
Arkananta murung, dia tidak menyangka jika kali ini maminya keterlaluan sekali. Dia bingung bagaimana menjelaskan kepada Deby jika dia sendiri tidak memiliki rasa pada Sarah dan hanya menyukai Deby.
"Apa aku harus memakai cara seperti Sagara semalam?" batin Arkananta bingung.
Namun, Arkananta merasa jika hal itu dilakukan hanya akan membuat masalah semakin rumit, apalagi jika sampai ketahuan tentu saja juga akan memberikan masalah bagi Deby.
"Woy, melamun saja!" tegur Yudis sambil menepuk bahu Arka.
"Sialan kamu, mengangetkan saja!" sergah Arka.
"Harusnya ucapkan Astagfirulloh, bukan malah mengumpat," balas Yudis.
"Dan alangkah baiknya saat menyapaku kamu juga mengucapkan salam, bukan malah bilang woy seperti preman," sindir Arka.
"Oke deh, memang sulit kalau mengobrol dengan seserorang yang lagi sensi. Apalagi sensi masalah percintaan," balas Yudis gantian menyindir.
"Kamu memang saudara yang baik, saat aku kesusahan bukannya menolong justru senang," cetus Arka kesal sekali.
"Mami kamu kan masih di tempatnya kakek, kamu temui saja dan bilang kalau kamu nggak suka Sarah. Dengan begitu nanti tinggal menjelaskan pada Deby," cetus Yudis.
"Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran dari tadi ya?" ujar Arka.
"Sana buruan, sebelum mami kamu balik," usir Yudis.
"Oke, bro. Aku pergi dulu," pamit Arka berlalu pergi.
"Mau kemana dia?" tanya Sagara yang baru selesai mandi.
"Menemui maminya, minta untuk dibatalkan masalah perjodohan. Kamu senang kan?" goda Yudis.
"Aku sih sebenarnya tidak masalah, aku baru sadar kalau Jamila memakai jilbab terlihat sangat manis. Mungkin jika Arka beneran dengan Sarah aku bisa mendekati Jamila saja," ujar Sagara dengan tatapan serius.
"Hey, kau. Mau saingan denganku?" pekik Yudis.
Sagara tertawa puas membuat kakaknya itu kesal.
"Kamu serius mau mendekati Jamila?" tanya Yudistira sekali lagi.
"Kenapa kamu khawatir begitu? Apa kamu tidak percaya diri bisa mendapatkan Jamila?" tantang Sagara.
"Aku? Mana mungkin aku tidak bisa" jawab Yudistira.
"Kalau kamu tidak bisa apa kamu mau uang jatah tiga bulan kamu untukku?" tantang Sagara lagi.
"Siapa takut, tapi jika aku bisa bagaimana?" balas Yudistira menjaga harga dirinya.
"Terserah, kamu mau apa," balas Sagara santai.
"Jatah bulanan kamu sedikit, aku sama sekali tidak tertarik. Bagaimana kalau selama tiga bulan kamu menjadi pembantu aku. Mencuci baju, pokoknya mengurus semua kebutuhanku," tanya Yudistira menyeringai.
"Oke aku siap, tapi waktunya hanya satu bulan. Apa kamu sanggup?" balas Sagara tersenyum mengejek.
"Siap, dihitung mulai besok ya," jawab Yudistira mantap.
***************************
__ADS_1
Arkananta meminta izin pada penjaga Asrama untuk menemui orang tuanya. Setelah itu dia berjalan kaki sebab jaraknya tidak terlalu jauh.
Saat itu maminya sudah masuk mobil, Arkananta langsung berlari mengejar mobil maminya yang sudah mulai berjalan.
"Mami... Mami..." teriak Arka.
Kaysa yang mendengar suara teriakan putranya langsung menoleh ke kaca spion, dan betapa terkejutnya jika putranya itu mengejar.
"Pi, hentikan!" pinta Kaysa pada Alarik.
Alarik langsung menghentikan mobilnya dan Kaysa pun keluar dari mobil.
"Ya ampun, anak mami. Kenapa kamu berlarian seperti ini?" pekik Kaysa cemas.
"Mi, ada sesuatu hal penting yang harus Arka bicarakan," ucap Arka ngos - ngosan kecapean.
"Ayo bicara di dalam mobil sambil duduk!" ajak Kaysa.
Arkananta tidak mau membuang waktu lagi, diapun segera masuk ke dalam mobil.
"Katakanlah," pinta Kaysa menatap putranya.
"Mi, aku tidak mau dijodohkan segala. Putra mami ini tampan dan berbakat, kenapa harus dijodohkan seperti tidak laku saja," kata Arka serius.
"Justru karena putraku ini yang terbaik, makanya Mami ingin memiliki menantu yang terbaik juga," jawab Kaysa kekeh.
"Tapi tidak harus dengan Sarah, kan? Sagara menyukainya, mana mungkin aku akan membuat sepupuku sendiri kecewa," jelas Arka meminta pengertian.
"Bagus itu, justru kamu harus bisa mendapatkan Sarah biar tidak kalah sama Sagara," bujuk Kaysa.
"Ih Mami ini apaan sih, ini soal perasaan bukan persaingan," sergah Arkananta kesal.
"Mi, Arka sudah ada yang disukai. Arka sudah janji padanya," ucap Arkananta serius.
"Benarkah? Siapa?" tanya Kaysa penasaran.
"Ya seseorang, intinya Arka tidak dijodohkan dengan Sarah," tolak Arkananta.
"Baik, Mami akan setujui siapapun itu. Yang terpenting dia bisa hafal Al Qur'an!" jawab Kaysa kekeh.
"Mi, jangan begitu dong. Yang penting dia kan muslimah dan baik," bujuk Arkananta.
"Kalau begitu kamu saja yang menghafalkan Al Qur'an. Bagaimana? Intinya hanya ada syarat dua itu, gadis pilihanmu atau kamu yang menghafalkan Al qur'an," kata Kaysa tegas.
Arkananta terbengong, karena baginya yang sangat pemalas itu sangat tidak mudah.
"Papi, bantu aku membujuk Mami..." rengek Arkananta dengan wajah memelas.
Alarik hanya tersenyum saja sambil mengangkat kedua bahunya.
"Ih, Papi dan Mami kejam deh," cetus Arkananta ngambek.
"Arka, buktikan jika cintamu itu besar pada gadismu," sela Alarik yang sedari tadi hanya menonton istri dan putranya berdebat.
"Sudah sana kembali ke Asrama!" usir Kaysa sambil mendorong putranya untuk keluar dari mobil.
__ADS_1
"Mi..." rengek Arkananta lagi.
"Intinya dua syarat itu, kalau tidak ya kamu nanti Mami nikahkan dengan Sarah!" kata Kaysa tegas dan langsung menutup pintu mobil.
Kemudian Alarik melajukan mobilnya dan meninggalkan Arkananta seorang diri seperti anak yang hilang.
"Berat banget ini, aku saja yang dari kecil sudah diajari mengaji masih merasa kesulitan untuk menghafalkannya. Bagaimana dengan Deby? Astaga... " keluh Arkananta kembali dengan langkah yang tak pasti.
Di kamar Yudistira dan Sagara sudah menunggu Arkananta. Mereka berdua sangat penasaran apakah sepupu mereka itu berhasil membujuk Maminya?
Begitu Arkananta masuk, Sagara langsung menyerang dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana? Apa kamu bisa membujuk Mamimu untuk membatalkan perjodohan kamu dan Sarah?" tanya Sagara penasaran.
"Huft, sulit sekali," keluh Arkananta.
"Sulit bagaimana?" sela Yudistira ikut penasaran.
"Mami memberi syarat, kalau aku mau membatalkan perjodohan maka antara aku dan Deby harus ada yang bisa menghafalkan Al Qur'n," jawab Arkananta lemas.
"Kalau begitu kamu tinggal hafalkan saja," pinta Sagara.
"Memangnya aku sejenius kamu? Kalian tahu sendiri bagaimana malasnya aku kalau di suruh hafalan," sergah Arkananta.
"Berarti kamu nyerah dan mau bersama sarah?" tanya Sagara dengan tatapan serius.
"Tidak juga, sudah aku bilang Sarah bukan tipe aku," jawab Arka kesal.
"Kalau begitu suruh saja Deby yang menghafalkan," saran Yudistira.
"Itu tidak mungkin!" jawab Arka dan Sagara bersamaan.
Yudistira hanya tertawa saja melihat kedua saudaranya yang dilanda pusing itu.
"Ya sudah, kalian urus saja sendiri. Aku mau bersantai sejenak ah," balas Yudistira merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Jangan senang dulu, ingat taruhan kita," sela Sagara.
"Iya, kamu tidak perlu cemas!" balas Yudistira.
"Sekarang mau bagaimana?" tanya Sagara.
"Bagaimana lagi, mau tak mau aku yang harus menghafalkan. Tapi di sini lain aku juga malas sekali," keluh Arkananta membayangkan betapa banyaknya ayat suci Al Qur'an.
"Kalau aku temani bagaimana? Nanti kita bisa saling membantu. Jika kita menghafalkan bersama pasti lebih semangat," ajak Sagara.
"Kamu serius?" pekik Yudistira langsung bangun dari tidurnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Sagara dan Arkananta penasaran dengan keterjutannya Yudistira.
"Jika kalian berdua menghafalkan Al-qur'an bagaimana dengan nasipku? Nanti aku akan di pojokan seluruh keluarga dan juga kakek nenek," protes Yudistira.
Arkananta tersenyum senang, diapun langsung melirik ke arah Sagara.
"Oke, Sagara. Mari kita berdua berjuang!" Kata Arkananta berubah semangat.
__ADS_1
"Tidak.…. " teriak Yudistira.
Sagara dan Arkananta tertawa, sebab di antara mereka yang paling malas soal belajar dan hafalan adalah Yudistira.