
Dua Minggu setelah kepergian keluarga Rendra dan Alarik, Zhia merasa sangat kesepian. Apalagi saat kedua anak kembarnya juga tertidur, Zhia semakin merasa jenuh.
"Sayang, kenapa tidak bersemangat begitu?" tanya Syauqi sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Hanya jenuh saja, Mas Syauqi. Sekarang di sini menjadi sunyi, biasanya Alarik dan Orlin selalu membuat ramai," jawab Zhia lemas.
"Bagaimana kalau kita bermain saja?" goda Syauqi tersenyum nakal.
Senyuman Syauqi yang memikat memang seperti bius yang memabukkan.
"Bermain apa?" tanya Zhia pura-pura tidak tahu.
"Permainan kesukaan kamu, Ayolah... sudah dua bulan lebih kita tidak melakukannya," bujuk Syauqi merengek seperti anak kecil.
Zhua tertawa, dia tidak mengira suaminya bisa bersikap seperti itu.
"Tapi ini masih siang, Suamiku sayang," Bibirnya menolak, tapi tubuh Zhia berbalik arah dan memandang suaminya dengan tatapan syahdu.
"Syauqi langsung mendorong istrinya sampai terjerembab di atas ranjang. Syauqi segera menindih tubuh istrinya yang terlentang menggoda.
"Permainan ini bisa dilakukan kapan saja sayang, tidak perduli siang ataupun malam," jawab Syauqi berbisik di telinga istrinya.
Tubuh Zhia memang sensitif, dia mudah merasa geli saat bagian tubuhnya disentuh. Membuat Syauqi semakin bergairah ketika istrinya merona merah.
Zhia langsung menyerang duluan, karena dia memang sudah sembuh total.
Syauqi merasa girang dengan keagresifan istrinya.
Syauqi segera melepaskan bajunya, dia sendiri juga berusaha melepaskan daster milik istrinya. Karena kesulitan dan merasa tak sabar, Syauqi merobetnya dan langsung menerjang istrinya dengan ciuman yang bertubi-tubi.
Zhia merintih karena sudah sangat terangsang.
Setiap desahan Zhia membuat Syauqi mabuk kepayang. Dia semakin bernafsu dan terus mencium seluruh tubuh Zhia sampai di penuhi stampel kemerahan.
"Mas, Masukkan," rintih Zhia.
Syauqi tersenyum senang, dia mulai memasukkan miliknya ke bagian tubuh istrinya. Namun Syauqi merasa sedikit kesulitan, ingin dipaksakan tapi takut menyakiti istrinya.
"Kamu seperti perawan lagi, Istriku sayang," goda Syauqi.
"Pelan-pelan, Mas. Rasanya sedikit sakit," pinta Zhia lembut.
"Iya, aku tahu. Tapi nanti lama-lama kamu keenakan kok," goda Syauqi sambil mencium bibir istrinya. Dan tangannya bermain di payudara Zhia yang semakin berisi.
Layaknya seperti pasangan pengantin baru, keduanya terus bergumul di atas ranjang penuh gairah.
__ADS_1
Dua jam kemudian keduanya terkapar. Tubuh mereka seperti tersengat listrik yang di aliri rasa kenikmatan.
"Terimakasih, Istriku. Kamu hebat sekali," puji Syauqi sambil mencium kening Zhia.
"Sama-sama, Mas Syauqi. Kamu juga," jawab Zhia tersenyum malu, dia segera menyembunyikan wajahnya di pelukan suaminya.
Syauqi tertawa, karena baru kali ini mendengar istrinya memujinya. Biasanya Zhia teramat malu untuk mengungkapkan apapun.
Kemudian keduanya berpelukan dan terlelap dalan kepuasan.
Baru setengah jam mereka tertidur, Zhia sudah terbangun karena mendengar suara ponsel miliknya dan suaminya yang berbunyi secara bergantian.
Meskipun tubuh Zhia masih merasa lelah tapi dia bangun juga untuk mengangkat telepon.
"Assalamu'alaikum," salam Zhia.
"Wa'alaikumsalam, Dik Zhia. Mas Fauzi mau memberi kabar kalau saat ini kakak iparmu sedang di rumah sakit, karena barusan air ketubannya sudah pecah dan usia kandungan yang melewati PHL jadi harus segera dioperasi. Doakan ya semoga di beri kelancaran dan keselamatan," kata Fauzi terdengar panik.
"Iya, Mas Fauzi. Saya dan Mas Syauqi segera menyusul ke sana. Tolong kirimkan Alamat rumah sakitnya ya. Assalamu'alaikum," kata Zhua ikutan panik.
Setelah Fauzi menjawab salamnya, Zhua langsung menutup telepon dan membangunkan suaminya.
Mereka berdua segera mandi kemudian sholat Dzuhur berjamaah.
Syauqi dengan sabar menunggu istrinya, dia sendiri segera memanggil kedua pembantunya untuk menjaga Kaysa dan Syadev.
"Anak Ayah, jangan nakal ya! Ayah sama Bunda mau ke rumah sakit dulu," ucap Syauqi lembut sambil mencium kedua anak kembarnya secara bergantian.
Setelah semua selesai mereka berdua segera keluar rumah dan menuju rumah sakit.
Perjalanan sangat jauh, mereka membutuhkan dua jam untuk sampai di sana.
Di rumah sakit sudah ada Dony dan Nindya yang ikut menunggu.
"Sudah lama, Don?" tanya Syauqi.
"Baru saja," jawab Dony.
"Di mana Mas Fauzi?" tanya Zhia yang tidak melihat kakak iparnya.
"Di Mushola, sedang sholat dan berdo'a," jawab Nindya sambil memegangi perutnya yang sudah membesar.
Kemudian Zhia duduk di sebelah Nindya, dia juga ikut berdo'a semoga di beri kelancaran.
Setengah jam kemudian Fauzi sudah kembali bergabung bersama orang-orang di depan ruang operasi.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi, membuat semua orang merasa lega.
Dua puluh menit kemudian sang Dokter keluar meminta Suami dari pasien untuk masuk ke dalam.
Satu jam kemudian Elly sudah di pindahkan ke ruang inap biasa, dia tertidur pulas.
"Mas, Putri anda di beri nama siapa?" tanya Zhia penasaran.
"Fatimah Az-zahra, panggilannya Zahra. Semoga kelak mempunyai akhlak seperti Puteri Rossulullah," jawab Fauzi bahagia.
Beberapa menit kemudian Elly sudah terbangun, tapi tubuhnya masih lemas dan dia terbaring tak berdaya.
Semua masuk dan memberi selamat.
Suasana bahagia, tamu-tamu yang hadir mulai banyak.
Syauqi segera memberi kabar kepada Mamanya yang di Jerman.
"Syauqi, sebaiknya kamu ajak Zhia pulang saja! kasihan Syadev dan Kaysa," ucap Elly.
"Iya, Dek. Di sini banyak orang. Kamu jangan khawatir lagi," timpal Fauzi.
Akhirnya Syauqi berpamitan pulang diikuti dengan Dony dan istrinya.
Sesampainya Syauqi di parkiran, Dony segra menghampirinya.
"Bos, ada hal penting yang mau aku bicarakan sebentar," kata Dony.
"Apa?" tanya Syauqi datar.
"Om nya Alarik mulai bergerak, secara perlahan dia menambah sahamnya yang di ambil dari hasil saham milik Alarik. Kalau di biarkan terus menerus kekuasaannya menjadi paten," lapor Dony dengan wajah serius.
"Kalau begitu aku tugaskan kamu untuk menanam saham di sana. Supaya kamu dengan mudah mengetahui informasi tentang perusahaan Mandara secara rinci, dan juga saham yang kita tanam kelak bisa membantu Alarik untuk mengambil alih haknya," perintah Syauqi.
"Baiklah, Bos. Tapi karena di luar kota bolehkah saya menitipkan istriku? Karena Nindy tidak pernah nyaman berada di rumah orang tuaku," pinta Dony.
"Iya nggak papa, sekalian bisa menemani Zhia. Dia sedang merasa jenuh kerena ditinggal keluarga Rendra dan Alarik," jawab Syauqi santai.
Zhia merasa sangat senang karena Nindy ikut pulang bersamanya, tapi mereka mampir dulu ke rumah Dony untuk mengambil barang-barang yang di perlukan Nindy.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik🤗
__ADS_1