
Liburan yang dinantikan akhirnya tiba juga, akan tetapi di Asrama masih ada beberapa yang anak yang merasa enggan pulang. Mereka adalah anak yang berasal dari Panti Asuhan sehingga tidak memiliki keluarga.
Sedangkan bagi ketiga generasi Syauqi hal ini dimanfaatkan sebaik mungkin untuk bersantai di rumah.
Arkananta mengisi liburannya dengan ikut Mami dan Papinya ke luar negeri. Sedangkan Yudistira memilih bermain di dalam rumah saja menonton drama detektif kesukaannya, sebab selama sekolah dia tidak ada waktu untuk menonton film.
Sedangkan Sagara juga akan seharian betah di dalam kamarnya untuk membuat suatu penemuan.
Karena anak-anak di rumah, Syadev juga sengaja pulang lebih awal agar bisa makan bersama.
Anggun yang sedang memasak kaget sebab tiba-tiba dari belakang ada yang memeluknya.
"Ma," sapa Syadev mesra.
"Eh, kok tidak bilang kalau mau pulang awal?" sontak Anggun.
"Dari tadi aku telepon nomornya sibuk terus," sungut Syadev.
"Maaf, barusan Flora menelpon aku," jawab Anggun tertawa lirih.
"Masak apa ini? Hemmm aku jadi lapar," gumam Syadev.
"Cepatlah ganti baju, nanti langsung turun dan kita makan bersama," pinta Anggun.
"Baiklah, oh iya bagaimana sikap anak-anak selama di rumah?" tanya Syadev menghentikan langkahnya.
"Mereka sangat penurut, seharian hanya di kamar saja," jawab Anggun.
"Baguslah, lebih baik begitu. Jika mereka sampai keluar rumah dan jadi satu dengan Arkananta pasti akan membuat ulah," balas Syadev lega.
Selesai makan malam, mereka berkumpul ke rumah keluarga untuk mengobrol.
"Pa, tadi Flora minta tolong agar Sagara ke sana," ucap Anggun.
"Wah... Ke Aceh? Aku ikut," sela Yudistira semangat.
"Ada apa, Ma?" tanya Syadev.
"Sagara diminta tolong Dewa untuk melacak sistem yang sering meretas komputer perusahaan. Akhir-akhir ini Dewa mengalami kerugian besar sebab kalah tender. Rupanya penyebabnya ada yang bocor rahasianya," jawab Anggun.
Syadev tahu hal ini sangatlah penting, diapun tidak bisa untuk menolaknya.
"Saga, kamu berangkat ke sana sendiri ya?" saran Syadev.
"Iya, Pa," jawab Saga cuek.
"Loh, kok aku tidak diizinkan ikut, Pa?" rengek Syadev.
"Tidak, jika kalian berdua yang ke sana nanti akan ada sesuatu yang konyol," tolak Syadev yang sudah tahu mengenai watak anak-anak. Intinya malapetaka tidak akan terjadi jika mereka tidak bersama.
__ADS_1
Yudistira paham jika keputusan papanya tidak akan bisa digangu gugat.
"Berangkatnya kapan, Ma?" tanya Saga.
"Besok pagi, sebaiknya sekarang kamu bersiap-siap. Tiket pesawat juga sudah disiapkan oleh tante Flora," balas Anggun.
*********************************
Paginya Saga berangkat ke Aceh saat jam penerbangan awal, dia jika sendirian paling hanya mendengarkan musik dan tahan berdiam sepanjang hari. Sebenarnya Saga tipe orang yang tidak suka bicara jika bukan hal penting, dia lebih tertarik memikirkan soal penemuan-penemuan yang unik.
Di Bandara, dia sudah dijemput oleh keluarga tantenya.
"Wah, kamu semakin tinggi dan tampan," ujar Dewa.
"Iya dong, Om," jawab Saga.
"Ayo langsung pulang dan makan," ajak Dewa.
Sesampainya di rumah omnya, Saga melihat Fayyola tengah menyimak Sarah menghafalkan Al Qur'an. Suara Sarah yang merdu menarik perhatian Sagara.
"Dia Sarah, kakak kelas Fayyola di sekolah. Tapi mereka berdua satu angkatan dalam menghafal Al Qur'an," ujar Flora.
"Aku sudah tahu, Tante. Tapi kenapa dia di sini?" tanya Saga penasaran juga.
"Orang tuanya sedang di Mesir semua, jadi dia ikut pulang Fayyola sekalian bisa belajar bersama dari pada di rumah sendirian," jawab Flora.
Sebelum makan Flora juga memanggil putrinya beserta Sarah untuk di ajak makan bersama.
"Kakak, sudah dari tadi datangnya?" tanya Fayyola.
"Baru saja, dimana kakakmu?" ucap Saga balik bertanya.
"Biasa, kakak sedang main ke rumah temen," jawab Fayyola.
Sarah menjadi canggung dan malu ketika ada Saga, sedangkan Saga sendiri cuek seolah tidak pernah terjadi apa - apa di antara mereka.
"Mari makan," ajak Dewa.
Setelah selesai makan, Sarah dan Fayyola membereskan piring - piring yang kotor, tepat pada saat itu tanpa sengaja Sarah menginjak kaki Saga yang di selonjorkan ke samping meja.
"Oh, maaf," pekik Sarah.
Tidak apa - apa, tidak sakit kok, " jawab Saga datar.
Melihat kejadian itu Flora ingin tertawa, kenapa sikap Saga sangat mirip dengan kakaknya. Cuek dan jutek begitu. Kalau Yudistira masih ada sikap ramah dan humornya. Sedangkan Arkananta kelewatan badungnya seperti Kaysa.
"Saga, sebaiknya kamu istirahat di dalam kamar dulu. Besok pagi baru kita ke kantor," ucap Dewa.
"Kenapa tidak sekarang saja, Om. Lebih cepat lebih baik,"
__ADS_1
"Apa kamu ingin buru-buru pulang?" goda Dewa.
Otak Sagara yang cerdas kini bisa menangkap jika sebenarnya papanya yang sengaja menyuruh dia berlama-lama di sini untuk menggagalkan acara touring motor gede. Karena jika tanpa dia Yudis juga tidak akan pergi.
"Baiklah, om," jawab Saga berlalu pergi.
Tapi Saga belum mengantuk, dia memilih tiduran di sofa sambil menonton televisi yang berada di depan kamar.
Saat dia hendak mengambil remot, tiba - tiba saja ponselnya berbunyi. Ternyata ada panggilan telepon dari Deby.
"Ada apa, Deb?"
"Astaga, kamu jangan terlalu kaku dan serius begitu dong! Aku hanya mau tanya kamu sedang di mana?"
"Aku di aceh, ada apa?"
"Yah, padahal aku mau minta kamu menemaniku ke pelelangan barang antik," keluh Deby.
"Kenapa tidak minta ditemani Arka?" goda Saga.
"Dia sedang di luar negeri kan? Lagian barang yang dilelang itu merupakan elektronik jaman dulu. Aku hanya penasaran dengan komponen apa yang digunakan jika pada saat itu peralatan masih terbatas. Dan yang paham mengenai alat - alat seperti itu ya kami," sergah Deby.
"Wah, menarik juga itu. Sayang aku belum bisa pulang. Acaranya kapan?" tanya Sagara mulai tertarik.
"Nanti malam," jawab Deby lesu.
"Bagaimana kalau malam ini kamu minta ditemani Yudis? Setelah aku pulang kita bisa melakukan penelitian bersama," saran Saga.
"Itu ide yang bagus, tapi Yudis mau apa tidak?" tanya Deby ragu.
"Maulah, kamu bohongi saja mau ajak ke bioskop menonton film detektif yang paling keren sepanjang sejarah gitu,"
"Wih, bener ini,"
Setelah itu sambungan video call terputus.
"Cie... Kak Saga sudah punya pacar ya?" goda Valerio yang tiba-tiba meloncat ke sofa dan duduk di samping Saga.
"Kamu masih kecil, tidak baik berbicara soal pacar," balas Saga.
"Terus tadi siapa kakak cantik yang video call dengan kakak barusan?" goda Valerio iseng.
"Ih... Beneran Kak Saga sudah punya pacar?" sela Fayyola yang baru datang dengan Sarah.
"Bukan, adikku sayang. Dia hanya teman biasa," balas Sagara memaksakan senyum termanisnya.
"Tapi setahuku Kak Saga orang yang cuek, tapi tumbenan mau ngobrol sama perempuan," goda Valerio tidak percaya.
Saga hanya diam saja sebab malas meladeni kedua bocah cilik itu, tapi saat dia melihat Sarah sekilas. Tampak pada gadis itu wajah kegelisahan dan kecemburuan. Namun, Saga tidak mau ambil pusing mengenai hal itu.
__ADS_1