CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Ektra Part 3 Kejutan Untuk Kakek Syauqi


__ADS_3

Syauqi murung seorang diri, di ulang tahunnya yang menginjak usia 52 tahun dia merasa kesepian. Sebab tadi Syadev ada acara di luar kota, Kaysa mendampingi putranya piknik acara sekolah sedangkan Flora malah belum pulang ke Indonesia.


"Mereka ini keterlaluan sekali, masa iya saat. Ayahnya ukang tahun malah sibuk sendiri," gumam Kaysa kesal.


"Sudahlah, lagi pula besok pagi mereka mau kesini," bujuk Zhia lembut.


Syauqi merasa sedikit tenang hatinya dibujuk oleh sang istri, biarpun Zhia sudah berusia 44 tahun tapi istrinya tersebut tetap masih terlihat cantik dan awet muda. Begitu juga dengan Syauqi, dia masih terlihat gagah dan tampan karena rajin olah raga serta pola makannya seimbang.


"Ulang tahunku malam ini, tapi mereka telat kesininya," ujar Syauqi.


Setiap ulang tahun Syauqi biasa merayakan dua kali. Pertama pesta khusus keluarga dan sahabat dekat di rumah tepat pada pukul 12 malam. Sedangkan pesta berikutnya adalah di malam berikutnya di adakan dalam gedung besar untuk teman kerja dan seluruh karyawan.


"Apaan, kita ini sudah tua. Tidak penting pada waktu kapan kita merayakan. Yang terpenting kita bisa berkumpul dalam keadaan sehat itu sudah anugerah yang terindah," bujuk Zhia merangkul suaminya.


"Kira - kira kali ini mereka memberi hadiah apa ya?" tanya Syauqi sangat penasaran.


Apalagi selama ini Syadev dan Kaysa sering saingan untuk mendapatkan gelar hadiah terbaik. Syauqi juga menantikan kejutan apa yang nanti akan di berikan oleh cucu - cucunya.


"Entahlah," jawab Zhia yang juga berpikran sama dengan suaminya.


Sebenarnya Syauqi bisa membeli apapun yang dia mau, tapi jika sesuatu yang diberi oleh putra atau cucunya terasa istimewa. Bahkan di ruang tamunya ada lemari kaca besar, semua penuh berisi piala Syadev dan Kaysa yang sudah berprestasi sejak kecil. Dan lemari kaca yang agak kecil di sebelahnya, juga sudah di isi beberapa piala dan piagam dari cucu - cucunya yang berbakat.


Setiap pagi menikmati teh bersama istri, sambil duduk di ruang tamu dan melihat piala - piala tersebut membuat Syauqi merasa bangga pada generasinya.


**************************


Tepat pukul dua siang Dewa dan Flora sudah sampai di bandara, mereka langsung saja menuju hotel yang agak dekat dengan Vila sang Ayah Syauqi.


"Wah, ternyata kita yang duluan sampai di sini," ucap Dewa.


"Iya, paling Kak Syadev dan Kak Kaysa masih dalam perjalanan," jawab Flora sembari duduk di ranjang hotel yang empuk.


"Bukannya nanti malam Ayah mau ulang tahun? Kita sebaiknya mencari hadiah dulu," ucap Dewa serius.


"Tidak perlu, karena kita sudah memiliki hadiah terbaik. Dan aku yakin pasti kedua kakakku yang selalu saingan akan iri padaku," jawab Flora dengan wajah imut.


"Hadiah apa?" tanya Dewa yang kurang ngeh.


"Ini," jawab Flora sembari mengambil surat hasil positif mengenai kehamilannya.


"Oh iya, Untung saja kita belum memberi tahu mereka. Jadi ini bisa menjadi kejutan yang bagus," balas Dewa senang.

__ADS_1


"Iya, makannya kita beli hadiah pun juga percuma," kata Flora riang.


"Karena kakak - kakak iparku belum datang, bagaimana kalau kita istirahat dan tiduran terlebih dahulu?" ajak Dewa bersemangat.


Tapi Flora tahu, apa yang dimaksud suaminya dengan kata tiduran itu bukan hanya sekedar berbaring saja. Melainkan tangan suaminya itu akan usil ke mana - mana. Dan bubirnya pasti juga nyosor terus.


"Ah geli, ayo kita tidur. Kalau nanti mereka datang mana mungkin bisa tidur dengan nyenyak," protes Flora kesal karena suaminya menyerang usil.


"Iya... Sini aku peluk," jawab Dewa tertawa lepas. Dia sendiri juga tahu jika ketiga ponakannya itu super aktif yang membuat orang lain tidak bisa tidur tenang.


"Jangan erat - erat, aku tidak bisa bernapas karena tercekik leherku," pekik Flora menghempaskan tangan suaminya.


Tapi dengan penuh percaya diri Dewa meneluk lagi, kini tangannya melingkar di dada istrinya dan menekan bagian itu.


"Ah..." teriak Flora yang terlonjak kaget.


"Jangan mendesah seperti itu, membuatku berdiri tegang," kata Dewa jujur.


"Tidur... Tidur..." teriak Flora giliran memeluk suaminya dan mengubci kedua tangan Dewa agar tidak usil lagi.


Dewa dengan senang hati memejamkan matanya dan mulai terlelap dalam dekapan istrinya.


***********************


Karena anak - anak tidak datang Syauqi jadi tidak semangat mengadakan pesta keluarga.


"Ayo kita pasang sekarang," bisik Kaysa.


Mereka mulai menyiapkan makanan dan minuman, serta kue ulanng tahun yang besar. Dan yang paling spesial dari cucu - cucu Syauqi adalah petasan kembang api yang besar. Mereka bertiga sengaja patungan untuk membeli banyak.


Tepat di pukul 12 Malam depan rumah Syauqi sudah seperti di bom. Suara petasan yang bersahutan membuat Syauqi dan Zhia yang sudah tertidur jadi terbangun.


"Anaka nakal," umpat Syauqi merasa sangat bahagia jika sudah dikerjai.


Zhia tersenyum melihat suaminya berubah ceria, padahal dia sebenarnya baru ingin membangunkan sang suami untuk mengucapkan selamat ulang tahun.


Zhia dan Syauqi yang masih memakai baju tidur keluar rumah, begitu pintu terbuka dari atas mereka berdua sudah di hujani potongan kertas berwarna - warni. Tak lupa juga cucu - cucu kecil mereka membunyikan terompet saling bersahutan. Alarik, Dewa dan Alarik sedang menyalakan kembang api secara bersamaan membuat malam yang gelap menjadi penuh warna.


"Kalian ini, sudah mengalami tahun baru. Untung aja rumah Kakek tidak jauh dari tetangga," kata Syauqi tertawa.


Arkananta, Sagara dan Yudistira langsung melempar terompet dan berebutan memeluk Syauqi.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun, Kakek," teriak mereka bersemangat.


"Iya, sama - sama," jawab Syauqi sampai meneteskan air matanya.


Kemudian satu persatu anak dan menantu Syauqi mengucapakan selamat, dan yang paling terakhir adalah Zhia.


"Kalian ini, membuat Ayahh kesal seharian," kata Syauqi.


"Biar Ayah tidak kesal akan aku ambilkan hadiah dulu," kata Kaysa.


"Aku juga ada," timpal Syadev tidak mau kalah.


"Punyaku dulu yang di buka," teriak Kaysa riang.


"Tidak, punyaku dulu, Ayah," kata Syadev melirik tajam ke arah Kaysa.


"Ya ampun, masih sempat - sempatnya kalian ini berkelahi. Sudah, biar adil biar Bunda bantu buka jadi nanti hadiah kalian terbuka barengan," sergah Zhia meraih bungkusan kotak besar milik Syadev.


Mereka juga membungkus berbentuk balok yang besar, sebab jika bingkai lukisan hanya di bungkus tanpa di masukkan kardus terlebih dahulu pasti sudah bisa ditebak jika itu sebuah lukisan.


Beberapa menit kemudian suasana menjadi tegang, tapi setelah itu mereka tertawa karena hadiahnya sama. Tentu saja kecuali Syadev dan Kaysa.


"Kenapa kamu mencuri ideku?" tanya Kaysa kesal.


"Enak saja, kamulah yang mencuri ideku," balas Syadev cuek dan kecewa.


"Sudah, kalian ini tidak malu bertengkar di depan anak - anak? Sekarang giliran aku" Protes Flora dengan nada sopan.


Mereka juga menanti hadiah apa yang akan diberikan oleh Flora, tapi di tangan Flora tidak ada bungkusan apapun.


Kemudian Flora mengambil dari saku sebuah kertas yang sengaja di lipat kecil.


Syauqi sendiri penasaran, dia segera membuka kertas tersebut. Matanya langsung berbinar setelah membaca isi surat tersebut.


"Alhamdulilah, Ayah mau punya cucu lagi," kaya Syauqi memeluk Flora.


Semua ikut bersyukur dan bergembira.


Syadev dan Kaysa saling melirik tapi kali ini mereka tersenyum. Yah... mereka berdua sama - sama kalah. Hadiah mereka tidak sebanding dengan hadiah yang di berikan oleh si bungsu.


Terima kasih sudah membaca karya saya🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2