
Alarik baru saja selesai membantu Ayahnya di perusahaan, setelah itu dia membuka ponselnya.
“Belum dibalas juga pesanku, apa istriku masih tidur ya?” gumam Alarik sudah merasa rindu.
Alarik segera menghampiri Ayahnya untuk pamit pulang.
“Ayah, apa masih ada yang lain lagi?” tanya Alarik sopan.
“Tidak ada, kamu boleh pulang. Hati-hati ya!” jawab Syauqi tersenyum bangga.
“Iya, Ayah. Kalau butuh bantuan tinggal hubungi aku saja. Aku pamit pulang dulu ya, Assalamu'alaikum,” pamit Alarik.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Syauqi santai.
Alarik segera keluar dari kantor Ayahnya dan menuju tempat parkir. Baru saja masuk mobil ponselnya sudah ada pesan masuk, ternyata itu adalah notifikasi kartu kredit Kaysa yang baru saja melakukan transaksi.
“Aku kira tidur, ternyata sedang makan di restoran. Tapi kok habis banyak, dengan siapa saja dia?” gumam Alarik pada diri sendiri.
Dengan senyuman manis Alarik membelokkan mobilnya menuju restoran tempat Kaysa berada saat ini.
“Kenapa aku punya firasat sesuatu telah terjadi pada Kaysa? Hem, sudah besar sampai sekarang masih saja membuat aku khawatir dan gelisah,” batin Alarik mempercepat laju mobilnya.
Sebenarnya Alarik orang yang santai dan bukan tipe suami posesif, tapi karena Kaysa sering membuat ulah membuat dia mikir dua kali untuk memberikan kebebasan pada istrinya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Kaysa memberikan kebebasan pada kedua sepupunya beserta teman barunya untuk memesan makanan manapun.
“Mahal-mahal sekali makanannya,” ucap Rahma tertegun melihat daftar harga dalam setiap menu.
“Tenanglah, pesanlah sesuka hati kalian!” jawab Kaysa santai.
“Iya, Kaysa mau membeli restoran ini juga bisa. Karena Kaysa mau minta apapun pasti sama suaminya langsung dikasih. Jadi mumpung gratis jangan lewatkan kesempatan ini,!” ujar Zahra pada Rahma.
“Suami? Jadi Kaysa sudah menikah?” tanya Rahma seolah tak percaya.
“Kenapa? Usia aku sudah hampir 19 tahun,” cibir Kaysa memonyongkan bibirnya.
“Wah, mendahului Kak Alifya dong,” ucap Rahma polos.
Alifya yang merasa disebut namanya menjadi malu, sebab sepupu Kaysa itu memang belum pernah berpikiran untuk menikah muda.
“Menikah bukan hanya tentang usia, lagipula aku masih belum siap. Aku masih ingin menyelesaikan kuliah dulu,” jawab Alifya kalem.
“Eh ayo kita pesan makanannya, kasihan pelayannya udah lama nungguin kita,” tegur Zahra.
Mereka akhirnya mulai memesan makanan yang diinginkan. Kaysa sendiri memesan banyak karena memang sedang bernafsu.
“Mbak, ini tolong dibayarkan sekalian ya!” pinta Kaysa pada pelayan sembari mengulurkan kartu kredit.
“Iya,” jawab pelayan tersebut ramah.
Tidak butuh waktu yang lama, semua makanan yang tadi di pesan langsung dihidangkan di atas meja.
“Wah, seumur-umur baru kali ini makan makanan yang enak seperti ini,” ucap Rahma jujur.
“Benarkah?” tanya Kaysa seolah tak percaya.
“Bapakku hanya tukang bengkel biasa, sedangkan ibuku membuka toko kecil-kecilan. Sudah bisa bayar kuliah saja keluargaku sangat bersyukur,” jawab Rahma jujur.
“ Kan ada beasiswa, kenapa tidak ambil?” tanya Zahra.
“ Nilaiku cuma pas-pasan saja, untuk bisa lulus seleksi masuk Universitas aku sudah berjuang mati-matian sampai lembur terus,” jawab Rahma.
Kaysa merasa kasihan juga, dirinya yang berlimpah materi, otak yang sangat cerdas tapi masih kurang bersyukur.
__ADS_1
“Mari makan, nanti kamu bisa pesan juga untuk keluargamu!” perintah Kaysa tulus.
“Wah terima kasih, tapi tidak usah. Aku di traktir saja sudah merepotkan,” tolak Rahma merasa sungkan.
“Apanya yang merepotkan, teman Zahra juga teman aku,” jawab Kaysa riang.
Akhirnya mereka berempat fokus makan, setelah habis Kaysa memanggil pelayan lagi untuk memesan makanan yang dibungkus.
“Keluargamu ada berapa orang?” tanya Kaysa pada teman barunya.
“ Tiga orang, aku di rumah ada adik laki-laki yang baru berumur sepuluh tahun,” jawab Rahma.
“Oke,,” jawab Kaysa mulai memesan yang sekiranya di sukai semua orang.
Beberapa menit kemudian tiga bungkusan plastik ukuran lumayan besar sudah datang, Kaysa menyuruh pelayan tersebut untuk menyerahkan pada Rahma dan dia sendiri mengambil kartu kredit milik suaminya tersebut.
“Ayo, aku antar kamu ke kampus lagi. Motormu masih di sana kan?” ajak Kaysa.
“Iya, terima kasih banyak ya,” jawab Rahma senang memiliki teman yang statusnya lebih tinggi tapi tidak sombong.
Kaysa segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan restoran mewah itu dengan rasa puas.
Dari belakang ada mobil berwarna hitam yang terus mengikuti mobil Kaysa, hanya saja Kaysa tidak menyadarinya.
Sebenarnya yang berada di dalam mobil tersebut adalah Alarik, pemuda itu membawa mobil kantor karena tadi saat berangkat ke perusahaan numpang mobil Ayah Syauqi.
Alarik merasa penasaran dengan aktifitas istrinya yang tanpa izin itu.
Di dalam mobil Alarik cengar-cengir dengan kebandelan Kaysa. Sudah dilarang menyetir mobil sendiri malah ini keluyuran. Namun Alarik lega juga sebab Kaysa tidak pergi dengan lelaki lain, tapi dengan kedua sepupunya dan satu lagi gadis asing yang Alarik tidak kenal.
Setelah mobil Kaysa sampai di depan Universitas sepupunya, suasana di sana sudah sangat sepi. Kaysa memutuskan untuk menunggu Rahma yang tengah mengambil motor.
Beberapa menit kemudian Rahma muncul sambil mendorong motornya sendiri sambil menangis.
Kaysa terkejut, Alifya dan Zahra juga sama. Mereka bertiga langsung keluar dari mobil dan mendekati Rahma.
“Siapa yang tega melakukan ini? Padahal ini motor kredit yang belum lunas cicilannya. Pasti bapak sedih,” rengek Rahma sudah kemas tubuhnya.
“Aku yakin pasti ini salah satu pembalasan dendam mereka,” gumam Alifya.
Mereka tahu apa yang di maksud Alifya, mereka tidak mengira jika Kakak Qila itu langsung melakukan aksi balas dendam.
“ Tenang saja, karena aku yang mengajak kamu pergi biar aku yang bertanggung jawab. Dan aku pastikan akan segera menangkap pelakunya,” ucap Kaysa berapi-api.
Kaysa segera menelepon bengkel kenalannya. Sebab dia tahu jika tempat bengkel yang dulu buat menyervis mobilnya juga bisa menerima servis motor.
Sedangkan Zahra yakin, jika sepupunya tersebut pasti bisa memecahkan kasus ini. Sebab Kaysa memiliki pikiran yang cerdik.
Lima belas menit kemudian datang mobil pick up yang langsung mengangkut motor Rahma. Kemudian dua montir laki-laki datang mendekati
“Tolong ganti yang rusak secepatnya, pokoknya aku mau nanti sore sudah jadi!” perintah Kaysa.
“Siap, Nona Kaysa. Tapi kenapa kok sudah lama tidak menyervis mobil Anda ke tempat kami?” tanya salah satu montir muda itu.
“Aku sudah pindah ke luar kota. Salam buat Pak jaya ya? Katakan berikan diskon untuk motor teman saya,” ucap Kaysa riang.
“Siap, kami permisi dulu ya? Biar langsung kami garap,” jawa montir yang satunya lagi.
“Oke, nanti aku transfer biayanya,” jawab Kaysa.
Setelah kepergian kedua montir tersebut Kaysa langsung mengajak Rahma untuk ikut bersamanya.
“Rahma, ayo ikuti aku. Setelah ini akan aku buat orang-orang yang sudah merusak motormu menyesal,” kata Kaysa.
“Bagaimana caranya?” tanya Rahma bingung.
__ADS_1
“Di parkiran pasti ada CCTV, ayo kita lihat dulu,” ajak Kaysa.
Mereka berempat segera masuk ke parkiran lagi, berharap ada CCTV yang terpasang.
Alarik yang hanya dari kejauhan tidak tahu apa yang sedang dilakukan isrrinya, pemuda itu memutuskan untuk menunggu di sana saja. Namun Alarik iseng untuk menelepon istrinya, kira-kira jika ditanya akan menjawab jujur apa tidak.
Tutt... Tutt... Tutt...
Tiga panggilan tidak terjawab, Alarik merasa kesal karena diabaikan istrinya.
“Awas nanti ya,” umpat Alarik menahan amarahnya.
Sebenarnya Kaysa tidak mengangkat teleponnya memang ponselnya tertinggal di dalam mobil. Sebab tadi dia terburu-buru keluar saat melihat teman barunya menangis.
Kaysa dan ketiga gadis lainnya mulai meneliti setiap atap-atap berharap menemukan ada CCTV.
“Ini ada,” teriak Zahra senang.
“Kalau begitu mari kita tanya penjaga sekolah,” ajak Alifya senang.
Mereka segera menemui penjaga Universitas, dengan membawa nama Syauqi Malik mereka dengan mudah membujuk penjaga sekolah tersebut.
“Wah, Om Syauqi memang hebat! Sampai rasanya hanya dengan namanya saja sudah membuat orang sungkan,” ucap Zahra membanggakan pamannya.
“Jelas dong, Ayah siapa dulu,” jawab Kaysa tak kalah bangganya.
“Aku jadi penasaran sama Ayah kamu,” ucap Rahma antusias.
“Jangan penasaran! Nanti kalau kamu lihat secara langsung pasti jatuh cinta deh,” goda Zahra.
“Kalau mau jatuh cinta sebaiknya dengan Saudara kembar Kaysa, tapi dia masih belajar di Amerika,” timpal Alifya.
“ Ngacok, Syadev sudah menikah tahu!” jawab Kaysa keceplosan.
Kaysa baru sadar setelah Zahra meliriknya penuh arti. Seketika Kaysa gelagapan.
“Kaysa, jangan bercanda dong!” tegur Alifya yang sama sekali tidak percaya.
“Aku memang bercanda, dari pada nanti Rahma kecewa. Lagi pula Syadev tidak mudah tertarik pada perempuan. Sudah banyak sekali gadis-gadis yang mengejarnya, tapi ujung-ujungnya mereka patah hati karena sama sekali tidak dihiraukan,” jelas Kaysa masuk akal.
“Wah, apa jangan-jangan saudara kembar kamu punya kelainan?” tanya Rahma serius.
“Mana mungkin, itu karena Syadev alim. Dia pemuda yang patuh pada agama makanya tidak berani pacaran,” sela Alifya membela sepupunya.
Kaysa dan Zahra hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Akifya, tapi mereka berdua menahannya karena tidak ingin sampai pernikahan Syadev bocor.
“Ini sudah ketemu, tapi sepertinya saat kejadian terjadi mereka sengaja menutup kameranya. Baru setelah mereka beraksi penutup kameranya dibuka lagi,” kata Pak pengawas menghentikan obrolan mereka.
“Apa tidak ada kamera lain yang sekiranya bisa memantau area parkiran?” tanya Kaysa.
“Tidak ada, karena yang lainnya di pasang di ruang-ruang yang ada barang berharganya,” jawab Pak Satpam.
“Oke deh pak, terima kasih atas bantuannya” ucap Kaysa sopan.
Sebelum pergi Kaysa merekam video pada layar televisi menggunakan ponsel Zahra.
“Untuk apa? Kan layarnya buram begitu tidak terlihat apa-apa,” tanya Zahra penasaran.
“Serahkan saja semuanya kepadaku, kalian tinggal menonton cara kerjaku,” jawab Kaysa yang tidak mau menyerah.
“Kaysa, sepertinya sia-sia saja. Biarlah, yang terpenting motor aku sudah diperbaiki,” timpal Rahma.
“Kalau mereka lolos kali ini, bisa saja besok giliran Zahra atau Kak Alifya. Pokoknya aku tidak akan membiarkan mereka bisa tertawa lama,” jawab Kaysa tegas.
Apa yang dikatakan Kaysa memang masuk akal, mereka hanya diam dan mengikuti Kaysa.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote ya, karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author. Dan tetap nantikan kisah selanjutnya ,🤗🤗🤗