
Syadev tidak berani menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena di jam segitu banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.
Sesampainya di sekolahan, Syadev dan Anggun pasrah dilarang ikut pelajaran. Bahkan mereka berdua dihukum berlari di lapangan sebanyak tiga kali.
Lapangannya sangat luas, jika berputar sekali saja butuh waktu tujuh menit dengan kecepatan sedang.
Anggun bukan sosok kuat seperti Kaysa, makanya Syadev sengaja memperlambat larinya supaya bisa mengimbangi gadis itu.
"Maaf," ucap Syadev singkat.
"Untuk apa?" jawab Anggun.
"Gara-gara aku kamu dihukum," timpal Syadev.
"Tidak apa-apa, biar sekali-sekali aku juga merasakan hukuman dari guru," jawab Anggun tertawa lirih.
Syadev terpukau, melihat gadis yang berlari disampingnya bisa tertawa lepas seperti itu.
"Kamu belum pernah dihukum?" tanya Syadev penasaran.
"Yah, ini pengalaman pertama," jawab Anggun tersenyum manis.
Syadev fokus melihat rambut lurus sebahu Anggun yang menjadi berantakan karena terhempas Angin.
"Wajahnya memang tidak secantik Kaysa, tapi lumayan manis. Yang lebih penting sifatnya tentu tidak menyebalkan seperti gadis konyol itu," batin Syadev yang sedang membandingkan Anggun dengan Kaysa.
"Syadev, kamu kenapa melamun? Awas nanti jatuh loh," tegur Anggun.
"Tidak, aku hanya senang mendengar hukuman yang diterima Siska dan Maya setelah kita laporkan kemarin," jawab Syadev memberi alasan.
"Apa kita tidak keterlaluan ya kemarin," tanya Anggun cemas.
"Kalau tidak diberi pelajaran seperti itu nanti mereka tidak merasa kapok dan bisa saja mengulangi lagi," jawab Stadev tegas.
Anggun merasa aman didekat Syadev, tapi gadis itu tidak berani melepaskan perasaannya yang sesungguhnya.
"Aku harus menggenggam hatiku sendiri agar tidak mencintai Syadev. Karena aku tahu status kita berbeda jauh. Aku tidak ingin pada akhirnya terluka dan sakit hati," batin Anggun merasa sedih.
Syadev bisa tahu jika gadis disampingnya sedang bersedih, hanya saja pemuda itu tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Anggun.
"Tadi Anggun terlihat seperti berminat memakai hijab, tapi kenapa tidak segera berubah kalau punya niat? Apa karena tidak punya uang untuk membeli baju dan jilbabnya? Kasian sekali dia," bisik Syadev dalam hatinya.
setengah jam kemudian mereka sudah selesai menjalankan hukuman. Syadev dan Anggun mengatur napas mereka yang terengah-engah.
"Masih ada sisa waktu, kita ke kantin dulu yuk beli minuman!" ajak Syadev berlalu pergi.
Anggun langsung setuju dan menyusul Syadev yang sudah berjalan duluan.
Mereka berdua memang sedang dihukum, tapi dari wajah mereka justru terlihat bahagia.
Di kantin Mereka segera memesan minuman.
"Segarnya," ucap Anggun.
Tapi Syadev hanya diam sambil sibuk menatap layar ponsel miliknya.
"Dari tadi Syadev hanya bermain ponsel, apa dia sedang sibuk dengan kekasihnya? Kenapa aku tiba-tiba merasa cemburu. Sadarlah, Anggun. Kamu ini bukan siapa-siapanya pangeran itu," batin Anggun pilu.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Pulang sekolah Anggun berniat naik ojek online, karena tidak enak jika menumpang pada Syadev lagi.
Semua orang yang melihat Anggun saling berbisik-bisik saat dirinya berjalan menuju gerbang sekolah.
"Itu toh pacarnya Syadev, sangat biasa sekali. Masih cantikan aku."
"Kemarin ada yang ngebully Anggun, terus Syadev menolongnya dan melaporkan mereka ke guru BP, sekarang di skors 3 hari deh."
"Apa yang membuat Syadev menyukai Gadis itu ya? Penampilannya tidak menarik."
"Tadi pagi aku melihat mereka berangkat bersama. Ya ampun, aku ingin sekali naik mobil milik Syadev."
Anggun hanya menunduk dan merasa malu karena jadi perbincangan teman-temannya. Dia sendiri sadar jika dirinya bukanlah apa-apa.
Setelah beberapa menit, ojek online yang dipesannya datang juga. Anggun segera naik dan meninggalkan sekolahan.
Sampai di panti, Pamannya sudah menunggu di depan rumah.
"Assalamu'alaikum," salam Anggun.
"Waalaikumsalam. Anggun, ada paketan atas nama kamu," ucap Paman penjaga panti berlalu pergi.
Anggun merasa tidak punya kerabat ataupun memesan apapun. Namun nama dan alamat yang tertera benar identitasnya.
Karena penasaran, gadis itu segera membawa masuk ke kamar dan membuka kardus besar itu.
Anggun tercengang, karena isinya adalah gamis dan jilbab yang banyak. Bahkan ada seragam sekolah yang panjang khusus hijab.
"Semua ukuran sangat cocok untukku, siapa yang mengirimkannya ya? Di sini tidak ada nama pengirimnya." batin Anggun bingung.
Setelah dikeluarkan semua, ada sepucuk surat.
Jangan takut berhijrah! Wanita lebih terlihat Anggun jika memakai pakaian tertutup dan berjilbab.
Anggun semakin merasa penasaran, dalam hatinya dia mengucapkan rasa terima kasih. Karena hadiah itu sangat berguna untuk Anggun.
"Siapapun itu aku merasa sangat berterima kasih, karena pemberian ini begitu berarti bagiku."
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Pagi harinya
Kaysa sudah mulai masuk sekolah, wajahnya terlihat lebih bersinar dan terasa lebih lembut karena memakai Skincare yang super mahal itu.
"Sayang, Ayah mohon jangan berbuat ulah lagi ya! Ayah tidak ingin kamu kenapa-kenapa," pinta Syauqi.
"Iya, Sayang. Bunda sampai sakit kepala kalau kepikiran kamu yang suka sembrono itu," timpal Zhia dengan wajah memelas.
"Iya, Ayah, Bunda. Kali ini Kaysa akan bersikap lebih baik," jawab Kaysa menyakinkan kedua orang tuanya.
"Ayo ikut aku! Bahaya kalau pakai mobil sendiri," ucap Syadev.
"Itu benar, jangan menyetir mobil dulu," timpal Zhia.
__ADS_1
"Aku sudah baikan," rengek Kaysa.
"Kalau tidak menurut Ayah jual mobil kamu," ancam Syauqi.
Kaysa hanya menunduk dan berjalan lemas.
"Assalamualaikum," pamit Kaysa tanpa melihat wajah kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Syauqi dan Zhia yang menahan tawa.
Syadev sudah menunggu saudara kembarnya di dalam mobil. Hati pemuda itu senang melihat Kaysa sembuh, hanya saja tidak mau mengakuinya.
"Bagaimana dengan Siska dan Maya, terlalu enak jika dibiarkan," ucap Kaysa yang baru saja duduk di samping Syadev.
"Mereka sudah di skors selama tiga hari," jawab Syadev tenang.
"Lumayan lah, jadi orang tua mereka bisa melihat kebejatan anaknya," celetuk Kaysa.
Hari ini saudara kembar itu akur, karena Kaysa sibuk teleponan dengan Alarik.
Sedangkan Syadev sendiri membisu dalam lamunannya.
Sampai di parkiran, mereka berdua terkejut melihat Anggun yang penampilannya berubah.
"Kamu Anggun? Wah, lebih cantik seperti itu," ucap Kaysa.
Anggun hanya menunduk malu, sedangkan Syadev segera berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku senang melihatmu yang seperti ini," puji Kaysa.
"Itu karena aku ingin bisa seperti kamu dan Zahra," jawab Anggun.
Mereka berdua segera masuk ke dalam kelas, tapi di sana Syadev justru menyandarkan kepalanya di atas meja dan tiduran.
Bel masih belum berbunyi, banyak murid yang berkeliaran di luar kelas. Bahkan ada yang belum datang.
Tiba-tiba datang Ketua OSIS seorang diri, pemuda tersebut langsung mendatangi Kaysa.
"Bolehkah pinjam waktumu sebentar? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Gio memohon.
"Baiklah," jawab Kaysa santai.
"Ayo ikut aku!" ucap Gio lembut.
Tanpa rasa takut, Kaysa mengikuti Ketua OSIS itu keluar dari kelas.
Syadev yang sedari tadi tiduran langsung membuka mata dan membuntuti saudara kembarnya dari kejauhan.
Anggun tersenyum, karena melihat sosok Syadev yang sebenarnya penuh kasih. Hanya saja pemuda itu selalu gengsi menunjukkan kebaikannya.
"Kenapa dalam pikiranku terlintas sosok syadev yang memberikan aku paketan kemarin. Apakah mungkin? Tapi untuk apa dia sebaik itu padaku, aku dan dia juga tidak dekat. Mungkin aku yang kepedean."
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Halaman belakang jelas sepuluh lumayan luas, di sana banyak tanaman bunga yang sengaja dirawat agar sekolahan terlihat indah dan segar.
Di sana lumayan banyak orang karena selalu dijadikan tempat tongkrongan, karena nyaman dan sejuk.
Kaysa menyandarkan punggungnya ke kayu yang besar di belakangnya.
"Cepatlah! Waktuku tidak banyak," ucap Kaysa santai.
"Kaysa, maafkanlah semua kesalahanku! Aku mengakui banyak salah padamu, tapi semakin lama aku menyadari jika aku menjadi beneran jatuh cinta padamu. Sebenarnya aku benci mengakuinya, tapi aku juga tidak bisa terus tersiksa dengan perasaan yang terpendam ini," ucap Gio manis seperti saat drama Romeo Juliet di acara MOS dulu.
Dalam hati Kaysa tertawa, karena sudah berhasil membuat Ketua OSIS itu bertekuk lutut tanpa Kaysa susah payah.
"Bukankah Kak Gio dengan kak Yuki?" tanya Kaysa masih menahan tawa.
"Tidak, kami hanya berteman saja," jawab Gio sungguh-sungguh.
"Karena Kak Gio mau meminta maaf, aku akan memaafkan. Aku pergi dulu," ucap Kaysa.
Namun Gio dengan gesit menghadang Kaysa di depannya.
"Aku tahu jika pemuda yang bersamamu saat pesta itu bukanlah tunanganmu! Tapi Kakakmu," ucap Alarik.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Kaysa terkejut.
"Zahra," jawab Gio.
"Ya ampun, kenapa aku begitu ceroboh tidak memberitahukan dia," sesal Kaysa.
"Bagaimana?" tanya Gio penuh harap
"Bagaimana apanya?" tanya Kaysa yang memang polos soal cinta.
"Apa kamu mau menerimaku?" tanya Gio lembut.
Tanpa perlu berpikir panjang, Kaysa berniat mau menolak. Namun sayangnya Gio sudah mendahuluinya.
"Stop! Jangan di jawab sekarang. Aku beri kamu waktu sampai besok pagi, jadi pikirkanlah baik-baik malam ini," sela Gio kemudian berlalu pergi.
Kaysa hanya terbengong melihat pemuda itu berlarian menjauh darinya.
Kemudian bel berbunyi, Kaysa segera kembali ke dalam kelas.
"Dari mana kamu?" tanya Syadev jutek.
"Bukan urusanmu!" jawab Kaysa sama juteknya.
Syadev sebenarnya sudah tahu, tapi pura-pura cuek saja.
"Alah, pasti juga ditolak. Aku tidak sabar menanti Ketua OSIS itu dipermalukan lagi," batin Syadev.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Saat istirahat Darren seperti biasanya ke kelas si kembar untuk mengajak ke kantin. Tapi kali ini Darren sendirian membuat Kaysa heran.
"Di mana Zahra?" tanya Kaysa.
"Aku kira sudah ke sini duluan, karena aku menunggu lama di depan kelas tidak muncul-muncul," jawab Darren.
"Aku ke kelas Zahra dulu ya! Sebaiknya kalian ke kantin duluan dan pesankan kami makanan" perintah Kaysa seperti Bos.
__ADS_1
"Siap!" jawab Darren, sedangkan Syadev hanya acuh saja.
"Anggun, ayo ikut aku!" ucap Kaysa.
"Iya," jawab Anggun dengan senang hati.
Mereka berdua segera menuju kelasnya Zahra, tapi orang yang dicari tidak ada.
"Di tengah pelajaran Zahra mengeluh sakit, jadi sekarang dia sedang di UKS," ucap seseorang yang duduk di sebelah sepupunya Kaysa.
"Terima kasih," ucap Kaysa berlalu pergi diikuti Anggun.
Di ruang UKS, Zahra hanya seorang diri, perempuan itu sedang terisak menangis.
"Kamu kenapa? Apa ada yang melukaimu?" tanya Kaysa.
"Ceritalah, karena semua masalah bisa terselesaikan jika dihadapi bersama-sama," timpal Anggun.
"Kaysa, aku takut jika setelah ini kamu membenciku," jawab Zahra terisak.
"Kamu ini ngomong apa? Mana mungkin aku marah padamu. Aku janji deh," bujuk Kaysa.
Zahra mengatur napasnya dan menghapus air matanya.
"Sejak kecil aku menyukai Darren," ucap Zahra.
"Aku sudah tahu," jawab Kaysa santai.
"Tapi dia menyukaimu," balas Zahra.
"Itu tidak mungkin! Aku memang menyayanginya, tapi rasa sayang seperti aku menyayangi Syadev, tidak lebih! pekik Kaysa.
"Iya, aku mengerti. Tapi semalam Darren ke rumah aku. Dia bilang mau menyatakan cinta padamu saat pesta ulang tahunmu. Bahkan dia meminta saran kado apa yang sangat kamu inginkan," jawab Zahra lemas.
"Oh tidak, jangan sampai itu terjadi! Karena aku tak sanggup menolak dia secara langsung. Dan jika aku tolak aku tahu persahabatan antara aku dan dia akan rusak," kata Kaysa panik.
"Lalu bagaimana?" tanya Anggun ikutan khawatir.
Tapi Kaysa seperti kancil yang selalu punya banyak akal.
"Tenanglah! Aku punya ide. Dan aku pastikan setelah ini Darren akan berpaling padamu," ujar Kaysa riang.
Kaysa segera mengajak kedua sahabatnya menuju kelas sebelas.
Kakak kelas itu sudah tidak asing dengan Kaysa, karena saat di pesta Yuki pernah bertemu.
"Kamu cari siapa?" tanya Yuki ramah.
"Ketua OSIS," jawab Kaysa sopan.
Yuki sedikit tersentak, tapi Wakil Ketua OSIS itu tetap memanggil Gio.
"Kaysa?" ucap Gio tersenyum senang.
"Iya, aku tadi sudah pikirkan baik-baik. Aku akan menerima kamu tapi dengan satu syarat," ujar Kaysa.
"Apa?" tanya Gio yang sudah tidak sabar.
"Aku ingin melihat kesungguhanmu! Jika Kak Gio berani meminta maaf di hadapan semuanya maka aku akan mempercayai ketulusan Kak Gio," jawab Kaysa tegas.
Anggun dan Zahra ikut terkejut dengan ucapan Kaysa barusan. Terlebih lagi Yuki.
Mereka semakin syok saat Gio dengan jantannya memetik seikat Bunga Bougenville dan menyerahkan pada Kaysa sambil berlutut.
"Kaysa, maafkan aku yang pernah menyinggung perasaanmu! Tapi kini aku menyadari jika aku sudah menyukaimu sejak saat MOS. Hanya saja waktu itu keegoisanku memaksa aku tidak mengakuinya. Namun perasaanku padamu yang terlalu dalam sudah tidak bisa terbendung lagi. Kaysa, Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Terimalah bunga ini sebagai permintaan maaf ku," kata Gio lantang dan romantis.
Semua murid perempuan kelas sebelas menatap iri pada Kaysa.
Kaysa dengan penuh percaya diri mengambil bunga itu dan tersenyum puas.
"Terima kasih, Kaysa," ucap Gio riang.
"Berdirilah! Nanti aku dikira menindasmu," ucap Kaysa.
Dengan malu-malu Gio berdiri dan tersenyum bahagia.
Sedangkan Yuki berlalu pergi dengan penuh kebencian.
Kaysa tidak peduli dengan amarah Kakak kelasnya, yang dia pikirkan hanyalah bagaimana cara mencegah Darren menembaknya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Alarik yang yang sedang sibuk di kantor merasa hatinya tertusuk seribu jarum.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku sangat sakit saat teringat Kaysa. Apa dia dalam bahaya?"
batin Alarik sambil menelepon Kaysa.
"Tumben menelepon?" tanya Kaysa.
"Kamu baik-baik saja kan? Sekarang kamu sedang apa?" tanya Alarik cemas.
"Aku masih di sekolah, baru saja menerima cintanya Gio," curhat Kaysa riang.
"Apa?" pekik Alarik.
"Aku jadian dengan Gio, nanti malam aku ceritakan. Pasti Kakak ikut senang," ucap Kaysa bergembira.
Alarik seperti terkena seragam jantung. Sangat sakit, dan dadanya terasa sesak.
"Kak..." panggil Kaysa.
"Kak Al..." teriak Kaysa.
Bruakkkk....
Alarik melempar ponselnya dengan keras ke tembok.
"Tidak bisa dibiarkan, aku harus bertindak sebelum semuanya terlambat," batin Alarik segera meraih kunci mobil.
****Terima kasih bagi yang sudah Like dan Vote. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Bagi yang belum di mohon jangan lupa ya*🙏*
__ADS_1