CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 15


__ADS_3

Saat Kaysa sampai di rumah nenek Orlin, Orang tuanya dan keluarga Rendra sedang menunggu di depan pekarangan.


Zhia dan Syauqi langsung menghampiri putri mereka yang masih duduk di dalam mobil.


"Kaysa, ke mana saja kamu? Kita semua sudah menunggumu. Hari ini kita akan jalan-jalan bersama mumpung keluarga Tante Nayla masih di Indonesia," tegur Zhia.


"Maaf, Bunda. Sepertinya aku tidak mau ikut" ucap Kaysa menunduk.


"Kenapa?" timpal Syauqi.


"Aku sedang malas saja, jangan pikirkan aku. Silahkan kalian bernostalgia," jawab Kaysa tersenyum riang.


"Terus kamu di sini dengan siapa?" tanya Syadev yang jadi cemas. Karena biasanya Saudara kembarnya itu selalu antusias jika jalan-jalan bersama.


"Aku..." jawab Alarik dan Darren bersamaan.


"Ayah, aku juga malas jadinya. Ayah dan Bunda pergilah!" ucap Syadev.


"Baikalah kalau begitu, siapa yang mau ikut Ayah dan Bunda?" tanya Syauqi.


"Flora... Flora ikut," jawab Flora bersemangat.


Orlin yang sudah bersiap-siap jadi membatalkan rencananya juga, karena putri tunggal Rendra itu lebih memilih menemani Alarik di rumah.


Setelah orang tua mereka berangkat, Alarik segera turun dari mobil dan menggendong adiknya.


"Apa yang terjadi?" tanya Syadev yang dari tadi sudah curiga.


"Nanti aku ceritakan di dalam," jawab Darren sambil merangkul Syadev.


Kemudian Syadev dan Darren duduk di sofa ruang tamu untuk membahas soal kejadian yang tadi.


Sedangkan Alarik membawa Kaysa di kamarnya Orlin.


"Kamu ini lain kali jangan ceroboh!" kata Alarik yang cemas sekaligus marah.


Kaysa merasa bersalah, kemudian dia pura-pura tidur supaya tidak diomeli kakaknya.


Orlin masuk ke dalam dan membawa air dan obat.


"Alarik, sebaiknya bersihkan lukanya dulu baru di beri obat," kata Orlin lembut.


"Iya, terima kasih," jawab Alarik senang.


"Kaysa gadis yang sangat pemberani!" ucap Orlin.


"Tapi dia terlalu ceroboh, bahkan tidak memikirkan keselamatan diri sendiri," sergah Alarik.


"Apakah Kaysa tertidur?" tanya Orlin.


"Sepertinya Iya. Biarlah, aku akan mengobati lukanya dulu," jawab Alarik sambil membersihkan lutut Kaysa yang lecet dan berdarah.


"Pergelangan kakinya membiru, sepertinya dia juga keseleo tadi. Apakah kamu punya minyak tawon?" tanya Alarik.


"Sepertinya nenek punya. Aku ambil dulu ya," jawab Orlin berlalu pergi.


Kaysa yang awalnya pura-pura tidur menjadi ngantuk beneran, tapi dalam setengah kesadarannya dia masih bisa mendengar perbincangan antara Kakaknya dan Orlin.


Orlin masuk ke kamarnya lagi sambil memberikan minyak tawon. Kemudian minyak itu diserahkan pada Alarik.


Alarik langsung mengolesi minyak itu pada pergelangan kaki kaysa yang membiru.


"Kamu sangat perhatian sekali pada Kaysa, seperti adik kandung sendiri," ucap Orlin.


"Iya, dulu saat aku datang di keluarga Ayah Syauqi, Kaysa masih bayi yang menggemaskan. Tapi sekarang sudah besar dan menjadi anak nakal," jawab Alarik.


Kaysa yang samar-samar mendengar obrolan itu sampai terkejut.


"Seperti adik kandung sendiri? Apa maksudnya? Memangnya aku ini bukan adik kandungnya?" batin Kaysa yang merasa kaget.

__ADS_1


Kaysa masih pura-pura tidur lagi, berharap bisa mendengar sesuatu. Tapi rupanya kedua orang itu justru keluar dari kamar.


Kini hanya tinggal Kaysa seorang diri, dia segera membuka matanya.


"Apa maksud ucapan mereka tadi? Mungkinkah Kak Alarik bukan anak kandung Ayah? Karena selama ini Ayah selalu menyembunyikan tentang kartu keluarga dan surat-surat lainnya. Aku harus segera mencari tahu, tapi aku beritahu Syadev dulu atau tidak ya? Ah tidak usahlah. Dia anak pemalas," batin Kaysa.


Kaysa yang berniat untuk tidur jadi tidak bisa, dia kepikiran obrolan tadi.


Syadev dan Darren masuk ke kamar untuk melihat Kaysa.


"Kamu bangun lagi?" tanya Darren.


"Iya," jawab Kaysa masih kebingungan.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Kali ini aku tidak akan menyalahkanmu," ucap Syadev menyesal.


"Aku tidak apa-apa," jawab Kaysa dengan tatapan kosong.


Alarik dan Orlin ikut masuk ke kamar, karena mendengar suara Kaysa.


"Kenapa tidak jadi tidur?" tanya Alarik cemas.


"Tidak bisa," jawab Kaysa singkat.


"Mau makan apa? Biar Kakak belikan," tanya Alarik.


"Makan masakan Kak Orlin saja," jawab Kaysa.


Alarik dan Syadev menjadi heran karena sikap Kaysa yang patuh dan pendiam, biasanya kalau dia sedang sakit Kaysa selalu mencari kesempatan untuk minta ini itu.


"Biar aku saja yang mengambilkannya," kata Orlin.


Kaysa kemudian mendapatkan ide, dia mengirim pesan pada Kakak sepupunya, yaitu Alifya.


Setelah mendapat balasan Kaysa tertegun Karena tahun di mana kedua orang tuanya menikah Alarik sudah berusia tujuh tahun.


"Pantas saja, Aku tidak pernah diizinkan untuk melihat KK dan surat-surat lainnya. Sekarang aku tahu yang sebenarnya. Kini apa yang harus aku lakukan? Aku sangat takut kehilangan perhatian dari Kak Alarik," batin Kaysa mulai menangis.


Kaysa langsung memeluk Kakaknya dengan erat, dia bisa mendengar detak jantung Alarik yang cepat.


"Gawat..." bisik alarik dalam hati, karena takut ketahuan jika dirinya deg degan.


Alarik segera melepaskan pelukan Kaysa dan memegang kedua pundak adiknya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Alarik cemas.


"Aku takut..." jawab Kaysa yang sudah menangis.


Orlin yang baru masuk sambil membawa nampan juga ikut khawatir.


"Kamu takut kenapa?" tanya Orlin.


"Tidak apa-apa," jawab Kaysa lemah.


Alarik sangat heran, karena biasanya Kaysa tidak pernah takut dengan apapun.


"Jangan takut lagi! Kakak akan selalu menjagamu, sekarang ayo makan! Kak Al suapi ya?" bujuk Alarik sambil menyuapi Kaysa.


Kaysa sangat patuh. Ketika Alarik menyodorkan sendok yang ada nasi dan lauknya Kaysa langsung membuka mulut.


"Kamu kalau patuh seperti ini jadi anak yang manis," goda Alarik.


Orlin hanya tertawa karena itu memang benar.


"Kalau Kak Alarik nanti sudah menikah dengan Kak Orlin, Kak Al tetap akan selalu perhatian padaku seperti ini kan?" tanya Kaysa yang polos.


Orlin tersipu malu dan tersenyum senang. Sedangkan Alarik merasa terkejut dengan pertanyaan Adiknya itu.


"Tidak ada yang bisa merebut kasih sayang kakak padamu, Kaysa," jawab Alarik tersenyum.

__ADS_1


Kaysa yang belum tahu arti cinta tersenyum senang, karena dia akan selalu mendapatkan perhatian kakaknya.


Orlin juga ikut senang karena gadis itu mengira jika Alarik hanya menyayangi Kaysa sebatas Adik saja.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jam setengah enam Orang tua Kaysa baru pulang. Setelah mereka semua Sholat Maghrib berjamaah, keluarga Syauqi segera berpamitan.


Seperti saat mereka berangkat tadi, Syauqi semobil dengan Zhia dan Flora.


Sedangkan Alarik semobil dengan Kaysa. Syadev dan Darren. Kaysa duduk di depan menemani Kakaknya yang sedang menyetir.


"Sebaiknya aku tetap berpura-pura tidak tahu kebenarannya. Karena takut jarak antara aku dan Kak Alarik akan menjadi renggang. Aku tidak peduli meskipun dia hanya kakak angkatku," batin Kaysa yang takut kehilangan kasih sayang Kakaknya itu.


"Kaysa, kenapa kamu jadi pendiam?" tanya Alarik.


Syadev juga merasakan hal yang sama. Namun saudara kembar Kaysa itu merasa gengsi untuk bertanya. Diam-diam Syadev merasa jenuh jika Kaysa hanya tenang dan diam.


Belum sempat Kaysa menjawab, mobil yang ditumpanginya sudah di selip dan di hadang mobil lain.


Kemudian keluar enam orang, wajah pemuda yang berada di barisan terdepan adalah Kakak Sita.


"Bagaimana ini? Apa sebaiknya aku menelpon Om Syauqi?" tanya Darren cemas.


"Tidak perlu! Biar aku dan Kak Al saja sudah cukup, kamu tunggu di sini menjaga Kaysa," kata Dony dengan gaya kerennya.


Syadev memang serba bisa dalam segala hal, hanya saja pria tampan itu tidak pernah menunjukkan pada orang lain. Berbeda dengan Kaysa yang suka pamer.


Kaysa sendiri merasa terharu, karena meskipun biasanya saudaranya itu suka julid tapi di saat genting seperti ini bisa diandalkan.


"Kalian tidak apa-apa melawan sendiri?" tanya Kaysa yang cemas. Karena kakinya meskipun bisa berjalan normal tapi rasa nyerinya belum hilang.


"Tenanglah! Jangan Khawatir," kata Alarik lembut sambil mengusap kepala Kaysa.


Kaysa tertegun. Hatinya mulai berdebar.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku seperti ini. Mungkin aku hanya merasa ketakutan saja," batin Kaysa sambil melihat kedua saudaranya yang turun dari mobil.


Langit yang sudah gelap, di pinggir jalan kedua Kakak Kaysa sedang berkelahi melawan enam orang.


Anehnya mobil yang berseliweran sama sekali tidak menghiraukan jika sedang ada pertempuran, justru orang-orang itu malah menghindari karena takut menjadi sasaran.


Meskipun Kedua Kakak Kaysa jago berkelahi, tapi mereka berdua tetap kewalahan jika satu orang di keroyok tiga orang sekaligus.


Kaysa tidak bisa berdiam diri, dia segera turun lalu di susul dengan Darren.


Kaysa memaksakan diri untuk melawan satu orang, setidaknya bisa mengalihkan dan Kakaknya bisa dengan mudah mengalahkan dua orang.


Darren juga membantu Syadev, kini saudara kembar Kaysa itu lebih mudah mengalahkan dua orang lainnya.


Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi. Alarik langsung menyuruh semua kembali ke mobil. Pemuda itu langsung menggendong Kaysa karena tahu jika adik perempuannya itu tidak bisa berlari.


Saat itu, Kaysa merasakan jantungnya berdetak kencang. Dia juga bisa mendengar detak jantung Kakaknya saat kepalanya menempel pada dada Alarik.


"Cepatlah! Jangan sampai kita tertangkap polisi. Karena bisa mencemarkan nama baik Ayah," teriak Alarik.


Setelah semua masuk, Alarik langsung melajukan mobilnya dengan cepat.


Musuh mereka masih kesulitan bangun, mereka semua di tangkap polisi.


"Rasakan itu!" umpat Syadev.


"Maafkan aku, gara-gara kecerobohanku kalian semua jadi ikut terlibat," ucap Kaysa menyesal.


"Wah! Baru kali ini kamu menyadarinya. Tapi karena kejadian barusan bisa menghilangkan kejenuhanku, aku akan memaafkanmu," celetuk Syadev sambil tertawa.


Alarik sama sekali tidak fokus mendengarkan ucapan mereka, pemuda itu hanya khawatir dengan kaki Kaysa.


Dengan kecepatan tinggi Alarik bahkan menyusul dan melewati mobil Ayahnya. Pikirannya hanya ingin segera sampai rumah dan melihat kaki adiknya tersebut.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote yaπŸ™ Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi AuthorπŸ€—


__ADS_2