CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 93


__ADS_3

Syadev tengah berduaan di dalam kamar. Istrinya sedang sakit kaki karena berjam-jam berdiri menyambut para tamu.


"Berbaringlah, biar aku pijitin," pinta Syadev manis.


"Tidak usah, suamiku. Kita kan juga sama-sama capek," jawab Anggun lembut.


"Aku ini seorang lelaki, jadi harus kuat dan tangguh," jawab Syadev tersenyum manis.


Anggun terkejut dengan ucapan suaminya barusan, dengan gemas dicubitnya pipi sebelah kiri milik Syadev sampai memerah.


"Apakah ini benar Syadeva Malik?" tanya Anggun.


"Memangnya siapa lagi?" tanya Syadev heran sambil memegang pipinya yang sedikit sakit.


"Aku selalu mengingat dulu saat awal kita kenal, kamu cuek dan tidak mau berbicara sepatah kata," jawab Anggun tertawa lirih.


"Memangnya mau jika aku seperti dulu lagi?" goda Syadev.


"Aku yakin, kamu tidak akan sanggup melakukannya. Apalagi sekarang aku juga sedang hamil," jawab Anggun malu-malu.


"Wihh, istriku sudah pandai merayu," balas Syadev tertawa.


Anggun dengan senang hati mencium pipi suaminya karena terlalu bahagia.


"Karena istriku sedang hamil mau makan apa? Biasanya perempuan yang hamil suka ngidam," tanya Syadev manis.


"Aku ingin yang segar-segar, jus mangga atau jeruk," jawab Anggun tanpa ragu.


"Baiklah, pokoknya mau makan apa saja tinggal bilang ya? Jangan sungkan atau malu," pinta Syadev.


Anggun langsung memeluk suaminya dengan erat. Rasanya tidak rela untuk melepaskannya.


"Yah... Kalau gini aku jadi malas keluar. Aku telepon pelayan saja deh biar suruh anterin ke sini," ujar Syadev membalas pelukan Anggun dan mencium kening istrinya.


Syadev segera menelepon pelayannya lewat telephone rumah. Setelah itu kembali memeluk istrinya lagi.


"Biasa dalam pelukanmu aku takut saat nanti kita berpisah aku tidak bisa tidur," ucap Anggun menikmati pelukan suaminya.


Syadev tertawa sendiri, sebab mengenai hukuman yang dibatalkan istrinya itu belum diberitahu.


"Ayah sudah mencabut hukuman itu," bisik Syadev.


"Benarkah?" tanya Anggun seolah tidak percaya.


"Iya, masa suamimu ini berbohong," jawab Syadev tersenyum lucu.


"Bagaiman bisa?" tanya Anggun penasaran.


"Ayah memang keras kepala, tapi kelemahan Ayah terbesar terletak pada Bunda. Jadi tinggal merayu Bunda saja," jawab Syadev tertawa senang.


Anggun merasa lega sekali, akhirnya ketakutannya beberapa hari ini bisa hilang. Baginya tidak apa-apa hidup sederhana asalkan tidak berpisah dengan suaminya. Di suami ini hanya Syadev tempat satu-satunya bersandar. Karena terlalu bahagia Anggun sampai menangis.


"Loh, kenapa menangis?" tanya Syadev cemas.


"Aku kira kita beneran akan berpisah dalam waktu yang lama, dan aku akan merawat anakku sendiri," Isak Anggun.


Syadev tertawa, senang juga jika istrinya itu bisa meluapkan perasaanya.


"Mulai sekarang apapun yang kamu pikirkan atau sesuatu yang membuat hatimu tidak tenang bicarakan semuanya padaku! Aku ini suamimu, segala hal tentang dirimu adalah tanggung jawabku," pinta Syadev mesra.


"Iya, Suamiku. Aku bersyukur sekali bisa berjodoh denganmu, andaikan saat ini kedua orang tuaku masih ada mereka akan senang memiliki menantu yang bertanggung jawab dan tampan sepertimu," jawab Anggun tak bisa menahan bahagianya.


Tak berapa lama pintu diketuk, Syadev tahu jika itu adalah pelayan yang membawakan jus pesanannya.


"Ini, Tuan Muda," ucap pelayan setengah baya.


"Iya, bawa kemari saja," jawab Syadev ramah.


Setelah nampannya di letakkan di atas meja dekat tempat tidur pelayan tersebut berpamitan keluar.

__ADS_1


"Mau yang mana duku? Jus Jeruk atau Mangga?" tanya Syadev perhatian.


"Mangga saja, takut nanti tidak habis. Kan sayang jadi mubadzir," jawab Anggun.


Syadev mengambil kedua gelas tersebut dari atas meja.


"Minum dua-duanya saja, kalau tidak habis biar aku yang minum," perintah Syadev.


Anggun dengan senang hati minum satu persatu, setelah itu sisanya diminum Syadev.


Setelah minum Syadev merasa segar, ada hasrat dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Namun, melihat istrinya yang sangat kelelahan Syadev menahan diri.


"Ayo tidur, biar nanti lelahnya hilang," ucap Syadev.


Anggun mematuhi suaminya dan segera berbaring.


Tak butuh waktu lama Anggun sudah tertidur, sedangkan Syadev keluar kamar mencari minyak tawon.


"Bunda, apa masih ada minyak tawon?" tanya Syadev.


"Di kotak obat, apa kamu sakit?" tanya Zhia cemas.


"Tidak, tapi Anggun kakinya sepertinya sakit karena terlalu lama berdiri," jawab Syadev.


"Segera ambillah! Kasihan istrimu sedang hamil," ucap Zhia bangga pada putranya.


Syadev bergegas pergi dan mengambil minyak tersebut. Setelah itu dia kembali ke kamar dan mengolesi minyak tersebut secara perlahan. Dia berharap istrinya itu tidak terbangun.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Di luar Zhia hanya senyum-senyum sendiri, tidak di sangka putranya yang cuek bisa perhatian pada istrinya.


"Kenapa senyum-senyum sendirian?" tanya Syauqi yang baru menghampiri isterinya.


"Anggun hebat, bisa membuat Syadev yang cuek dan dingin menjadi perhatian dan hangat seperti itu," jawab Zhia senang.


"Masih lebih hebat istriku, yang bisa membuat seorang Syauqi Malik bertekuk lutut. Syadev biarpun cuek tapi pada dasarnya memiliki hati yang baik. Sedangkan aku? Orang hanya mendengar namaku saja sudah gemetar," jawab Syauqi bangga.


"Di mana Kaysa dan Alarik ya? Sudah dua jam tidak sampai rumah. Padahal tadi pulangnya di belakang mobil kita," tanya Zhia mengalihkan pembicaraan.


"Namanya juga anak muda, mereka paling sedang jalan-jalan," jawab Syauqi santai.


Tiba-tiba Flora datang, putri bungsu Syauqi Malik tersebut tersenyum dengan manisnya.


"Ayah, Bunda. Tolong dong izinkan sama Paman Rian agar Kak Isnaini bisa menginap di sini?" rayu Flora.


"Iya, Sayang. Biar Ayah kamu nanti izinkan ya?" jawab Zhia.


"Terima kasih Ayah, Bunda," jawab Flora bahagia.


Gadis itu segera berlalu kembali ke kamarnya sendiri.


Rian memang memiliki sikap tegas. Jadi Zhia sendiri sampai sekarang masih merasa sungkan. Bahkan Putri bungsu Rian kalau mau kemana-mana dengan Flora juga takut izin sendiri. Jadi selalu meminta tolong pada Syauqi Malik.


"Kakakmu itu terlalu ketat pada anak-anaknya," ujar Syauqi tersenyum.


"Iya, persis seperti almarhum bapak. Dulu aku juga di larang berkenalan dengan pemuda, kecuali Mas Iyas karena bapak sudah mengenal dia sejak kecil," jawab Zhia.


"Apa kamu masih punya perasaan pada Iyas?" tanya Syauqi penasaran.


"Selamanya Mas Iyas akan selalu di hati, tidak hanya sebagai seorang sahabat melainkan seperti kakak kandung sendiri," jawab Zhia tidak mau menutupi.


"Iya," jawab Syauqi memeluk istrinya agar tidak bersedih.


Syauqi sama sekali tidak cemburu, bagaimanapun juga istrinya bisa hidup normal juga berkat donor mata dari Iyas.


Tapi jika mengingat masa lalu Syauqi selalu merasa penuh dosa, sebab sudah merebut Zhia bahkan menodainya.


"Maafkan aku..." ucap Syauqi.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Zhia melepaskan pelukannya.


"Seandainya bukan karena aku pasti Iyas masih hidup," ucap Syauqi.


"Hidup dan mati bukan kita yang mengatur, tapi Alloh," jawab Zhia menghibur istrinya.


"Terima kasih karena kamu sudah memaafkan semua kesalahanku," pinta Syauqi.


Zhia merasa heran, karena tidak biasanya suaminya tersebut bersikap seperti itu.


"Ayo kita segera istirahat, ngantuk sekali dari kemarin kurang tidur," bujuk Zhia lembut.


Zhia segera menarik lengan suaminya menuju kamar. Masih seperti pasangan muda yang tidur sambil berpelukan mesra.


Zhia tahu jika suaminya itu merasa bersalah akan kejadian masa lalu. Diapun juga merasakan hal yang sama. Namun, Zhia mencoba untuk bersabar karena semua memang sudah takdir Alloh.


"*Kini sudah bukan saatnya aku memikirkan perasaanku sendiri. Bagiku yang terpenting adalah masa depan anak. Jika aku terjebak dalam dendam sama saja aku menghancurkan kebahagiaan anakku sendiri."


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜*


Reki dan Orlin yang masih dalam perjalanan mampir kesebuah restoran mewah. Saat mereka baru duduk ada dua perempuan dengan pakaian mini. Salah satu dari mereka menyapa Reki.


"Reki, bagaimana kabarmu?" tanya perempuan itu.


"Baik, Za," jawab Reki sekedarnya.


Tanpa permisi dahulu gadis cantik bernama Siza duduk jadi satu di meja dengan Reki. Orlin hanya tersenyum dan tidak merasa keberatan.


"Aku senang karena bisa bertemu denganmu lagi," ucap Siza ceria.


"Iyakah? Kalau berniat ingin bertemu denganku kenapa menunggu aku sehat? Seharusnya saat aku di rumah sakit kamu bisa datang ke sana," jawab Reki kesal.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu berada di rumah sakit," rengek Siza manja.


"Lucu sekali, kamu kan punya nomorku. Dan ponselku juga selalu aktif tapi kamu sama sekali tidak menghubungi aku," balas Reki tersenyum mengejek.


"Maafkan aku, aku memang bersalah. Tapi di antara kita belum ada kata putus," ucap Siza.


"Dan detik ini aku akan bilang putus!" jawab Reki sambil berdiri dan menarik tangan Orlin kemudian mengajak Orlin kelaut dari restoran.


Reki bisa mendengar jika Siza manggil-manggil namanya, tapi pemuda itu sama sekali tidak mau menoleh.


"Maafkan aku atas ketidak nyamanan ini, ayo aku ajak ke tempat makan yang lain," ucap Reki merasa bersalah.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Orlin tersenyum.


Reki meleleh melihat senyuman Orlin, membuat dirinya merasa nyaman dan damai.


"Kamu menyesal memutuskan gadis tadi?" tanya Orlin.


"Tidak," jawab Reki singkat.


"Aku kenapa murung?" tanya Orlin.


"Aku hanya berpikir aku harus memutuskan semua pacarku," jawab Reki jujur.


Orlin tertawa, sebab baru kali ini ada pemuda lelaki yang jujur kalau punya pacar banyak.


"Nanti kamu menyesal loh," goda Orlin.


"Buat apa punya banyak pacar tapi tidak setia. Lebih baik cukup punya satu saja yang bisa menerimaku apa adanya dan tulus mencintaiku," jawab Reki memandang Orlin beberapa detik dengan tatapan serius.


"Semoga segera menemukannya," jawab Orlin mulai gugup.


"Aku sudah menemukan dia, tapi aku sadar diri, untuk mendapatkannya aku harus memperbaiki diri dan memperbaiki hidupku terlebih dahulu agar pantas bersanding dengannya, Karan dia adalah wanita yang paling baik," jawab Reki penuh arti.


Dalam hati Orlin merasa senang, karena selama ini satu-satunya yang dekat dengan Reki hanya dirinya saja.


"Kenapa aku bisa sebahagia ini?"

__ADS_1


Jangan lupa baca Scorpio ya? Tetap nantikan kisah Saralee, Adella dan Aileen.


__ADS_2