CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Flora And Daichi - BAB 3


__ADS_3

Flora sangat memahami jika kakak lelakinya sangat sibuk. Jadi sejak awal Flora sudah menyiapkan barang - barangnya agar nanti bisa ikut sekalian bersama kakak perempuannya.


Dan setelah satu hari menginap di Villa, sorenya anak - anak Syauqi berpamitan pulang.


"Flora, jaga diri baik - baik ya?" ucap Syauqi setengah gelisah.


"Iya, Ayah," jawab Flora tersenyum manis.


"Tenang, Ayah. Di sana pasti Kak Al dan Kaysa akan menjaganya," sela Syadev meyakinkan Ayahnya.


"Iya, Ayah. Kami akan selalu menjaga adik tercinta ini," timpal Kaysa merangkul adiknya.


Sekarang Kaysa dan Flora jika berdiri tinggi tubuh mereka sama. Hanya saja wajah Kaysa bulat seperti Bundanya sedangakan Flora agak tirus seperti Ayahnya.


Cukup lama mereka saling berpamitan, apalagi saya Syauqi dan Zhia melepaskan gendongan pada cucu - cucu mereka. Rasanya berat sekali.


Apalagi bagi Flora, empat tahun tinggal bersama kakak lelakinya dan terbiasa bermain bersama si kembar rasanya tak sanggup berpisah.


"Yudistira dan Sagara jangan bandel ya?" ucap Flora.


"Iya, Tante," jawab mereka secara bersamaan.


"Pintarnya," balas Flora merasa gemas.


Kemudian mereka naik ke mobil, Syauqi dan Zhia melambaikan tangan pada cucu - cucu mereka yang masih nongol lewat jendela mobil.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Demi kembali menjadi Dewa, Daichi mewarnai rambutnya menjadi hitam lagi. Dia memilih tinggal di apartemen dekat Universitas sebab dia malas jika setiap pagi harus melakukan perjalanan jauh.


Sebelum itu dia sudah mencari informasi terlebih dahulu mengenai kehidupan Flora yang sekarang. Ada segelintir perasaan bangga saat tahu jika gadis itu tidak pernah pacaran.


Dewa menjadi sangat penasaran, apakah Flora pernah jatuh cinta?


Suatu hari Dewa berniat membeli barang kebutuhan pribadinya, tanpa di sangka jika dia melihat Kaysa, tak jauh dari Kaysa rupanya ada gadis yang sudah tumbuh dewasa dan semakin menarik. Dewa yakin jika gadis itu adalah Flora. Sebab Dewa sering melihat lewat foto, hanya saja dia baru tahu jika aslinya itu jauh lebih cantik.


Saat itu Flora sedang sibuk memilih mie instan, sedangkan Kaysa memilih perlengkapan mandi. Mereka berdua tidak sadar jika Anak kecil berumur sekitar empat tahun itu bepergian seorang diri.


Dewa lalu mencari kesempatan untuk mendekati anak kecil itu.


"Hai, nama kamu siapa?" tanya Dewa.


"Maaf, Om. Aku tidak diizinkan berbicara dengan orang asing sama Tante," jawab anak itu polos.

__ADS_1


"Tante kamu cantik?" tanya Dewa.


"Tentu saja cantik," jawab anak lelaki itu cuek.


Dewa tertawa, sebab dibilang tidak boleh berbicara pada orang asing tapi masih mau menjawab pertanyaannya.


"Kamu pasti jago dibidang olah raga ya? Bagaimana kalau nanti Om ajari skill yang lebih hebat lagi. Om juga juara olimpiade lo," bujuk Dewa dengan gaya seimut mungkin.


"Dari mana om tahu?" tanya Arkananta heran.


"Jelas tahu dong, orang yang suka olah raga sama tidak itu bisa dilihat dari bentuk badan. Nah… lengan kamu terlihat kuat seperti punya Om," bujuk Dewa.


Siapa di sangka, anak kecil itu mudah dibujuk rayu juga.


"Nama Om siapa?" tanya putra tunggal Kaysa.


"Namaku, Dewa. Panggil saja Om Dewa. kalau nama kamu Arkananta kan?" Ucap Dewa balik bertanya.


"Loh, kok om bisa tahu?" tanya Arkananta semakin heran.


"Iya, Dong. Nih dari kalung namanya," jawab Dewa tertawa. Dia merasa senang juga mengirim dengan keponakan Flora yang comel.


Cucu - cucu Syauqi Malik semuanya memang di beri kalung putih yang ada nama masing - masing. Di baliknya juga di ukir nomor telepone. Syauqi sangat takut jika nanti cucu - cucunya itu tersesat. Sebab yang namanya anak kecil terkadang saat di ajak bepergian selalu usil, orang tua lengah sedikit bisa berbahaya.


Flora yang merasa kehilangan Keponakannya langsung bergegas mencari, tapi ternyata Arkananta sedang mengobrol dengan orang dewasa.


Dalam pandangan dekat pada arah Flora, seketika Daichi menjadi gemetar. Tubuhnya kaku tak mampu digerakkan, bahkan lidahnya kelu tak bisa mengucapkan sepatah kata.


Tubuh tinggi semampai Flora yang dalam balutan busana muslim kekinian, jilbab yang menutupi dada serta wajah cantik di make up natural tampak begitu menawan. Bahkan sebelum Daichi berjuang dia sudah merasa kalah oleh dirinya sendiri.


Demikian juga dengan Flora, dia mengamati pemuda yang terasa tidak asing itu. Walaupun Daichi juga semakin tampan dan tinggi tapi Flora tidak melupakan wajah orang yang pernah beberapa kali menolongnya itu.


"Kak Dewa, kamu Kak Dewa kan?" tanya Flora ragu - ragu.


Daichi masih belum bisa berkutik, akhirnya dia hanya mengangguk saja.


"Om, Tante aku cantik kan?" tanya Arkananta bangga, jika seperti itu mirip gaya Kakeknya yang suka membanggakan diri.


"Iya, cantik sekali," puji Daichi yang akhirnya bisa membuka mulutnya.


"Kak Dewa apa kabar? Lama tidak berjumpa," tanya Flora ramah.


Pemuda itu terkesima, sebab Flora tidak sepenakut dulu lagi. Tiba - tiba saja Dewa tertawa mengingat masa lalu, dimana Flora sampai ketakutan karena ulah anak buahnya yang pura - pura menjadi hantu.

__ADS_1


"Baik, aku sangat baik. Bagaimana denganmu?" tanya Dewa dengan sorot penuh kasih.


"Alhamdulillah baik," jawab Flora.


Kemudian Kaysa datang sambil membawa keranjang dorong yang sudah penuh oleh belanjaan.


"Hey… Hey… Siapa ini? Pacar Flora ya?" tanya Kaysa asal - asalan.


"Kakak ini suka sembarangan deh, dia itu Kak Dewa. Masih ingat kan? Yang dulu di cari - cari kakak?" ujar Flora setengah malu.


Dewa langsung memberi hormat pada Kaysa seperti seorang adik pada kakaknya.


"Ya ampun… Adik ipar! Kenapa baru nongol setelah sekian lama? Di mana saja kamu?" pekik Kaysa heboh.


Flora menundukkan wajahnya karena semakin dipermalukan oleh kakaknya sendiri.


Dewa tertawa, dengan tingkah Kaysa yang masih konyol.


"Maaf ya Kak Dewa. kak Kaysa memang suka bercanda," timpal Flora.


"Tidak apa - apa, aku justru senang ternyata Kak Kaysa masih mengingatku. Maaf ya kak, dulu itu aku sekolah di luar negeri. Ponselku hilang jadi aku tidak bisa mengabari kakak lagi," jawab Dewa.


"Kalau begitu ayo mampir ke rumah. Kita ngobrol - ngobrol. Oh iya, aku perkenalkan dengan pangeran kecilku, dia namanya Arkananta Malik," ucap Kaysa riang.


Entah kenapa saat mendengar nama Malik seketika Dewa menjadi marah, tapi dia tetap mencoba untuk menahan diri.


"Lain kali saja, Kak Kaysa. Hari ini aku sedang banyak urusan mengurus pindahan," ucap Dewa sengaja memancing.


"Pindahan? Kamu mau pindah ke kota ini atau gimana?" tanya Kaysa belum paham.


"Aku kerja di sini, jadi aku juga akan tinggal di sini," jawab Dewa.


"Oalah, kalau begitu sampai berjumpa lagi. Aku mau maju ke kasir mumpung sudah tidak ada antrian," kata Kaysa riang.


"Iya, Kak," jawab Dewa.


"Flora, punyamu biar kakak sekalian yang bawa ke kasir. Kamu jaga Arkananta dulu ya? Oh iya, sekalian kamu minta nomor ponsel Dewa. Kakak yang mau ntraktir dia masih berlaku," kata Kaysa merebut ranjang yang dibawa adiknya.


Dalam keadaan seperti ini justru Dewa sendiri yang dibuat salah tingkah, sedangkan Flora bersikap biasa saja karena memang masih polos dan menganggap Dewa sudah seperti kakaknya sendiri.


"Perasaan apa ini?" batin Dewa yang gelisah dan marah pada diri sendiri.


**Terima kasih karena sudah membaca karya saya, jangan lupa Like dan Vote ya🤗

__ADS_1


Akhirnya... Flora dan Daichi dipertemukan juga. Tapi sayang ya? Si Flora masih tetap polos, tapi itulah yang membuat Dewa jadi gregetan. apalagi dia diam - diam jatuh cinta beneran sama si Flora.


Oh iya, yang belum baca Rantai Pernikahan Berkarat. Ayo baca, sekarang sedang dalam konflik yang menguras air mata. Tidak pakai aplikasi juga bisa, lewat google. Ketik saja dipencarian Rantai Pernikahan Berkarat Lina Lutfiana.


__ADS_2