
Sepulang kuliah Kaysa langsung membongkar isi lemari. Dia di bantu dua pelayan mengambil koleksi tas dan sepatu bermerk yang tidak tidak dipakai lagi.
"Tolong lap lagi kemudian masukkan ke dalam tas masing-masing ya!" perintah Kaysa.
Kaysa untuk menjual semua barang ini tidak perlu khawatir, sebabnya dia punya kenalan yang suka jual beli barang-barang seperti itu.
Tiba-tiba ponsel dia berdering, begitu melihat nama suaminya yang tertera di layar dia segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, suamiku," jawab Kaysa.
"Lagi apa istriku, sayang?" tanya Alarik, tampak jelas wajah tampannya dari layar ponsel Kaysa.
"Membereskan barang-barang yang mau aku jual," jawab Kaysa tersenyum manis.
"Apa kamu sudah yakin? Apa tidak menyesal nantinya?" goda Alarik.
"Tidak, lagi pula sudah tidak terpakai lagi. Kalau nanti ada acara kan bisa beli lagi yang edisi terbaru," jawab Kaysa tertawa ngikik.
Alarik ikut tertawa, tapi pemuda itu merasa senang juga jika istrinya sudah mulai berubah sedikit demi sedikit.
"Ya sudah, aku lanjut bekerja dulu ya? I Love you," ucap Alarik mesra.
"Love you too, Assalamu'alaikum," jawab Kaysa.
"Wa'alaikumsalam," balas Alarik kemudian sambungan terputus.
Kaysa langsung gantian menelepon sopirnya untuk mengantarkan barang-barang yang sudah disiapkan.
Entah kenapa hari ini Kaysa happy banget, biarpun barang-barang kesayangannya selama ini di jual tapi rasa puas menyelimuti hatinya saat membayangkan wajah ceria anak panti.
Tiba-tiba Kaysa teringat janjinya memasakkan makanan untuk suami tercintanya.
"Kini saatnya aku beraksi, aku tak percaya seorang Kaysa Malik tidak bisa memasak."
Kaysa langsung menuju ke dapur, dan pertema yang dilihat adalah isi kulkas. Kaysa senang karena bahan-bahannya masih banyak.
Dengan semangat tinggi Kaysa melihat resep diinternet. Setelah itu dia mulai menyiapkan bahan-bahannya.
Para pelayan yang melihat Kaysa turun masuk ke dapur langsung berhamburan.
"Nyonya, apa ada yang bisa dibantu?" tanya Salah satu pelayan.
"Tidak perlu, hari ini aku mau masak sendiri. Kalian pergilah dan urus pekerjaan lainnya," jawab Kaysa mantap.
Semua pelayan segera pergi, mereka saling berbisik dan heran karena Nyonya mereka mau memegang pisau dapur.
Dalam waktu tiga puluh menit, dapur yang tadinya bersih kini sudah berantakan seperti terkena badai. Bahkan masakan Kaysa juga gosong.
Seorang Kaysa Malik yang selalu ingin tampil sempurna tidak rela dipermalukan hanya karena tidak bisa memasak.
"Bik… Semuanya ke sini!" teriak Kaysa.
Para pelayan langsung berlari menuju dapur. Karena mereka sangat takut sebab Nyonya mereka mudah marah.
"Ada apa, Nyonya Kaysa?" tanya para pelayan secara serempak.
"Cepat bereskan dapurnya, buang masakanku yang gosong itu. Dan ingat! Jangan bilang sama Tuan Alarik ya," perintah Kaysa.
Para pelayan yang berjumlah tiga itu menganggukkan kepalanya tanda patuh. Mereka memang bertugas khusus melayani Kaysa dan juru masak. Sedangkan yang untuk bersih-bersih rumah sudah ada sendiri.
Hanya sepuluh menit, dapur sudah kembali bersih karena para pelayan mengerjakannya secara kilat. Kaysa sambil menanti sambil melihat resep di internet. Dia semakin penasaran, jika dilihat tampak mudah tapi ketika praktik hasilnya tidak sesuai ekspektasi.
"Kali ini aku harus berhasil," ucap Kaysa mengambil pisau kembali.
Para pelayan karena tidak di suruh pergi hanya berdiri di belakang Kaysa sambil mengamati Nyonya mereka yang memasak.
Tiga puluh menit kemudian masakan sudah jadi.
__ADS_1
"Bik, coba kalian rasakan! Jujur ya? Soalnya buat makan Tuan Alarik," jawab Kaysa.
Para pelayan mulai menyicipi masakan Nyonya mereka.
Beberapa detik kemudian mereka saling memejamkan matanya karena rasanya tidak secantik yang masak.
"Bagaimana?" tanya Kaysa penasaran.
"Terlalu asin."
"Kelebihan minyak, jadi aneh."
"Dagingnya masih mentah."
Ketiga pelayan itu menahan napas takut kena marah karena sudah berkata jujur, Kaysa sendiri fokus pada masakannya sendiri. Karena penasaran dia mencicipi sendiri.
"Yekkk…. Ini namanya racun," teriak Kaysa kesal pada diri sendiri.
"Nyonya Kaysa jangan menyerah! Belajar lagi anti juga lama-lama bisa. Aku yakin Tuan Alarik akan senang sekali," buruk pelayan pribadi Kaysa.
"Nyonya, kalau masak harus tenang. Apinya jangan besar, dan saat memberikan garam sedikit dulu, kalau kurang baru di tambah. Biar dagingnya empuk di rebus dahulu," ucap salah satu pelayan sebagai juru masak di sana.
"Baiklah, aku coba lagi. Kamu berdiri di sampingku dan ajari aku ya? Tapi semuanya biar aku yang mengerjakan sendiri," pinta Kaysa tidak pantang menyerahnya.
Itulah watak Kaysa, apapun yang dinginkan harus bisa di dapatkan.
Kali ini Kaysa berusaha tenang, dia melakukan sesuai ucapan pelayannya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Syadev merasa heran karena Papanya Darren hanya semalam saja menginap di rumahnya. Padahal sebelumnya bilang mau dua hari.
"Kenapa tiba-tiba pulang mendadak, Om?" tanya Syadev penasaran.
"Urusan sudah selesai, Om juga harus segera pulang. Kasihan Mamanya Darren jika sendirian di rumah," jawab Dony.
"Kalau begitu hati-hati ya, Om Dony. Salam untuk Tante Nindya," ucap Syadev tulus.
"Iya, tolong jaga Darren ya?" pinta Dony serius.
Darren yang dari hanya menyimak sudah meneteskan air matanya, pemuda yang satu ini memang terlalu lembut hatinya. Apalagi sebagai anak tunggal Darren juga sangat dimanjakan, karena saat kecil sering sakit-sakitan.
"Sudah, kamu ini lelaki! Jangan seperti anak perempuan," ucap Dony tersenyum untuk menghibur putranya.
"Iya, Pa," jawab Darren patuh.
"Anak pintar, belajarlah yang rajin ya! Tapi juga jangan terlalu memaksakan diri. Apapun yang terjadi Papa dan Mama selalu bangga padamu," balas Dony yang sebenarnya ingin menangis. Namun di tahan untuk menjaga repotasinya.
Darren langsung memeluk papanya tersebut sebelum berpisah, Syadev yang melihat juga terharu. Dalam situasi seperti ini dia tidak mungkin mengatai temannya sebagai pemuda cengeng, sebab dia sendiri matanya sudah memerah jika berpisah dengan keluarga tercinta.
Setelah mengantarkan Dony ke bandara, Syadev langsung meminta temannya tersebut untuk mengantarnya ke kantor.
"Bagaimana dengan Anggun? Mau dijemput kapan?" tanya Darren.
"Nanti saja sepulang aku kerja, biarlah dia memiliki teman di sini. Aku rasa Inge orang yang bisa dipercaya," ucap Syadev.
"Kamu tahu apa tentang dia, aku mendengar kabar katanya Inge sering ketempat-tempat maksiat bersama pacarnya," balas Darren.
"Kamu ini kenapa sensi sekali sama Inge sih? Apa menurut kamu semua perempuan harus seperti Zahra baru bisa dikatakan teman yang baik?" tanya Syadev.
"Tidak juga sih," jawab Darren salah tingkah.
"Lagi pula sebuah pertemanan tidak membedakan antara agama, ras dan budaya. Yang terpenting mereka tulus dan setia, masalah perilaku menyimpang itu mungkin sudah privasinya sendiri, jadi jangan selalu menganggap orang yang tidak sama dengan kita adalah suatu hal yang buruk," sindir Syadev.
Darren nyengir sendiri di ceramahi oleh temannya itu.
Setelah sampai di perusahaan milik Papanya Inge, Syadev langsung masuk ke kantor.
Tiba-tiba ada telepon dari meja kantornya yang meminta Syadev untuk masuk ke ruangan pemilik perusahaan. Namun didalam sana tidak ada Pak Wensky, tapi seorang pemuda yang seusia dengannya.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan Muda Syadev Malik?" Sapa seorang pemuda dengan tutur bahasa yang sopan dan ramah.
"Terima kasih, tapi dari mana Anda bisa tahu identitas saya yang sebenarnya?" tanya Syadev heran.
"Saya Bima, sepupu Inge. Dulu kita pernah bertemu di Jerman," jelas Bima.
Syadev hanya mengangguk sambil tersenyum, padahal dia sendiri tidak ingat. Bukan karena lupa, tapi memang dia dulu selalu cuek pada sekelilingnya.
"Saya tahu Anda pasti sudah melupakan saya," ujar Bima tertawa lirih.
"Maaf, duku saya kurang memperhatikan dengan sekitarnya. Oh iya, di mana Pak Wensky ya? Tadi saya di telepon sekertaris agar masuk ke sini," kata Syadev penasaran.
"Om Wensky sedang mengantar Tante ke rumah sakit untuk cek up, dan sayalah yang ditugaskan untuk menggantikannya," jawab Bima.
"Apa Pak Wensky juga sudah tahu identitas saya?" tanya Syadev penasaran.
"Belum, yang memberitahu saya adalah Inge. Dia memintaku untuk merahasiakan ini juga," jawab Bima tersenyum hangat.
Syadev merasa lega, mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan tentang bisnis baru hasil kerja sama antara perusahaan Wensky dengan Perusahaan Ayahnya Syadev.
Mereka berdua seketika sudah menjadi akrab, karena keduanya memiliki pendapat dan pemikiran yang hampir sama di setiap sudut.
Kini antara mereka sudah tidak Anda dan saya lagi.
"Syadev, malam ini kita ke bar yuk?" Ajak Bima.
"Tidak, nanti istriku marah," tolak Syadev secara halus.
"Wah sudah punya istri, tapi aku dengar kabarnya yang menikah adalah saudara kembarmu," ucap Bima penasaran.
"Aku menikah secara diam-diam, jadi keluarga aku belum tahu," jawab Syadev tertawa lirih.
"Wah, kamu memiliki nyali juga. Tapi enak tiap malam ada yang menemani tidur," goda Bima.
Syadev hanya tersenyum, baginya bukan hanya sekedar enak, tapi Nikmat sekali.
"Makanya cepat menikahlah, sudah punya calon kan?" tanya Syadev.
"Aku enam bulan yang lalu putus dengan pacarku, tapi baru-baru ini aku mengenal gadis Indonesia. Wajahnya cantik alami, perangainya halus bikin hati ini adem. Hanya bertemu dengannya satu kali aku sudah jatuh hati," ujar Bima
"Wah, senang yang lokal rupanya," canda Syadev.
"Iya, dia tidak tinggi juga tidak pendek. Tidak putih tapi juga tidak hitam. Tapi ketika tersenyum terlihat lesung pipinya. Dan tahi lalat di dagu sebelah kirinya membuatnya tampak manis sekali," kata Bima sambil membayangkan wajah perempuan yang dicintainya.
Entah kenapa saat mendengar ucapan atasan barunya itu membuat dia mengingat istrinya. Beberapa hari? Bukankah istrinya juga baru-baru ini berada di Amerika. Tiba-tiba dalam dirinya timbul kecemasan.
"Bagaimana kalau kapan-kapan main ke rumahku, akan aku kenakalan dengan istriku," ajak Syadev.
"Baik, tapi tolong hidangkan masakan Khas Indonesia ya? Besok malam aku akan makan malam di rumah kamu mengajak Inge," ujar Bima tertawa.
"Siap, istriku pandai memasak. Kamu pasti tidak akan kecewa," jawab Syadev.
Setelah itu Syadev berpamitan menuju ruang kerjanya sendiri, karena dia juga masih banyak pekerjaan.
Tiba-tiba hatinya rindu berat dengan istrinya, dia menyempatkan diri untuk memberi pesan pada Anggun.
Syadev
Istriku sayang… Nanti sepulang kerja aku jemput kamu yah! Om Dony tadi sudah kembali ke Indonesia. I Miss u.
Hanya dalam beberapa detik sudah ada balasan dari istrinya.
Anggun
Aku tidak sabar pulang, sudah rindu pelukan suamiku.
Syadev hanya tertawa melihat balasan pesan dari istrinya tersebut, karena Anggun berani mesra hanya lewat pesan saja. Kalau sedang berhadapan secara langsung Anggun tampak pendiam dan malu-malu.
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yaaa🤗🤗🤗
__ADS_1