
Yudistira sengaja berlama - lama di dalam toilet agar pengawal yang menjaga jadi penasaran dan mengetuk pintu.
Dengan kekuatan penuh Yudistira memukul orang tersebut sampai pingsan dan mengurung di kamar dalam toilet.
Dia tahu jika tidak akan mungkin bisa kabur dengan mudah, sebab penjaga di luar sangatlah banyak. Makanya Yudistira mengendap - ngendap menuju tempat pembuatan uang palsu. Masih ada satu kotak yang kosong, Yudistira segera masuk ke sana dan berharap bisa dikeluarkan bersama kotak yang lain.
Harapannya terkabul, tubuh Yudistira merasa melayang. Dia yakin jika saat ini sedang dalam perjalanan.
Yudistira mulai merasa pengap sebab hampir kehabisan oksigen, diapun nekat membuka tutup kotaknya sedikit agar bisa menghirup udara segara.
"Wah, ada banyak sekali kotak ini. Apa aku sedang di kapal ya? Tapi sepertinya memang iya karena tempat ini terus bergoyang," gumam Yudistira.
Putra pertama Syadeva itupun langsung berdiri, dia mencoba melihat keadaan. Ternyata benar jika dia sudah berada di dalam kapal yang berukuran lumayan besar.
"Pandai sekali, mereka seolah olah tengah membawa hasil tangkapan ikan. Jadi tidak ada yang curiga sebab para pengawal ini menyamar sebagai pelayan," gumam Yudistira.
Yudistira melihat mengintip lagi ke sisi belakang, dan dugaannya benar. Setiap kapal pasti ada perahu kecil sebagai jaga - jaga jika terjadi bahaya.
Yudistira merasa ngeri juga jika sampai terjatuh pasti akan tenggelam, berenang menuju ketepian tentu saja tubuhnya tidak kuat.
Yudistira mengambil alat pemotong, dia menurunkan perahu dayung secara perlahan dan tetap mengaitkan dengan tali biar perahu itu bisa menempel dengan kapal.
Setelah berhasil, dia sendiri turun lewat tambang. Perasaan ngeri dan merinding campur aduk memenuhi seluruh jiwanya.
"Papa... Mama... Yudis setelah ini akan menjadi anak yang baik, tolong aku," rengek Yudis.
Angin di laut lumayan besar, Yudistira harus memegang tali tambangnya dengan erat agar tidak terhempas.
Setelah berhasil sampai di dasar perahu, Yudis langsung memotong tali tambang dan diapun bisa bebas dari kapal besar tersebut.
Namun, dia masih belum merasa lega. Sebab tadi dia lupa soal dayungnya yang masih tertinggal di kapal tersebut.
"Astaga, kenapa aku ceroboh sekali? Bagaimana mungkin aku bisa mendayung dengan tangan?" gumam Yudistira kesal pada diri sendiri.
Kini dia hanya terombang - ambing di lautan mengikuti arah angin.
"Aku kelaparan, dan aku juga tidak tahu bagaimana cara untuk menepi. Pa, Ma, apakah kita tidak akan bertemu lagi?" rengek Yudis.
Yudis menangis, dia merasa menyesal kenapa tidak pernah patuh kepada orang tuanya. Yudis kini baru sadar jika rumah adalah tempat ternyaman yang dipenuhi berbagai makanan. Karena dari semalam sampai sore belum makan diapun akhirnya pingsan.
**********************************
Yudistira membuka matanya, hidungnya mencium bau amis ikan. Ternyata dia sudah ditepian tapi masih berada di dalam kapal milik Nelayan.
"Kamu sudah sadar, Nak? Ayo bangun dan makanlah ini untuk mengganjal perut!" ucap seorang lelaki setengah baya memberinya roti sebungkus.
__ADS_1
Karena memang kelaparan dia memakan roti tersebut.
"Kenapa aku bisa berada di sini, Pak?" tanya Yudis yang hampir mengira dirinya sudah mati.
"Bapak dan teman - teman tadi heran kenapa ada perahu dayung kecil bisa sampai di tengah lautan, setelah dilihat ternyata kamu pingsan. Jadi kami bawa kamu naik ke perahu kami," jawab Nelayan tersebut ramah.
"Terima kasih atas bantuan Bapak, kalau tidak entah bagaimana nasipku sekarang," ucap Yudistira sangat bersyukur.
"Namaku Bisri, nama kamu siapa? Kenapa kamu bisa berada di sana?" tanya lelaki setengah baya yang ternyata adalah Bisri.
"Namaku Yudis, Pak. Ceritanya sangat panjang sekali, sampai aku tidak tahu harus memulai dari mana. Yang jelas Pak Bisri sudah menyelamatkan hidupku, terima kasih banyak, Pak," jawab Yudis sangat senang sekali.
"Sepertinya kamu sangat kelaparan, malam ini sebaiknya kamu ikut bapak pulang. Besok baru bisa mengubungi keluarga kamu," ajak Bisri dengan senang hati.
"Iya, Pak. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih," ucap Yudis tidak menolak.
"Tapi sebentar ya, kita pulang kalau sudah selesai menimbang hasil ikannya pada juragan," ujar Bisri.
"Iya, Pak," jawab Yudis.
Yudis ikut membantu Bisri dan orang - orang yang sudah menyelamatkannya mengangkat hasil tangkapan ke dermaga.
Antrian lumayan panjang, sehingga mereka harus mengantri.
"Ini jam berapa, Pak?" tanya Yudis penasaran.
"Ya ampun, pantas saja aku merasa lemas sekali. Aku seharian belum makan nasi," batin Yudis memegang perutnya yang perih.
Pukul lima baru selesai, Hasil tangkapan di potong sewa perahu lalu dibagi lima orang. Yudis tidak menyangka semalaman menaruhkan nyawa di lautan hanya mendapat uang 300 RB saja.
"Pak, kenapa mau kerja seperti ini? Resikonya bahaya tapi hanya mendapat uang sedikit?" tanya Yudis heran.
"Ini sudah lumayan, biasanya malah hanya dapat 200 RB saja," jawab Bisri.
"Berarti harga ikan murah sekali ya?" ujar Yudis.
"Iya, dari kami segini. Nanti ke juragan, terus ke tukang penjual ikan, dan sampai pasar harganya sudah tinggi," jelas Bisri panjang lebar.
Bagi Yudis uang segitu sangat kecil, bahkan sekali membuka mulut dia bisa mendapatkan yang jutaan dari papanya.
Kehidupan ini memang sungguh aneh, Yudis merasa mungkin ini takdir Alloh untuk memberinya pelajaran yang berharga agar kedepannya bisa menghargai lagi.
"Ayo sudah hampir pagi, sebaiknya kita pulang. Mandi dan sarapan!" aja Bisri.
Dengan senang hati Yudis mengikuti penyelamatnya menuju rumah.
__ADS_1
Dengan mengendarai motor butut Yudis membonceng di belakang sambil membawa beberapa ikan hasil tangkapan untuk di masak keluarga pak Bisri.
Karena suara motor Bisri keras, begitu sampai di depan rumah keluarganya sudah muncul dan menyambut dengan suka cita.
"Yudis," ucap seorang gadis terkejut.
Yudistira sendiri juga tidak kalah kaget karena bertemu lagi dengan Jamila.
"Kalian saling mengenal?" tanya Bisri heran.
"Iya, Pak. Dia orang yang sudah pernah aku ceritakan itu," timpal Jamila.
"Astaga, apa ini memang sudah takdir. Aku selalu meminta untuk dipertemukan denganmu dan bisa balas Budi karena kemurahan hatimu," sela Bisri terharu.
"Jadi Jamila putri Pak Bisri?" tanya Yudis penasaran.
"Iya, ayo kita masuk duluan. Nanti setelah mandi dan makan bisa melanjutkan obrolan lagi," balas Bisri.
Yudistira masuk ke rumah yang tidak begitu besar, tapi rapi dan bersih. Ternyata Jamila memiliki dua adik lelaki, yang satunya sekitar kelas SMP dan satunya lagi masih SD. Yudis semakin penasaran apa yang membuat Jamila dulu sampai terjebak menjadi wanita penghibur.
Karena tidak punya pakaian ganti, Yudis memakai sarung dan baju Koko milik Bisri.
Sedangkan Jamila dan ibunya sudah menyiapkan makanan, ikan goreng, sambal dan juga sayur sawi rebus. Padahal sambalnya hanya dari cabe hijau dan bawang yang di bakar, tapi rasanya sungguh luar biasa nikmatnya. Terlebih lagi Yudis memang sangat kelaparan sekali.
"Tambah lagi, Nak. Nasi dan lauk masih banyak!" ujar Ibunya Jamila ramah.
"Iya, Buk. Terima kasih banyak," jawab Yudis tidak sungkan.
Dalam keadaan seperti ini Dia emang sudah menyampingkan rasa malu, karena dia butuh energi agar bisa pulih.
Setelah selesai makan mereka mengobrol di ruang tamu yang kursinya terbuat dari ukiran kayu.
"Yudis, bagaimana kamu bisa bersama bapak?" tanya Jamila.
"Aku kemarin di culik, mereka mengira jika aku adalah Sagara saudara kembarku. Karena saudara kembarku itu sangat jenius dan bisa membuat alat yang canggih, tapi saat ini Sagara sedang ke Aceh membantu tanteku," jawab Yudis.
"Lalu?" sela Ibunya Jamila ikut penasaran.
"Aku kabur baik perahu dayung, untung saja ketemu pak Bisri, terima kasih banyak untuk kalian semua karena sudah menolong," ucap Yudis.
"Jangan sungkan, Nak. Kamu juga sudah sangat berjasa karena telah menyelamatkan Jamila waktu itu. Sehingga keluarga kami bisa berkumpul lagi," ucap Bisri sepenuh hati.
"Padahal Bapak bekerja sebagai Nelayan, kenapa Jamila bisa terjebak ke pekerjaan semacam itu?" tanya Yudis sangat penasaran.
"Karena bapak punya hutang ke rentenir dan tidak sanggup membayar sebab waktu itu bapak sakit, jadi mereka membawa Jamila dan menjual ke seorang pedagang gadis dan di bawa ke kota. Waktu itu bapak sudah mau bunuh diri saja, tapi beberapa hari kemudian Jamila pulang bahkan membawa uang yang banyak. Dengan uang itu bapak bisa berobat dan juga melunasi hutang ke orang - orang. Sekarang kehidupan kami sudah membaik dan tanpa hutang lagi," jelas Bisri.
__ADS_1
Yudistira tidak menyangka jika akan terjadi sebuah kebetulan seperti ini. Orang yang sudah menyelamatkannya adalah keluarga yang sudah diselamatkan. Ternyata selama kita mau menolong orang lain dengan tulus, kelak saat kita dalam kesulitan juga akan ada yang menolong.