
Karena suaminya melarang Anggun untuk memasak jadi dia hanya menunggu di rumah sambil mainan ponsel. Kadang agar tidak bosan dia menelepon Kaysa ataupun Zahra.
Tak lama kemudian suami tercintanya datang sambil membawa makanan yang dibeli sepulang kuliah.
"Wah… Cerah sekali wajahmu, sampai lupa mengucapkan salam," tegur Anggun.
"Assalamu'alaikum," salam Syadev merasa malu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anggun sambil meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangan milik Syadev.
Syadev bahagia sekali memiliki istri seperti Anggun, ternyata pilihannya itu memang tidak salah.
"Ayo mandi dan sholat ashar dulu. Aku akan menyiapkan makanan ini di meja ya?" kata Anggun dengan nada yang mesra.
"Iya, sayang," jawab Syadev tak kalah mesranya.
Setelah Syadev selesai mandi dan sholat dia segera mendekati istrinya yang dengan setia masih menunggu.
"Ayo kita makan, istriku," ajak Syadev lembut.
Anggun dengan telaten melayani suaminya, saat dirinya meletakkan nasi di atas piring tiba - tiba suaminya mencuri ciuman di pipinya.
"Ih… Bikin kaget," pekik Anggun.
"Habisnya istriku ini semakin hari semakin cantik saja," balas Syadev tertawa.
"Gendut gini dibilang cantik," sergah Anggun tak percaya.
"Memang begitu kenyataanya kok, istriku ini memang semakin cantik," puji Syadev tulus.
"Ayo makan, kalau hanya melihat kecantikanku saja kamu tidak akan kenyang," sela Anggun.
Syadev mulai memimpin do'a dan makan dengan lahab.
Setelah makan Syadev yang mencuci piring, sedangkan Anggun sedang duduk di ruang santai sambil menonton Televisi.
Tak berapa lama Syadev sudah selesai dan bergegas menghampiri istrinya, dia tidak sabar bermain dengan anaknya yang belum lahir. Sebab jika perut istrinya disentuh pasti bayinya itu akan memberi respon dengan menendang - nendang.
Kalau sudah begitu Syadev akan girang sekali, dia bisa berlama - lama seperti itu. Terkadang Anggun harus merasa geli karena suaminya itu tidak mau berhenti mengelus - elus perutnya.
"Oh iya, aku hampir lupa. Bulan depan aku akan mengikuti perlombaan, doakan ya semoga aku bisa menang," ucap Syadev.
"Iya, suamiku. Doaku selalu untukmu. Bulan depan tanggal berapa?" tanya Anggun tak bisa menyembunyikan rasa bangganya memiliki suami yang hebat.
"Sekitar tanggal 15, nanti akan masuk Televisi kok. Jadi kamu bisa menonton," jawab Syadev.
"Wah… Berarti sebelum kelahiran anak kita ya? Soalnya perkiraan hari lahir tanggal 17," balas Anggun.
"Mari kita berjuang bersama ya?" ucap Syadev lembut.
Anggun memeluk suaminya dengan segenap kasih sayang, di dunia ini hanya Syadev lah rumahnya untuk berlindung dan berteduh.
Syadev kembali mengelus perut Anggun, tak lupa juga dia sholawat, mengajak melantunkan ayat suci Al- qur'an, dan terkadang juga mengobrol.
Anggun tak bisa berhenti tertawa melihat tingkah suaminya yang lucu itu.
Alangkah bahagianya jika anak mereka lahir nanti, pasti hari - hari akan terasa lebih berwarna.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Reki dan Orlin sudah resmi menjadi pasangan suami istri sejak beberapa hari yang lalu, kini mereka sedang bulan madu mengelilingi berbagai negara sesuai keinginan Orlin. Meskipun begitu mereka sama sekali belum melakukan malam pertama karena saat ijab kabul Orlin dalam keadaan menstruasi.
Sekarang mereka di posisi negara Korea, Orlin yang menyukai drama dari negara tersebut merasa penasaran dan ingin melihat secara langsung.
__ADS_1
Kebetulan juga di negara Korea tengah musim salju, sehingga udara terasa begitu dingin sampai menusuk tulang.
Sore ini Orlin sudah berhenti menstruasinya, dia juga sudah keramas. Tiba - tiba saja dia menjadi malu dan gugup jika nanti suaminya akan meminta haknya.
"Istriku, sore ini kita jalan - jalan ke taman sekitar yuk?" ajak Reki langsung melingkarkan tangannya ke perut Orlin.
Reki yang memang sudah berpengalaman dalam bercinta bisa dengan mudah merayu seorang gadis dan melakukan tindakan nakal. Akan tetapi Orlin yang memang belum pernah pacaran masih merasa kaku, malu - malu dan gugup. Akan tetapi itulah yang membuat Reki semakin tertarik dan ingin lebih agresif mengerjai istrinya.
"Dingin, aku malas sekali keluar ," jawab Orlin.
"Kalau begitu ke kamar saja yuk? Kita olah raga biar bisa hangat," balas Reki sambil menggigit kuping istrinya.
Seketika Orlin terperanjat kaget dan tubuhnya mendadak merinding.
"Ahh… Aku ingin makan ramyeon! Aku ambil jilbab dulu," pekik Orlin langsung melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Reki tertawa melihat istrinya yang salah tingkah itu.
"Nanti malam, awas saja. Akan aku buat kamu sampai tidak sanggup menatap mataku," batin Reki.
Tak lama setelah itu Orlin sudah keluar rapi dengan jilbab dan jaket tebal. Tak lupa juga dia memakaikan jaket untuk suaminya.
Saat Orlin memasukkan kancing di depannya, Reki tak tahan juga menatap bibir menggoda milik istrinya. Dalam sekejap Reki langsung melahap bibir sexi tersebut penuh gairah. Kedua tangannya yang berotot juga mendekap erat tubuh Orlin yang mematung tak bisa bergerak.
"Tunggu…" pekik Orlin yang kehabisan napas.
"Ada apa? Bukankah kamu sudah selesai menstruasinya? Sekarang sudah waktunya bagi kita untuk menikmati malam pertama yang sempat tertunda," goda Reki.
"Aku… Aku…" Orlin menundukkan kepalanya karena malu, dia tak menyangka jika suaminya sudah tahu mengenai ini.
Reki yang tahu istrinya masih belum siap langsung menggandeng istrinya ke luar rumah.
Orlin senyum - senyum sendiri karena berhasil mengelabui suaminya. Akan tetapi melihat wajah curang istrinya Reki langsung mendekatkan bibirnya tepat di depan hidungnya.
Jantung Orlin seakan berhenti berdetak, dadanya berdebar - sebar tak karuan.
Reki tertawa puas melihat reaksi Orlin yang seperti itu.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alifya enam bulan lagi akan wisuda, sedangkan Bima masih berada di luar negeri karena mengurus segalanya agar nanti setelah pernikahan dia bisa menetap di Indonesia bersama sang Istri.
Mengenai sekolah sendiri Bima harus bolak - balik pindah, dan dia berniat segera menyelesaikan di luar negeri dalam waktu yang singkat agar nanti bisa lulus bersama Alifya.
Semenjak itu pula Bima sudah jarang menghubungi Alifya, waktunya hanya dihabiskan untuk mengerjakan tugas sekolah.
Sampai larut malam Alifya masih belum bisa tidur, dia bertanya - tanya dalam hati apakah Bima sudah melupakannya?
"Kenapa dia tak pernah lagi menghubungi aku? Dulu awal dia keluar negeri tak pernah lupa mengabari aku, dan sesibuk apapun dia juga akan mengirim pesan padaku," batin Alifya yang tersiksa oleh kerinduan.
Alifya merasa gelisah, dalam hatinya takut jika ternyata di luar sana calon suaminya itu sudah terpikat oleh wanita yang lebih cantik.
"Apa dia sudah bosan padaku?" batin Alifya semakin sendiri.
Ini untuk pertama kalinya keponakan Zhia itu jatuh cinta. Karena selama ini pemuda yang berani menantang bapaknya hanya Bima seorang. Selebihnya hanya berani nyatakan cinta di luar sepengetahuan bapaknya.
Alifya merasa jika menjadi seorang wanita dirinya bisa dikatakan kampungan, dia tidak menarik dan berpakaian yang biasa - biasa saja. Sedangkan Bima selalu rapi dengan gaya trendy. Jika berjajar terkadang Alifya merasa tidak pantas. Terlebih lagi isinya yang jauh lebih tua dua tahun, dia takut jika ternyata Bima bertemu dengan gadis muda yang cantik - cantik.
Akhirnya karena tak mampu membendung rasa rindu Alifya memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Bima.
Alifya
Sudah tidurkah?
__ADS_1
Beberapa detik kemudian panggilan dari Bima masuk, Alifya segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum," salam Bima dari seberang.
"Wa'alaikumsalam, apa aku mengganggu?" balas Alifya ragu - ragu.
"Tidak, kenapa kamu belum tidur? Di sana pasti sudah larut malam?" tanya Bima.
"Aku belum bisa tidur," jawab Alifya bimbang.
Dalam hatinya sebenarnya ingin bertanya kenapa Bima tak pernah menghubunginya lagi? Atau apakah kamu di sana sudah mendapatkan pengganti yang baru?
Tapi tenggorokan Alifya tercekat dan mulutnya terkunci. Dia terlalu malu untuk menanyakan hal seperti itu.
"Kalau begitu tidurlah, jaga kesehatanmu baik - baik," kata Bima lembut.
Alifya tak mampu membendung air matanya, dia merasa sakit mengira jika Bima sudah tidak tertarik lagi padanya. Karena biasanya justru Bima yang ingin berlama - lama mengobrol dengannya lewat telepon.
"Hey… Apa kamu menangis?" tanya Bima cemas.
Alifya tidak menjawab, tapi dia masih sesenggukan karena malu bercampur gundah.
"Siapa yang membuatmu bersedih? Coba katakan?" bujuk Bima.
Karena tidak ingin tersiksa oleh pikirannya sendiri akhirnya Alifya memberanikan diri untuk menanyakan apa yang mengganggu pikirannya.
"Bima, apakah kamu di sana sudah menemukan gadis lain yang lebih baik dariku? Kalau iya katakanlah dengan jujur. Aku bisa memahaminya," ucap Alifya lemah.
Bima terkejut, dia tidak menyangka kenapa calon istrinya tiba - tiba aneh.
"Kamu ini bicara apa, Calon istriku? Siapa yang menemukan gadis lain? Aku ini hanya mencintaimu seorang," bujuk Bima.
"Tapi kenapa kamu tak pernah lagi menghubungi aku? Aku kira kamu sudah bosan padaku," kata Alifya menahan malu.
"Ya Alloh, maafkan aku yang bodoh ini ya? Aku hanya takut menganggu kamu yang sedang mau mempersiapkan skripsimu. Dan aku di sini juga sedang berjuang agar bisa lulus dengan cepat. Jadi setelah kita menikah aku bisa langsung bekerja dan tinggal di Indonesia," jawab Bima merasa bersalah.
"Maaf… Akulah yang salah paham padamu," jawab Alifya.
"Jujurlah... Apa kamu merindukanku?" tanya Bima serius.
Mungkin dulu Alifya masih ragu, tapi kini dia sadar jika dia memang sudah mencintai Bima sepenuh hati.
"Iya, aku sangat merindukanmu, Bima," jawab Alifya malu - malu.
Baru kali ini Alifya mengucapkan kata tersebut, jadi begitu mendengarnya Bima langsung bahagia tak terkira.
"Benarkah? Apa aku tidak salah dengar?" pekik Bima antusias.
"Iya, aku memang merindukanmu," jawab Alifya juga merasa lega bisa mengungkapkan isi hatinya.
"Bagaimana kalau besok aku pulang? Dan sesampainya di sana aku di beri hadiah sebuah pelukan?" goda Bima.
"Kamu mau di cekik bapak?" tantang Alifya.
"Aku tidak rela mati, nanti siapa yang akan menjagamu kalau aku mati?" jawab Bima tertawa.
Mereka berdua terus mengobrol dan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk saling mengungkapkan isi hati. Hubungan jarak jauh memang berat, jadi bila tak saling terbuka akan membuat hubungan menjadi renggang dan bahkan bisa terjadi kesalah pahaman.
**Terima kasih karena sudah membaca karya saya, jangan lupa Like, Vote dan Komen ya? Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Jangan lupa juga beri kritik dan sarannya, semoga kedepannya bisa membangun Author agar bisa berkarya lebih baik lagi.
Selamat membaca🤗🤗**
__ADS_1