CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Extra Part 4 Keharmonisan Keluarga Si Bungsu


__ADS_3

Pembawaan Flora yang kalem dan lembut seperti Bundanya, serta hobi memasak yang rasanya enak membuat Dewa tidak betah berlama - lama pisah dengan istrinya. Pagi ini calon papa muda itu merasa begitu berat untuk bekerja di kantor.


Kenapa masih belum juga berangkat kerja?" tanya Flora mengerutkan keningnya.


Dewa yang sedang duduk di sofa langsung menarik lengan istrinya secara perlahan. Kemudian Dewa memelik pinggang Flora yang belum membesar. Dengan manja Dewa mencium perut Flora dan mengusel - usel seperti anak kucing.


"Hentikan! Aku geli sekali," pekik Flora.


"Coba menjerit lagi… menggemaskan sekali," jawab Dewa yang masih memeluk pinggang istrinya sambil duduk.


Flora yang dalam posisi berdiri hendak melepaskan pelukan suaminya, tapi semakin dia bergerak justru semakin usil suaminya mengerjai.


"Kamu ini kenapa?" tanya Flora merasa heran.


"Aku hanya merindukanmu," jawab Dewa yang dilanda mabuk cinta.


"Setiap hari kita bertemu," balas Flora.


"Sepertinya untuk hari ini saja aku mau cuti," ucap Dewa penuh harap.


Flora langsung duduk menyentuh kening Dewa, tapi tidak panas.


"Apa kamu sakit? Apanya yang sakit?" tanya Flora semakin khawatir.


"Yang sakit hatiku, tidak tahan kalau berpisah denganmu," balas Dewa manja.


"Kau ini seperti orang playboy saja," sindir Flora menahan tawa.


"Playboy bagaimana? Seumur - umur aku malah tidak pernah merayu wanita kecuali kamu," jawab Dewa serius.


"Bohong... Apalagi kamu pernah sekolah ke luar negeri, dan di sana pasti banyak wanita cantik," sergah Flora tidak percaya.


"Entahlah… pokoknya semenjak aku di tabrak gadis kecil di bandara itu aku tidak pernah selera mendekati gadis lain," jawab Dewa mengingatkan masa lalunya.


Ah… Waktu itu Flora begitu imut, kecil dan mungil. Sedangkan sekarang memiliki tubuh ramping tinggi yang sexi.


"Ayo sekarang berangkat ke kantor dulu, jadilah seorang pemimpin yang rajin biar karyawannya bisa disiplin," kata Flora setengah memaksa.


"Cium… cium dulu biar aku memiliki energi utnuk berdiri," pinta Dewa.


Dewa memejamkan mata berharap mendapatkan ciuman panas di pagi hari, tapi siapa sangka Flora justru mencium keningnya penuh kasih sayang. Dewa tertawa, ingin kesal tapi ciuman itu sungguh menenangkan.

__ADS_1


"Loh, kok ketawa?" tanya Flora.


Dewa sungguh tidak tahan dengan keimutan istrinya itu. Bukannya semangat bekerja malah ingind i rumah saja.


"Satu hari ini saja aku mau cuti, kepalaku pening sekali," ucap Dewa memelas.


Akhirnya Flora merasa iba juga. Dengan penuh perhatian Flora membantu Dewa melepas jas dan membawa lagi tas kantor suaminya menuju kamar.


Tak lama kemudian Flora datang dengan segelas air putih dan obat sakit kepala.


"Ayo minum dulu," ucap Flora.


Dewa tanpa pikir panjang meminum obat itu beserta menghabiskan segelas air putih. Baginya obat kecil itu takkan membunuhnya, jadi tidak masalah meminumnya walau dia tidak sedang sakit.


"Bisakah kamu memijat pelipisku?" tanya Dewa yang lebih tepatnya memohon.


"Baiklah... Ayo rebahan sini," jawab Flora dengan senang hati.


"Tidak, sebaiknya di belakang saja," tolak Dewa sembari bangun dan menggandeng istrinya ke belakang rumah.


Di sana ada kolam ikan besar yang di kelilingi bunga. Di sana juga ada seperti pondok yang bisa digunakan untuk rebahan santai.


Flora sebenarnya tahu jika suaminya hanya pura - pura saja, tapi perempuan cantik itu sadar akan ada titik dimana bekerja itu membosankan. Jadi Flora membiarkan suaminya untuk bersantai sejenak.


"Lain kali tak perlu berakting sakit kepala lagi kalau malas bekerja," sindir Flora sembari membelai kepala rambut suaminya.


Dewa hanya tertawa lirih, siapa sangka jika istrinya tahu triknya yang hanya ingin di manja - manja itu.


"Kalau sudah tahu kenapa tadi memintaku minum obat?" ujar Dewa menatap mesra ke arah istrinya.


"Aku juga tidak menyangka jika kamu akan meminumnya," balas Flora ngikik.


Dalam posisinya yang tiduran tampak dagu istrinya yang indah dan hidung mancung.


Dewa beralih menjadikan paha istrinya sebagai bantal, sesekali dia menggerayangi perut Flora.


"Kenapa belum besar juga ya?" tanya Dewa penasaran.


"Baru juga dua bulan, paling banyak tidak kalau sudah enam bulan baru kelihatan," jawab Flora.


"Apa sudah bisa dilihat jenis kelaminnya?" tanya Dewa semakin penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja belum, sabar dong," balas Flora menahan tawa.


"Aku ingin sekali anak lelaki, tapi Ayah sangat menginginkan perempuan," ujar Dewa yang terlihat kebingungan.


Flora hanya bisa tertawa, sebab semua itu bukan kehendak manusia. Biarpun mereka ingin ini dan itu pada akhirnya tetap Yang Maha Kuasa yang menentukan.


"Kenapa kamu menertawakanku?" tanya Dewa heran.


"Tidak… Cepat berbaring lagi. Biar aku pijit," ucap Flora manis.


Dewa tersenyum manis, yah… istri kecilnya itu memang begitu anggun dan sikapnya keibuan. Dewa selalu merasa nyaman setiap kali berada di sisi istrinya.


Tiduran sambil menikmati sentuhan tangan lembut istrinya membuat Dewa terlelap dalam tidur yang nyenyak. Flora sendiri hanya tersenyum, suaminya itu begitu manis seperti anak kecil yang ingin dimanja.


Tak berapa lama kemudian Flora beranjak secara perlahan untuk membangunkan suaminya, entah kenapa siang ini dia ingin sekali membuat kue nagasari yang isinya pisang dan nangka.


Para pelayan yang sudah tahu dengan kegemaran Nyonya Muda mereka langsung bergegas jika Flora membutuhkan bantuan. Apalagi sekarang Flora sedang hamil, mereka takut Tuan Dewa akan marah karena membiarkan Flora membuat seorang diri. Jadi biarpun Flora sudah meminta pelayan untuk membiarkan mereka tetap saja tidak mau dan bersikukuh membantu.


Prosesnya cukup lama, karena harus di bungkus pakai daun pisang dahulu adonanya, setelah itu di kukus lagi.


Perpaduan buah nangka dan pisang memang menghasilkan aroma yang wangi, Dewa terbangun tapi istrinya sudah tak lagi di sana.


Beberapa menit kemudian Flora datang sembari membawa nampan yang berisi Kue dan dua cangkir teh hangat.


"Wah… Ini namanya apa?" tanya Dewa merasa penasaran. Karena istrinya itu sering membuatkan kue - kue yang tidak pernah dilihatnya.


"Nagasari," jawab Flora sembari membuka bungkusan tersebut, dengan garpu mencongkel sedikit dan menyuapi suaminya.


"Bagaimana?" tanya Flora.


"Enak, manis dan gurih," jawab Dewa gantian menyuapi istrinya.


Mereka berdua begitu romantis saling mwnyuapi sampai tiba - tiba datang kedua orang tua Dewa dengan wajah cemas.


"Nak, kamu sakit apa? Tadi Ayah dan Ibumu ke kantor. Tapi karyawan sakit jadi kami bergegas kemari," tanya Ibunya Dewa yang selalu khawatir berlebihan.


Dewa hanya nyengir saja, sedangkan Ayahnya Dewa sudah paham jika itu hanya alasan.


"Sudahlah, Bu. Jangan pedulikan putra nakalmu itu," sergah sang Ayah sambil mencomot salah satu bungkusan nagasari.


Walaupun Flora tinggal jauh dari orang tua dan saudaranya dia selalu bahagia, karena suami serta mertuanya begitu baik. Apalagi setiap dua Minggu sekali suaminya itu dengan senang hati mengajak bergabung kumpul keluarga di Vila milik Ayah Syauqi.

__ADS_1


__ADS_2