CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Misi Berbayar


__ADS_3

Setelah semua peralatan disita oleh Syadev, kartu kredit mereka bertiga juga dibekukan untuk sementara. Jadi mereka hanya diberi uang untuk jatah kebutuhan sehari-hari saja.


"Ya ampun, sudah seminggu kita tidak bisa kemana-mana. Ternyata tanpa uang kita juga tidak berkutik," keluh Arkananta.


"Sabarlah, sebentar lagi kita cari cara untuk mendapat uang sendiri," bujuk Yudis.


"Cara apa? Semua peralatanku yang di dalam kamar juga sudah hilang semua," balas Sagara.


"Eh, Yudis kamu masih hutang padaku 50 juta kan?" sergah Arkananta.


"Wah, kamu tegas sekali dalam keadaan seperti ini," jawab Yudis kesal.


"Uang segitu ternyata begitu penting jika keadaan sedang sulit," balas Arka.


"Kamu mau apa? Tanpa kendaraan pun kamu juga tidak bisa keluar dari wilayah ini. Yah, kecuali kalau kamu mau jalan kaki lewat hutan sana," sindir Saga.


"Benar, sekarang satu-satunya cara adalah kita harus beli mobil lagi," jawab Arka.


"Uang dari mana? Semua tabungan dan kartun kredit tidak ada. Hanya uang tunai 2 juta mau kamu buat beli mobil-mobilan?" sergah Yudis.


"Tidak, aku mau beli labu dan menangkap tikus. Nanti aku minta tolong pada peri untuk merubahnya menjadi kereta kencana," jawab Arka kesal.


"Kamu kira negeri dongeng?"


Mereka semua menjadi tertawa.


Tiba-tiba saja ponsel Arka bergetar, satu pesan masuk dan Arka langsung membukanya.


"Wih, kamu masih punya hape?" pekik Saga.


"Iya, karena mamiku keren," jawab Arka bangga.


"Yah, Tante Kaysa memang keren," balas Yudis.


"Pesan dari siapa?" tanya Sagara penasaran.


"Kepala polisi, dia meminta kita malam ini untuk ke kafe biasa," jawab Arka.


"Ah malas, kita nggak bisa keluar," jawab Saga.


"Tenang, aku mau minta si cantik untuk menjemput," jawab Arka girang.


"Si cantik siapa?" tanya Yudis.


"Deby, puterinya kepala polisi itu," jawab Arka.


"Cihui, ide bagus nih," balas Yudis.

__ADS_1


"Arka, kamu menyukai Deby ya?" tanya Saga serius.


"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Saga.


"Tidak, aku tak tertarik untuk memikirkan perempuan," jawab Sagara serius.


"Aku hanya kagum padanya saja kok, tidak lebih. Aku suka cewek yang energik," balas Arka.


Yah, Arka mengingat pertama kali bertemu dengan Deby. Saat itu sedang ada acara bentrokan antara kepolisian melawan pasukan demo. Karena kepala polisi terkena lemparan batu yang jatuh asal-asalan saat itu Deby dengan beraninya menerobos dan menembakkan gas air mata agar papanya bisa mendapat jalan untuk di bawa ke rumah sakit. Waktu itu sedang liburan panjang. Arka yang dalam perjalanan melihat kejadian seorang gadis melindungi papinya sambil membawa tembak gas air mata tampak keren.


"Arka, kamu ingat pesan orang tua kita. Jangan memikirkan sesuatu yang membuat kita nanti bermaksiat," tegur Yudis.


"Iya, memangnya aku memikirkan apa? Lagian masih parah kamu yang mengajak seorang perempuan masuk ke kamar," sergah Arka.


"Hey, aku di kamar walaupun hanya berduaan juga tidak melakukan apapun. Hanya meminta menanyai soal Roni," balas Yudis.


"Yah, aku kan tidak di sana. Jadi kamu berkata jujur atau bohong mana ada yang tahu," sindir Arka.


"Kamu mau mengajak berantem?" tantang Yudis.


"Kamu berani padaku,?" Balas Yudis.


Yudis terdiam, dia tahu jika berkelahi betulan tetap akan kalah olek Arka. Karena Arka sudah seperti dewa petarung yang sulit untuk disentuh. Bisa-bisa malah dirinya yang bonyok.


"Sudah jangan ribut lagi! Jadi malam ini keputusannya apa?" sela Saga.


"Ya kita keluar, tapi kali ini kita menentukan tarif dong. Setara dengan detektif profesional. Karena kinerja kita juga lebih baik dari mereka," jawab Arka.


"Dan Yudis juga bisa segera melunasi hutangnya," sindir Arka yang masih kesal.


"Kamu ternyata perhitungan sekali denganku yah," balas Yudis.


"50 juta, Bro. Bukan 50 rb," sergah Arka.


"Iya, nanti aku akan melunasinya," jawab Yudis


"Kalian ini seperti anak kecil saja," bentak Saga yang tidak tahan dengan keributan kedua saudaranya.


"Itu juga gara-gara kamu, andaikan kamu tidak menguras tabunganku mana mungkin aku sampai hutang," jawab Yudis.


"Kamu bodoh ya, bukannya waktu itu Arka bilang ikhlas menolong Jamila dan tidak mau diganti rugi?" sela Saga.


"Wih, iya. Kamu mau menelan ludahku sendiri?" ejek Yudis girang.


Kali ini Arka malu, tapi dia beneran lupa jika sudah berkata seperti itu.


"Intinya kita mulai dari nol, jadi kali ini harus lebih hati-hati," sela Saga serius.

__ADS_1


"Loh, yang membuat ketahuan juga karena ku kan?" balas Arka.


"Benar, jadi lain kali kamu harus hati-hati," timpal Yudis.


Merasa disudutkan Sagara memilih untuk pergi. Pemuda itu merasa menjadi riang miskin sebab semua alat eksperimennya sudah di sita. Bahkan ponsel saja juga tidak punya.


Dan tanpa komputernya Saga juga tidak bisa bekerja.


Begitu juga dengan Yudistira, tanpa alat-alatnya tidak bisa membuat lagu.


Kalau Arka masih mending, setidaknya memilki ponsel yang bisa digunakan untuk berhubungan dengan orang luar.


Tepat pukul sembilan mereka mulai beraksi, untung saja masih ada satu tali milik Arka yang tertinggal di dalam tas. Sehingga mereka bisa secara bergantian naik melewati tembok.


Di luar sudah ada Deby yang menunggu, memakai celana jeans ketat dan juga jaket kulit hitam. Dengan rambut di kuncir di belakang. Gadis tomboy tapi seksi itu selalu membuat Arka kagum.


"Hay, Deby," sapa Arka.


"Hay, ayo segera masuk," jawab Deby.


Mobil Jeep milik Deby meninggalkan asrama dan langsung meluncur menuju Cafe.


"Hay, lama tidak berjumpa kalian," sapa Martin


"Ada kesulitan apa lagi, Pak?" jawab Saga tanpa basa-basi.


"Ah, anak satu ini tidak pernah bisa diajak becanda," balas Martin.


"Selama ini kami selalu menolong gratis, tapi kali ini tidak. Detektif yang kerjanya lamban saja dapat bayaran besar. Jadi kami juga harus dapat dong," sela Yudistira.


Martin mengembuskan napasnya, tapi karena keadaan mendesak mau tak mau harus memenuhi syaratnya.


Roji ternyata sangat ketat, polisi suruhanku sudah terlacak dan di larang untuk masuk ke sana. Semenjak itu markas mereka di pindahkan lagi," ujar Martin kesal.


"Tenang, serahkan semua pada kami," jawab Sagara percaya diri.


"Yah, Bapak percaya kalian bisa, tapi kenapa kalian tumben minta dijemput?" ucap Martin balik bertanya.


"Semua barang kami di sita, makanya kami tidak bisa berkutik," jawab Saga.


"Oh, santai saja. Aku memiliki banyak alat canggih juga kok," sela Deby.


"Bagaimana kalau kamu gabung sekalian?" ajak Arka.


Deby menatap papanya penuh harap.


"Yah, terserah kamu," jawab Martin yang tahu anaknya juga keras kepala jika menginginkan sesuatu.

__ADS_1


"Tapi tolong jaga dia baik-baik ya, bagaimanapun juga Deby anak perempuan," pinta Martin.


"Siap," jawab Arka.


__ADS_2