CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Happy family


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian


Keluarga Syauqi sudah pindah rumah di dekat kantor pusat. Rumahnya sangat besar dan mewah. Di depan rumah ada taman bunga sesuai selera Zhia. Di belakang rumah ada kolam renang dan lapangan basket sesuai permintaan Kaysa dan Syadev.


Syauqi juga sudah menyiapkan dua pembantu khusus bersih-bersih. dua pembantu khusus melayani Zhia dan anak-anak. Serta satu sopir dan satu lagi tukang kebun. Bahkan urusan dapur Syauqi juga memperkerjakan seorang Koki handal.


Perut Zhia juga sudah besar, kelahiran bayinya mungkin hanya menghitung hari.


"Ingat, sebelum mengerjakan tes nya kalian harus berdoa dan jangan sampai lupa memberi nama dulu ya?" tutur Zhia lembut.


"Iya, Bunda," jawab Kaysa dan Syadev.


"Jangan panik juga, kalian harus tenang! Jangan mudah terkecoh dengan teman yang sudah selesai duluan! Karena belum tentu jawaban mereka benar. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, kalian harus mengoreksi lagi sampai waktu habis," perintah Syauqi.


"Siap, Ayah, Bunda. Kami berangkat dulu, assalamu'alaikum," ucap si kembar dengan suara lantang.


"Wa'alaikumsalam," jawab Syauqi dan Zhia bersamaan.


Syauqi sudah cuti kerja, dia takut jika sewaktu-waktu istrinya akan melahirkan. Meskipun sudah banyak pelayan di rumah tapi Syauqi masih saja tidak tenang.


"Zhia, apa kakimu terasa sakit?" tanya Syauqi.


"Tidak, Mas Syauqi," jawab Zhia.


"Padahal dulu saat kehamilan di kembar kaki kamu tidak bengkak ya? Kenapa sekarang seperti ini," kata Syauqi cemas.


"Setiap kehamilan itu beda-beda. Dulu saat pertama hamil aku malah nafsu makannya bertambah, sekarang justru malas makan," jawab Zhia santai.


"Sekarang minum susunya dulu, kamu mau makan buah apa?" tanya Syauqi perhatian.


"Pengen jus apokat," jawab Zhia.


"Baik, sebentar ya! Aku suruh pelayan dulu," kata Syauqi berlalu pergi.


Zhia berjalan ke depan, menuju taman yang ada pohon buah kersen yang rindang. Dia duduk di ayunan.


Tak lama kemudian Syauqi datang membawa jus apokat dan biskuit.


"Ini sayang," kata Syauqi.


Zhia langsung meminumnya sedikit demi sedikit.


"Apa kamu suka dengan rumah baru kita?" tanya Syauqi.


"Sangat suka, Mas Syauqi. Dekat kantor, dekat dengan sekolah anak-anak juga dekat dengan rumah Ibu," kata Zhia cerah.


"Syukur kalau kamu suka," jawab Syauqi senang.


"Kira-kira anak-anak kita bisa mengerjakan tes mereka tidak ya?" tanya Zhia cemas.


"Kamu ragu dengan kemampuan anak kita?" selidik Syauqi.


"Mereka sangat cerdas, semoga bisa!" jawab Zhia mulai merasa lega.


"Sudah jangan khawatir," ucap Syauqi.


Kemudian Syauqi duduk di atas rumput Jepang sambil mengeluarkan botol kecil di sakunya.


"Mas, kenapa duduk di bawah?" tanya Zhia heran.


"Tenanglah," kata Syauqi lembut.


Syauqi menyingkapkan gamis Zhia bagian bawah, kemudian mengolesi kaki istrinya dengan minyak tawon sambil mengurut pelan.


"Apakah sakit?" tanya Syauqi.


"Tidak, rasanya nyaman sekali," jawab Zhia terharu.


Dari kejauhan para pekerja sedang mengintip majikan mereka.


"Seandainya aku punya suami seperti Tuan Syauqi, sudah tampan, kaya, perhatian dan setia," kata salah satu pelayan.


"Ya kamu harus jadi wanita secantik dan selembut Nyonya Zhia dulu," sindir tukang kebun.


Para pekerja lain yang mendengar menjadi tertawa lirih.


************************************


Tes berakhir, bahkan raport juga sudah dibagikan.


Zhia sudah dilarang ikut ke sekolah tapi ibu hamil tua itu tetap memaksa untuk ke sekolah menghadiri wali murid.


Di atas panggung, kepala sekolah mulai membacakan juara umum satu persatu.

__ADS_1


Setiap tingkatan ada lima kelas. Seandainya menjadi juara umum adalah suatu kebanggaan.


"Baiklah, untuk yang terakhir saya akan membacakan juara umum tingkat kelas satu. Bagi siapapun yang namanya di panggil harap segera naik ke atas panggung. Juara tiga adalah Meldy Audia. Juara dua adalah Kaysa Malik. Dan juara satu adalah Syadeva Malik," kata Kepala sekolah lantang.


Suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi lapangan yang luas.


Orang-orang menatap Syauqi dan Zhia dengan iri, karena kedua anak mereka mendapat juara umum.


Syauqi tersenyum bangga, sedangkan Zhia sudah menangis karena tertalu bahagia melihat kedua anaknya berdiri dipanggung.


"Om Syauqi, kenapa Kaysa malah cemberut begitu di atas panggung? Bukankah dia mendapat juara dua?" tanya Darren merasa heran.


Dony dan Syauqi tertawa. Hanya mereka berdua yang tahu, karena watak Kaysa sama persis dengan Syauqi yang selalu ingin menjadi yang terbaik, bukan nomor dua.


Sampai acara selesai, Kaysa dan Syadev mendapat banyak ucapan selamat.


Syadev hanya merespon dengan ekspresi biasa, karena dia tidak pernah merasa bangga dan menganggap jika juara itu bukan sesuatu yang penting.


Di sisi lain Kaysa terus cemberut karena marah dan kesal.


"sudahlah, dapat juara dua itu juga bagus," bujuk Zhia pada putrinya.


"Tidak, pokoknya aku maunya juara satu," jawab Kaysa ketus.


"Jangan putus asa, mulai besok kamu harus lebih giat belajar agar tahun depan mendapat juara satu," timpal Syauqi menasihati.


"Ini ambillah! Aku tidak peduli dengan juara, bagiku itu tidak penting," kata Syadev Sambil mengulurkan pialanya yang lebih besar dari milik kaysa.


Sebenarnya Syadev tulus, tapi karena memang ekspresi wajah tampannya yang cuek, Kaysa merasa jika saudaranya hanya berniat untuk mengejeknya.


"Ayah...!" teriak Kaysa sekeras mungkin sampai semua orang melihat ke arah keluarga Syauqi.


Zhia tiba-tiba merasa perutnya mules dan perih. Karena ibu beranak dua itu sudah pengalaman jadi dia bisa tahu jika itu adalah tanda-tanda mau lahiran.


"Mas Syauqi, sepertinya aku mau lahiran," rintih Zhia sambil memegang perut besarnya.


Syauqi segera istrinya ke mobil.


Sedangkan Dony segera menggandeng kedua anak kembar sahabatnya ke mobilnya sendiri.


*********************************


Di ruang persalinan Syauqi terus menggenggam tangan istrinya erat sambil berdo'a dalam hati.


"Kaysa, kamu jangan cemas ya! Aku akan menemanimu di sini," ucap Darren lembut.


Lima belas menit kemudian terdengar suara keras bayi yang baru lahir. Kaysa dan Syadev sangat lega. Begitu juga dengan keluarga Dony.


****************************


Satu jam kemudian Zhia sudah dipindahkan ke ruang inap bersama bayinya. Syauqi sudah mengatur semuanya supaya bayinya tidak dipisahkan dengan Bundanya.


Kerabat Syauqi dan Zhia juga sudah berkumpul di sana.


Kaysa sangat senang mendapat adik perempuan seperti yang dia harapkan selama ini. Bahkan saking senangnya dia sampai melupakan kesedihannya karena gagal mendapat juara satu.


"Permisi, Tuan Syauqi. Anda akan memberi nama siapa pada bayi putri cantik ini?" tanya seorang perawat yang baru masuk.


Syauqi baru mau membuka mulutnya, tapi sudah keduluan suara lantang Kaysa.


"Aku... aku yang akan memberi nama," teriak Kaysa.


"Ayah sudah menyiapkan nama," sergah Syadev.


"Aku tidak peduli, karena dia adik Perempuanku jadi aku yang memberinya nama," bentak Kaysa.


"Dia juga adikku," jawab Syadev kesal.


Semua orang menjadi geleng-geleng kepala karena mendengar perdebatan antara dua saudara kembar itu.


"Cukup! Kalian ini sekarang sudah menjadi seorang kakak. Kalian harus bersikap lebih dewasa agar bisa menjaga adik kalian ini, jangan malah bertengkar terus," tegur Syauqi berwibawa.


"Kaysa, Bunda izinkan kamu yang memberi nama. Asalkan Kaysa mau berjanji pada Bunda dulu," ucap Zhia yang masih lemas.


"Apa Bunda?" tanya Kaysa yang matanya mulai berbinar.


"Mulai sekarang Kaysa tidak boleh marah-marah lagi, seandainya merasa kesal juga tidak boleh berteriak. Bagaimana?" kata Zhia lembut.


"Iya, Bunda. Kaysa setuju," jawab Kaysa tanpa pikir panjang.


"Kalau itu aku juga setuju," timpal Syadev sambil melirik ke arah saudara kembarnya.


"Baiklah, Kaysa. Kamu akan memberi nama siapa pada adik cantikmu?" tanya Syauqi tersenyum manis.

__ADS_1


"Karena Bunda suka dengan bunga dan pepohonan, aku ingin memberinya nama Flora," kata Kaysa malu-malu.


"Kenapa tidak Flora Fauna sekalian?" sindir Syadev jutek.


Semua orang tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perut.


"Pa, Flora fauna itu apa?" tanya Darren penasaran.


"Tumbuh-tumbuhan dan hewan," jawab Dony yang masih belum bisa berhenti tertawa.


Kaysa merengut dan kesal, dia hanya melirik tajam ke arah Syadev yang seolah merasa tidak bersalah.


"Baiklah, nama adik bayinya adalah Flora Maliky," kata Syauqi.


************************************


Malam semakin larut, para tamu yang menjenguk Kaysa sudah berpamitan pulang.


Di ruangan inap yang terbaik itu Syauqi meminta dua tempat tidur, yang satunya untuk kedua anak kembarnya.


Ketiga anak Syauqi itu sudah terlelap sejak tadi.


Sekarang hanya ada Syauqi dan Zhia yang tengah video call dengan Alarik.


"Ayah, aku ingin pulang," kata Alarik memohon.


"Sabarlah, Nak! Nanti kalau Flora sudah agak besar nanti kita saja yang ke sana. Semua demi kebaikan kamu," tutur Syauqi lembut.


"Baiklah, kalau begitu Alarik tutup. Ayah sama Bunda istirahat dulu karena di situ pasti sudah larut malam," kata Alarik dewasa.


"Iya, sayang. Bunda juga sangat merindukanmu," kata Zhia berlinang air mata.


"Bunda jangan menangis lagi ya! Assalamu'alaikum," pamit Alarik.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zhia dan Syauqi secara bersamaan.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kita sebagai orang tua harus lebih mementingkan keselamatan mereka," bujuk Syauqi sambil mencium kening istrinya.


"Iya, Mas. Ayo sekarang kita tidur, mumpung Flora juga sedang tidur nyenyak," kata Zhia.


"Iya, kamu tidur duluan, aku akan menyelimuti anak-anak," jawab Syauqi lembut.


Zhia langsung terlelap karena merasa kelelahan.


Syauqi mendekati ke dua saudara kembar kebanggaannya, dan mencium kening mereka.


Kemudian beralih pada Flora, bayi kecilnya.


"Nak, selamat datang di keluarga kecil Malik. Ayah sangat penasaran, nanti jika kamu sudah besar sifatmu akan seperti Ayahmu atau Bundamu. Atau bahkan lebih nakal dari kakak perempuanmu. Apapun itu Ayah hanya berharap semoga kamu selalu sehat dan hidup bahagia."


Di tengah malam yang sepi, Syauqi menangis karena bahagia.


Dia berjanji akan selalu menyayangi dan menjaga keluarganya sebaik mungkin.


"Mas, kenapa kamu belum tidur?" bisik Zhia.


"Iya," jawab Syauqi sambil berbaring di samping istrinya.


Zhia tahu jika suaminya sedang bahagia.


"Mas, jika aku sudah tua nanti apakah kamu akan tetap menyayangi aku seperti ini?" tanya Zhia lembut.


"Tidak, karena semakin bertambah usia cintaku padamu akan semakin lebih... dan lebih.." jawab Syauqi.


"Terima kasih, Mas Syauqi," ucap Zhia lirih.


Syauqi mencium bibir istrinya dengan lembut. Dan Zhia tersenyum senang.


"Ya Alloh, puji syukur atas nikmat dan berkah yang telah engkau limpahkan. Bimbinglah keluarga kecil kami menuju ridhomu," do'a Zhia dalam hati.


Sepasang suami istri itu kemudian terlelap dalam mimpi indah.


ย 


****๐Ÿ’œ **Happy Ending** ๐Ÿ’œ


ย 


**Terima kasih readers karena sudah setia membaca Novel CINTA YANG TERPAKSA ini sampai akhir.


Terima kasih banyak atas dukungan kalian selama ini, semoga yang jomblo kelak mendapat suami seperti Syauqi dan istri seperti Zhia๐Ÿค—๐Ÿค—


Bagi yang sudah menikah semoga bisa rukun dan mesra seperti pasangan dalam novel ini******.

__ADS_1


__ADS_2