CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Terbongkarnya Rahasia


__ADS_3

Sekolah yang di bangun Syauqi memang memiliki keketatan dan kedisiplinan yang tinggi.


Jam 03.30 bel tanda bangun sudah berbunyi nyaring, mereka di haruskan sholat tahajud kemudian mengaji Al Qur'an sambil sholat subuh. Setelah itu mereka mencuci baju dan membersikan kamar kemudian berangkat sekolah.


Hari ini adalah pelajaran tahun baru, mereka baru saja naik ke kelas 3 SMA. Saat istirahat tiba-tiba saja mereka di panggil untuk datang ke vila milik kakek mereka.


Di sana rupanya ketiga generasi Syauqi sudah ditunggu oleh orang tua mereka untuk di sidang.


"Semalam ada laporan jika para penjaga mengejar berandalan yang berkeliaran di area asrama, saat mencari mereka justru menemukan sebuah tempat rahasia yang tidak bisa dimasuki. Sekarang jika tidak mengaku siapa ulah itu maka akan menanggung resiko yang besar!" kata Syadev tegas.


Syadev memang memiliki watak tegas, apalagi jika sudah marah hawa angker dan dingin memenuhi ruangan.


"Aiya, jangan membuat mereka ketakutan seperti itu. Biar aku saja yang menangani," sela Kaysa tetap tersenyum ramah.


"Aku tahu yang dapat membuat tempat dengan banyak kode adalah Sagara, siapa lagi orang yang sejenius kamu? Soal semalam yang berkeliaran pasti kalian bertiga juga. Jadi sekarang mari kita ke sana dan tunjukkan pada kami hal hebat apa yang sudah kalian perbuat?" ajak Kaysa riang pada ketiga generasi Syauqi.


Anggun dan Alarik bukannya tidak peduli pada anak-anak mereka, hanya saja jika Kaysa dan Syadev sudah menjadi satu pasti hanya akan terjadi keributan dan perdebatan.


"Kalau begitu aku masak dulu ya, nanti kita makan bersama mumpung kumpul bareng," sela Anggun.


"Aku juga harus mengurus hal penting terlebih dahulu pada Ayah, sebelum dia tidur siang," timpal Alarik yang ikut kabur.


"Pergilah, biar aku yang urus," jawab Kaysa.


"Ayo sekarang kita menuju ke sana!" ajak Syadev dengan tatapan serius.


Mau tak mau Sagara, Arkananta dan juga Yudistira mengikuti orang tua mereka.


"Arka, kamu yang nyetir mobil. Langsung menuju TKP," perintah Kaysa.


"Iya, Mi," jawab Arka takut kalau maminya sudah serius begini.


Akhirnya mau tak mau Arkananta menunjukkan tempat rahasia itu, bahkan Syadev saja tidak bisa memecahkan kode untuk bisa masuk ke sana.


"Saga, cepat buka! Kalau tidak papa hentikan uang bulanan kamu," ancam Syadev.


Sagara memang menyukai uang, sebab pemuda itu seringkali membutuhkan berbagai alat-alat untuk eksperimennya.


Hanya dengan mendekatkan wajahnya pintu sudah terbuka.


Syadev sampai melongo sebab di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu ada 1 mobil dan juga 3 motor yang sudah dimodifikasi.

__ADS_1


Di sana juga ada berbagai perlengkapan seperti orang yang mau merampok dan berperang.


"Astaga... Apa di sekolah dan Asrama kalian diajarkan untuk bertempur?" tanya Kaysa panik.


"Jelaskan sekarang juga, jika tidak akan aku sita semua ini!" timpal Syadev.


"Yap, dan aku akan menyita mobilnya," sela Kaysa yang naksir dengan mobil tersebut.


Syadev langsung melirik ke arah Kaysa sebab tidak tahu situasi.


Arka dan Sagara menunduk, sedangakan Yudistira maju ke depan untuk menjelaskan. Karena dialah yang paling pandai berbicara.


"Ayah, ini hanya untuk main-main saja. Bagaimanapun juga sejak kecil kami selaku di didik agama yang kuat. Jadi kami bertiga tidak mungkin akan melakukan kejahatan," ucap Yudis.


"Main-main? Apa kamu kira orang main-main juga membawa peralatan kaya polisi dan tentara seperti ini? Dan senjata pistol ini, aku yakin bukan mainan biasa. Dan tali ini juga pasti untuk kalian memanjat dinding untuk kabur kan?" bentak Syadev yang kesal sebab tidak menyangka jika putra beserta keponakannya masih bisa lolos walaupun tempat sekaligus penjagaan sudah diperketat.


Yudistira kemudian membisu, saat ini Syadev tampak menakutkan.


"Sagara, alat apa lagi yang kamu sembunyikan?" tanya Syadev beralih menatap ke arah adiknya Yudistira.


"Hanya ini saja, selebihnya mainan iseng-iseng," jawab Saga takut.


"Arka, coba ceritakan petualangan apa saja yang kalian alami?" tanya Kaysa antusias.


"Kenapa? Kamu orang tua kolot. Kalau aku sih selalu mengikuti perkembangan zaman, aku dimasa muda saja tidak betah kalau harus menjadi anak yang berdiam diri di rumah. Lagi pula coba kamu jadi mereka mau? Tanpa ponsel, di kurung di asrama dan tidak ada hiburan untuk bersenang-senang," jawab Kaysa.


"Kamu!" pekik Syadev menyesal sudah mengajak Kaysa ikut ke sini.


"Lagian kamu ini, seharusnya bangga memiliki anak-anak yang cerdas. Selagi itu tidak dalam kemaksiatan. Apa salahnya keluar malam? Akupun kalau jadi mereka juga akan melakukan hal yang sama," sergah Kaysa lagi seperti bom atom.


"Eh, ayo kita kembali ke rumah. Dan nanti kalian ceritakan petualangan asyik apa yang sudah kalian alami. Aku janji nanti di depan kekek akan membela kalian," bujuk Kaysa.


"Dasar tidak punya pendirian," gerutu Syadev kesal.


Tentu saja, Ketiga generasi Syauqi langsung menempel pada Kaysa untuk berlindung. Sebenarnya bukan karena Syadev takut, tapi Syadev tidak tahan dengan kebawelan Kaysa.


Syadev langsung masuk ke mobil dan meninggalkan mereka.


"Tenang saja, di dalam bukannya masih ada mobil? Arka, cepat kamu keluarkan!" perintah Kaysa.


"Iya, Mi," jawab Arka.

__ADS_1


Arka langsung masuk ke dalam dan mengeluarkan mobil tersebut.


"Wih, keren sekali. Ini mobil siapa?" tanya Kaysa baru kali ini melihat model seperti itu.


"Mobil kami," jawab Yudistira.


"Kalian bawa ke bengkel mana?" tanya Kaysa penasaran.


"Ini karya Sagara, jadi kami membeli dari luar. Terus kami modifikasi lagi," jawab Yudistira.


"Oh, Dari mana kalian mendapat uangnya? Aku yakin ini tidak membutuhkan biaya sedikit," tanya Kaysa curiga.


"Kami bekerja," jawab mereka secara serempak.


"Bekerja? Kali ini coba ceritakan kalian bekerja apa? Sebab jadwal di sekolah dan Asrama juga padat," tanya Kaysa terkejut.


"Saga menolong berbagai perusahaan soal kelemahan suatu sistem program agar sampai tidak diretas, sedangkan Yudistira membuat berbagai komposer lagu dan di jual. Kalau aku..." Arka tidak berani melanjutkan ucapannya.


"Kalau kamu apa?" tanya Kaysa semakin penasaran.


"Kalau aku ikut pertandingan tinju," jawab Arka.


"Arka!" teriak Kaysa.


"Maaf, Mi. Tapi ini juga merupakan hobiku. Dari pada tawuran mending ikut pertandingan yang legal sekalian," bujuk Arkananta.


"Tidak, kamu boleh memiliki hobi apapun asal jangan berkelahi yang bisa membahayakan nyawamu. Mulai besok jangan berani mengulanginya lagi, kalau butuh uang tinggal bilang mami," jawab Kaysa tegas.


"Iya, Mi," jawab Arka.


"Kalian dengar ya, kalian bebas mau ngapain asal jangan yang melanggar hukum dan juga membahayakan nyawa," tutur Kaysa kali ini serius.


Kaysa menghembuskan napasnya, ternyata masa kini pergaulannya lebih menyeramkan dibanding dirinya.


"Terus, setiap malam kalian pergi kemana?" tanya Kaysa lagi.


"Kami... Kami ikut membantu kepala polisi untuk mengungkap kasus," jawab Saga.


"Mengungkap kasus? Maksudnya bagaimana?" tanya Kaysa belum paham.


"Ya membantu penyelidikan, semacam detektif. Hanya saja kami menyembunyikan identitas kami," timpal Yudistira.

__ADS_1


"Ya ampun, kalian ini. Padahal sudah dikurung tapi masih bisa melakukan banyak hal seperti ini?" pekik Kaysa heran.


__ADS_2