
Di KUA semua sudah di siapkan, Darren meminta tolong pada salah satu bawahan Ayahnya untuk mengurus semua ini. Karena pemuda itu memang belum berpengalaman mengenai pernikahan.
Dalam hati Syadev juga merasa gugup, menikah diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya.
Ada rasa bersalah juga, tapi dia yakin jika saat ini bukanlah hal yang tepat untuk meminta pernikahan pada keluarganya.
Setelah akad nikah selesai, Syadev merasa lega. Karena dia sendiri dari tadi sudah tegang.
“Anggun, maaf saat ini aku belum bisa memberikan pesta yang megah seperti pernikahan Kaysa,” ucap Syadev.
“Tidak apa-apa, yang terpenting sudah sah secara agama dan negara,” jawab Anggun sama sekali tidak keberatan.
“Selamat ya, aku tidak menyangka kalian sudah menjadi suami istri,” ucap Anggun.
“Wah, nanti malam sudah boleh ' Ik Uk ' dong,” timpal Darren menggoda pengantin baru itu.
Syadev dan Anggun seketika langsung merona merah menahan malu, hati mereka berdua tiba-tiba berdebar kencang.
“Syadev, apa kamu akan merahasiakan pernikahan ini pada Kaysa juga?” tanya Zahra.
“Kamu seperti tidak tahu Kaysa saja, pasti dia langsung heboh dan siaran langsung ke seluruh dunia,” jawab Syadev serius.
Mereka tahu, jika Kaysa memang hobi membuat status di sosial media.
“Tapi nanti jika dia tahu belakangan harus siap-siap di amuk ya!” pesan Darren tertawa.
“Tidak apa-apa, pokoknya saat ini bukan yang tepat untuk membocorkan pernikahan ini. Jadi kalian harus menyimpan rahasia baik-baik, nanti biar aku sendiri yang memberitahu mereka,” kata Syadev tegas.
“Siap,” jawab Darren dan Zahra serempak.
“Tapi bagaimana aku menjelaskan kepergian ku pada Kaysa? Karena dia tahu jika aku mendapat beasiswa di Universitas yang sama dengan Kaysa. Bahkan aku juga rencananya tinggal di rumah Kak Al untuk sementara,” ucap Anggun resah.
“Sebenarnya mengenai beasiswa itu...” belum sempat Darren bilang, Syadev sudah melotot.
“Apa?” tanya Anggun penasaran.
“Maksudnya, mengenai beasiswa itu nanti bisa dilempar lagi pada orang lain yang lebih membutuhkan. Soal Kaysa, nanti kamu bilang saja kalau kamu juga mendapat beasiswa di luar negeri,” kata Darren masuk akal.
Syadev merasa lega, sebab jika tadi Darren bilang jika beasiswa itu adalah dari Syadev pasti kebohongan dia tentang lupa ingatan langsung terbongkar.
Tiba-tiba ponsel Syadev berbunyi, dia mendapat telepon dari Bundanya untuk segera pulang. Karena di sana masih banyak orang yang melayat.
“Anggun, sebaiknya kamu ikut kami. Sekalian kamu berpamitan pada Kaysa,” ajak Darren.
“Iya,” jawab Anggun gugup.
Syadev tersenyum, dia tahu jika saat ini pasti istrinya itu sedang gugup dan takut.
Sesampainya di halaman rumah Paman Rian, Anggun benar-benar merasa ragu turun dari mobil. Apalagi melihat keluarga besar Syadev yang sedang berkumpul, Anggun merasa minder.
“Ayo!” ajak Syadev kalem.
“Iya,” jawab Anggun gugup.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Sebelumnya Anggun bisa bersikap biasa dengan keluarga Syauqi Malik, tapi kini gadis itu merasa sungkan dan tegang. Karena Anggun adalah istri sah Syadev, otomatis dia juga menjadi menantu keluarga Syauqi Malik.
“Tante, saya turut belasungkawa ya. Semoga Almarhumah Ibunya Tante Zhia mendapatkan tempat yang mulia di sisi Alloh,” ucap Anggun sopan.
“Iya, Nak. Terima kasih karena kamu juga menyempatkan datang ke sini,” jawab Zhia tersenyum ramah.
Syadev meringis juga, karena istrinya memanggil Tante pada mertuanya sendiri.
Kemudian Rombongan tamu dua mobil datang. Zhia segera menyuruh anak perempuan untuk masuk ke dalam sedangkan anak lelaki di suruh membantu menyajikan minuman dan hidangan ringan.
Kaysa mengaja Kedua temannya masuk ke kamar Kakak sepupunya.
“Anggun, katanya kamu hari ini menikah? Kenapa datang kesini tanpa suamimu? Maaf aku tidak bisa keluar rumah,” ucap Kaysa.
“Aku tidak jadi menikah, dan besok aku akan sekolah ke luar negeri,” jawab Anggun tersenyum senang.
“Benarkah? Kenapa bisa?” tanya Kaysa penasaran.
“Ceritanya panjang, lain kali saja aku ceritanya ya? Yang terpenting aku tidak jadi menikah dengan Teguh,” jawab Anggun mengalihkan pembicaraan.
“Jadi kamu menikah karena dipaksa?” tanya Kaysa.
__ADS_1
Anggun hanya mengangguk pelan.
“Harusnya kamu bilang padaku, pasti Teguh akan aku cincang tanpa ampun,” sergah Kaysa ikutan kesal.
“Kamu kan sedang sibuk mau menikah,” jawab Anggun tertawa lirih.
Kaysa dan Zahra juga ikut tertawa bersama.
“Anggun, apa Syadev sudah mengingat kamu?” tanya Kaysa riang.
“Belum,” jawab Anggun berubah murung.
“sabar, suatu saat nanti Syadev pasti ingatannya kembali pulih, yang penting jika kamu mencintai dia makan kamu jangan dekat-dekat dengan pemuda lain,” kata Kaysa serius.
Anggun hanya mengangguk karena merasa bersalah telah merahasiakan hal penting pada temannya sekaligus kakak iparnya.
Tiba-tiba Zahra mendapat satu pesan dari sepupunya.
Syadev
Zahra, aku minta bantuan kamu lagi. Setelah ini kamu bawa Anggun ke rumah kamu. Nanti jika paspornya sudah jadi antarkan dia ke bandara ya! Dan besok bawa Anggun ke Mall, belikan semua kebutuhan dia, uangnya sudah aku transfer ke rekening kami. Ingat, jangan biarkan dia bepergian sendiri, aku takut jika Teguh masih mengincarnya.
Zahra
Siap Bos!
“Cie, senyum-senyum sendirian. Pasti sudah ada janji kencan sama Darren nih,” goda Kaysa.
Zahra hanya tersenyum saja, karena tidak ingin Kaysa curiga.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Dua jam tidak melihat istrinya, Alarik merasa resah. Karena sudah dua hari ini Kaysa terus-terusan murung. Bahkan dalam tidurnya saja sering mimpi buruk dan merintih menangis memanggil-manggil nama neneknya.
Meskipin dia tidak tidur sekamar dengan istrinya tapi dia bisa merasakan jika Kaysa tidak bisa terlelap dengan tenang.
Alarik tau, selama ini neneknya itu selalu memanjakan Kaysa. Tidak peduli betapa manja dan nakalnya Kaysa, tapi gadis itu selalu menjadi cucu kesayangan.
Apalagi kepergian neneknya terjadi saat hari pernikahannya, Alarik berjanji tidak akan merayakan hari pernikahannya kelak seperti rencana dia sebelumnya.
“Kamu kenapa? Kangen Kaysa?” goda Syauqi.
“kalau begitu lihatlah sebentar, tapi nanti segera kembali lagi. Karena tamunya masih banyak yang berdatangan!” kata Syauqi pengertian.
“Terima kasih, Ayah,” jawab Alarik tersenyum senang.
Alarik masuk ke dalam rumah, tapi seseorang uang dicarinya tidak ada.
“Kaysa ada di kamarku,” ucap Alifya ramah.
“Baiklah,” jawab Alarik sopan.
Alarik hanya bisa geleng-geleng kepala, di saat Bundanya dan yang lainnya sibuk membuat kue dan makanan ringan istrinya itu malah tiduran di kamar.
Alarik tidak tahan juga untuk ikut masuk ke dalam kamar, dia langsung kepala Kaysa penuh kasih sayang.
Kaysa terbangun, gadis itu tersenyum saat membuka matanya sudah disuguhi wajah tampan suaminya.
“Rindu aku ya?” goda Kaysa.
“Tidak, aku hanya heran saja. Yang lainnya sibuk di dapur kamu malah tiduran di sini,” elak Alarik tersenyum mempesona.
“Aku tidak bisa masak, ngapain juga aku ke sana. Lagi pula nanti kuku aku rusak,” jawab Kaysa enteng.
Alarik gemas juga, tapi rasa cintanya tidak pernah berubah meskipun Kaysa memiliki sifat seperti itu.
“Woi, masih sore!” Tegur Syadev yang sudah berdiri di depan pintu.
“Makanya segera punya istri, biar bisa seperti ini,” goda Alarik sambil memeluk Kaysa.
Saat itu Anggun juga sedang membawa dua piring besar kue untuk di serahkan pada Syadev sebagai hidangan para tamu. Tiba-tiba wajah keduanya menjadi memerah mendengar gurauan Alarik.
“Ehemm...” goda Kaysa merasa puas.
Syadev segera meraih dua piring itu dan berlalu pergi, karena saudara kembar Kaysa juga pengantin baru. Hanya saja pernikahan dia masih dirahasiakan dari umum.
“Senangnya, akhirnya Syadev tidak bisa berkutik lagi,” kata Kaysa.
“Iyakah? Mana hadiah untukku karena membelamu?” tanya Alarik tersenyum manis.
__ADS_1
Kaysa tersenyum malu, meskipun mereka sudah menikah tapi Kaysa tidur bersama Alifya. Sedangkan setiap malam Alarik begadang di luar bersama para lelaki lain.
Di Daerah nenek Zhia memang seperti itu, setiap ada orang yang meninggal, selama seminggu akan diadakan acara tahlilan. Ba'da Magrib untuk para tetangga perempuan. Sedangkan ba'da Isya untuk para tetangga laki-laki.
Dan setelah acara tahlilan, kaum lelaki akan berkumpul di sana sampai larut malam. Namun itu hanya tetangga dekat saja.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Setelah Acara tahlilan selesai keluarga Zahra berpamitan pulang. Sedangkan Darren berniat menginap, karena mewakili papanya yang tidak bisa datang.
Syadev, Darren dan Kaysa mengantar mereka sampai di luar halaman.
“Kalian menginap di sini saja ya?” pinta Kaysa.
“Maaf ya, tapi besok ada urusan penting. Anggun juga harus menyiapkan persiapan sebelum ke luar negeri,” ucap Zahra.
“lyalah, tapi nanti kalian jangan lupa hubungi aku ya?” jawab Kaysa merengut.
“Iya,” jawab Zahra dan Anggun tersenyum geli, sebab Kaysa dari dulu masih sama. Selalu cemberut kalau keinginannya tidak dipenuhi.
“Kaysa, jangan cemberut gitu. Lagian nanti kalian juga masih bisa bertemu,” tutur Elly.
“Iya, sekarang juga jaman canggih. Kalian bisa saling video call,” timpal Fauzi.
“Tapi beda,” jawab Kaysa.
“Kaysa, dewasalah! Kita semua punya urusan dan tujuan masing-masing,” sindir Syadev.
“Syadev, kamu jangan terlalu kejam! Tapi yang barusan kamu Katakan ada benarnya juga,” timpal Darren ikut memojokkan Kaysa.
“Awas kalian,” sergah Kaysa kesal dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Palingan juga laporan pada Kak Al,” kata Syadev menebak.
Seketika mereka melihat ke arah Kaysa. Dan benar saja, gadis itu terlihat sedang merengek pada suaminya.
Mereka semua menjadi tertawa terbahak-bahak dengan tingkah saudara kembar Syadev yang lucu.
“Kami pergi pulang dulu ya?” pamit Fauzi kemudian.
“Hati-hati ya?” ucap Darren tersenyum ramah pada calon mertuanya.
Syadev hanya diam dan menatap istrinya dengan pandangan kerinduan, dia sama sekali tidak bisa membuka mulutnya. Karena berada dalam posisi serba salah.
Pukul sepuluh malam Syadev masih berada di luar rumah bergabung dengan para lelaki lainnya. Dia sedang gelisah, rindu tapi tak bisa diungkapkan.
Malam ini seharusnya menjadi malam pertamanya, tapi Syadev justru merasa merinding memikirkan hal itu. Syadev selama ini belum pernah pacaran, ciuman pertama kali juga dengan Anggun karena tanpa sengaja.
Syadev duduk di antara Darren dan Alarik, keduanya sedang sibuk chattingan dengan pasangan masing-masing. Tiba-tiba hatinya tergerak untuk mengirim pesan pada istrinya.
Syadev
Sudah tidur?
Anggun
Belum, kamu sedang apa?
Syadev
Duduk di luar dengan orang-orang, kamu sedang apa?
Anggun
Tiduran sama Zahra
Syadev
Besok belilah apa yang kamu butuhkan dengan Zahra, aku sudah mengirimkan uang padanya.
Anggun
Iya, terima kasih.
Syadev tersenyum-senyum sendiri, untuk pertama kalinya dia saling mengirim pesan seperti itu pada seorang perempuan. Dan dia melakukannya pada istri sahnya.
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author😀
Semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA ini bisa berkembang lebih baik lagi🙏🙏🤗🤗
__ADS_1