
Alarik memandang lekat ke wajah cantiknya Kaysa, mulai sekarang hubungan di antara mereka berdua bukan sekedar kakak adik, tapi lebih tepatnya adalah sepasang kekasih.
"Kaysa, kamu tidak usah memikirkan apapun. Kamu hanya perlu fokus belajar dan selalu riang seperti biasanya!" pinta Alarik lembut.
"Iya, Kak Al," jawab Kaysa patuh.
Senja mulai menghiasi lautan yang luas. Alarik segera mengajak seseorang yang dicintainya untuk pulang, karena pasti orang tua mereka sudah menunggu.
Di sepanjang perjalanan Kaysa masih menjadi gadis yang periang, banyak bicara dan konyol. Namun Alarik justru merasa puas dengan semua itu.
Di kediaman Syauqi semua orang masih menunggu kepulangan Alarik dan Kaysa. Syadev yang sudah diberi tahu terlebih dahulu oleh Bundanya merasa terkejut.
"Pantas saja Kak Al selama ini selalu membela Kaysa, itu karena diam-diam Kak Al mencintainya. Si bodoh itu, tidak kuduga banyak yang menyukainya," batin Syadev tersenyum geli.
"Apa yang lucu?" tanya Syauqi heran pada putranya.
"Tidak, aku hanya penasaran. Apakah si bodoh itu juga menyukai Kak Al atau tidak. Aku takut jika setelah ini hubungan mereka jadi tidak baik," jawab Syadev.
Tiba-tiab suara deru mobil berhenti di pekarangan, tak lama kemudian muncul Alarik dan Kaysa dengan wajah yang malu-malu bersemu merah.
"Assalamualaikum," ucap Alarik dan Kaysa.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang menunggu di ruang tamu.
"Ayah, Bunda. Terima kasih atas do'a restu kalian. Dan aku akan menepati janji, setelah ini aku akan kembali ke kota asalku dan tidak akan menemui Kaysa sampai dia lulus sekolah," ucap Alarik sopan.
"Iya, Nak. Bunda juga senang jika Kaysa ternyata memiliki perasaan yang sama. Karena Bunda yakin hanya kamulah yang bisa menghadapi Kaysa," jawab Zhia tersenyum.
"Apa maksud Bunda?" tanya Kaysa curiga.
"Maksud Bunda, hanya Kak Al saja yang bisa membuat putriku tercinta ini bahagia," sela Syauqi sambil merangkul Kaysa dan mencium kepalanya.
"Oh..." Kaysa hanya manggut-manggut.
"Kak Al, apa Kakak sudah yakin dengan keputusan ini? Kak Al tidak takut jika kehidupanmu berubah sial?" goda Syadev menyeringai.
"Syadev! Kamu bosan hidup ya?" teriak Kaysa.
"Tuh! Baru aku bilang," sindir Syadev tertawa ngakak.
Kaysa merengut dan melengos dari pandangan saudara kembarnya.
"Sudah! Kalian sekarang bukan anak kecil lagi, janganlah bertengkar!" bujuk Alarik.
Syadev dan Kaysa hanya cengengesan saja.
"Ayo kita sholat Maghrib berjamaah dulu, setelah itu kita makan malam," ucap Zhia yang sudah terbiasa dengan pertengkaran itu.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Alarik menepati janjinya, setelah makan malam pemuda itu berpamitan untuk kembali ke kota asalnya.
"Kenapa tidak berangkat besok pagi saja?" ucap Zhia cemas.
"Iya, Al. Sekarang kalau kamu berangkat, nanti sampai sana sudah larut malam," timpal Syauqi yang juga ikut cemas.
Kaysa sebenarnya merasa tidak ikhlas, akan tetapi bibirnya terkunci karena takut dianggap seperti anak kecil lagi yang suka merengek.
Sedangkan Syadev langsung memeluk Alarik dengan erat.
"Sampai Kapanpun Kak Al tetap akan menjadi Kakakku," ucap Syadev dewasa.
"Iya, terima kasih. Jaga selalu Kaysa ya?"jawab Alarik sambil menepuk punggung adik angkatnya itu.
Alarik memeluk Flora kecil kemudian beralih pada Ayah dan Bundanya. Namun saat di depan Kaysa, Alarik malah menjitak kepala gadis cantik itu.
Takk...
"Jangan nakal! Fokuslah belajar dan jaga kesehatanmu," ucap Alarik lembut.
Kaysa hanya meringis sambil memegangi kepalanya yang lumayan sakit.
__ADS_1
Sebenarnya Alarik ingin memeluk Kaysa seperti dulu, tapi sekarang keadaan sudah berbeda. Pemuda itu tidak bisa lagi bertingkah sembarangan apalagi di depan orang tuanya.
Alarik juga merasa lega karena Kaysa bisa menahan diri.
"Assalamu'alaikum," ucap Alarik.
"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya secara bersamaan.
Alarik masuk ke mobil dan menatap wajah Kaysa yang sayu lewat spion mobil. Kali ini meskipun terpisah dari keluarganya untuk waktu yang cukup lama, Alarik tidak merasa berat seperti dahulu. Karena semua ini juga merupakan salah satu langkah untuk bisa hidup bersama Kaysa selamanya.
"Kaysa, Ayah dan Bunda mau mengobrol. Tapi di taman saja ya?" ucap Syauqi lembut.
"Iya, Bunda," jawab Kaysa patuh.
"Aku ikut," rengek Flora.
Namun dengan sigap Syadev merangkul adik kecilnya dan menarik ke dalam rumah.
"Flora lebih baik belajar saja! Ayo Kak Syadev temani," bujuk Syadev sudah tahu apa yang akan dibicarakan kedua orang tuanya pada Kaysa.
"Iya, Kak," jawab Flora menurut.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di taman Kaysa dan Bundanya duduk di ayunan. Sedangkan Syauqi duduk di bangku.
Malam yang cerah membuat bintang-bintang terlihat bersinar dengan terang. Syauqi dan Zhia yang sudah hidup bersama selama bertahun-tahun itu tidak menyangka jika anak-anak mereka sudah besar.
"Kaysa, apa kamu yakin dengan perasaanmu sendiri?" tanya Zhia memulai percakapan.
"Kaysa tida tahu arti cinta, Bunda, Ayah. Yang Kaysa tahu hanyalah Kaysa ingin selalu bersama Kak Al dan perasaan itu berbeda dengan rasa sayang terhadap Syadev dan Darren. Hanya saja dulu aku mengira jika Kak Al menyukai Kak Orlin, jadi Kaysa berusaha untuk tidak berharap lebih," jawab Kaysa jujur.
Syauqi dan Zhia hanya tersenyum, mereka tidak mengira jika bayi kecilnya dulu sekarang sudah mulai bisa bersikap dewasa.
Tiba-tiba ponsel Kaysa berdering, matanya langsung terbelalak melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya.
"Kak Gio, ya ampun. Bagaimana ini? Masa iya satu baru satu hari jadian sudah aku putuskan. Apakah aku bisa sekejam itu?" batin Kaysa bimbang.
Kaysa segera mengangkatnya.
"Ada apa Kaysa? Kenapa kamu samoi berbohong?" tanya Zhia heran.
"Dan siapa yang barusan menelepon?" timpal Syauqi penasaran.
Kaysa menunduk menatap kakinya yang terayun pelan, dia sendiri bingung harus bagaimana.
"Kaysa, ceritakanlah pada Ayah dan Bunda. Jangan kamu simpan semua masalah itu sendirian," bujuk Kaysa lagi.
Dengan sedikit gugup dan takut Kaysa mengangkat wajahnya dan menatap kedua orang tuanya dengan wajah memelas.
"Kata Zahra Darren berniat menyatakan cinta saat acara ulang tahunku. Tapi aku takut jika setelah aku menolaknya hubungan kami akan renggang. Apalagi Zahra juga menyukainya sejak kecil, jadi kemarin terpaksa aku menerima cintanya Kak Gio," ucap Kaysa yang ketakutan jika kedua orang tuanya itu marah.
Syauqi dan Zhia yang pernah merasakan jadi anak remaja tahu jika perasaan cinta itu sudah fitrah, karena setiap insan memiliki hati nurani untuk merasakan cinta, benci dan simpati.
Dengan senyuman hangat Zhia membelai kepala putrinya.
"Putriku sayang, karena kamu sudah memantapkan hati pada Kak Al, sebaiknya kamu besok meminta maaf pada Gio dan ceritakan yang sejujurnya. Kerena itulah yang terbaik, dari pada kamu memberi harapan palsu. Kasihan Kak Al juga," tutur Zhia lembut.
Kaysa hanya mengangguk pelan. Dia sendiri juga sudah yakin jika pilihannya adalah Alarik.
"Mari masuk! Di luar sudah semakin dingin. Ayah takut jika kedua bidadariku nanti sakit " ucap Syauqi.
Zhia segera menggandeng lengan putrinya masuk ke rumah.
Syauqi yang berjalan di belakang hanya tersenyum sendiri melihat istri dan anaknya yang seperti saudara kembar, hanya saja Kaysa memiliki perawakan yang tinggi semampai melebihi bundanya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di dalam kamar Kaysa merasa resah karena belum mendapatkan kabar dari Alarik.
"Biasanya hanya butuh waktu tiga jam. Tapi ini sudah hampir empat jam kenapa Kak Al belum memberi kabar, apa aku hubungi duluan ya?"
__ADS_1
Kaysa segera mengetik pesan dan mengirimkannya.
Kaysa
Kak Al sudah sampai?
Alarik
Sudah dari tadi, sayang.
Bibir Kaysa langsung gatal ingin marah-marah, tangannya segera memencet panggilan video call.
Kemudian muncul wajah gantengnya Alarik dengan tersenyum sumringah.
"Assalamu'alaikum" ucap Alarik lembut.
"Wa'alaikumsalam," jawab Kaysa cemberut.
"Kenapa ngambek?" tanya Alarik heran.
"Dari tadi aku tidak bisa tidur karena menunggu kabar dari Kak Al," rengek Kaysa kesal.
"Maaf, tadi Kak Al langsung menyelesaikan pekerjaan yang tadi siang kutinggalkan," bujuk Alarik manis.
"Aku mau kompensasi," pinta Kaysa manja.
"Apa? Skincare lagi?" goda Alarik.
"Tidak, itu masih banyak. Aku ingin saat ulang tahunku Kak Al datang ke sini," pinta Kaysa dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.
"Kalau itu Kak Al minta maaf. Tidak mungkin Kak Al mengingkari janji sendiri," jawab Alarik ikutan sedih.
"Tapi tetap memberi kado kan?" tanya Zhia.
Alarik menjadi tertawa karena tingkah lucu Kaysa yang menggemaskan.
"Tentu saja, nanti Kak Al kasih hadiah spesial," jawab Alarik meyakinkan.
"Ya sudah, sekarang Kak Al istirahat dulu, kerjanya bisa dilanjutkan besok lagi! Awas ya, kalau Kak Al masih berani lembur Kaysa mau marah dan tidak mengangkat telepon dari Kak Al selama sebulan," ancam Kaysa.
"Iya, Sayangku yang cantik ini juga segera tidur ya? Katanya kalau banyak begadang tidak baik untuk kesehatan kulit," goda Alarik.
"Pokoknya nanti kalau Skincare yang kemarin habis dibelikan lagi ya? Aku suka sekali, karena wajahku menjadi lebih bagus," ucap Kaysa memuji diri sendiri.
Alarik tertawa lagi, karena Kaysa yang narsis terlihat menarik.
"Iya, Kak Al sudah pernah bilang kan? Apapun yang Kaysa minta selagi Kak Al mampu pasti Kak Al turuti. Jangan lupa Do'akan Kak Al semoga sukses dan bisa membahagiakanmu," kata Alarik lembut.
"Assalamu'alaikum," ucap Kaysa langsung mematikan ponselnya karena merasa malu.
Kaysa merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Perasaannya sangat bahagia.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Alarik hanya tertawa, karena dia tahu jika Kaysa itu malu.
"Untunglah, Kaysa masih bersikap seperti biasanya. Aku sempat takut jika dia menjadi canggung bahkan menghindar dariku."
Alarik yang tadinya berniat begadang sampai pagi jadi membatalkannya, karena meskipun Kaysa tidak melihat tapi dia akan selalu memegang janjinya.
Alarik kembali ke hotel yang tidak jauh dari kantornya.
Setelah itu Alarik tiduran sambil membayangkan Kaysa yang tadi sore menciumnya secara tiba-tiba.
"Gadis itu, nakal sekali. Tidak tahukah perbuatannya itu bisa membangkitkan nafsuku. Untung saja aku masih bisa mengontrol diriku sendiri. Kaysa... Kenapa bayanganmu selalu menghantuiku. Semoga waktu cepat berlalu, aku sudah tidak untuk berjumpa lagi denganmu."
Alarik saat ini hanya bisa memeluk bantal guling saja, tapi tiba-tiba dia teringat dengan Gio yang statusnya adalah pacar Kaysa.
"Aku yakin, Kaysa pasti punya seribu cara untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku harus belajar mempercayainya."
**Terima kasih yang sudah Like dan Vote, Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Bagi yang belum jangan lupa ya🙏
Oh iyya, menurut para readers Kaysa nantinya tega mutusin Gio apa tidak? Di komen yaa👍**