CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Suamiku berdarah biru


__ADS_3

Setelah selesai sholat subuh berjama'ah Syauqi mengambil pengering rambut, pemuda tampan itu menarik lembut tangan Zhia kepangkuannya.


"Sebelum kita jalan-jalan pagi sebaiknya keringkan dulu rambutmu!" ucap Syauqi lembut.


Zhia merasa tersanjung dengan perhatian suaminya, dia menurut saja ketika Suaminya mengibas ngibaskan rambutnya perlahan.


Lima menit kemudian sudah selesai, tapi Syauqi memastikan lagi tidak ada rambut yang masih basah.


"Sekarang pakai jilbabmu dan ayo kita keluar," ajak Syauqi mesra.


Kali ini mereka memutuskan jalan-jalan ke Danau buatan untuk mengganti suasana.


"Mas Syauqi, aku pengen naik perahu," pinta Zhia lembut.


"Iya, sayang. Ayo kamu naik duluan!"


Dengan sabar Syauqi membantu istrinya naik keperahu kemudian dia menyusulnya.


Udara masih terasa dingin, Syauqi memeluk istrinya supaya hangat.


"Semoga cinta kita abadi selamanya,"bisik Syauqi.


"Semua orang harapannya juga seperti itu, tapi jika mengingat masa lalu aku masih ada sedikit rasa benci... sedikit Lo ya" kata Zhia tertawa lirih.


"Masalah kuperkosa itu ?" tanya Syauqi penasaran.


Zhia jadi merasa malu sendiri, dulu bilang benci sekarang justru menikmati kehangatan pelukan dari Suaminya.


"Zhia, apakah kamu menyesal menikah denganku?" tanya Syauqi kemudian.


Zhia diam tak tahu mau menjawab apa.


"Dulu mengenal Mas Syauqi saja aku sudah menyesal karena dia telah memisahkan aku dan Mas lyas secara paksa.


Tapi setelah menjadi istrinya aku merasa bahagia, karena Mas Syauqi memperlakukan aku dengan baik," batin Zhia.


"Sudahlah jangan bahas lagi! Yang terpenting sekarang kita fokus masa depan kita dan anak kita," sela Syauqi yang tak ingin meretakkan hubungan mereka lagi.


"Zhia, aku suka sekali dengan baju tidurmu semalam. Aku nggak menyangka istriku yang pemalu ini pintar menggoda," cada Syauqi.


Seketika wajah Zhia memanas karena malu.


"Itu hadiah dari Nindy, paling dia sengaja mengerjaiku," jawab Zhia santai.


"Berarti kali ini aku harus berterimakasih padanya," balas Syauqi sambil mencium leher Zhia dari belakang membuat Zhia teriak geli.


"Jangan mendesah seperti itu, membuat birahiku naik,"ucap Syauqi menggoda.


"Siapa yang mendesah, barusan kaget,"jawab Zhia tak terima.


"Zhia, jawab jujur ya, bagaimana rasanya malam tadi?" goda Syauqi lagi.


Zhia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Tak kusangka di balik sifat pemalunya istriku sangat hebat di ranjang. Bagaimana ini aku jadi ketagihan?" bisik Syauqi di telinga Zhia.


"Stop! Jangan katakan lagi," sela Zhia sudah tak tahan kupingnya.


"Baik, aku akan diam,"jawab Syauqi mesra.


Kemudian Syauqi berdiri dan duduk di depan Zhia.


Syauqi melepaskan jilbab istrinya, membuat rambutnya berkibar terkena hembusan angin.

__ADS_1


Kecantikan istrinya memang sulit ditandingi.


Mungkin masih ada yang lebih cantik luarnya tapi pancaran wajah Zhia dan pesonanya menunjukkan kesucian hatinya.


Begitu pula dengan Zhia, dia mengagumi ketampanan Suaminya. Apalagi setelah tahu sifat Syauqi yang sebenarnya membuat Zhia semakin ingin mengenalnya lebih dalam.


"Mas, kenapa kau lepas jilbabku?" protes Zhia kalem.


"Diam dan tutup matamu," perintah Syauqi mesra.


Bisikan suara Syauqi saja sudah membuat Zhia merinding.


Syauqi menarik kepala Zhia dan mencium bibirnya, kemudian Syauqi memainkan lidahnya di rongga mulut Zhia. Tangan Syauqi juga memasuki paha mulusnya.


Setelah puas dengan bibir, Syauqi mencium leher Zhia, terus ke bawah dan memberi tanda merah di sana.


Pikiran kotor Syauqi sudah merasuki kepalanya.


"Zhia, Aku tidak tahan. Ayo segera pulang," ucap Syauqi.


"Mas Syauqi! Masa mau lagi? Semalam kita sampai kurang tidur Lo," kata Zhia heran.


"Ya setelah itu kita tidur lagi," jawab Syauqi santai.


"Baiklah, ayo kita bercinta di ranjang yang empuk," ajak Syauqi bersemangat.


Dulu Zhia merasa risih saat Syauqi mengucapkan perkataan yang nyeleneh, tetapi sekarang Zhia justru merasa sesuatu yang beda.


Setelah berjalan pulang, siapa sangka keluarga Zhia dan keluarga Syauqi baru saja datang dan masih di luar Vila, seketika Syauqi merengut.


"Mas, kamu tak bahagia keluarga kita ke sini?" tanya Zhia pura-pura tak tahu.


"Bukan begitu, tapi saatnya tidak tepat. Punyaku sudah sangat menegang keras minta segera dimanjakan," bisik Syauqi di telinga Zhia.


Sontak Zhia tertawa, membuat Syauqi merasa jengkel.


Sedangkan Zhia menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan Syauqi.


Zhia memberi salam pada keluarga dan saudaranya.


Ada Ibunya, Mas Rian, Mbak Tia, Alifya, Kak Elly, Mas Fauzi beserta Mama Syauqi.


Ibu Zhia merasa lega karena anaknya hidup bahagia, wanita yang mulai menua itu juga bisa merasakan jika Syauqi memperlakukan putrinya dengan baik.


"Aku punya kabar bahagia," teriak Elly riang, membuat semua orang memperhatikannya.


"Alhamdulillah aku hamil," lanjut Elly sangat bahagia.


Semua orang mengucapkan selamat dan ikut bahagia.


Untuk merayakan kebahagiaan mereka Syauqi menyarankan bakar ikan di tepi Danau.


Semua semangat menyetujuinya.


Syauqi, Fauzi dan Rian tugas memancing.


Sedangkan yang perempuan sibuk menyiapkan bumbu.


Mama Elly terharu mengenang beberapa tahun yang lalu saat kedua anaknya masih kecil.


Dia tak menyangka kini mereka sudah tumbuh dewasa dan memiliki keluarga masing-masing.


"Kenapa Mama sedih? Mas Syauqi masih cuek ya?" tanya Zhia penasaran.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mungkin masih butuh waktu supaya hubungan kami bisa seperti dulu. Mama diterima di sini saja sudah bersyukur karena Mama menyadari kesalahan Mama," ucap Mama Syauqi sambil tersenyum.


"Kenapa Mama tidak mencoba mendekati Mas Syauqi saja sekarang? Mumpung dia lagi mancing sendirian nanti kalian bisa ngobrol," bujuk Zhia.


"Iya, Mama coba ke sana. Namun sebelum itu Mama mau ngasih ini," kata Mama Syauqi sambil melepaskan sebuah gelang yang sangat indah, dengan ukiran yang diselipi berlian berkilau.


"Jangan, Ma. Sepertinya ini sangat mahal sekali," tolak Zhia halus, dia tak enak mendapatkan hadiah yang terlihat mahal sekali.


"Anggap saja ini sebagai hadiah pernikahanmu sama Syauqi ya. Gelang ini kamu jaga baik-baik. Mama dulu dikasih sama mertua Mama saat masih jadi pengantin baru sama Papanya Syauqi, yang membuat mahal harganya bukan karena emas berlian tetapi karena gelang ini sudah turun temurun dari nenek moyang Syauqi, bisa dibilang Syauqi juga keturunan darah biru," tutur Mama Syauqi lembut.


Zhia semakin kaget mendengar penuturan Mertuanya barusan.


"Iya, Ma. Insyaalloh saya jaga baik-baik gelang ini."


"Ya sudah Mama samperin Syauqi dulu ya," pamit Mamanya Syauqi bersemangat.


Zhia hanya melihat mertuanya mendekati suaminya yang memancing berjauhan di ujung sendirian.


Zhia bisa tahu dari ekspresi Syauqi yang dingin dan cuek.


Zhia merasa kasihan pada Mertuanya yang sudah mencoba menjelaskan.


"Mas Syauqi kebangetan deh, sama Mamanya sendiri angkuh seperti itu. Sepertinya aku harus ke sana," batin Zhia.


Sesampai di sana Zhia langsung merangkul mesra suaminya dari belakang.


"Mas Syauqi sudah dapat berapa ikannya?" sapa Zhia dengan senyuman mautnya, membuat Syauqi tersihir.


"Dapat banyak, suamimu kan jagoan,"jawab Syauqi bangga.


"Mas, aku dikasih hadiah Mama gelang lo. Aku senang sekali, katanya ini dari nenek Moyang Mas Syauqi yang masih berdarah biru. Cepat Mas ucapkan terimakasih pada Mama juga!" rayu Zhia membuat Syauqi tak berdaya.


"Terimakasih ya, Ma,"kata Syauqi seperti terpaksa.


"Iya, Puteraku sayang,"jawab Mama Syauqi senang karena anaknya mau bicara padanya.


"Mas Syauqi, kita berdua sama-sama hanya punya seorang ibu saja. Jadi kita harus berusaha membuat mereka bahagia. Karena suatu saat kita juga akan menjadi orang tua,saat itulah kita baru bisa menyadari seberapa besar pengorbanan dan kasih sayang orang tua pada anak," ucap Zhia lembut meluluhkan hati Syauqi yang hanya termenung diam.


Zhia tahu jika Syauqi mulai terbuka hatinya,dan dia juga sangat tahu dengan sikap suaminya yang gengsian dalam hal meminta maaf.


"Mama, berapa lama di sini?"tanya Zhia beralih ke mertuanya.


"Nanti Sore Mama pulang ke Jerman, karena anak Mama sedang sakit," jawab Mertua Zhia ragu ragu takut Syauqi marah.


Namun tak terduga Syauqi tersenyum dengan tulus.


"Nanti sore biar aku yang antar kebandara. Mama nggak perlu menghawatirkanku lagi karena aku sekarang sudah dewasa dan ada istriku yang mengurusku," jawab Syauqi.


Mama Syauqi langsung menangis terharu dan memeluk anaknya.


"Mas Syauqi Kapan-kapan ajak aku ke Jerman ya?" pinta Zhia semangat.


"Iya,"balas Syauqi tersenyum.


"Terimakasih istriku, karena menyadarkanku arti kebahagiaan," batin Syauqi.


Zhia bersyukur Suaminya bisa dengan tulus memaafkan Mamanya.


"Syauqi bawa kesini ikannya, semua sudah siap ini," teriak Elly dari kejauhan.


Mereka bertiga segera menuju tempat pembakaran.


Tia diam-diam juga bahagia bisa melihat adiknya sudah mulai mencintai suaminya.

__ADS_1


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dan kalian sangat berarti bagi Author.


Semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗


__ADS_2