CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kenakalan calon suami


__ADS_3

 


Hanya Alloh yang tahu berapa lama seseorang bisa hidup di dunia ini.


Sangatlah rugi jika seseorang itu menyia-nyiakan kesempatan, karena tiada satu orang pun yang tahu sampai kapan nyawa kita akan diambil.


Iyas meninggal di usia sangat muda, menyisakan sejuta kenangan dan sederet rasa kehilangan.


Terlebih bagi Zhia yang masih mencintainya, dia merasa menyesal karena gara - gara dia Iyas dan temannya kecelakaan.


Zhia tidak tahu kabar selanjutnya tentang Nayla, Zhia selalu berdo'a semoga temannya bisa sembuh dan mereka bisa bertemu kembali.


 


Zhia masih di rumah sakit, tapi matanya masih tertutup perban karena bekas operasi donor mata dari Iyas.


 


"Aku akan menjaga mata ini, Mas Iyas. Dan aku juga tidak akan menggunakannya untuk menangis karena kesedihan."


Walaupun Zhia tak menangis namun hatinya tetap merasa kehilangan sosok Iyas yang sudah bertahun-tahun selalu bersamanya.


Selama Zhia di rumah sakit, Syauqi selalu tidur di sana bersama Rian.


Calon suami Zhia itu pulang hanya mandi dan ganti baju saja.


Bahkan Syauqi juga meninggalkan semua pekerjaannya dan menyerahkan pada Dony.


Dengan sabar dan telaten Syauqi membujuk Zhia makan, karena selama seminggu ini Zhia nafsu makannya hilang.


"Makanlah sayang! aku tahu kamu tak berselera, tetapi kasihanilah anak yang kau kandung ini. Jika dia bisa berbicara pasti sudah berteriak minta makan karena kelaparan," bujuk Syauqi sambil menyuapi Zhia.


Zhia terenyuh juga mengingat jika dia sedang mengandung.


"Ampuni hambamu ini ya Alloh, karenasudah menjadi ibu yang kejam. Sebagai seorang ibu seharusnya aku lebih mementingkan kesehatannya dibanding perasaanku sendiri."


Zhia menyadari kesalahannya. Diapun mau makan sedikit demi sedikit.


"Maafkan aku ya, Mas Syauqi," lirih Zhia.


"Jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada anak kita yang harus menahan lapar," jawab Syauqi tegas.


Padahal pemuda tampan itu sebenarnya senyum-senyum sendiri dengan kepolosan istrinya akan tetapi Zhia tak bisa melihatnya.


"Ahh... istriku sangat menggemaskan sekali," batin Syauqi.


Dengan disuapi calon suaminya, Zhia memaksakan dirinya sendiri untuk makan.


"Mau makan buah apa?"tanya Syauqi setelah piring di tangannya kosong.


"Adanya apa saja?" balik Zhia bertanya.


"Apa saja ada, kamu tinggal pilih," jawab Syauqi mesra.


"Mas Syauqi ke sini mau berdagang buah ya?" ledek Zhia mulai bisa tertawa lirih.


Syauqi bahagia, setelah seminggu baru kali ini Zhia tersenyum sampai tertawa.


"Selama seminggu kamu dan anakku tidak makan dengan baik, aku juga tidak bisa makan. Jadi aku ngemil buah saja," ungkap Syauqi.


Zhia jadi merasa bersalah lagi, hatinya terlalu lembut sampai merasa tak tega jika orang lain menderita karenanya.


"Seandainya aku juga mati apakah kamu akan bersedih?" tanya Syauqi asal-asalan.


Namun siapa sangka keisengan Syauqi justru merubah raut wajah Zhia yang tadinya mulai ceria menjadi meredup sedih.


"Kenapa aku merasa sangat takut jika hal itu terjadi.


membayangkan saja rasanya perasaanku sudah terpukul," batin Zia.

__ADS_1


Karena menyadari perubahan ekspresi Zhia, Syauqi yang tengah mengupas apel langsung menaruhnya dan berganti menyentuh kedua pundak Zhia.


"Maaf, aku hanya bercanda," kata Syauqi menyesal.


"Jangan pernah bergurau seperti itu lagi," pinta Zhia merengut.


Ada sedikit kebahagiaan dibalik rasa penyesalan Syauqi.


"Dia terlihat bersedih saat bilang aku mati, mungkinkah dia mulai mencintaiku?" pikir Syaqi.


"Apakah kamu masih memikirkan Iyas?" tanya Syauqi serius.


"Iya," jawab Zhia mantap.


"Apa kamu masih belum bisa mencintaiku?" tanya Syauqi lagi.


"Iya," jawab Zhia dengan senyuman menggoda.


Syauqi menyadari jika Zhia sengaja mempermainkan dirinya.


"Mau balas dendam mengerjaiku ya? awas saja."


"Aku cium kamu ya?" tanya Syauqi.


"Iya," jawab Zhia keblabasan.


Namun ketika dia mau meralat perkataannya Syauqi sudah mencium bibir Zhia dengan penuh perasaan, cukup lama sampai Zhia merasa hatinya berdesir.


Kemudian Syauqi menjerit lumayan keras karena perutnya dicubit Zhia.


"Punya rasa malulah sedikit, Mas Syauqi. Ini di Rumah sakit," kata Zhia marah.


"Berarti nanti kalau sudah pulang boleh ya?" goda Syauqi.


"Tidak," balas Zhia.


"Pokoknya tak boleh," kata Zhia kekeh.


"Baiklah, berarti setelah menikah kamu jangan berani keluar rumah ya?" pinta Syauqi.


"Loh... kenapa?" tanya Zhia tak mengerti.


"Kita habiskan siang dan malam di kamar, aku sudah tak sabar," balas Syauqi tertawa senang.


Zhia justru merasa merinding membayangkan Syauqi yang nafsunya sangat besar.


"Mas Syauqi pasti sudah terbiasa melakukan hal itu ya dengan para mantan?" sindir Zhia.


"Melakukan apa?" tanya Syauqi semakin menggoda.


Zhia langsung memerah wajahnya dan merasa malu sendiri.


"Aku tak tahan lagi Zhia," bisik Syauqi di telinga Zhia.


Syauqi mulai mencium leher yang tertutupi jilbab dari belakang.


Bahkan tangannya mulai nakal meremas buah dada Zhia yang kenyal.


Zhia menjerit kaget dan menggigit tangan Syauqi. Kali ini Zhia sangat marah.


"Mas Syauqi, sebaiknya pulang saja! Jangan temui aku sampai hari pernikahan! tegas Zhia.


"Tapi kamu sebenarnya terangsang kan?" goda Syauqi lagi.


"Dasar tidak tahu malu," teriak Zhia melempar bantalnya ke arah depan. Namun lemparannya sama sekali tidak mengenai sasaran.


Syauqi tertawa dan mengambil bantal yang terjatuh di depan kakinya. Pemuda tampan itu meletakkan kembali bantal itu di belakang punggung Zhia.


"Tak baik jika saat marah melampiaskan pada benda-benda yang tidak tahu apa-apa. Jika kamu tak terima aku cium, maka kembalikan lagi ciuman itu kepadaku," gurau Syauqi yang semakin menjadi.

__ADS_1


Pemuda itu sangat menikmati ekspresi Zhia yang marah menahan malu.


" Pergi.. kubilang pergi!" usir Zhia setengah berteriak.


"Oke... oke, aku pergi ya? Sesuai permintaanmu aku tidak akan menemuimu sampai tiga hari ke depan. Jangan merindukan aku!" kata Syauqi serius.


"Jaga dirimu baik baik Zhia, aku akan segera kembali," bisik Syauqi dalam hati.


Ketika Syauqi mau keluar, saat itu juga datang seorang wanita yang penampilannya alim seperti Zhia, wanita tersebut membawa banyak buku.


"Temannya Zhia?" tanya Syauqi.


"Iya..." jawab gadis tersebut yang sempat terpana dengan ketampanan Syauqi.


"Perkenalkan, aku calon suami Zhia. Tolong jaga dia sebentar ya sampai keluarganya ada yang datang," kata Syauqi langsung pergi.


Teman Zhia itu kemudian masuk ke dalam.


Dilihatnya wajah Zhia yang masih merah padam.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Ini Silvia kan?" tanya Zhia mulai tersenyum senang.


"Iya Zhia. Maaf aku baru sempat menengokmu dan aku ke sini sekalian membawakan buku yang saat itu tertinggal di depan toko," ucap Silvia.


"Iya tak apa-apa, terimakasih ya. Dan aku juga mau meminta maaf atas semua kesalahan yang telah aku perbuat. Gara-gara aku semua menjadi begini," kata Zhia menundukkan pandangannya.


"Zhia, kamu juga menjadi korban. Semua ini terjadi karena memang sudah takdir Alloh. Kita harus ikhlas dan tabah," bujuk Silvia.


"Sekarang bagaimana dengan keadaan kedua orang tua Mas Iyas?" tanya Zhia khawatir.


"Ya seperti itulah, namanya kehilangan putera tunggalnya," jawab Silvia tak ingin menambah kesedihan teman masa kecilnya.


"Zhia, waktu aku masuk kenapa wajahmu tadi sangat merah?" tanya Silvia penasaran.


"Tidak papa," jawab Zhia tersenyum canggung.


Zhia hatinya berdesir lagi, mengingat perlakuan Syauqi tadi yang seenaknya mengambil keuntungan di saat dirinya tak berdaya.


Namun entah kenapa Zhia menjadi malu-malu sendiri. Karena ciuman dan sentuhan lembutnya Syauqi membuat Zhia merasakan sensasi yang sulit dijelaskan.


"Kamu kenapa, Zhia? Kok mukanya merah lagi?" tanya Silvia penasara.


"Mungkin aku gerah," jawab Zhia kebingungan sendiri.


"Tadi aku berpapasan dengan calon suamimu. Dia meminta aku menjagamu sampai ada keluargamu yang kesini," kata Silvia.


"Maafkan sikap calon suamiku ya, dia memang selalu seenaknya sendiri," jawab Zhia.


"Ah tidak apa-apa, aku juga ingin mengobrol denganmu. Kamu beruntung ya? Suami kamu terlihat sangat mencintaimu," tutur Silvia.


Zhia tahu jika temannya bersedih.


"Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Mas Iyas," hibur Zhia.


"Sebenarnya sebelum perjodohan aku sudah memiliki seseorang. Namun keluargaku tak merestui karena dia duda beranak satu. Aku sempat sedih, kemudian aku dijodohkan Ayahku dengan Mas Iyas. Jujur saja dulu sewaktu kecil aku pernah menyukainya, tapi Mas Iyas hanya perhatian padamu saja. Tak kusangka Rasa kagum dimasa kecil tumbuh kembali. Tapi lagi-lagi Alloh berkehendak lain, Mas Iyas sudah ...."


Belum sempat Silvia menyelesaikan perkataannya dia sudah menangis sesenggukan.


Zhia tahu jika temannya menangis.


"Maafkan aku Silvia," lirih Zhia.


Dia sadar, kenangan terakhir untuk Silvia tentang Iyas saat di toko. Silvia pasti terluka melihat calon suaminya malah memeluk gadis lain di depan matanya sendiri.


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri bintang 5🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗

__ADS_1


__ADS_2