
Ketika separuh jiwa terbelah, arti kehidupan mulai terasa berkurang.
Karena cinta yang sudah lama tertanam takkan semudah itu bisa dilupakan.
Kerinduan hanya bisa terobati setelah menemukan kembali separuh jiwa yang menghilang.
Di balik jendela kamarnya Iyas hanya termenung.
Namun pikirannya melayang entah kemana.
Setelah pulang dari rumah sakit Iyas sama sekali tak memiliki semangat untuk kuliah atau mengurus bisnisnya, makan hanya habis beberapa sendok saja, itupun Uminya harus memaksa dulu.
Kedua orang tua Iyas sangat khawatir karena takut Iyas seperti kemarin yang melupakan dirinya sendiri.
Abah sudah tak tahan dengan keadaan putra kesayangannya, karena dialah satu - satunya sebagai harapan.
Abah yang terlalu banyak memikirkan Iyas menjadi stres dan pola makannya tak teratur, akhirnya Abah Iyas sakit juga.
Diabetes yang lama sudah sembuh menjadi kambuh lagi.
Mendengar Abahnya sakit Iyas merasa sedih dan menyesal, harusnya dia sebagai anak harus membuat orang tua merasa bahagia.
"Abah, maafin Iyas yang sudah banyak menyusahkan," kata Iyas memohon ampun. Dia merasa tak tega melihat Abahnya berbaring di ranjang.
"Tidak, Nak. Justru Abah yang merasa bersalah tidak bisa membahagiakanmu," jawab Abah lemas, sesekali terdengar batuk disela perkataanya.
"Abah tidak salah, Iyas bahagia punya Abah yang selalu mengayomi dan menyayangi. Iyaslah yang masih terlalu muda, hanya karena cinta membuat Iyas patah semangat," ucap Iyas sopan.
Melihat Abahnya yang sakit Iyas menjadi sadar, masih ada kedua orang tuanya yang selalu mencintai dan tidak akan pernah meninggalkannya.
"Iya, Abah memahami karena Abah pernah muda," tutur Abahnya lembut.
Umi masuk kedalam kamar membawakan makanan dan minuman.
"Iyas, suapilah Abahmu. Sekarang waktunya minum obat," pinta umi.
"Ayo Abah makan dulu!" kata Iyas mulai menyuapi Abahnya.
"Abah pernah sewaktu muda ditinggalkan kekasih?" tanya Iyas penasaran.
Mendengar pertanyaan dari anaknya Abah langsung batuk - batuk, segera Iyas mengambilkan air minum.
"Iyas, dulu Abahmu menghabiskan waktu untuk belajar di pesantren. Jadi tidak punya waktu untuk memikirkan atau menyukai wanita," tutur umi.
"Lalu bagaimana bisa menikah dengan umi?" tanya Iyas sambil menyuapi Abahnya yang sudah memiliki nafsu makan lagi.
"Kami dijodohkan, bahkan kami bisa saling melihat setelah menikah," jawab umi sambil tersenyum.
Iyas sudah tau jika kedua orang tuanya mondok di pesantren yang sama, begitu juga dengan Ayahnya Zhia.
Iyas teringat awal bertemu dengan Zhia saat mereka masih kelas dua SD.
__ADS_1
Waktu itu Iyas mengikuti kedua orang tuanya dalam sebuah acara alumnian di pesantren. Saat di parkiran Iyas yang baru turun dari mobil melihat gadis kecil seumuran dirinya,gadis itu menangis karena terpisah dari orang tuanya. Iyas merasa tak tega lalu meminta kedua orang tua Iyas untuk membantu.
Siapa sangka gadis kecil itu anak dari sahabat Abahnya Iyas semasa di pesantren.
Semenjak itu setiap setahun sekali Iyas dan Zhia saling bertemu. Hingga suatu ketika Iyas Dan Zhia semakin dekat karena sekolah SMP mereka sama sampai kuliah, sayang Zhia keluar dahulu yang membuat mereka mulai terpisah jarak.
"Berarti menikah tanpa cinta ya?" tanya Iyas makin penasaran.
"Siapa bilang? Abah dan Umi saling mencintai, buktinya ada kamu," sela Abahnya yang sudah selesai makan.
"Nak, cinta adalah sebuah anugerah. Perasaan sayang yang hadir karena kebersamaan," tutur Umi menambahkan.
"Iyas, segeralah menikah! Abah sekarang sudah tua dan ingin segera mempunyai cucu," pinta Abahnya halus tapi tegas.
"Tapi Abah, orang yang Iyas cintai mau menikah dengan orang lain," jawab Iyas menundukkan pandangannya.
"Jadi kalau Zhia menikah dengan orang lain, kamu memutuskan untuk tidak menikah?" sergah Abah.
"Tidak tau Abah, tapi Iyas tidak bisa mencintai wanita lain," jawab Iyas jujur.
"Menikah adalah sunah Rosululloh. Sedangkan kamu ini masih muda, tampan dan sukses. Di luar sana banyak sekali wanita yang pasti mau denganmu," tutur Abah berwibawa.
"Tapi Abah..."
Belum sempat Iyas bicara Abahnya sudah menyela.
"Abah punya seorang teman yang memiliki anak perempuan, dia tak kalah cantik dengan Zhia dan juga solichah. Abah tak mau kamu sampai salah memilih gadis," kata Abah yang tak bisa ditolak.
Nayla memang gadis yang cantik, tapi pakainnya tidak seperti perempuan baik-baik. Dia memakai celana jeans dan kaos pendek ketat, bahkan rambutnya juga diwarnai pirang dengan bibir yang diwarnai merah bata, penampilannya sekilas terkesan cewek nakal.
Iyas pasrah, lagipula dia sudah kehilangan Zhia. Dengan siapapun juga Iyas sudah tidak perduli, dia serahkan semuanya pada Abah. Kini tujuannya hanya ingin membahagiakan kedua Orang tuanya.
*************************************
Zhia di rumah sedang menikmati sisa Rujak buah yang tadi dibuat ramai - ramai dengan Nindy dan Elly.
Namun mereka berdua tidak bisa berlamaan di rumah Zhia karena masih banyak pekerjaan yang menanti.
Elly merasa bahagia karena akhirnya Zhia menjadi Adik iparnya, tapi tadi kakak Syauqi itu berkali - kali mengutarakan permintaan maaf atas kelakuan adiknya yang sangat keterlaluan.
Mau tak mau Zhia memaafkan juga karena dia sangat segan dan menghormati Elly yang pernah menjadi bosnya.
Namun didalam hatinya Zhia masih memiliki rasa benci untuk Syauqi.
Zhia yang duduk di bangku kayu depan rumah menyadari kehadiran mobil mewah Syauqi yang memasuki tempat parkiran.
Pemuda yang sangat tampan itu membawa beberapa tas plastik besar yang entah isinya apa lalu diberikan kepada keluarganya yang berada di Ruko.
"Katanya keluar negri kenapa cuma dua hari saja?" batin Zhia mulai kesal.
Kemudian dengan senyum manisnya Syauqi mendekati Zhia, tapi Zhia malah merasa muak.
__ADS_1
Andai saja wanita lain yang diberikan senyuman maut Syauqi seperti itu mungkin sudah pingsan.
"Kalau mau makan buah mangga bilang aku saja! Dari pada buah yang masih mentah dimakan," celetuk Syauqi sambil duduk di bangku kayu berhadapan dengan Zhia.
Zhia hanya tersenyum nyengir.
"Sabar Zhia, jangan memulai perdebatan lagi. Simpanlah tenagamu untuk hal yang lebih bermanfaat," bisik Zhia pada dirinya sendiri.
"Ayo kita beli mangga," ajak Syauqi.
"Mas Syauqi yang terhormat, saya tidak mau mangga. Ini hanyalah sisa Rujak tadi yang dibuat Kak Elly dan Nindy, tinggal beberapa potong kecil kalau dibuang sayang," kata Zhia lembut dan sangat ramah.
Syauqi tersenyum sendiri melihat Zhia yang menyambutnya dengan wajah kesal, tapi terlihat cantik.
"Aku sangat merindukanmu Zhia. Tadi aku telepon kenapa tidak diangkat?" tanya Syauqi manja.
Syauqi memang baru saja sampai rumah, karena teleponnya tak diangkat pemuda itu langsung mandi dan menemui calon istrinya.
"Zhia tutuplah matamu!" pinta Syauqi mesra.
"Tidak, jangan macam-macam ya," sentak Zhia.
Syauqi tertawa melihat Ekspresi Zhia yang penuh kewaspadaan.
"Kenapa kamu selalu berpikiran mesum?Padahal sama sekali aku tak punya niat untuk macam-macam. Aku berjanji deh tidak akan menyentuhmu, tutuplah matamu sebentar saja!" pinta Syauqi setengah memaksa.
"Lima detik saja," jawab Zhia menahan malu.
Dalam waktu lima detik Syauqi sudah berhasil memakaikan kalung berbandul bintang yang tengahnya terukir huruf S dari berlian, kalungnya sangat indah. Zhia juga menyukainya.
"Kalungnya memang indah sekali, seandainya saja ini dari Mas Iyas mungkin aku akan bahagia. Tapi sekarang Mas Syauqi adalah calon suamiku, aku harus belajar menghargainya,"
"Kau suka?" tanya Syauqi.
"Suka sih, tapi sayangnya kenapa huruf S. Apa tidak ada yang lain?"kata Zhia jujur.
"Kamu maunya huruf apa? I untuk Iyas?" sindir Syauqi dengan tampang sebal.
Zhia tertawa lirih.
"Kalau Aku bilang iya pasti kamu marah," canda Zhia.
"Yang ada hanya itu, S untuk Syauqi,"balas Syauqi.
Tanpa mereka sadari datang seorang gadis manis, tanpa permisi gadis itu langsung nyelonong memeluk Zhia.
"Mas Iyas menerima perjodohan orang tuanya," sela Nayla sambil terisak pilu.
Zhia bagaikan ikan yang terkapar di tanah tanpa air.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Mohon kritik sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA ini bisa berkembang lebih baik lagi🤗