CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Cinta Beda Keyakinan


__ADS_3

Yudistira menemani Jamila belajar sampai dia ketiduran dan menyandarkan wajahnya ke meja, Jamila yang fokus belajar sampai tidak menyadarinya.


Sampai tengah malam Anggun dan Syadev pulang, Jamila baru ngeh jika waktu sudah menunjukkan pukul 00.00.


"Eh, belum tidur?" tanya Anggun.


"Iya Tante, baru selesai belajar. Besok ada tes untuk masuk sekolah," jawab Jamila kaget.


"Kalau begitu segera tidurlah, biar besok tidak mengantuk. Tante doakan lancar dan lulus ya," balas Anggun.


"Iya, terima kasih, Om dan Tante," jawab Jamila beranjak pergi.


Sedangkan Syadev merasa heran, sebab selama ini Yudistira sangat malas soal belajar.


"Yudis, bangun dan pindah ke kamar kamu sana," ucap Syadev.


"Oh, Papa dan Mama sudah pulang," jawab Yudistira setengah menguap.


"Iya, sana buruan tidur lagi. Besok pagi kamu sudah kembali ke asrama!" perintah Syadev.


"Iya, Pa." jawab Yudistira menengok ke kanan dan ke kiri, ternyata Jamila sudah tidak ada.


Anggun hanya tersenyum saja melihat putra - putranya sudah tumbuh besar.


Setelah Yudistira beranjak pergi, Anggun mengajak suaminya untuk masuk ke kamar mereka.


"Anak - anak kita sudah dewasa, mereka sudah mulai menyukai lawan jenis," ucap Anggun.


"Nasihatilah jangan sampai mereka pacaran duluan," sela Syadev.


"Aku percaya kedua putra kita tidak akan melakukan hal tercela, justru malah mereka bisa berubah. Contohnya Sagara, dia ada pikiran menghafalkan Al Qur'an setelah bertemu Sarah. Yudistira jadi rajin belajar setelah bertemu Jamila. Setelah ini mereka juga akan tinggal di asrama, jadi pasti aman," jawab Anggun.


"Aman apaan, dulu kita mengira mereka diam di dalam asrama nyatanya malah setiap malam keluyuran di tempat yang sangat berbahaya," sergah Syadeva.


"Iya, besok kita nasihati lagi. Sekarang mari kita istirahat dulu," bujuk Anggun.


Dalam setiap keresahan memang hanya Anggun yang mampu menyejukkan hati Syadev. Sekeras kepala apapun dia jika sudah begini pasti luluh juga.


******************************


Deby masih duduk di ranjangnya sambil memeluk boneka panda yang sangat besar melebihi tubuhnya sendiri, boneka itu adalah hadiah dari papanya saat dia dulu lulus SMP dengan peringkat yang bagus.


Kini Deby merasa seorang diri, biarpun di rumahnya ada beberapa pelayan dan sopir tapi mereka juga bukan keluarga.


Deby menangis tiada henti mengingat dirinya sebatang kara di dunia ini.


Tiba - tiba ponselnya berbunyi dan itu dari Arkananta. Deby langsung mengangkatnya sebab dia butuh teman mengobrol.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Deby sambil tiduran.


"Aku tidak bisa tidur, teringat kamu. Kamu sedang menangis ya?"


"Aku hanya rindu papa," jawab Deby jujur.


Untuk sesaat keduanya terdiam, memang tidak mudah untuk merelakan begitu saja kepergian seseorang yang paling berarti.


"Bukannya kamu juga masih punya keluarga? Meskipun bukan kandung tapi kalau mereka baik padamu kurasa masih mending dari pada hidup seorang diri?" tanya Arkananta.


Deby paham, jika yang dimaksud Arkananta adalah kepala rumah sakit itu.


"Om Erwin dan Tante Linda memang baik, tapi mereka punya satu putri yang satu sekolah denganku. Kami berdua tidak akur, bahkan sering berkelahi. Mana mungkin aku bisa tinggal dengannya seatap," jelas Deby.


Arkananta kini paham, apa penyebab waktu itu Deby tidak mau dijemput pulang oleh Erwin.


"Apa kamu tidak mempertimbangkan untuk masuk ke Andromeda? Setidaknya kita masih bisa bertemu saat sekolah. Dan ketika di asrama kamu bisa bersama Jamila. Jika kamu terus menyibukkan diri kamu tidak akan punya waktu untuk bersedih. Deby, kamu semangatlah, jalan kamu masih panjang. Papa kamu tentu saja tidak mengharapkan kamu hidup seperti ini," bujuk Arkananta lembut.


Deby terdiam, tapi untuk pindah keyakinan itu terasa sulit baginya.


"Deby, jangan merasa sendiri. Kamu punya banyak teman, dan ada aku yang akan selalu sayang dan peduli padamu," timpal Arkananta lagi.


Deby menangis semakin menjadi - jadi, saat ini dia butuh pelukan untuk bersandar.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Arkananta panik.


"Jika kamu disini aku ingin memelukmu," ucap Deby.


"Justru karena kamu jauh makanya aku berani bicara seperti ini," jawab Deby menangis setengah tertawa.


"Kalau malam ini aku beneran ke rumah kamu bagaimana?" goda Arkananta.


"Jangan gila, rumah kamu di luar kota. Kalau mau kesini setidaknya membutuhkan waktu 2 jam. Itupun jika kamu mengendarai dengan kecepatan tinggi," sergah Deby.


"Aku serius, kalau aku ke rumah kamu apa kamu mau memberikan aku pelukan?" tanya Arkananta serius.


"Dalam mimpi saja," ketus Deby.


"Aku tidak main - main, demi pelukan darimu aku rela kok," balas Arkanta.


"Sudahlah, sebaiknya kamu tidur sana dari pada ngelantur. Besok kamu harus sekolah ke Andromeda," bujuk Deby.


"Deby, tunggu aku. Dua jam lagi aku menemuimu," balas Arkananta langsung menutup teleponnya.


"Arka... Arka..."


Tapi sudah tidak ada sahutan lagi sebab teleponnya juga sudah terputus.

__ADS_1


"Anak itu, ini sudah jam dua belas malam. Mana mungkin dia akan datang kesini," gumam Deby.


Deby masih belum tidur, diapun membuka akun sosmed papanya. Di sana banyak sekali ucapan bela sungkawa dari ratusan orang.


Deby membalas satu persatu atas simpati mereka. Papanya semasa hidup memang memiliki banyak teman.


Dua jam kemudian Deby merasa mengantuk, tapi tiba - tiba ponselnya berbunyi. Mata Deby terbelalak mendapat panggilan lagi dari Arkananta.


"Anak ini, masih saja suka iseng," dengus Deby.


"Ada apa lagi? Ini sudah malam kamu tidurlah!" perintah Deby.


"Aku baru saja sampai ke sini dan kamu sudah mau mengusirku?" tanya Arkananta.


"Apa?" pekik Deby kaget.


Deby langsung beranjak ke jendela dan mengintip keluar, di depan gerbang rumahnya ada mobil sport warna kuning yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak semakin keren.


Deby langsung berlari keluar, entah kenapa perasaanya senang sekali.


Sesampainya di luar Arka sudah menyambutnya dengan meregangkan kedua tangannya minta dipeluk.


"Hey, kamu gila!" pekik Deby.


"Sesuai janjimu, pekik aku dong," jawab tersenyum manis.


"Aku tadi tidak bilang seperti itu," sergah Deby.


"Iya, aku hanya becanda saja kok. Aku memang ke sini hanya mau melihatmu saja untuk yang terakhir kali," jawab Arka yang tahu batasnya.


Dulu dia sangat menyesali saat mencium Deby, karena bagaimanapun juga sejak kecil dia sudah di didik agama.


Justru kali ini Deby yang tampak kecewa.


"Kamu kecewa ya tidak jadi aku peluk. Sebenarnya aku ingin sekali, dan bisa saja aku memelukmu secara paksa. Tapi itu tidak bisa aku lakukan sebelum kita menikah," ucap Arkananta serius.


"Apa? Menikah? Kita masih kecil tidak pantas membicarakan hal itu," sergah Deby malu - malu.


"Makanya kamu masuk ke Andromeda, dengan begini kita nanti bisa menikah," bujuk Arka.


"Tidak semudah itu, Arka. Aku harus memikirkan matang - matang biar akhirnya aku tidak menyesal. Ini bukan masalah antara kita, tapi antara keyakinan yang sudah lama aku pegang teguh," jawab Deby.


"Baiklah, kalau begitu berpikirlah baik - baik. Aku selalu menunggumu," jawab Arkananta penuh harap.


Arkananta sangat serius dengan ucapannya, tapi jika Deby tidak mau masuk ke keyakinannya tentu saja nanti akan menjadi masalah sebab kedua orang tuanya akan melarang keras.


Mereka berdua hanya mengobrol saja, tepat empat malam Arkananta berpamitan pulang.

__ADS_1


"Arka, terima kasih," bisik Deby saat mobil Arka sudah pergi.


Kehadiran Arka memberikan setitik harapan baginya, entah kenapa dia semakin menyadari jika dia sudah jatuh cinta pada pemuda tersebut.


__ADS_2