
Zhia merasa sakit kepala ketika mau membuka mata. Namun bau wangi parfum bercampur ayam goreng menggelitik hidungnya sampai dia bersin-bersin.
"Sayang, bangunlah! Sekarang sudah jam delapan lebih. Sarapan dulu kemudian siap-siap sebentar lagi dokter kandungan datang!" kata Syauqi lembut, dia membawa nampan dan meletakkannya di atas meja.
Zhia bangun dan menuju kamar mandi, setelah itu dia duduk disofa bersandar pada bahu suaminya.
"Mas Syauqi, mau kemana sudah rapi sekali?" tanya Zhia sedikit lemas.
"Mau ke kantor, Dony tadi pagi izin cuti buat persiapan pernikahan," jawab Syauqi lembut, pemuda itu mengecup rambut Zhia yang masih berantakan namun terkesan sexi.
"Pernikahan? Dengan Nindy?" pekik Zhia seakan tak percaya, karena semalam Nindy curhat galau dan pagi ini mendapat kabar pernikahan mereka.
"Iya sayang, seminggu lagi. Makanya aku harus datang ke kantor. Mungkin pulangnya malam," tutur Syauqi, dia semakin dewasa dan bijaksana setelah mempunyai istri.
"Kalau begitu kenapa tidak berangkat pagi-pagi? supaya cepat selesai dan cepat pulang?" kata Zhia keceplosan.
kemudian Zhia memalingkan wajah karena malu.
"Kenapa aku nyuruh cepat pulang? Malu banget nanti dikira aku sudah ketergantungan sama Mas Syauqi."
Syauqi ingin tertawa, tapi ditahan takut Istrinya kesal.
"Khusus hari ini saja berangkat siangnya, mau nungguin Dokter kandungan dulu," kata Syauqi.
"Sebenarnya yang mau dicek aku apa Mas Syauqi?" tanya Zhia polos.
Kali ini Syauqi tak bisa menahan tawanya.
"Aku sengaja berangkat siang mau melihat secara langsung bagaimana perkembangan anak kita," jawab Syauqi manis, membuat wajahnya semakin tampan.
Zhia mengakui jika dia semakin mencintai suaminya yang sangat perhatian, dia belum pernah merasakan perasaan ketergantungan yang seperti ini.
Mendengar Suaminya mulai bekerja lagi ada perasaan takut, cemas, gelisah. Dan perasaan lain yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Syauqi seolah tahu apa yang dirasakan istrinya, Syauqi memeluk Zhia dan mengecup keningnya lagi. Kedua tangannya memegang wajah Zhia.
"Sayang dengarkan dan ingatlah! Dihatiku hanya ada kamu. Jangan pernah berfikir aku akan berpaling pada lain," bisik Syauqi mesra.
"Tapi di sana pasti akan bertemu dengan wanita yang lebih cantik dan lebih segalanya, sedangkan aku hanya wanita biasa" rengek Zhia apa adanya.
Syauqi tersenyum melihat wajah Zhia yang cemburu tanpa alasan.
"Melihat istriku cemburu seperti ini kenapa aku selalu merasa senang?"
"Siapa bilang istriku ini wanita biasa? Hanya wanita yang hebat dan luar biasalah yang bisa menggerakkan hati seorang Syauqi Malik," bujuk Syauqi.
Zhia hanya tersenyum malu-malu. Dia memeluk suaminya erat, menghirup aroma tubuhnya yang setiap hari sebagai tempat bersandar.
__ADS_1
"Sini aku suapin dulu," kata Syauqi sambil menyuapi Istrinya.
"Mas Syauqi sudah makan belum?" tanya Zhia cemas.
"Sudah dari tadi," jawab Syauqi tenang.
Setelah makanannya habis Zhia disuruh Suaminya minum susu satu gelas besar.
Zhia menurut saja karena itu baik untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
Zhia segera mandi dan berganti pakaian, tanpa make up Zhia sudah nampak sangat cantik.Syauqi merasa bangga memiliki istri secantik dan selembut Zhia.
"Sayang ayo turun! Dokternya sudah datang," Kata Syauqi.
Zhia dan Syauqi turun kebawah. Di sana ada Dokter wanita yang sudah menunggu.
Tak butuh waktu lama untuk dicek, Bu Dokter itu memberikan beberapa obat penambah darah dan Vitamin.
"Alhamdulillah semuanya Normal sehat dan janinnya berusia 2 bulan. Dijaga pola makanannya ya, Nyonya Zhia. Jangan begadang dan terlalu kelelahan," kata Bu dokter sebelum pamit pergi.
Zhia dan Syauqi mengantar Bu Dokter sampai depan rumah, sekalian Syauqi juga berangkat ke kantor.
Melihat Zhia, Syauqi seperti berat mau melangkah, dipeluknya istri tercintanya dan dicium keningnya.
"Baik-baik di rumah ya? Jangan pergi ke mana-mana," bisik Syauqi mesra.
"Iya, nggak papa. Maksudku pergi keluar dari area bukit ini," jawab Syauqi khawatir.
"Iya, Mas Syauqi. Kamu juga hati-hati ya?" balas Zhia tersenyum manis.
Syauqi masuk ke mobil, sebelum menghidupkan mobilnya dia mengucap salam dan cium jarak jauh pada Zhia membuat Zhia merinding karena suaminya yang terlalu mempesona.
Sampai beberapa menit Zhia masih berdiri menatap kepergian mobil suaminya.
"Kenapa aku merasa tak rela ketika Mas Syauqi pergi? Padahal aku tahu jika nanti malam juga kembali.
Mas Syauqi sejak kapan aku menjadi sangat mencintaimu dan tak ingin jauh darimu?" batin Zhia.
Syauqi dari spion kaca mobil juga bisa melihat Zhia yang masih berdiri mematung.
"Ahh... bagaimana aku bisa konsentrasi kerja kalau baru beberapa menit pisah dari istriku aku sudah rindu seperti ini. Besok aku ajak Zhia saja ke kantor. Untuk satu hari ini aku akan menguji istriku," batin Syauqi sambil tersenyum sendiri.
Sampai sore hari Syauqi masih belum memberi kabar. Zhia sudah mengirim pesan tapi tidak dapat balasan. Mau menelpon takut mengganggu.
"Tante, kenapa dari tadi melamun terus?" tanya Orlin.
"Tidak papa, Tante hanya sedang menikmati pemandangan di atas Danau. Lihatlah bayangan yang memantul dari langit membuat Danaunya terlihat berwarna orange," jawab Zhia memandang ke langit yang mulai redup.
__ADS_1
"Tante kita pulang yuk? Takut nenek khawatir," ajak Orlin yang masih duduk di kursi roda.
Zhia mendorong kursi rodanya Orlin.
Sampai di depan Rumah Zhia, ternyata Nenek Orlin sudah menunggu di sana. Laela sedang asyik mengobrol dengan Bik Mus dan Bik Tri.
Sampai malam juga Syauqi masih belum menghubungi. Zhia menjadi marah, kesal dan sangat rindu.
"Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini.
Dulu saat Mas Iyas tak mengabari aku sampai tiga hari aku masih bisa tenang.
Tapi kenapa sekarang Mas Syauqi membuat aku gelisah dan marah hanya karena tak membalas pesanku?" bisik Zhia pada dirinya sendiri.
********************************
Jam sepuluh malam Syauqi baru pulang, pemuda itu melihat istrinya yang masih menonton televisi dan berbaring di sofa.
"Assalamu'alaikum? Kenapa belum tidur sayang?" kata Syauqi tersenyum penuh kemenangan melihat wajah cemberut Zhia.
Zhia tahu kelicikan suaminya, dia tak ingin terlihat lemah karena terlalu merindukan suaminya.
"Mas Syauqi, aku tak bisa tidur. Pengen banget makan singkong keju goreng tapi tadi Mas Syauqi melarang aku turun dari bukit ini," rengek Zhia lembut.
"Singkong keju? Belinya di mana?" tanya Syauqi merasa bersalah.
"Penjualnya di gubuk kecil sebelum masuk ke pasar kaget," jawab Zhia.
"Tunggu sebentar ya, Istriku sayang?" kata Syauqi berlalu pergi dengan terburu-buru. Karena dia pernah mendengar ibu hamil yang tidak keturunan ngidamnya nanti setelah lahir anaknya akan ngileran dan Syauqi tidak mau itu terjadi.
Zhia terkejut melihat suaminya yang langsung keluar dari kamar,mpadahal dia terlihat capek.
"Tak papalah, anggap saja sebagai hukuman karena tadi sengaja mengabaikan aku, paling sepuluh menit lagi sudah pulang.
Sepuluh menit...
Dua puluh menit...
Tiga puluh menit...
Syauqi belum pulang, Zhia terus menelpon akan tetapi tidak ada jawaban.
Zhia ingat sudah berjanji tidak akan menangis. Namun air matanya tak bisa dibendung lagi, dia keluar sampai di depan rumah menunggu Syauqi sendirian karena ke dua pembantunya sudah tidur semua.
Terimakasih sudah membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗
__ADS_1