
Syauqi sedang makan siang ditemani istrinya, dia baru saja mendapatkan telepon dari Rendra yang mengajaknya memancing di danau dekat Villa tempat dulu mereka tinggal.
Setelah selesai makan Syauqi menelpon menantunya.
"Alarik, kamu dan Syadev segera ke sini ya! Ayah tadi diminta Rendra untuk menemuinya di Villa," perintah Syauqi tegas.
"Iya, Ayah," jawab Alarik patuh lewat telepon.
Syauqi segera memutuskan sambungan telepon dan mengajak istrinya untuk pergi dari kantin perusahaan.
"Loh, bukannya Papanya Orlin sampai ke Villa nanti sore? Kenapa buru-buru?" tanya Zhia heran.
"Ah.. Apa salahnya kita bersantai sebentar? Aku begini juga sedang melatih mental Alarik dan Syadev untuk menjadi pembisnis handal sepertiku," jawab Syauqi santai.
"Alasan ah... Bilang saja mau bermalas-malasan," ejek Zhia.
Syauqi langsung merangkul istrinya di depan umum membuat para karyawan merasa sangat iri. Sebab kelembutan Syauqi hanya pada keluarganya, sedangkan untuk orang lain masih bersikap angker dan bikin orang merinding bila berhadapan.
Saat Syauqi baru saja memasuki mobil, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Assalamu'alaikum, Ayah. Katanya Ayah dan Bunda mau ke Villa ya? Aku dan Anggun ikutan dong," rayu Kaysa masih bertingkah manja.
"Baiklah, Ayah akan jemput kalian sekarang juga," jawab Syauqi menghembuskan napas berat.
"Ada apa?" tanya Zhia.
"Kaysa dan Anggun mau ikut kita," jawab Syauqi.
"Bagus kalau begitu," balas Zhia senang.
Syauqi hanya melirik istrinya dengan senyuman kesal. Sebab jika di depan anak-anaknya dia mana mungkin berani menggoda istri tercintanya.
Sesampainya di rumah Kaysa dan Anggun sudah menanti dengan senyuman ceria.
"Ayah... Bunda..." sapa Kaysa riang.
"Alarik dan Syadev sudah berangkat ke kantor?" tanya Syauqi tanpa turun dari mobil.
"Sudah dari tadi," jawab Anggun sambil mengajak Anggun masuk ke mobil.
"Flora sudah pulang sekolah belum?" tanya Zhia.
"Belum, aku sudah beritahu kalau di rumah tidak ada orang. Jadi dia minta izin ke rumahnya Isnaini," jawab Kaysa.
"Bunda lega kalau Flora sudah tahu," balas Zhia.
"Ayah, kita mampir ke Superindo dulu," pinta Kaysa.
"Mau beli apa?" tanya Syauqi.
"Buah dan cemilan, kayaknya asyik makan-makan sambil naik perahu dan melihat senja," jawab Kaysa riang.
"Iya," jawab Syauqi tersenyum geli, dia mengingat jika dulu saat kehamilan pertama istrinya tersebut makannya juga bertambah banyak dan sama sekali tidak mual-mual.
Begitu sampai di parkiran Superindo, Kaysa langsung semangat keluar dari mobil.
"Anggun, kamu mau ikut enggak?" tanya Kaysa.
"Aku di sini saja," jawab Anggun.
__ADS_1
"Kamu kepengen apa?" tanya Kaysa lagi.
"Tidak usah, nanti aku bisa makan punyamu saja," jawab Anggun yang memang kepalanya berdenyut pusing.
Syauqi tidak tega juga membiarkan putrinya masuk sendirian, diapun ikut keluar.
"Istriku, kamu temani Anggun ya? Aku akan menemani Kaysa," ucap Syauqi.
"Iya, Mas," jawab Zhia tersenyum ramah.
"Kamu mau apa?" tanya Syauqi menawari istrinya.
"Tidak perlu, palingan nanti Kaysa juga belanja banyak dan macam-macam," jawab Zhia santai.
Dan benar saja, Kaysa mengambil berbagai macam buah serta cemilan. Bahkan setelah keluar dari Superindo Kaysa tertarik dengan makanan di pinggir jalan.
"Mau apa lagi?" tanya Syauqi yang kewalahan membawa dua tas plastik besar.
"Batagor, mendoan, sate, dan nasi Padang," jawab Kaysa sudah berlalu pergi.
Syauqi sudah tidak sanggup lagi mengejar Kaysa, dia memilih kembali ke mobil.
"Mana Kaysa?" tanya Zhia.
"Tuh," jawab Syauqi sambil menunjuk putrinya.
"Apa aku bilang, tanpa aku minta apapun belanjaan Kaysa bisa buat makan satu RT," ujar Zhia tertawa.
"Biarlah, asalkan dia bahagia," jawab Syauqi.
Lima belas menit kemudian Kaysa kembali ke mobil dengan wajah yang riang.
"Kamu yakin bisa makan semuanya?" tanya Anggun tersenyum geli.
"Kita lihat saja nanti," jawab Kaysa.
"Aku melihat belanjaanmu saja sudah merasa kenyang," balas Anggun.
"Kehamilan memang berbeda-beda, Bunda saat hamil Kaysa dan Syadev juga makan terus bawaannya. Sedangkan saat hamil Flora malah muntah terus tiap makan," kata Zhia tersenyum mengingat dulu.
"Apa jangan-jangan Kaysa hamil kembar ya, Bunda?" tanya Anggun antusias.
"Kita tunggu saja nanti setelah tiga bulan, kamu juga bisa saja hamil kembar," jawab Zhia.
"Wah... Wah... Seandainya kalian berdua hamil kembar semua dan anak-anak kalian seperti Kaysa pasti ..." timpal Syauqi yang tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Pasti apa, Ayah?" tanya Kaysa penasaran.
"Pasti hidup Ayah akan lebih berwarna lagi," jawab Syauqi kikuk.
Zhia tertawa mengejek suaminya, menghadapi satu Kaysa saja sudah kewalahan, bagaimana nanti jika ada Kaysa yang ke tiga dan ke empat.
Syauqi hanya melirik kesal menatap istrinya, begitu sadar Zhia langsung diam. Sebab lirikan suaminya tersebut penuh arti.
ππππππππππππππππ
Reki duduk di samping tempat tidur Orlin. Sudah setengah jam yang lalu gadis itu tertidur karena efek obat.
Nayla juga belum pulang dari belanja, membuat Reki jadi salah tingkah mau bagaimana.
__ADS_1
"Kalau aku pulang tanpa pamit pada Tante Nayla rasanya kurang sopan."
Reki menatap wajah Orlin dengan seksama. Semakin dipandang wajah gadis tersebut semakin cantik.
Tiba-tiba saja Orlin merintih seperti kesakitan.
"Pa, jangan bawa aku ke London!"
Meskipun suara Orlin lirih akan tetapi Reki mendengar dengan jelas.
"Orlin, seandainya kamu pergi ke London aku akan mengejarmu sampai ke sana. Tapi aku berharap orang tuamu secara perlahan bisa menerimaku. Aku ingin menikahimu..." gumam Reki.
Reki ingin sekali menyentuh kepala Orlin dan mengelusnya, akan tetapi dia merasa takut jika membuat gadis tersebut tersinggung.
Tiba-tiba Nayla masuk ke ke dalam kamar tanpa memberitahu terlebih dahulu. Reki merasa lega sebab tadi tidak menuruti hawa nafsunya.
"Orlin sudah makan?" tanya Nayla.
"Sudah Tante, juga sudah minum obat setelah itu langsung tidur," jawab Reki sopan.
"Syukurlah," balas Nayla senang.
"Tante, aku pamit pulang dulu ya? Nanti tolong sampaikan permintaan maafku pada Orlin karena pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu," pinta Reki.
"Iya," jawab Nayla ramah.
Nayla merasa jika Reki memang sudah mulai berubah, sebab ketulusan seseorang bisa terpancar lewat tatapan matanya.
Reki meninggalkan Apartemen milik Orlin dan kembali ke kantor. Akan tetapi sesampainya di sana ada salah satu karyawan yang menghadang langkah Reki dengan sopan.
"Bos, Anda sudah ditunggu Nona Arisa. Dia sekarang berada di dalam ruangan kantor Anda," ucap karyawan tersebut.
"Ingat, lain kali jangan terima gadis manapun masuk keruanganku tanpa izinku!" perintah Reki tegas.
Reki segera menuju ke kantor dan menemui mantan pacarnya.
Begitu pintu kantor di buka, gadis tersebut langsung berlari dan memeluk dada Reki.
"Reki, aku merindukanmu," bisik gadis itu.
Reki langsung melepaskan pelukan gadis tersebut dan tertawa.
"Rindu? Selama ini kamu kemana saja? Kalau kamu rindu kenapa tidak mengunjungiku saat aku di rumah sakit? Kalau tidak kenapa sama sekali tidak meneleponku?" ejek Reki.
"Ponselku hilang, aku tidak hapal nomormu," rengek Arisa manja.
Mungkin jika dulu Arisa bertingkah seperti itu Reki akan langsung luluh dan memeluk serta menuruti semua kemauan gadis tersebut. Namun, entah kenapa sekarang malah merasa risih.
"Kalau berniat mencari kabar tentangku kan bisa saja bertanya karyawan di kantor. Bukankah kamu sering ke sini? Lupakanlah! Lagipula aku akan menikah, sebaiknya kamu cari pengganti yang lain saja. Lagi pula dulu saat aku bersamamu aku juga tidak setia padamu, kamu adalah kekasihku yang kesekian," kata Reki tegas.
"Aku tahu... Aku tahu kalau aku dulu memang bukan satu-satunya. Tapi aku mencintaimu, seandainya kamu sudah memiliki istri nanti aku rela menjadi yang kedua," bujuk Arisa.
"Tidak! Kali ini aku benar-benar jatuh cinta pada calon istriku. Dan hanya dia satu-satunya yang ada dalam hidupku. Sekarang kamu pergi dan jangan pernah datang kesini lagi," usir Reki tegas.
"Kamu tega padaku!" teriak Arisa frustrasi.
"Kenapa kamu tidak sadar diri juga? Pergilah... Dan renungi kesalahanmu sendiri," kata Reki tegas.
Arisa segera keluar dengan tatapan kebencian. Gadis itu sengaja membuat warna lipstik di bibirnya sedikit berantakan agar para karyawan bisa melihatnya.
__ADS_1
Siapa yang mau crazy up? Vote yang banyak dongπ€π€π€π€ Biar Author semangat