
Anggun memiliki hati yang lembut, sebagai seorang yang pernah hidup kesusahan tentu saja memiliki simpati yang tinggi terhadap orang lain. Anggun merasa kasihan terhadap Jamila yang hanya membawa sedikit baju itupun juga terlihat sudah agak kuno. Apalagi di asrama nanti semua murid perempuan kebanyakan memakai gamis.
Anggun memiliki banyak sekali gamis modern kekinian, diapun mencari yang cocok untuk Jamila agar nanti bisa di pakai untuk sehari - hari. Ada juga beberapa yang masih baru karena Anggun memang jarang bepergian.
"Ma, ini kardus isinya apa?" tanya Yudistira yang kebetulan lewat di depan kamar orang tuanya.
"Kebetulan ada kamu, tolong serahkan pakaian ini pada Jamila ya. Masih bagus dan Mama sesekali kok. Ada juga tiga yang masih baru. Mama mau ke toilet," ucap Anggun buru - buru menyerahkan kardusnya itu pada anaknya.
Yudistira langsung menangkap dan berjalan menuju kamar tamu. Di sana hanya ada Fayyola dan Jamila saja.
"Jamila, ini untukmu dari mama. Masih bagus dan baru dipakai sesekali, ada juga yang baru," ucap Yudistira ramah.
"Ah terima kasih banyak, maaf aku jadi merepotkan keluarga kamu," jawab Jamila terharu.
"Sama sekali tidak merasa direpotkan," balas Yudis.
"Kak Jamila jangan sungkan begitu, om dan tante aku memang suka berbagi. Mereka juga punya banyak panti asuhan," sela Fayyola.
"Benarkah? Sungguh dermawan sekali," decak Jamila.
"Bagaimana belajarnya kamu? Apakah bisa memahami buku yang aku kasih itu?" tanya Yudistira.
"Jujur saja aku tidak yakin bisa lolos, karena pelajarannya berbeda sekali. Ini jauh lebih sulit dari yang aku pelajari," keluh Jamila.
"Sekolah Andromeda memang memiliki kualitas terbaik. Bahkan SMP saja sudah mempelajari pelajaran SMA umum," balas Yudistira.
"Kira - kira aku bisa masuk nggak ya?" tanya Jamila resah.
"Walaupun aku tidak sejenius Sagara, tapi kalau soal buku ini aku masih paham. Ayo aku ajari," saran Yudistira.
"Kalian jangan belajar di kamar dong, nanti kalau ada orang ketiga," sela Fayyola mengingatkan.
"Kan orang ketiganya kamu," balas Yudistira tertawa.
Fayyola tertawa tapi juga kesal sebab justru diejek oleh kakaknya itu.
"Aku mau mencari Kak Sarah, ada hal penting. Jadi kalian belajar di ruang keluarga saja," saran Fayyola.
"Iya deh," jawab Yudistira mengalah.
__ADS_1
Jamila segera mengambil buku - bukunya dan mengikuti langkah Yudistira. Karena Jamila bukan dari keluarga yang seperti generasi Syauqi Malik sehingga gadis itu masih merasa biasa saja saat bersama lelaki. Tidak memberikan jarak karena memang belum paham.
Yudistira dengan telaten mengajari Jamila, untung saja Jamila cepat tanggap jadi hanya sekali dua kali diterangkan langsung paham.
Dari kejauhan Anggun hanya senyum - senyum sendiri, masa SMA memang masa terindah. Seperti dirinya dulu yang mencintai suaminya secara diam - diam dan siapa sangka pada akhirnya menjadi jodoh. Padahal waktu itu Syadeva sangat cuek dan angkuh. Kemudian setelah menikah justru menjadi suami terbaik yang paling manis.
Yudistira dan Jamila belajar sampai sore hari, keduanya begitu fokus dan serius belajar.
Sagara yang juga baru selesai bermain game dengan Valerio merasa heran dengan kesungguhan saudara kembarnya. Karena selama ini Yudistira sangat pemalas.
"Kak, kita bermain basket yuk?" ajak Valerio menyapa Yudistira.
"Hanya bertiga saja?" tanya Yudistira agak malas.
"Boleh aku ikut?" sela Jamila yang sudah lelah berpikir.
"Memang kamu bisa?" tanya Yudistira.
"Bisa dong," balas Jamila.
"Oke kalau begitu," jawab Yudistira semangat.
"Aku ganti baju dulu," sela Sagara beranjak ke kamarnya sendiri.
Fayyola dan Sarah hanya menonton saja, sebab keduanya merupakan gadis lemah lembut yang tidak bisa bermain bola.
Sagara satu team dengan Valerio, sedangkan Yudistira satu tim dengan Jamila.
Semakin sore suasana semakin asyik, sebab pertarungan mereka seimbang. Jamila meskipun perempuan tapi bisa bergerak lincah dan beberapa kali berhasil memasukkan bola.
"Kak Jamila, ayo pasti bisa," teriak Fayyola riang.
Sedangkan Sarah hanya diam saja, tapi kedua bola matanya fokus memandang Sagara yang terlihat semakin tampan dengan rambut setengah basah sebab keringat yang mengucur ke dahinya. Apalagi Sagara memakai pakaian basket membuat lengannya yang kekar terlihat semakin jelas.
Fayyola mulai menyadari jika kakak seniornya ini sedari tadi terus memandang Sagara.
"Kak Sagara tampan sekali ya?" pancing Fayyola.
"Iya, eh maksudnya kalau semua lelaki itu memang tampan," jawab Sarah gugup.
__ADS_1
"Kakak naksir Kak Sagara ya?" sela Fayyola menggoda.
"Eh, tidak. Kita jangan membahas itu lagi ya," pinta Sarah salah tingkah.
Fayyola tertawa, sebab dari sikap Sarah memang sudah terlihat jelas.
"Kakak jangan membohongi diri sendiri, tapi aku hanya heran kenapa kakak malah menyukai Kak Sagara. Jika dipikir - pikir wajahnya dengan Kak Yudistira hampir mirip. Tapi jika Kak Sagara itu dingin, sedangkan Kak Yudistira lebih hangat dan ramah. Kenapa tidak memilih Kak Yudistira saja?" tanya Fayyola penasaran.
Sarah juga tidak tahu, gadis itu sendiri juga sulit mengartikan perasaanya. Padahal Sagara cuek dan dan awal pertemuan mereka juga sangat menakutkan.
"Fayyola, kita ini masih terlalu kecil untuk membahas hal itu. Lebih baik fokus ke sesuatu yang lebih penting seperti hafalan kita. Ingat, nanti setelah masuk kita harus setor loh," sela Sarah mengalihkan pembicaraan.
Fayyola jadi teringat jika hari ini dia sama sekali belum menghafal satu suratpun.
"Astaga... Besok kita sudah kembali. Aku masih ada yang belum hafal," pekik Fayyola panik.
"Ayo kita masuk, nanti setelah sholat Maghrib aku temani," bujuk Sarah.
"Terima kasih, Kak," jawab Fayyola senang.
Keduanya memang sangat akrab seperti kakak beradik, apalagi di asrama juga satu kamar.
Saat keduanya hendak melangkah pergi, tiba - tiba terdengar suara teriakan. Sarah yang menyadari duluan langsung menghadang bola yang datang agar tidak mengenai Fayyola. Alhasil bola itu tepat mengenai wajah Sarah. Seketika darah segar mengalir dari hidung Sarah.
"Kak Sarah," teriak Fayyola ketakutan.
Semua berhamburan mendatangi Sarah yang menutup wajahnya sebab terasa panas dan pedih.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Sagara ketakutan.
"Tidak papa," jawab Sarah masih merasa nyilu.
"Pasti sakit sekali, karena bolanya terlempar keras. Ayo masuk dulu," sela Jamila langsung membantu Sarah untuk berjalan.
Sagara sangat panik melihat darah segar yang sudah melumuri jemari Sarah, diapun segera mengambil ponsel dan menelpon dokter pribadi.
Anggun yang sedang mau memanggil anak - anak untuk bersiap - siap sholat langsung terkejut melihat Sarah.
"Astaga, ayo cepat diobati," pekik Anggun cemas.
__ADS_1
Semua orang lega sebab darahnya sudah berhenti mebgakir. Hanya saja wajah Sarah memerah pasti terasa sangat sakit.
Sagara segera mengambil kompres dan meminta Fayyola untuk mengoleskan secara perlahan agar tidak perih sambil menunggu dokter datang.