
Kaysa dan Alarik baru saja menikmati makan malam yang romantis di sebuah restoran mewah di hotel tempat mereka menginap. Mereka merasa lelah karena habis belanja barang-barang keperluan Kaysa.
Alarik kali ini benar-benar memanjakan istrinya, apapun yang di inginkan Kaysa pasti langsung diiyakan.
Di saat Kaysa tengah asyik menikmati makanannya, tiba-tiba ponselnya bergetar dan ada satu pesan dari Ayahnya.
"Dari siapa?" tanya Alarik curiga.
"Dari kekasihku," jawab Kaysa santai.
"Aku hukum lagi setelah ini!" ancam Alarik.
"Dari Ayah, barusan mengirim alamat rumah baru Syadev. Tapi aku capek sekali, sebaiknya kita ke sana besok pagi saja ya? Kita buat kejutan," timpal Kaysa merasa merinding.
"Iya," menahan tawa.
Setelah selesai makan mereka menuju ke kamar hotel lagi.
“Kak Al, kenapa tiba-tiba aku teringat dengan Kak Orlin ya? Selama ini dia sangat baik padaku. Aku merasa kejam karena sudah membuat dia terluka,” ucap Kaysa merasa bersalah.
“Apa kamu meminta aku untuk menjadikan Orlin sebagai istri keduaku?” goda Alarik.
“Minta dipukul ya!” teriak Kaysa sambil melayangkan sebuah bantal yang mengenai punggung suaminya.
“Maaf... Maaf, suamimu yang tampan ini cuma bercanda kok,” balas Alarik tertawa lebar.
“Bilang saja mengharap,” sindir Kaysa kesal.
Alarik semakin gemas, sebab jika istrinya marah bibirnya langsung manyun.
“Mana mungkin, selama ini aku tidak pernah pacaran karena aku mencintaimu dari kamu masih ingusan,” kata Alarik serius.
“Apa karena tidak ada perempuan secantik aku?” tanya Kaysa berubah cerah.
Alarik tertawa, karena istrinya itu sering mengalami perubahan suasana dalam waktu yang singkat.
“Tidak juga, dulu di Universitas aku termasuk lelaki idola. Dan saat itu banyak gadis-gadis cantik yang mengejar-ngejar aku,” jawab Alarik santai.
“Lalu? Apa alasannya?” tanya Kaysa sangat penasaran.
“Mungkin karena kamu gadis kecil yang nakal,” jawab Kaysa sambil mencubit kedua pipi istrinya dalam waktu yang bersamaan.
“Hentikan!” teriak Kaysa karena kesal.
Alarik tertawa menghadapi tingkah Kaysa yang kadang seperti anak kecil, kadang juga bisa menjadi wanita Anggun yang dewasa. Alarik sendiri tidak tahu apa alasannya, tapi hatinya hanya ada nama Kaysa seorang.
Kaysa ngambek, dia tiduran sambil membelakangi suaminya. Namun Alarik tidak kehabisan akal, pemuda itu justru menggunakan kesempatan itu untuk memeluk istrinya.
“Kira-kira anak kita lagi apa ya?” bisik Alarik mengelus perut Kaysa.
Kaysa kesal tapi tidak bisa menahan tawanya. Dia langsung bangun dan memukul bahu suaminya lumayan keras.
“Konyol! Anak kucing? Lagi pula mana mungkin aku hamil kalau tiap berhubungan selalu dikeluarkan di luar,” kata Kaysa.
“Apa malam ini mau dikeluarkan di dalam?” goda Alarik tersenyum nakal.
“Aku lelah, aku mau tidur,” jawab Kaysa kembali berbaring.
Alarik hanya tersenyum saja, kemudian pemuda itu juga ikut memejamkan matanya sambil memeluk Kaysa lagi.
Kali ini Kaysa membalikkan badannya dan menempelkan wajahnya di dada Alarik seperti anak kucing.
Alarik bahagia sekali, pemuda itu berpikir seandainya kedua orang tuanya masih hidup pasti akan senang memiliki menantu seperti Kaysa yang ceria dan murah hati.
"Aku harus sabar membimbing Kaysa secara perlahan, agar nanti bisa siap melahirkan banyak anak untukku."
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di malam hari Syadev tengah membantu istrinya menjemur pakaian. Anggun baru sempat mencuci baju karena mereka tadi pulang kuliah sore.
Sedangkan Darren hanya duduk di samping mesin cuci sambil melihat dua sejoli yang terlihat mesra.
Sampai mesin cucinya sudah off dari tapi Darren tidak menyadarinya.
"Darren, kami masuk ke dalam dulu ya," pamit Anggun tersenyum manis.
Sedangkan Syadev menatap dengan pandangan mengejek seolah sedang pamer.
Darren terkejut, pemuda itu merasa kesal karena ditinggal seorang diri.
__ADS_1
"Sekarang Syadev sama menyebalkannya dengan Kaysa. Tukan pamer," batin Darren.
Darren pun buru-buru mengambil pakaiannya di mesin dan segera menjemurnya karena sudah merasa merinding karena takut.
Sepuluh menit kemudian Darren kembali masuk ke rumah, dan ternyata kedua temannya itu sudah di dalam kamar.
"Dasar Kucing! Katanya tidak ingin menyentuh Anggun tapi nyatanya diembat juga."
Darren langsung masuk ke kamarnya sendiri dan menghubungi kekasihnya, tapi tidak di angkat.
Perbedaan waktu memang sudah untuk Darren dan Zahra, sebab di saat Darren longgar justru Zahra sesak sibuk. Begitu juga sebaliknya.
"Punya pacar tapi rasanya jomblo!" batin Darren memilih tiduran sambil main game.
Sedangkan Syadev dan Anggun sedang belajar bersama, sebab bahasa Inggris Anggun masih kurang lancar. Sedangkan Syadev yang jenius sudah sangat ahli.
Anggun baru tahu, jika Syadev juga menguasai sekitar enam bahasa dari negara lain.
"Syadev, kamu hebat. Bisa banyak bahasa," puji Anggun.
"Karena sejak kecil Ayah sudah memasukkan aku ke sekolah les khusus bahasa asing. Kata Ayah itu sangat penting sebagai pemimpin perusahaan keluarga Malik," jawab Syadev santai.
"Berarti Kaysa juga sama ya?" tanya Anggun penasaran.
"Iya, tapi dia hanya bertahan beberapa bulan saja. Selanjutnya dia memilih les soal kecantikan," jawab Syadev.
"Pantas saja Kaysa jago sekali dandannya," timpal Anggun menyadari sesuatu.
"Sebenarnya dia punya keinginan menjadi model, tapi Ayah dan Bunda melarang. Jadi les kecantikan hanya bisa dijadikan sebagai hobi saja," kata Syadev merasa kasihan.
"Koleksi make up Kaysa memang menyaingi artis papan atas," ucap Anggun.
"Apa kamu mau juga?" tanya Syadev.
"Tidak, aku suka yang natural saja," jawab Anggun cepat.
"Aku juga lebih suka yang seperti ini," ucap Syadev sambil mencium bibir Anggun.
Anggun kaget mendapat serangan secara tiba-tiba. Namun gadis itu juga tidak ebrani menolak.
"Ahh, sayang sekali istriku masih datang bulan." batin Syadev menahan gelora asmaranya.
"Iya," jawab Anggun patuh.
Syadev hanya tersenyum melihat istrinya yang malu-malu itu.
Mereka berdua terus belajar sampai larut malam, Syadev sendiri juga membaca tentang perusahaan yang besok sudah menjadi tempat bekerjanya.
Tadi siang Syadev diinterview, dari sekian banyak pelamar dia langsung lolos begitu saja.
"Apa kamu bisa membagi waktu antara kerja dan kuliah?" yang anggun cemas.
"Tenang saja, aku pasti bisa. Yang penting sekarang kamu fokus belajar, selebihnya nanti biar aku yang memikirkan," jawab Syadev santai.
Anggun terpana, sebab semakin hari suaminya itu semakin bertambah dewasa. Pola pikirannya juga berbeda jauh dengan pemuda seumurannya.
Anggun bersyukur sekali, tiada rasa sesal dihatinya menikah di usia muda ini.
Mereka mulai belajar lagi sampai larut malam, bahkan Anggun tertidur di kursi sambil menyandarkan kepalanya di meja.
Syadev hanya tersenyum geli, dia segera mengangkat tubuh istrinya ke ranjang dan menyelimutinya.
Syadev menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Aku akan selalu berusaha untuk membuat kamu bahagia, istriku."
Syadev mencium kening Anggun kemudian ikut berbaring di sisinya.
Syadev juga merasa mengatuk dan lelah, tapi rasa semangat di jiwanya tetap berkobar untuk menyambut pagi nanti.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Pagi harinya Kaysa dan Alarik sudah dalam perjalanan menuju alamat yang diberikan Ayah mereka.
Mereka berdua sengaja berangkat sebelum sholat subuh karena takut jika nanti sampai di sana Syadev dan Darren sudah pergi ke Universitas.
"Teman Ayah baik banget ya? Tanpa rasa takut meminjamkan mobil ini pada kita,: ucap Kaysa riang.
"Tentu saja," jawab Alarik tertawa.
__ADS_1
"Lebih cepetan dong! Biar kita cepat sampai," kata Kaysa bersemangat.
Alarik melajutan mobil itu dengan kecepatan yang tinggi sesuai kemauan istrinya.
"Lagi... lagi," teriak Kayusa kegirangan.
Alarik menambah kecepatan lagi tanpa rasa takut, sebab jalanan masih sepi.
Sampai di tempat tujuan langit masih gelap, Alarik segera mengajak istrinya untuk mendekati rumah mini yang unik dan menarik.
"Ini sih gaya Syadev banget," ujar Kaysa.
"Ayo pencet bel nya!" perintah Alarik yang berdiri di belakang istrinya.
Kaysa segera melakukannya, tapi karena tidak ada yang membuka pintu, Kaysa terus memencet bel tersebut sampai membuat kuping Alarik gatal.
Syadev dan Anggun yang semalaman begadang sama sekali tidak mendengar suara bel, sedangkan Darren yang kamarnya berada di dekat ruang tamu mendengar dengan jelas dan tidurnya terusik.
Dalam setengah sadar Darren bangun dan segera membuka pintu.
"Darren," teriak Kaysa heboh.
"Kaysa?" pekik Darren seolah tak percaya jika cinta pertamanya ada di depan mata.
"Di mana kamar Syadev?" tanya Kaysa.
Namun belum sempat menjawab Kaysa lengsung saja menerobos masuk dan membuka pintu yang kamar yang terdekat.
"Ini kamer Darren, berantakan!" kata Kaysa berlalu ke pintu yang lainnya.
Saat membuka pintu kedua, matanya langsung melotot dan suara menjeritnya sangat keras sekali.
"Ahhhh..... "
Syadev dan Anggun terbangun bersama, padahal pakaian mereka masih komplit, tapi keduanya merasa ditelanjangi tanpa sehelai benang menahan malu.
Alarik dan Darren yang mendengar teriakan KaysA langsung berlari menuju kamar Syadev.
"Syasev... Anggun... Apa yang kalian lakukan?" tanya Alarik tak kalah terkejutnya.
"Dengarkan dulu! Aku bisa menjelaskannya," jawab Syadev menenangkan saudaranya itu.
"Satu menit," teriak Kaysa.
"Kita sudah menikah!" teriak Syadev panik.
"Apa?" pekik Kaysa dan Alarik bersamaan.
"Iya, ayo duduk dulu di luar! Aku akan menjelaskannya," ucap Syadev.
"Tidak perlu! Sejak kecil aku selalu berbagi semuanya kepadamu, tapi ternyata kamu tidak pernah menganggap aku. Dan Kamu, Anggun! Kamu ini sahabatku, tapi kenapa kamu juga tidak jujur padaku," bentak Kaysa menangis.
"Anggun sama sekali tidak bersalah! Biar aku jelaskan dulu," sela Syadev.
Namun Kaysa tidak mau mendengarkan, dia langsung menarik lengan Alarik keluar dari kamar.
Syadev segera mengejar dan menghadang kedua saudaranya. Namun Kaysa berbalik arah menuju kamar Anggun yang berada di samping kamar Syadev sambil menarik tangan Alarik. Alarik hanya pasrah saja mengikuti kemauan istrinya.
Kaysa langsung mengunci pintu kamar dan segera merubuhkan dirinya di ranjang sambil tertawa.
Alarik melihat istrinya itu merasa kesal.
"Kamu ini!" cibir Alarik.
"Diam, sebaiknya kita tiduran sambil mendengarkan Syadev," ajak Kaysa.
Syadev yang tidak di beri kesempatan untuk menjelaskan tetap mencoba membujuk, pemuda itu mengatakan dari awal sampai akhir, juga alasan-alasan kenapa menyembunyikan tentang pernikahan itu.
Anggun juga ikut menjelaskan.
"Aku mau tidur! Sebaiknya kalian jangan mengganggu aku," terima Kaysa pura-pura marah. Padahal hatinya senang sekali mengetahui hubungan saudara kembarnya dengan Anggun.
Setelah itu tidak terdengar lagi suara di luar pintu.
"Ayo kita tidur, setengah jam lagi sholat subuh," ajak Kaysa yangmemang masih mengantuk.
Alarik sama sekali tidak ingin menanyakan tentang selebihnya, pemuda itu tahu jika di otak Kaysa penuh rencana kotor untuk mengerjai saudara kembarnya.
Alarikpun ikut tiduran juga di kamar Anggun.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote Ya🙏