CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Jabakan Musuh


__ADS_3

Sagara dan Deby fokus dengan pekerjaan mereka, tidaklah mudah bagi mereka untuk membobol sandi yang terkunci.


‘’Ini sangat sulit sekali,’’ keluh Sagara sudah mengerahkan segala kemampuannya.


‘’Mereka memang memiliki alat yang sangat canggih,’’ balas Deby.


‘’Apa ada barang lain selain ini?’’ tanya Sagara.


‘’Ada, dan itu sudah diambil lagi oleh mereka. Sepertinya barang yang penting sampai mereka berani membobol rumah aku di siang bolong,’’ ujar Deby.


‘’Serius?’’ pekik Sagara.


‘’Iya, kalau tidak percaya tanya sepupumu,’’ sergah Deby.


‘’Coba ceritakan rincian peristiwa kemarin!’’ pinta Sagara penasaran.


Deby mulai menjelaskan semuanya, akan tetapi soal Arkananta yang terluka di skip.


‘’Kamu panggil Arkananta sebentar!’’ perintah Sagara.


Deby langsung meminta pelayan yang lewat untuk memanggil Arkananta. Tak lama kemudian yang dicari datang, begitu juga dengan Yudistira.


‘’Arka, kemarin saat kejadian apa kamu mendengar sesuatu atau melihat sesuatu?’’ tanya Sagara.


‘’Hanya mendengar mereka ingin membunuh papanya Deby, sepertinya papanya Deby tahu sesuatu,’’ jawab Arkananta.


‘’Penjahat yang kemarin sudah tertangkap?’’ tanya Sagara semakin penasaran.


‘’Sudah, mereka malah menyerahkan diri karena dikepung,’’ sela Deby.


‘’Oh tidak, kenapa aku merasa ada yang mencurigakan? Mereka membawa senjata bahkan bom,’’ pekik Arka mengingat sesuatu.


‘’Serius?’’ Sergah Yudistira ikut panik.


‘’Walaupun agak remang – remang aku ingat salah satu dari mereka membawa bom. Seharusnya bisa saja mereka melawan dengan senjata yang lebih canggih dari milik kepolisian, tapi kenapa mereka menyerahkan diri?’’ gumam Arkananta.


‘’Karena semua bukti sudah ada di tangan papanya Deby, jadi mereka sengaja menyerahkan diri untuk mendapat kesempatan menghancurkan bukti dengan mengebom kantor kepolisian,’’ duga Yudistira.


‘’Oh tidak, firasatku tidak enak. Aku mau menemui papa,’’ pekik Deby gelisah.


‘’Aku ikut,’’ sela Arka.


Sagara dan Yudistira juga berlari menyusul. Mereka berempat segera menuju tempat dimana papanya Deby bekerja.


‘’Deby, coba kamu telepon papamu!’’ pinta Arkananta.


‘’Iya, jawab Deby segera mengambil ponselnya.


‘’Tidak aktif, biasanya jika mendapat telepon dariku sesibuk apapun papa akan mengangkatnya,’’ sela Deby panik.


Yudistira langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, akan tetapi dalam jarak 2 km jalan raya macet total.

__ADS_1


‘’Ada apa ini?’’ gumam Yudistira kesal.


‘’Coba aku tanya keluar,’’ balas Sagara turun dari mobil.


Tak lama kemudian Sagara masuk dari mobil dengan wajah pucat sekaligus bersedih.


‘’Ada apa?’’ tanya Deby, Yudis dan Arka bersamaan.


‘’Terjadi pengeboman di kantor kepolisian,’’ jawab Sagara.


‘’Tidak, aku harus segera ke sana!’’ teriak Deby histeris.


‘’Jangan, saat ini jalan di depan memang sedang di tutup, mobil kita tidak bisa maju dan kita harus putar arah,’’ sergah Sagara.


‘’Tapi aku tetap mau ke sana, sekalipun harus jalan kaki,’’ balas Deby memaksa turun.


‘’Ayo Deb biar aku temani,’’ sela Arka.


Sagara juga ikut turun lagi, sedangkan Yudistira tidak bisa meninggalkan mobil keluarganya di tengah jalan seperti itu.


Deby berlarian sambil menangis, sedangkan Arkananta dan Sagara membuntutinya.


Arka sebenarnya merasa sakit pada bagian lengannya saat berlarian seperti itu, tapi melihat kesedihan Deby baginya lebih menyakitkan.


Sejak kecil Deby sudah kehilangan mamanya, sedangkan Martin memutuskan untuk fokus membesarkan Deby tanpa menikah lagi. Karena hidup dilingkungan kepolisian yang mayoritas teman papanya kebanyakan lelaki maka Deby tumbuh menjadi gadis tomboy.


Cukup lama mereka berlarian, sebab jalanan macet parah dan heboh. Ketika sampai di lokasi kejadian bangunan yang tadinya berdiri tegap kini sudah runtuh.


Disekelilingnya sudah dibatasi pembatas sehingga kecuali dari petugas kepolisian dilarang masuk. Bahkan Deby yang merupakan putri dari kepala kepolisian tersebut juga dilarang untuk masuk.


‘’Apakah papaku ada di dalam?’’ tanya Deby sudah memerah wajahnya sebab menangis.


‘’Kami sedang mencarinya, karena banyak yang tertimbun reruntuhan. Sebaiknya Anda menunggu kabar dari kami,’’ balas polisi tersebut sambil mengisyaratkan Deby untuk menjauh.


Deby hanya bisa terduduk di atas aspal dan menangis seperti anak kecil, sedangkan Arkananta dengan reflek memeluk Deby.


Sagara terkejut, jelas – jelas di antara mereka di larang untuk bersentuhan. Namun dalam keadaan seperti ini Sagara juga sungkan untuk menegur.


‘’Ayo coba kita ke rumah sakit, aku dengar ada sebagian yang ditemukan dan di bawa ke rumah sakit. Semoga Om Martin baik – baik saja!’’ ajak Sagara.


‘’Benar, kita harus ke sana. Tapi lewat mana? Semua jalan di tutup hanya ambulans saja yang bisa lewat,’’ tanya Arkananta.


Sagara sudah tidak memilki ide lagi, tempat itu sudah riuh dan dipenuhi orang – orang dari keluarga korban. Mereka semua juga hanya bisa menunggu kabar tanpa mampu melakukan apapun.


‘’Kita pulang ke rumah, siapa tahu papaku sedang menungguku di sana,’’ ajak Deby.


‘’Ayo,’’ jawab Arkananta menuruti permintaan gadis yang disukainya.


Mereka kembali lagi ke tempat yang tadi, dan Yudistira masih menunggu di sana.


‘’Kamu masih di sini?’’ tanya Deby.

__ADS_1


‘’Iya, karena aku tahu kalian pasti akan kembali. Karena di sana tentu saja tidak ada satu orangpun yang diizinkan masuk kecuali petugas khusus,’’ jawab Yudistira.


‘’Apa kita bisa pergi ke rumah sakit?’’ sela Arkananta.


‘’Sepertinya bisa, mari kita coba,’’ jawab Yudistira.


Butuh waktu yang lama untuk putar arah, sebab antrian di depannya juga banyak. Sesampainya di rumah sakit ternyata sudah sangat penuh orang.


Deby menemui seseorang yang dikenalnya, yaitu kepala rumah sakit.


‘’Om, apa papaku baik – baik saja?’’ tanya Deby cemas.


‘’Deb, kamu harus tegar. Papamu sudah menyusul mamamu, tadi sebelum menghembuskan napas terakhirnya dia sempat meminta padaku untuk menjagamu dan menjadikanmu anak angkat,’’ jawab kepala rumah sakit yang sebaya dengan Martin.


Deby syok, dunia seakan berubah gelap. Tiba – tiba dia langsung roboh.


Arka langsung menangkap tubuh Deby, tapi luka di lengannya langsung berdarah lagi. Akhirnya Sagara yang berada paling dekat membantu Arka untuk menggendong Deby. Arka yang memang tidak mampu mengangkat merelakan gadisnya digendong oleh sepupunya.


‘’Dia hanya syok dan pingsan, sebaiknya di bawa ke rumah Tuan Syadeva yang memiliki dokter pribadi terbaik. Apalagi seluruh ruangan ini sudah penuh dan para dokter juga kalang kabut,’’ saran kepala polisi.


‘’Iya, ‘’ jawab Sagara membawa Deby ke dalam mobil.


Yudistira langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, sesampainya di rumah Sagara menggendong Deby dan membawanya ke kamar tamu.


Semua orang yang ada di sana ikutan panik sebab tadi melihat berita di televisi. Anggun langsung menelpon dokter pribadinya untuk segera datang.


Sedangkan Sarah yang tadinya berniat untuk melupakan Sagara menjadi sedih, sebab ada tiga orang tapi kenapa yang mengendong Deby justru Sagara, bukan Yudistira ataupun Arkananta.


Sedangkan Sagara juga ada perasaan bersalah, entah itu apa dia sendiri juga tidak tahu. Yang jelas melihat kemuraman Sarah, Sagara merasa sesak.


‘’Kalian semua keluar dari kamar, biar udara tidak pengap. Mama saja yang menjaga Deby!’’ perintah Anggun.


Ketiga generasi Syauqi beserta para gadis segera keluar menuruti perintah Anggun.


‘’Fayyola, cepat ambilkan kotak obat!’’ perintah Yudistira.


‘’Iya, Kak,’’ jawab Fayyola langsung beranjak pergi.


‘’Lenganmu kenapa?’’ tanya Sagara yang memang belum tahu.


Yudistira membisikkan sesuatu, kemudian Sagara manggut – manggut.


‘’Harus segera diobati dan diganti perban kalau begitu,’’ balas Sagara ikut gelisah.


‘’Ini, Kak, ‘’ ucap Fayyola menyerahkan kotak obat yang lumayan besar.


Yudistira langsung membuka dan mencoba mengobati luka Arkananta, Jamilah yang tadinya berdiri langsung membantu Yudistira mengambilkan air hangat dan membersikan lukanya terlebih dahulu.


‘’Ahh… Sakit sekali,’’ keluh Arka.


‘’Tahan sedikit, mungkin karena tadi kamu berlari dan juga menahan tubuh Deby saat pingsan,’’ bujuk Yudistira.

__ADS_1


‘’Kalian semua jangan bilang hal ini pada om dan tante ya?’’ pinta Arka.


Sarah, Jamila dan Fayyola langsung mengangguk.


__ADS_2