CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Bulan dan bintang


__ADS_3

 


Malam semakin larut, Tia tak bisa tidur karena terus memikirkan bagaimana caranya agar semua masalah bisa dilalui dengan lancar.


Rian yang melihat istrinya resah langsung menegurnya.


"Kenapa belum tidur, Dek?" bisik Rian.


"Hanya mengkhawatirkan keadaan Zhia, tadi dia seperti panas lagi badannya. Mas, aku minta izin tidur menemani Zhia ya? Nanti kalau Alifya terbangun mencariku anterin saja ke sana," pinta Tia pada suaminya.


Tia merasa inilah saatnya untuk berbicara dengan Zhia, karena besok sore ibu sudah pulang. Jangan sampai terjadi keributan lagi masalah Iyas dan Syauqi.


Rian mengangguk tanda mengizinkan, jauh di lubuk hatinya dia bersyukur memiliki sosok istri sholichah yang sangat menyayangi keluarganya.


Tia masuk ke kamar Zhia yang tidak di kunci. Di sana Zhia juga masih belum tertidur.


"Assalamu'alaikum," sapa Tia pelan.


"Wa'alaikumsalam, ada apa malam-malam ke sini, Mbak Tia?" tanya Zhia sambil duduk dan bersandar pada dinding.


Tia sudah tak bisa menahan lagi kesedihan karena memikirkan nasib adiknya yang sangat lembut ini.


Tia langsung memeluk Zhia dan menangis terisak.


"Tabahkanlah hatimu, Adikku sayang. Jngan takut dan jangan merasa sendirian. Mbak mu ini akan selalu di sampingmu," ucap Tia.


"Apakah Mbak Tia sudah tahu cobaan yang tengah menimpaku?" tanya Zhia penasaran.


Tia mengangguk pelan.


"Tenanglah, Dek Zhia. Hanya mbak saja yang tau. Dan jangan sampai Masmu juga ibuk mendengar. Karena nanti masalah ini akan menjadi semakin runyam. Apalagi demi kesehatan ibuk," kata Tia penuh perhatian.


Kedua tangannya menyangga pundak Zhia supaya tetap Kokok walau diterjang berbagai ujian.


Zhia menangis dalam pelukan Kakak Iparnya.


Setelah beberapa saat Zhia melepas pelukannya dan memegang kedua tangan Tia.


"Sekarang aku harus bagaimana, Mbak Tia?" tanya Zhia yang masih bingung harus menentukan langkah selanjutnya.


"Segeralah menikah! agar tidak menjadi aib keluarga yang menyebar," jawab Tia mantap.


"Tapi aku menikah dengan siapa? Keduanya sama-sama ingin mengajakku menikah. Aku bingung mbak, aku sangat mencintai Mas Iyas. Sedangkan anak yang ku kandung ini adalah darah daging Mas Syauqi," kata Zhia pilu.


Memang inilah yang membuat Zhia semakin terjerumus dalam kebimbangan.


Tia menghela nafas panjang,dan mengusap lembut kepala Zhia yang dibalut kerudung hitam.

__ADS_1


"Kini keadaannya telah berbeda, Dek Zhia. Semua bukan hanya tentang cinta dan hatimu.Tapi kini juga tentang masa depan anak yang sedang kamu kandung, dia tidak bersalah, dia berhak bahagia dan mengetahui siapa ayah kandungnya. Meskipun Mbak Tia yakin jika Iyas sangat mencintaimu dan bisa menerima anakmu tapi bagaimana dengan keluarga Iyas? Bagaimana jika Syauqi nanti mengambil paksa anakmu disaat semua orang tau kamu adalah istrinya Iyas?


Akan tetapi semua keputusan ada ditanganmu, Dek. Pikirkanlah yang terbaik untuk masa depan anakmu," Tia menasehati Zhia tapi dia juga tak berani memaksanya, bagaimanapun juga Zhialah yang akan menjalaninya.


**************************


Keesokan harinya Iyas mendatangi rumah Zhia. Dengan tersenyum tenang Zhia mengajak Iyas keluar.


"Mas Iyas, kita jalan jalan yuk? Sudah lama kita tidak ke Taman umum dekat kampus," Kata Zhia manis.


"Baiklah, Zhia," jawab Iyas bahagia.


Satu tahun lebih Zhia tak ke sana, kini Taman Umumnya sudah banyak perubahan.


Dulunya masih sepi kini mulai ramai pengunjung.


Di setiap pinggiran jalan juga banyak penjual berbagai macam makanan.


Ada juga berbagai macam penjual mainan untuk anak anak, Zhia membayangkan alangkah bahagianya jika kelak bermain di taman bersama anak dan suami tercintanya.


"Mari duduk disini," ucap Iyas lembut.


"Iya, Mas Iyas," jawab Zhia patuh.


"Tempatnya kini sudah semakin indah ya, Mas?" tanya Zhia riang.


Walupun Iyas tahu jika Zhia tengah mengandung anak yang bukan darah dagingnya. Cintanya tak pernah berubah, dari dulu hingga sekarang dan entah akan sampai kapan...


"Hem... aku pengen rujak buah, jus apokat sama tempe mendoan" jawab Zhia ceria.


"Siap...kamu tunggu disini dulu ya!" kata Iyas semangat dan berlari ke arah penjual makanan.


Di balik senyumnya manisnya, jauh dari relung hatinya.


Zhia ingin menjerit, sampai semua orang tau jika dia sangat terluka.


Namun kali ini Zhia tak ingin meneteskan air mata walau hanya sebutir. Jiwanya sudah terlalu lelah untuk sebuah perasaan.


Melihat Orang yang dicintainya sudah datang, Zhia menyambut Iyas dengan senyuman kebahagian, dia tertawa melihat Iyas yang kerepotan membawa makanan.


"Mas Iyas... Lihatlah mentari pagi yang bersinar, cahayanya menerangi dunia,"


kata Zhia sambil menikmati makannya.


Iyas hanya menatap Zhia tanpa berkata apapun, Iyas merasa bahagia jika Zhia tersenyum seperti ini.


"Begitupula dengan Mas Iyas, kau seperti matahari, sedangkan aku hanyalah rembulan. Tanpamu aku takkan pernah bisa bersinar," timpal Zhia.

__ADS_1


Iyas masih saja diam, dia heran kenapa Zhia tiba-tiba berbicara seperti ini.


"Aku takkan bisa bersinar terang tanpa cahayamu Mas Iyas. Namun sayang takdir harus memisahkan, karena Matahari muncul disiang sedangkan Rembulan muncul dimalam hari."


Kalimat Zhia yang terakhir membuat Iyas tercengang... dia menjadi ketakutan jika ini pertanda hal buruk baginya.


"Tidak, Zhia. Cinta kita takkan pernah terpisahkan... Cinta kita abadi sampai maut yang memisahkan," jawab Iyas dengan suara parau.


"Namun Cinta tidak harus memiliki bukan? Dunia ini hanyalah panggung sandiwara, sebagai pelakon kita harus mengikuti skenario yang sudah ditulis oleh sang penciptanya," jawab Zhia menatap sendu.


"Apa maksudmu Zhia? Kenapa kamu berkata seperti ini?" Iyas mulai curiga dan resah.


Zhia berdiri dan mulai melangkah mundur secara perlahan, sedangkan Iyas seperti tersambar petir hanya bengong dan tak bisa bergerak sedikitpun.


"Terimakasih, Mas Iyas. Atas segala pengorbananmu selama ini.


Terimakasih atas kasih sayang, perhatian juga perlindunganmu. Aku mencintaimu, Mas Iyas. Jika memang Alloh tak menakdirkan kita bersama di dunia ini semoga Alloh mempertemukan kita disurga nanti. Tegarlah Mas Iyas! Kita berdua harus bisa sabar menghadapi ujian hidup yang fana ini.


Tetaplah menjadi Matahariku, yang selalu menyinari ku walaupun Siang dan malam tak bisa berjalan bergandengan bersama. Akan ku ingat selalu namamu dalam setiap do'aku... Di manapun engkau berada."


Zhia berkata Tegar dan mulai meninggalkan Iyas.


Setelah Zhia masuk taxi dan hilang dari pandangan, semua orang berkerumunan karena Iyas pingsan tergeletak di bawah pohon rindang... saksi bisu segala kenangan manis Zhia dan Iyas semasa kuliah.


Semilir angin berhembus merontokkan daun daun hijau segar.


Rupanya pohon itu juga ikut meratapi kepedihan yang dirasakan iyas.


Andai pohon itu bisa berbicara, dia ingin berteriak.


"Wahai saudari manusia.... Tidakkah kau melihat kekasihmu tergeletak tak berdaya setelah kepergian mu....


Tidakkah kau ingat bertahun tahun lamanya cinta kalian bersemi indah seperti bunga- bunga mekar ditaman ini...


Janganlah pergi... dan kembalilah... wahai saudariku manusia..."


Namun orang-orang tak ada yang bisa mendengar rintihan pohon rindang itu.


Mereka sibuk lalu lalang mencari bantuan, karena orang yang sedari tadi pingsan tak sadarkan diri juga.


Zhia tak tahu apa yang terjadi dengan Iyas. Namun hatinya seperti kaca yang pecah dan hancur berkeping keping.


"Akupun harus kuat menjalani dunia yang penuh tipuan ini. Karena sesungguhnya tubuhku... hatiku... jiwaku adalah milik sang pencipta, aku tidak mempunyai hak atas sendiri."


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏


Karena dukungan dari kalian semoga novel CINTA YANG TERPAKSA ini bisa berkembang lebih baik lagi🤗

__ADS_1


__ADS_2