CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 95


__ADS_3

Di dalam kamar Kaysa merasa gelisah sendiri, gara-gara tadi ketahuan habis keramas.


"Istriku, mari kita turun ke bawah! Sepertinya kita sudah dinanti," ajak Alarik.


"Gara-gara kamu sih, aku jadi mengalami hal yang memalukan seperti ini!" rengek Kaysa manja.


"Kita kan sudah menikah, hal seperti itu sangat wajar," balas Alarik menahan tawa.


"Kak Al tidak mengerti pikiranku sih," ujar Kaysa kesal.


"Kamu kan melakukannya bersamaku, tentu aku tahu. Ayo kita segera turun, nanti jika lama-lama di sini nanti dikira kita sedang ngapa-ngapain lagi," goda Alarik.


Dengan wajah yang merah padam Kaysa mengikuti suaminya turun ke tangga.


Kaysa merasa lega sebab kejadian yang tadi sudah tidak dibahas. Karena mereka sedang sibuk membully Syadev.


"Syadev, nyali kamu besar sekali. menikah tanpa meminta izin pada orang tua," kata Rendra.


"Tapi itu namanya keren, merebut pengantin wanita terus di bawa kawin lari," timpal Nayla.


"Meskipun Syadev sudah keterlaluan setidaknya aku lega karena kalian sudah menikah. Coba jika kabur dan hidup serumah tanpa ikatan pernikahan mungkin aku akan marah besar," sela Zhia.


Syadev hanya menundukan kepalanya, sebab baginya terlalu memalukan jika masalah tentang kawin lari diungkit terus.


"Syadev, ingat! Secepatnya kamu harus lulus," kata Syauqi mengingatkan.


"Iya, Ayah. Aku akan berusaha," jawab Syadev patuh.


"Syadev luar biasa, dengan otak jeniusnya pasti bisa segera lulus," puji Rendra yakin.


Syadev hanya tersenyum simpul.


"Sudah berapa bulan hamilnya?" tanya Zhia pada menantunya.


"Belum tahu, Bunda. Karena belum sempat cek di dokter," jawab Anggun sopan.


"Besok langsung cek ke dokter kandungan ya?" saran Zhia tidak bisa menahan rasa bahagianya.


"Iya, Bunda," jawab Anggun malu-malu.


"Besok biar aku yang antar," rengek Kaysa.


"Kamu hamil juga" tanya Syadev kaget.


"Tidak, aku hanya penasaran saja," jawab Kaysa memerah wajahnya.


Syadev yang sudah tidak memiliki kelemahan lagi kini mulai berani untuk menggoda saudara kembarnya.


"Kaysa, Anggun saja sudah hamil. Masa ku belum?" ejek Syadev.


"Lihat saja, nanti begitu hamil aku akan mengandung dua anak," jawab Kaysa ketus.


"Satu saja kamu belum tentu bisa merawat anak, bagaimana kalau dua? Wah, kasihan kakak ipar aku," goda Syadev melirik ke Kaysa yang sudah emosi.


"Siapa bilang? Aku selama ini sudah sekolah khusus merawat bayi," jawab Kaysa tak mau kalah.


Suaranya yang lantang dan jelas membuat semua orang tertawa.


"Kaysa, kamu serius?" tanya Zhia.


Kaysa ingin sekali memukul kepala Syadev, tapi karena mereka sudah sama-sama menikah dia mencoba menahan diri.


Sampai larut malam mereka saling mengobrol. Sedangkan Flora hanya diam saja, sesekali ikut tertawa jika ada cerita yang lucu.


Di sisi lain di kediaman Zahra sedang ada pertemuan dua keluarga. Mereka sedang menbahas mengenai pernikahan Zahra dan Darren.

__ADS_1


"Apa kalian sudah yakin mau menikah?" tanya Fauzi pada sepasang anak muda yang duduk bersebelahan.


Darren dan Zahra hanya mengangguk malu.


"Kalau begini kapan acaranya akan di laksanakan?" tanya Dony pada semuanya.


"Soal pernikahan bagaimana kalau sesegera mungkin," saran Elly yang takut akan kejadian buruk.


"Aku setuju, setelah menikah mereka bisa tinggal di rumah dekat kantor," jawab Elly.


"Rumah yang mana, Ma?" tanya Darren penasaran.


"Tidak jauh dari rumah Om Syauqi, Papa kamu sengaja membeli itu agar kelak kamu tidak jauh jika bekerja di perusahaan milik Om Syauqi," jawab Elly.


Darren terharu juga sebab orang tuanya selalu memikirkan kebahagiaannya.


"Terima kasih Ma, Pa," jawab Darren senang.


"Di samping rumah itu masih ada lahan kosong yang cukup luas, karena Zahra juga suka merancang baju bagaimana kalau bukak butik sendiri?" saran Nindya.


" Iya, jangan sia-siakan bakat kamu, Nak. Nanti setelah kuliah kamu masih punya kegiatan dan tidak jenuh," timpal Elly mendukung.


"Apa aku bisa ya?" tanya Zahra ragu.


"Pasti bisa, lihat Umi kamu yang hebat ini. Apalagi rancangan kamu juga bagus," puji Nindya.


"Baik, karena semua sudah sepakat mari kita tentukan tanggal pernikahannya," ucap Dony.


"Seminggu lagi bagaimana?" saran Fauzi.


"Siap," jawab Dony mantap.


"Untuk pesta pernikahan minta bantuan Kaysa saja, dia super canggih dan bisa cepat beres," saran Elly.


"Aku setuju, Kaysa memang berbakat kalau merancang tentang pesta pernikahan," timpal Nindya.


Para orang tua yang awalnya ragu-ragu kini justru yang paling semangat. Sedangkan Darren dan Zahra hanya bisa menyimak dan menerima keputusan orang tua mereka.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Alifya malam ini tidak bisa tidur, kejadian tadi siang di toilet terus terbayang dalam ingatannya. Gadis itu merasa malu sendiri, sebab orang yang membelikan kebutuhan pribadinya adalah seorang pemuda.


Namun, Alifya tidak pernah berpikir lebih. Sebab Bima berusia lebih muda darinya. Jadi dia hanya menganggap Bima seperti Syadev adiknya.


Tia yang merasa heran karena lampu kamar putrinya masih menyala menjadi penasaran. Karena jika tidur pasti lampu kamar Alifya selalu dimatikan.


"Kenapa belum tidur?" tanya Tia lembut.


"Lagi mau tidur ini, Bu," jawab Alifya kaget.


"Ya sudah, ibu matikan lampunya ya?" pamit Tia sambil memencet saklar lampu.


Setelah lampu padam sekalipun Alifya masih belum bisa tidur, rasa malu dalam dirinya tidak kunjung hilang.


Beberapa detik kemudian ada cahaya dari ponsel miliknya, dengan cepat Alfiya segera mengambil ponsel tersebut.


Rupanya barusan yang memanggil adalah nomor tidak dikenal. Alifya sama sekali tidak mau menanggapinya.


Alifya ingat jika besok ada tugas yang belum selesai, diapun memaksakan diri untuk tidur.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Di rumah Syauqi sedang ramai sarapan, apalagi di rumah itu kedatangan tamu dan anak-anak berkumpul semua.


"Anggun, apa kamu jadi ke dokter?" tanya Kaysa.

__ADS_1


"Iya, ada apa?" tanya Anggun.


"Aku ikut ya?" ucap Kaysa.


"Baiklah," jawab Anggun senang hati.


"Syadev, karena Anggun diantar Kaysa sebaiknya kamu dan Alarik ke kantor membantu Ayah ya?" pinta Syauqi.


"Iya, Ayah," jawab Syadev patuh.


"Apa di kantor sedang sibuk sekali sampai meminta bantuan mereka?" tanya Rendra.


"Dony izin cuti, seminggu lagi akan ada pernikahan antara Darren dan Zahra," jawab Syauqi.


"Wah, kedatanganku ke sini kali ini mendapatkan banyak kejutan," ujar Nayla.


"Oh iya, Kaysa. Tanteku meminta agar kamu yang mengatur soal pesta," sela Syauqi pada putrinya.


"Baik, tapi karena aku harus bolos kuliah lagi jadi aku harus mendapat bayaran dua kali lipat," gurau Kaysa.


"Kau ini perhitungan sekali! Anggap saja sebagai hadiah pernikahan," sergah Syadev.


"Iya-iya," jawab Kaysa tertawa.


Setelah sarapan, Zhia segera memanggil sopir keluarga. Sebab sebagian seorang ibu perempuan yang lemah lembut itu tidak tega membiarkan putrinya menyetir mobil sendiri.


"Kaysa, biar di antar sopir," perintah Zhia.


"Iya, Bunda," jawab Kaysa patuh.


"Kaysa, jaga Anggun ya!" pinta Syadev serius.


"Iya... Iya... Khawatir amat," balas Kaysa.


Kaysa segera mengajak adik iparnya menuju mobil.


Di dalam mobil Anggun merasa mual, istri Syadev tersebut tidak tahan dengan bau wangi yang mencolok dari parfum AC.


"Pak, matikan saja AC nya," pinta Kaysa.


"Iya, Nyonya," jawab pak sopir patuh.


"Anggun, bagaimana perasaanmu?" tanya Kaysa cemas.


"Sudah mendingan," jawab Anggun sambil menghirup aroma minyak kayu putih.


"Apa hamil itu rasanya tidak enak ya?" tanya Kaysa penasaran.


"Yah seperti ini, aku dikit-dikit mual. Setiap makan nasi malah muntah," jawab Anggun jujur.


"Pantesan, kamu hanya makan buah dan roti saja," balas Kaysa.


Sesampainya di rumah sakit antrian lumayan banyak, Kaysa segera mengambil nomor urut dan kembali duduk di kursi tunggu bersama Anggun.


"Kaysa, perutku sakit. Aku ingin ke toilet dulu ya? Kamu sebaiknya tunggu di sini," pinta Anggun.


"Iya," jawab Kaysa santai.


Hampir sepuluh menit Anggun belum muncul, sampai giliran suster memanggil nama Anggun.


Kaysa masuk berniat bilang jika adik iparnya masih di toilet. Namun Dokter tersebut justru langsung mengecek kondisi tubuh Kaysa.


"Bukan... Bukan saya yang hamil," ucap Kaysa gugup.


"Benarkah?," ujar Bu dokter tersenyum ramah.

__ADS_1


"Mana mungkin, saya tidak pusing tidak mual dan nafsu makan oke," jawab Kaysa terkejut.


"Sebaiknya melakukan pemeriksaan berlanjut saja, nanti bisa tahu hasilnya secara akurat," saran dokter.


__ADS_2