
Kaysa yang hanya berniat mengantar Anggun saja tidak menyangka justru dirinya juga disuruh cek sekalian, dalam hatinya tersenyum geli sebab dia tidak merasakan apa-apa.
Kaysa tidak mual, tidak pusing, dan nafsu makan juga oke.
Anggun baru saja selesai di cek, usia kandungannya sekitar enam Minggu. janinnya sehat dan berkembang dengan baik. Sedangkan untuk Kaysa hasil tes nya belum keluar.
"Kaysa, semoga kamu juga hamil ya? Alangkah bahagianya jika nanti anak kita tumbuh besar bersama," ucap Anggun penuh harap.
"Amin, tapi aku tidak yakin. Karena aku tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan," jawab Kaysa.
"Terakhir mens kapan kamu?" tanya Anggun.
"Kapan ya? Aku lupa sih, soalnya mens aku juga tidak teratur," jawab Kaysa seadanya.
"Kalau seandainya kamu hamil bagaimana? Apa kamu masih lanjut kuliah?" tanya Anggun.
"Taulah sikap Ayah, pasti juga gak dibolehin," ujar Kaysa.
"Aku tidak bisa melanjutkan kuliah tidak apa-apa. Lebih baik aku fokus mengurus anak dan suami saja," jawab Anggun.
"Kamu nanti tanpa perlu bekerja juga sudah hidup enak, Syadev calon pemimpin perusahaan besar," kata Kaysa.
"Kamupun juga sama, Kak Alarik bisa memberikan segalanya padamu," balas Anggun.
Kaysa dan Anggun tertawa, mereka sama-sama beruntung menikah dengan seseorang yang dicintai dan penuh tanggung jawab.
"Anggun, semenjak hamil apa kamu masih sering melakukan itu?" tanya Kaysa tanpa basa-basi.
Seketika Anggun memerah wajahnya dan hanya senyum-senyum sendiri.
"Hey, diammu ini bisa aku artikan sebagai iya ya?" goda Kaysa.
"Kenapa kamu tanya hal beginian? Aku kan malu," sergah Anggun.
"Biasa saja kenapa? Kita juga sesama perempuan," balas Kaysa ngakak melihat tingkah sahabat sekaligus adik iparnya.
Tak berapa lama dokter datang membawa amplop, dengan segera Kaysa membukanya.
"Hah? Positif?" pekik Kaysa lumayan keras.
"Coba aku lihat!" sela Anggun antusias.
Kaysa menyerahkan secarik kertas pada Anggun, begitu gadis itu melihat langsung ikut bahagia.
"Alhamdulillah, kamu hamil, Kaysa," pekik Anggun.
"Iya, Alhamdulillah. Aku nggak nyangka, seperti mendapat undian besar. Eh, kamu jangan bilang pada siapa-siapa dulu ya? Orang pertama yang ingin aku beritahu adalah suamiku," pinta Kaysa.
"Iya, aku tahu," jawab Anggun yang masih tersenyum riang.
"Terima kasih ya, Dok. Kami pamit pulang dulu," pamit Kaysa.
"Iya sama-sama, mulai sekarang di jaga baik-baik ya?" saran dokter tersebut.
Kaysa langsung mengangguk dan berlalu pergi bersama Anggun.
"Anggun, sebaiknya kita ke kantor Ayah yuk! Aku sudah tidak sabar," ajak Kaysa.
"Ayo, aku juga sudah rindu Syadev," jawab Anggun jujur.
"Yaelahh... baru beberapa jam," goda Kaysa ngakak.
"Memangnya kamu tidak rindu suamimu?" tanya Anggun memastikan.
"Iya juga sih, hanya saja sekarang Kak Al lebih agresif. Masa iya setiap hari mau minta itu terus," jawab Kaysa.
Anggun tertawa, sebab dirinya jika untuk membahas hal seperti itu merasa malu. Sedangkan Kaysa bersikap biasa saja.
__ADS_1
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di perusahaan Alarik sedang mengerjakan tugas di ruang kantor Dony, sedangkan Syadev berada di ruangan Ayahnya.
Syauqi sendiri justru setelah sampai ke kantor pulang lagi menemui istrinya.
"Loh, kok sudah pulang?" tanya Zhia heran.
"Mumpung ada anak-anak, sebaiknya aku refreshing saja. Mari kita jalan-jalan berdua," ajak Syauqi dengan senyuman menggoda.
Zhia tertawa, tidak habis pikir dalam usia yang tidak muda lagi tapi masih punya sifat licik.
"Ayo ganti baju!" ajak Syauqi sambil mendorong kedua bahu istrinya dari belakang menuju kamar.
Zhia seperti biasanya memakai gamis modern berwarna biru muda, dengan jilbab yang senada dan make up natural. Membuat dirinya terlihat anggun.
Sedangkan Syauqi memakai celana pendek warna putih dan kaos biru muda yang sama dengan istrinya. Tak lupa juga sepatu putih dan kaca mata hitam.
Zhia terpesona, penampilan suaminya benar-benar seperti anak muda.
"Hey, kalau bengong kapan berangkatnya?" bisik Syauqi.
Zhia seketika memerah wajahnya, sebab dirinya ketahuan tersihir oleh ketampanan suaminya.
"Aku tahu aku ini memang tampan," kata Syauqi membanggakan diri sendiri.
"Iya... Iya... Suamiku memang tampan," jawab Zhia agar suaminya lega.
"Sepertinya kita ini masih pantas Lo memiliki bayi lagi," goda Syauqi sambil merangkul mesra istrinya.
"Hush, sebentar lagi kita ini akan punya cucu," sergah Zhia.
"Hahahah... Aku yakin gadis-gadis yang melihatku tidak akan percaya jika aku sudah menjadi kakek," ujar Syauqi tertawa senang.
Zhia hanya melirik kesal, sebab kenarsisan suaminya itu semakin tinggi.
Para pelayan yang mendengar majikan mereka yang hendak pergi jalan-jalan merasa sangat iri, sebab selama ini Syauqi dan Zhia tidak pernah berkelahi. Seandainya ada perbedaan selalu diselesaikan dengan musyawarah.
"Silahkan, Tuan Puteri," goda Syauqi.
Zhia hanya tersenyum dan masuk ke dalam mobil yang sangat mewah.
"Kita mau kemana?" tanya Zhia.
"Jalan-jalan ke tempat anak muda pacaran," jawab Syauqi santai.
"Kita ini sudah tua, malulah dengan umur," jawab Zhia tertawa.
"Siapa bilang kita tua, buktinya semalam sampai tiga ronde," jawab Syauqi genit.
Zhia sungguh tidak bisa melawan suaminya itu, sebab kepercayaan diri Syauqi sudah setingkat dewa.
"Nanti flora bagaiman kalau pulang ke rumah gak ada orang?" tanya Zhia.
"Aku sudah suruh dia jalan-jalan bersama Isnaini. Apalagi nanti ada bazar novel, mereka berdua pasti semangat sekali," jawab Syauqi.
"Sungguh, perencanaan yang baik. Alarik dan Syadev di suruh menggantikan pekerjaan di kantor. Anak-anak di sogok dengan uang," balas Zhia.
"Hey... Hey... Aku juga butuh waktu untuk berduaan dengan istriku saja. Biar kita ini tidak cepat menua," jawab Syauqi santai.
Zhia langsung mencubit lengan suaminya karena kesal sekali.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Alarik sibuk dengan pekerjaan di kantor, baginya sangat mudah karena memang sudah terbiasa. Namun dia heran kenapa sejak pagi istrinya belum mengabari juga. Biasanya istrinya akan selalu menelpon dirinya walaupun dia tengah sibuk.
Tiba-tiba orang yang sedang dipikirkan muncul juga di hadapan Alarik.
__ADS_1
"Istriku sayang, kenapa dari tadi tidak menghubungi? Suamimu ini sudah rindu berat," ucap Alarik langsung menghentikan segala aktifitasnya.
Dengan manja Kaysa duduk di pangkuan suaminya dan mencium pipi Alarik.
"Jangan nakal! Nanti kalau aku terangsang bagaiman?" goda Alarik.
"Aku punya kabar gembira," ucap Kaysa riang.
"Kabar apa?" tanya Alarik penasaran.
Kaysa segera berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian menyodorkan aplop putih pada suaminya.
"Ini apa?" tanya Alarik penasaran.
"Buka saja," jawab Kaysa.
Setelah Alarik membuka dan membaca isinya mata suami Kaysa tersebut langsung melotot mencoba memastikan apakah yang saat ini dilihat benar atau tidak.
"Kamu hamil?" pekik Alarik.
"Iya, dan ternyata aku sama Anggun hamilnya duluan aku," pekik Kaysa.
"Tidak sia-sia kerja kerasku selama ini. Sayang... Aku bahagia sekali," teriak Alarik.
Karena terlalu senang dia segera meraih tubuh istrinya dan mencium bibir Kaysa penuh cinta. Alarik sama sekali tidak memberikan kesempatan pada istrinya itu untuk bernapas. Di lahab terus sampai Kaysa terengah-engah.
Karena tadi pintu tidak ditutup rapat sehingga Anggun dan Syadev dengan mudah masuk ke ruang kantor milik Dony.
Seketika sepasang istri yang baru masuk itu terbengong dan merasa salah tingkah.
Alarik dan Kaysa yang ketahuan sedang bercumbu juga merasa malu.
Sesaat suasana menjadi canggung, akan tetapi dengan gaya dewasanya Alarik mencoba mencairkan kebekuan tersebut.
"Ada apa?" tanya Alarik seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ayo makan siang bersama," ajak Syadev yang masih kikuk.
"Baiklah, sekalian merayakan kehamilan Kaysa. Aku akan traktir ke restoran termewah," jawab Alarik senang.
"Apa? Hamil?" pekik Syadev kaget.
"Iya, bahkan usia kandungan Kaysa lebih dariku," timpal Anggun.
Syadev seolah tidak percaya, dengan senyuman bangga Kaysa memberikan kertas hasil tes kehamilannya.
"Syukurlah, semoga Kaysa bisa menjadi perempuan yang dewasa," ujar Syadev setelah membaca kertas tersebut.
"Tak perlu kamu ajari! Aku kakak kamu jadi pengalaman aku lebih banyak darimu," jawab Kaysa.
"Heleh, cuma selisih beberapa menit saja," balas Syadev.
"Sudah... Jangan berantem lagi!" bujuk Anggun sambil menggandeng lengan suaminya.
"Ayo!" ajak Alarik yang sudah bersiap-siap.
Mereka berempat segera meninggalkan perusahaan yang sangat besar itu. Alarik dengan senang hati menyetir mobilnya.
Dua puluh menit kemudian, Syadev melihat mobil yang tidak asing.
"Kak Al, putar balik! Tadi aku lihat mobil ayah parkir di restoran barusan itu," kata Syadev.
"Masa sih? Bukankah tadi Ayah bilang pusing dan mau istirahat di rumah?" tanya Alarik tidak percaya.
"Mana mungkin nomor plat mobil ada dua yang sama persis," sergah Syadev.
Alarik pun mengikuti permintaan adik laki-lakinya.
__ADS_1
"Benar, ini mobil Ayah," kata Kaysa yakin, sebab dia pernah memakai mobil tersebut.
"Ayo kita masuk sini saja," ajak Alarik.