab Reki tersenyum bangga.
Reki langsung menutup telepon gadis tersebut tanpa rasa penyesalan.
Di masa lalu Reki memiliki banyak sekali pacar, dan di antara mereka yang paling dimanjakan adalah Arisa. Sebab gadis tersebut tercantik. Namun dia merasa kesal karena saat Reki terpuruk gadis itu pergi, setelah Reki bangkit Arisa baru menghubunginya.
"Tidak ada yang pantas mendapatkan perhatian dariku kecuali Orlin!"
Kemudian Reki memberanikan diri untuk mengirim pesan pada seseorang yang memenuhi pikirannya saat ini.
Reki
Selamat tidur Orlin, semoga mimpi indah. Dan sampai berjumpa lagi besok di kantor.
Reki merasa geli sendiri, sebab dia bukan tipe pemuda yang bisa berbicara manis pada perempuan. Terlebih lagi selama ini dia tidak pernah menganggap perempuan itu sesuatu yang berharga. Namun, penilaiannya berubah semenjak bertemu dengan Orlin. Gadis yang lembut dan bisa menenangkan hatinya.
"Inikah yang dinamakan cinta?"
Reki mulai beranjak tidur dan terlelap dalam mimpi indahnya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Kaysa merasa kesal sekali, sampai bantal gulingnya diremas-remas sebab marah pada suaminya.
Alarik sudah dua jam berbicara pada orang lain lewat telepone. Padahal malam ini Kaysa ingin sekali diperhatikan lebih, apalagi dia sedang hamil muda.
"Aku marah pokoknya! Awas saja nanti," batin Kaysa dongkol.
Alarik baru saja menutup teleponnya, melihat bibir istri tercintanya sudah cemberut lima meter membuat dirinya tidak berani menyentuh ponsel.
Alarik mendekati Kaysa, tapi istrinya itu malah memalingkan tubuhnya dan pura-pura tidur.
__ADS_1
Alarik langsung memeluk tubuh Kaysa dari belakang. Dan dibelainya rambut istrinya yang panjang itu.
"Aku tadi mengobrol dengan Kak Reki, dia kan sudah beberapa bulan tidak ke kantor jadi sudah banyak sistem yang berubah," kata Alarik lembut.
"Hemm," jawab Kaysa cuek.
"Aku juga menelepon orang kantor agar seluruh karyawan bisa memperlakukan Kak Reki dengan hormat seperti sediakala. Aku tidak ingin nanti Kak Reki mengalami gangguan mental lagi jika orang-orang mengguncangnya," jelas Alarik.
"Sungguh saudara yang baik," sindir Kaysa ketus.
Alarik menahan tawa, dirinya tahu jika istrinya tersebut ingin diperhatikan.
Alarik bangkit dan menarik tubuh istrinya agar tidur terlentang.
"Istriku, aku ingin menyentuh perutmu. Kira-kita anak kita sedang apa ya?" goda Alarik.
"Baru satu bulan, mana bisa bergerak?" kata Kaysa semakin kesal.
"Sepertinya anak kita sedang minta disayang Papanya," rayu Alarik mengelus perut Kaysa secara perlahan. Akan tetapi lama kelamaan tangannya tersebut turun ke bawah.
"Hey... " pekik Kaysa kaget.
Alarik kini melepaskan tawanya, istri pemarahnya tersebut sangat lucu dan menggemaskan.
"Maafkan aku ya sayang, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi," pinta Alarik sambil mencium kening Kaysa.
"Makanya harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan istrinya!" rengek Kaysa.
"Iya... Iya... Ayo sekarang tidur," bujuk Alarik sambil memeluk istrinya erat.
"Aku ingin buah melon! Tapi anak kita sepetinya hanya ingin Papanya yang mengupas," pinta Kaysa manja.
"Iya sayang, tunggu sebentar ya! Aku akan turun ke dapur dulu," ucap Alarik segera bangkit keluar dari kamar. Saat itu Kaysa langsung tersenyum riang.
semenjak mengetahui Kaysa hamil saat itu juga Alarik sudah menyiapkan diri untuk menghadapi kerewelan serta sikap manja sang istri. Baginya sudah terbiasa menghadapi tingkah Kaysa yang seperti itu.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Syadev dan Anggun baru saja mau ke kamar, mereka sejak tadi duduk mengobrol bersama Ayah dan Bunda mereka di ruang santai.
Karena kamar Syadev dan Kaysa bersebelahan maka mereka berdua bisa melihat Alarik yang membawa potongan buah melon, apel dan anggur.
"Anggun, kamu mau?" tanya Alarik menawari bawaannya.
"Terima kasih, nanti aku turun ke bawah sendiri saja," jawab Anggun sopan.
"Baiklah jika kamu maunya dari suamimu saja," jawab Alarik segera masuk ke dalam kamar.
Anggun dan Syadev segera tersenyum melihat Alarik yang malam-malam dikerjai istrinya.
"Istriku, kamu masuk dulu. Aku akan turun ke bawah," ucap Syadev lembut.
"Baiklah," jawab Anggun patuh.
Tak berapa lama suaminya tersebut kembali dengan membawa buah-buahan yang sama seperti yang dibawa Alarik tadi.
__ADS_1
"Wah... Terima kasih banyak, suamiku," ucap Anggun bahagia.
"Sudah aku bilang, jika ingin apa-apa langsung katakan saja! Suamimu ini siap melayani selama 24 jam," kata Syadev mesra.
"Iya," jawab Anggun terharu.
Berbeda dengan Kaysa yang senang mengerjai Alarik, akan tetapi Anggun justru tidak ingin suaminya tersebut kelelahan. Apalagi Syadev biarpun sedang tidak kuliah tapi dia tetap mengerjakan tugas di rumah. Syadev tidak ingin ketinggalan satu mata materi, apalagi dia juga berniat bisa segera lulus dalam waktu singkat.
"Sini aku suapin," kata Syadev lembut.
Demi menyenangkan suaminya Anggun duduk di samping suaminya dan dengan senang hati disuapi buah-buahan tersebut.
"Suamiku, apakah pelajaran kamu lancar?" tanya Anggun lembut.
"Alhamdulillah, kamu jangan khawatirkan aku! Dengan otakku ini semua pelajaran itu sangat mudah dipahami," jawab Syadev menenangkan istrinya.
"Iya, aku percaya pada suamiku pasti bisa karena kamu hebat," puji Anggun tulus.
"Kamulah penyemangatku, aku akan melakukan apapun agar kita bisa tetap bersama," jawab Syadev mencium kening istrinya penuh perasaan.
"Kapan kita kembali ke Amerika?" tanya Anggun penasaran.
"Setelah pernikahan Darren dan Zahra. Kenapa? Pengen ke panti bertemu anak-anak?" tebak Syadev.
"Kok tau?" tanya Anggun terkejut.
"Tentu saja tahu, besok aku akan pulang dari kantor cepat, jadi kita bisa ke panti bersama," jawab Syadev puas.
"Terima kasih banyak suamiku," ucap Anggun tak bisa menahan bahagianya.
Syadev dengan telaten menyuapi istrinya tersebut penuh perhatian. Anggun memang gadis yang berbeda, hal sekecil apapun yang dilakukan Syadev sudah membuat istrinya senang.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Anggun heran.
"Aku hanya sedang membayangkan jika istriku perutnya membesar pasti akan semakin cantik," jawab Syadev tertawa.
"Itu namanya mengejek," sergah Anggun.
"Siapa bilang mengejek? Aku justru memuji," timpal Syadev.
Anggun ikutan tertawa bahagia menantikan saat-saat itu.
"Apa kamu kecewa jika tidak bisa melanjutkan kuliah dan mengejar impianmu selama ini?" tanya Syadev berubah serius.
"Impianku yang sesungguhnya adalah hidup bersamamu," jawab Anggun jujur.
"Kamu memang istri yang baik, sekarang tidurlah!" perintah Syadev.
Anggun sudah berbaring ke tempat tidur, sedangkan Syadev mengambil laptopnya dan tengah mengerjakan urusan belajarnya.
Anggun senang, sebab suaminya itu masih menemaninya dan duduk di sampingnya.
"Ayo tidurlah, nanti kalau sudah selesai aku akan memelukmu," ucap Syadev yang membuat Anggun malu.
Memang benar, tanpa pelukan dari suaminya Anggun tidak bisa tidur.
__ADS_1
Syadev yang tahu istrinya belum bisa tidur juga akhirnya meletakkan laptopnya dan ikut berbaring sambil memeluk Anggun. Setelah istrinya tertidur pulas Syadev bangun lagi dan meraih laptopnya.
Jangan Lupa Like dan Vote ya🤗