
Untuk sementara ini Kaysa masih bisa melupakan keinginannya, karena hatinya sedang berbunga-bunga memiliki lima anak ayam yang sangat lucu.
Sepanjang perjalanan pulang Kaysa tidak berhenti mengajak anak ayamnya itu berbicara.
"Kaysa, apa mulutmu itu tidak merasa lelah?" sindir Syadev dingin.
"Kakak! Panggil aku kakak!" balas Kaysa ketus.
"Nggak mau, kita cuma selisih lima menit saja," sergah Syadev.
"Itu sama saja kamu tidak punya sopan santun," kata Kaysa.
"Baiklah, Kakak. Sekarang apakah kakak sudah bisa diam? Kasihan kuping anak ayamnya, mereka pasti tersiksa mendengar suaramu," sindir Syadev santai.
"Ayah... Bunda, Syadev nakal," rengek Kaysa pada kedua orang tuanya yang duduk di kursi depan.
"Dasar tukang ngadu," umpat Syadev pelan.
"Kaysa... Syadev. Kenapa kalian ini ribut terus? Kalau masih belum baikan nanti anak ayamnya mau Bunda goreng," ancam Zhia.
Meskipun nada suara Zhia lembut, tapi ancaman itu cukup membuat Kedua saudara kembar itu merasa ketakutan. Seketika mereka diam.
Sampai di rumah Syadev dan Zhia langsung menemui Pak Ahmad yang sedang menyiram bunga.
"Pak, tolong buatkan rumah yang bagus untuk anak ayam ini," ucap Kaysa.
"Kalau Ayam bukan rumah, tapi kandang," sergah Syadev.
"Itu ayammu! Kalau ayamku spesial, mereka harus tinggal di rumah yang bagus," balas Kaysa tidak mau kalah.
"Sudah jangan berkelahi lagi, nanti malah Pak Ahmad yang dimarahi Ayah kalian," jawab Pak Ahmad tersenyum senang.
"Cepat, Pak. Buatkan rumah!" pinta Kaysa.
"Maaf, Nona. Bapak tidak bisa membuat kandang ayam. Tapi biasanya di pasar ada yang jual," jawab Pak Ahmad ramah.
"Ayo sekarang beli," ucap Syadev semangat.
"Sekarang sudah sore, pasarnya tutup. Bagaimana kalau besok pagi saja," saran Pak Ahmad.
"Tidak, Pokoknya sekarang! Kasian anak ayamnya kalau harus tidur di kardus," teriak Kaysa.
Syauqi dan Zhia segera mendekat mendengar putrinya yang mulai ngambek.
"Sayang, Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Syauqi lembut sambil mengelus rambut putrinya.
"Pokoknya aku mau rumah ayam sekarang! Kalau tidak pasarnya nanti aku bakar," teriak Kaysa.
Zhia dan Syauqi sampai terkejut melihat putrinya yang sangat keras kepala.
"Apakah dulu Papa sama Mama juga merasa seperti ini saat aku selalu membuat ulah?" tanya Syauqi pada diri sendiri.
"Sayang, anak perempuan yang baik tidak boleh berkata seperti itu," bujuk Zhia lembut sambil memeluk putrinya.
"Tapi kasihan ayamnya kalau belum punya rumah," rengek Kaysa mulai menurun emosinya.
"Kardus juga bisa jadi rumah ayam," kata Zhia sabar.
"Nggak mau, jelek," rengek Kaysa mulai menangis.
"Pak Ahmad, ajak Kaysa dan Syadev ke pasar. Tanyakan pada orang di sekitar pasti tahu rumah pembuat kandang ayamnya!" perintah Syauqi pada sopirnya.
"Iya, Tuan," jawab Pak Ahmad patuh.
"Terima kasih ya, Ayah," ucap Kaysa dan Syadev sambil memeluk Syauqi.
"Sudah, cepatlah berangkat! Nanti keburu adzan Maghrib," kata Syauqi.
Kedua anak Kembar Syauqi segera masuk ke mobil bersama Pak Sopir.
Zhia diam, ekspresinya tanda tidak setuju dengan sikap suaminya.
"Kamu kenapa, Istriku sayang?" tanya Syauqi.
"Kalau Mas Syauqi terus memanjakan mereka, nanti semakin besar mereka kalau mau apa-apa harus selalu dapat," protes Zhia.
"Sudahlah, jangan khawatir! Suamimu ini sangat kaya, mereka mau minta apapun pasti aku bisa menuruti," jawab Syauqi santai.
"Tapi bukan seperti ini caranya, aku nggak mau mereka menjadi anak yang manja," sela Zhia.
__ADS_1
"Tidak, lihatlah suamimu! Dulu sangat arogan, keras kepal, nakal, tapi sekarang sudah bisa menjadi seorang Ayah dan suami idaman," jawab Syauqi tersenyum nakal.
Zhia terdiam, karena sudah tidak bisa membalas ucapan suaminya.
Syauqi tahu jika istrinya kesal, dengan penuh kasih sayang Syauqi mencium kepala Zhia dan merangkulnya ke dalam rumah.
"Ayo kita segera masuk," pinta Syauqi lembut.
Syauqi dan Zhia baru saja memasuki pintu. Namun pembantu mereka sudah bersujud di depan mereka sambil menangis.
"Tuan Syauqi, Nyonya Zhia. Saya Mohon ampun atas kesalahan saya," ucap isti ketakutan.
Zhia segera menyentuh pundak Isti den mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Isti?" tanya Zhia heran.
"Sebenarnya saya bekerja di sini punya maksud lain. Saya diutus untuk mencari informasi tentang keberadaan Tuan Muda Alarik," jawab Isti gugup.
"Jadi kamu sudah memberi laporan kalau Alarik di Amerika?" kata Zhia panik.
Isti menganggukkan kepalanya pelan kemudian menunduk karena merasa bersalah.
Zhia langsung merasa gelisah dan butir-butir air mata mulai menetes di wajahnya.
"Bagaimana ini? Aku takut kalau mereka sampai menemukan Alarik," kata Zhia.
Syauqi dengan santai mengusap air mata Zhia, kemudian mengelus kepala istrinya penuh kasih sayang.
"Tenanglah! Alarik sekarang aman bersama Mama. Aku pastikan tidak akan ada orang yang bisa menyentuh keluargaku," ucap Syauqi lembut.
Zhia terkejut, dia segera sadar kalau dirinya selama ini dibodohi.
"Mas Syauqi licik," pekik Zhia karena merasa kesal.
"Ayolah jangan marah, suamimu ini hanya tidak ingin kamu merasa tertekan," bujuk Syauqi sambil memeluk Zhia.
Isti masih menangis dan tertunduk menanti hukuman apa yang akan di terimanya.
"Isti, sekarang bersiaplah. Nanti jika Pak Ahmad sudah kembali segeralah tinggalkan tempat ini. Nanti Pak Ahmad akan mengantarkanmu pada suamimu," kata Syauqi tegas pada pembantunya.
Isti kaget sampai merasa tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Suami Isti dijadikan kambing hitam atas korupsi temannya, lalu masuk penjara. Setelah itu Isti menjelaskan pada atasan. Tapi Paman Alarik memberi sayat, untuk membebaskan suaminya, Isti diminta jadi pembantu si sini," jawab Syauqi santai.
"Bagaiman Mas Syauqi bisa tahu?" tanya Zhia penasaran.
"Karena suamimu adalah Syauqi Malik. Dengan mudah aku mendapatkan informasi di perusahaan Mandala karena secara diam-diam aku menanam saham di sana menggunakan nama orang lain," jawab Syauqi tersenyum puas.
Zhia terpana, karena suaminya terlihat sangat mengagumkan.
"Suamimu ini sangat keren kan?" goda Syauqi tersenyum nakal.
Rasa kekaguman Zhia menjadi lenyap seketika setelah suaminya seperi itu.
"Isti, segeralah bersiap! Bukankah kamu ingin cepat-cepat bertemu suamimu?" ucap Zhia lembut.
"Nyonya tidak marah?" tanya Isti heran.
"Tidak, kamu melakukan semua ini karena terpaksa demi suami kamu. Seandainya aku diposisi kamu pasti aku juga akan melakukan hal yang sama," jawab Zhia tersenyum ramah.
"Benarkah?" tanya Syauqi sambil mendekap tubuh istrinya erat.
Zhia langsung memerah karena merasa malu.
Melihat kemesraan Majikannya, Isti tahu diri dan segera kembali ke kamarnya.
Syauqi merasa sangat senang mendengar ucapan istrinya tadi, dia segera mencium bibir Zhia penuh gairah.
"Mas, jangan di sini," protes Zhia mendorong tubuh suaminya dengan kekuatan penuh.
"Kenapa? Tidak ada orang," jawab Syauqi santai.
Saat Syauqi ingin mencium bibir istrinya lagi, tiba-tiba terdengar salam yang lumayan keras dari luar pintu.
"Assalamu'alaikum," teriak Kaysa dan Syadev dengan wajah ceria.
"Wa'alaikumsalam," jawab Syauqi dan Zhia bersamaan.
"Kenapa wajah Bunda memerah?" tanya Syadev cemas.
__ADS_1
"Apa Bunda sedang sakit?" timpal Kaysa ikut khawatir.
"Tidak apa-apa sayang, Bunda hanya sedang merasa malu," jawab Syauqi sambil tertawa.
Zhia melirik suaminya karena merasa kesal, seketika Syauqi langsung diam karena merasa takut.
Adzan Maghrib mulai berkumandang, Kaysa dan Syadev segera menyerahkan dua kandang ayam yang terbuat dari bambu warna-warni yang dipegang kepada Pak Ahmad.
"Pak, tolong masukkan anak ayamnya ke sini ya," pinta Syadev.
"Jangan lupa dikasih makan dan minum," timpal Kaysa.
"Siap," jawab Pak Ahmad mantap.
Syauqi dan Zhia merasa senang, meskipun anak mereka sering membuat ulah tapi soal sholat, mengaji dan belajar tidak pernah telat.
*****************************
Seperti rutinitas biasa, keluarga syauqi setelah sholat Magrib langsung mengaji sambil menunggu sholat Isya.
"Malam ini kita makan malam di luar saja ya? Kasihan Bunda kalau disuruh masak, nanti kecapean," kata Syauqi pengertian.
"Iya, Ayah," jawab Kaysa dan Syadev ceria.
Zhia merasa sangat bahagia memiliki suami seperti Syauqi. Karena suaminya selalu peka dengan apa yang dia rasakan.
Di lantai bawah Isti sedang menunggu bersama Pak Ahmad.
"Tuan, Nyonya. Sebelum berpamitan saya memohon maaf sebesar-besarnya dan saya juga mengucapkan banyak terimakasih atas kemurahan hati kalian," ucap Isti tersenyum lega.
"Tidak apa-apa, ini buat kamu. Lebih baik buka usaha kecil-kecilan sendiri dari pada ikut orang tapi berisiko seperti itu," kata Zhia sambil memberi amplop.
"Jangan, Nyonya. Anda sudah terlalu baik," tolak Isti.
"Terimalah! Jangan biarkan Istriku bersedih," timpal Syauqi.
"Terimakasih, Hanya Alloh yang bisa membalas kebaikan Tuan dan Nyonya," kata Isti.
Kemudian Pak Ahmad segera mengajak Isti masuk ke mobil.
"Kenapa Bik Isti pulang, Bunda?" tanya Kaysa penasaran.
"Karena tidak tahan dengan kenakalan kamu," sela syadev dingin.
"Ayah... Bunda..." rengek Kaysa.
"Mulai lagi..." tegur Zhia.
"Sudah... sudah, ayo kita segera berangkat. Perut Ayah sudah lapar ini," ucap Syauqi sambil menggandeng kedua tangan anak kembarnya.
Zhia melangkah mengikuti dari belakang. Kemudian dia tiba-tiba membayangkan jika memiliki anak lagi pasti akan lebih ramai.
Sejujurnya Zhia juga ingin punya bayi lagi mumpung masih muda. Tapi dia merasa heran karena suaminya sering mengingatkan agar dirinya tidak lupa meminum pil KB.
Padahal dulu Sebelum menikah Syauqi meminta Zhia untuk melahirkan banyak anak.
"Apa Mas Syauqi merasa lelah karena sudah punya dua anak kembar ya? Tapi sepertinya Mas Syauqi selama ini juga sangat sabar menghadapi kenakalan Kaysa dan Syadev. Nanti malam aku harus bertanya. Semoga Mas Syauqi mengizinkan aku untuk hamil lagi," batin Zhia pada diri sendiri.
"Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri, Bunda?" tanya Syauqi.
"Tidak, hanya sedang merasa senang saja," jawab Zhia.
"Ayah, nanti beli balon khusus tempat renang anak ayam ya?" pinta Kaysa.
"Yang suka renang itu anak bebek, bukan anak ayam," cetus Syadev.
"Biarin, ayam-ayam aku," bentak Kaysa.
"Ayah, apa sebaiknya kita kembali pulang saja yuk? Masak ayam goreng sepertinya enak," sindir Zhia.
"Jangan!" Teriak Syadev dan Kaysa yang duduk di kursi mobil belakang.
"Makanya Kalian tidak boleh berantem lagi!" timpal Syauqi.
Syauqi merasa sangat terhibur dengan dua anaknya. Bagaikan Api dan air. Kalau Mereka sedang berkelahi, Kaysa selalu berteriak-teriak. Sedangkan Syadev bergaya tenang tapi ucapannya tajam.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗
__ADS_1