
Setelah di rasa sudah aman, Dewa bertukar tempat lagi dengan pendonor bayaran pamannya. Tapi siapa di sangka rambut mereka warnanya juga sama. Postur tubuh juga tidak jauh berbeda. Jadi saat tadi melakukan penyamaran Eiji takkan curiga.
"Siapa namamu?" tanya Dewa dalam bahasa Jepang.
"Sakato, bukankah Anda keponakan Bos Eiji?" tanya pemuda itu.
"Iya, aku Daichi," jawab Dewa.
Pemuda yang bernama Sakato langsung membungkukkan badan tanda hormat.
"Berarti Anda adalah generasi penerus pimpinan kami," jawab Sakato dengan logat Jepangnya.
"Kamu harus merahasiakan ini, terlebih lagi dari Paman Eiji. Dan sekarang kita bertukar tempat lagi,"
"Siap, tapi tubuh Anda masih terluka. Sebaiknya Anda dirawat terlebih dahulu di rumah sakit lain," jawab Sakato.
"Tenanglah, aku bisa menanganinya sendiri," jawab Dewa.
Dewa lalu melakukan apa yang di sarankan oleh Sakato, sebab dia juga masih belum pulih sepenuhnya. Dia lalu mematikan ponselnya, dan memeriksakan diri sendiri.
Tadi Dewa sempat melihat sekilas wajah Flora saat tersenyum bahagia ketika mendengar jika ibunya sudah berhasil diselamatkan. Saat itu pula Dewa merasakan kehangatan dalam hatinya. Perasaan ini benar - benar membuat Dewa menjadi tenang. Apalagi mengingat jika kelak Flora akan menjadi istrinya membuat Dewa seketika memerah wajahnya.
"Bodoh! Kenapa aku sampai terbawa perasaan seperti ini, seharusnya aku harus fokus pada rencana balas dendam ku," batin Dewa mengutuk dirinya sendiri.
Demi tak bisa dipungkiri, demi Flora dia kini harus merasakan sakit yang luar biasa setelah biusnya menghilang. Setelah melakukan pemeriksaan Dewa memejamkan matanya lalu tidur.
"Paman pasti mencariku, aku akan pura - pura tersesat nanti," batin Dewa.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Setengah jam setelah itu Zhia bisa membuka mata, dia tidak menyangka jika dirinya masih diberi kesempatan untuk menikmati hari - hari seperti biasanya bersama keluarganya.
"Ya Alloh, rupanya engkau masih memberi hamba kesempatan untuk memperbaiki diri lebih baik lagi, sungguh Agung karuniamu," batin Zhia meneteskan air matanya.
Syauqi yang tahu jika istrinya sudah sadar sampai sujud syukur berkali - kali lalu menghampiri Zhia dan mencium kening istrinya.
"Istriku, mulai sekarang penyakitmu tidak akan kambuh lagi. Kamu sudah sembuh total. Terima kasih istriku, karena masih bersedia menemaniku. Jangan pernah seperti ini lagi ya? Aku hampir gila," bisik Syauqi.
Zhia hanya tersenyum dan menatap mesra ke arah Syauqi yang selalu romantis itu.
Seseorang yang hampir merasa kehilangan pasti akan lebih menghargai agar tidak akan pergi untuk kedua kalinya.
Anak - anak serta sahabat Syauqi yang hanya bisa melihat dari luar sangat terharu ketika kedua tangan Syauqi dan Zhia berpegangan erat seolah tak ingin terpisahkan lagi.
Di sisi lain Flora tersenyum tanpa meneteskan air matanya, gadis itu sama sekali tidak takut jika lima tahun lagi akan menikah dengan seseorang yang belum dikenal. Baginya nyawa Bundanya adalah segalanya.
Kemudian justru Kaysa yang terisak pilu sambil merangkul adiknya yang masih remaja itu.
"Flora, kakak berutang budi padamu. Kelak apapun yang kamu mau kakak akan mewujudkannya," bisik Kaysa.
"Kakak ini ngomong apa? Tidak ada yang berkorban dan tidak ada yang berutang budi. Semua ini memang sudah takdir, soal pernikahan itu aku sama sekali tidak menyesalinya. Kakak tahu sendiri betapa berartinya Bunda untuk kita," jawab Flora tersenyum mantap.
Syadev dan Alarik yang melihat kedua kakak beradik itu hanya bisa diam, tapi pikiran mereka tetap kacau. Dalam hati keduanya akan berusaha sebaik mungkin agar kelak bisa melindungi adik kecil mereka.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Lima belas hari setelah kesembuhan Zhia seluruh keluarga Syauqi pulang ke Indonesia. Sebagai bentuk wujud syukur yang berlipat - lipat ini Syauqi mengadakan syukuran yang di hadiri banyak kaum pengemis serta orang miskin. Syauqi memberikan mereka sembako, makanan, serta amplop yang isianya tidak sedikit.
Syauqi yang dulu di takuti banyak orang, yang setiap orang lain mendengar namanya langsung bergidik merinding, kini terkenal menjadi seseorang yang dermawan dan tidak sombong.
Putra Syauqi Malik yaitu Syadev juga sudah dinobatkan sebagai pemimpin baru di perusahaan.
Saat malam pesta peresmian Kaysa sampai terharu melihat saudara kembarnya itu yang terlihat sangat gagah dan mempesona.
"Kaysa, aku keren kan?" tanya Syadev bangga pada diri sendiri.
"Yah… Keren banget! Sampai hidungku mau mimisan," jawab Kaysa tertawa.
Orang - orang yang mendengar juga ikut tertawa dengan kekonyolan si kembar.
Ada juga karyawan lama yang pernah melihat masa kecil si kembar, dulu setiap kali si kembar itu ke kantor pasti akan mengacau. Siapa sangka kini Syadev sudah menjadi pemimpin mereka di usia yang semuda ini.
Syadev sendiri saat hendak memotong pita memiliki tekad kuat, yaitu ingin memajukan perusahaan Ayahnya. Dia sadar, jika ingin melindungi keluarga memang butuh kekuasaan. Dengan begitu orang - orang akan mikir dua kali untuk menyentuh keluarga mereka.
Kemudian Syadev melirik istrinya, dia langsung menghampiri Anggun dan mengajak untuk memotong pita itu bersama. Awalnya Anggun menolak, tapi Syauqi dan Zhia mendukung agar sepasang suami istri itu bisa melakukan bersama. Sebab ini akan menjadi moment terindah yang akan selalu di kenang.
Kabar mengenai pergantian pemimpin langsung menyebar di berbagai Televisi dan media sosial hampir di seluruh dunia. Sebab cabang perusahaan yang pernah dikembangkan oleh Syauqi Malik itu memiliki banyak cabang.
Nama Syadeva Malik menjadi pencarian terpopuler, wajahnya yang tampan dengan segala kesuksesan dan prestasi semasa sekolah membuat para wanita merasa isi dengan Anggun.
Di samping Syadev juga ada Darren, yang siap berjuang bersama sebagai tangan kanan Syadev.
Dony dengan senyuman lebar merasa senang akhirnya bisa menikmati masa pensiunnya.
"Iya, aku yakin mereka pasti bisa. Meskipun masih sangat muda tapi Syadev tidak bisa diremehkan begitu saja," jawab Syauqi yang bangga pada putranya.
"Ahh anak itu, semoga setelah menjadi pemimpin bisa sedikit lebih ramah," balas Dony yang mengingat jika dulu Syadev tidak pernah mau tersenyum.
"Seiring berjalannya waktu pasti akan bisa merubah seseorang. Buktinya aku sendiri," kata Syauqi tertawa.
Acara pesta itu berjalan dengan lancar. Tapi hari berikutnya menjadi pertarungan tegang antara Syadev dan Kaysa.
"Bunda dan Ayah harus ikut aku!" teriak Kaysa lantang.
"Tidak! Sejak awal Ayah dan Bunda tinggal di sini. Ya sekarang juga harus di sini!" balas Syadev tak kalah lantang.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya Ayah dan Bunda harus tinggal bersamaku," bentak Kaysa semakin garang.
"Kalau begitu kamu angkat saja rumahmu dan perusahaan suamimu ke sini. Dengan begitu kamu bisa dekat dengan Ayah dan Bunda," kata Syadev dengan nada tinggi.
"Otakmu itu masih saja bodoh ya? Coba kalau kamu bisa kamu saja yang melakukannya!" Jawab Kaysa semakin kesal.
Kedua mulut Syadev dan Kaysa saling beradu untuk waktu yang lama.
Pertengkaran ini membuat seisi rumah merasa gedek, mereka sama sekali tidak mau ikut campur dan malah membiarkan saja.
Alarik sibuk menimang Arkananta, Sedangkan Flora dan Anggun menimang Yudistira dan Sagara.
__ADS_1
Syauqi sendiri asyik malah duduk di sofa sambil minum kopi menikmati pertengkaran Syadev dan Kaysa yang seru. Sudah lama dia tidak melihat pemandangan itu, tak menyangka ternyata menjadi tontonan yang asyik.
Sedangkan Zhia yang baru turun dari lantai dua langsung menggeleng - gelengkan kepala. Yang lebih menyebalkan lagi dengan tingkah suaminya itu.
Zhia berdiri di tengah - tengah antara Syadev dan Kaysa. Dalam sekejap mulut kedua si kembar langsung terbungkam mulutnya.
"Kalian ini tidak malukah bertengkar seperti anak kecil? Kalian ini sudah menjadi orang tua! Bersikaplah yang dewasa dan bijak," tutur Zhia lembut.
"Bunda dan Ayah ikut bersamaku ya?" rengek Kaysa.
"Tidak, Ayah dan Bunda tetap di sini. Kasihan si kembar kalau merindukan kakek neneknya," sergah Syadev menggunakan nama si kembar.
"Sudah… Begini saja, biar adil nanti Ayah dan Bunda suit saja. Yang menang ikut Kaysa yang kalah tinggal bersama Syadev," kata Zhia menengahi.
Syauqi yang mendengar ucapan istrinya langsung berdiri dan menghampiri mereka.
"Tidak bisa! Itu bukan ide yang baik. Sangat tidak adil bagi Ayah," tolak Syauqi mentah - mentah.
"Lalu bagaimana lagi?" tanya Zhia bingung.
"Kita berdua tinggal di Villa saja! Kita ini sudah tua, jadi butuh tempat yang tenang agar kesehatan kita tidak buruk oleh polisi kota. Nanti setiap hari Minggu suruh anak - anak dan cucu - cucu kita yang berkunjung ke Villa," bujuk Syauqi menatap mesra pada istrinya.
"Benar, sebenarnya Bunda juga lebih senang tinggal di Villa yang sejuk dari pada di kota," balas Zhia yang di rasa itu keputusan yang tepat.
"Iyalah, aku setuju," jawab Syadev.
"Aku juga setuju," jawab Kaysa.
Alarik dan Anggun tertawa melihat si kembar sudah akur lagi. Mereka berdua terlalu lelah untuk melerai. Sebab Kaysa dan Syadev memang selalu seperti itu, bahkan saat sedang di telepon sekalipun pasti akan berdebat.
"Lalu aku bagaimana?" tanya Flora.
"Kamu ikutlah kakak, nanti kamu akan kakak ajari berbagai bahasa asing," sela Syadev dengan nada serius.
"Benar, apa yang dikatakan oleh kak Syadev itu," timpal Kaysa.
Kali Kaysa menyadari, jika kelak Flora akan menikah dengan orang asing. Jadi dia tak ingin nanti adiknya dibodohi orang lain.
Syauqi seketika merasa pilu mengingat semua itu.
"Flora, kamu minat belajar tentang berbagai bahasa ya?" tanya Zhia lembut.
"Tentu saja Bunda, seperti Kak Syadev keren sekali. Lagipula aku suka baca novel, aku ingin kelak bisa menjelajahi dunia dari novel - novel yang pernah aku baca," jawab Flora berlagak polos seperti anak kecil.
"Apapun itu, lakukanlah semuanya sesuai keinginan kamu. Bunda hanya berharap kamu bahagia saja, tidak harus menjadi orang yang hebat," balas Zhia memeluk si kecil Flora.
"Flora, do'a kami selalu menyertaimu," kata Syauqi ikut memeluk Flora.
Dari kejauhan Anggun yang paling perasa langsung meneteskan air mata, Syadev langsung menghapus air mata istrinya.
"Percayalah pada suamimu ini! Aku pasti mampu menjaga semuanya," bisik Syadev.
Sesuai kesepakatan, mengenai perjanjian pernikahan Flora di masa depan sama sekali tidak pernah di ungkit. Mereka tidak ingin membuat pikiran Zhia terbebani.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca karya saja, jangan lupa Like dan Vote ya?
Haduuuhhhh lega deh, akhirnya masa - masa yang menyedihkan sudah berakhir. Tidak sabar membuat si Dewa bucin parah sama si Flora. Tapi sayangnya si Flora masih di bawah umur. Jadi menunggu kalau sudah sudah besar yaaa🤗🤗🤗🤗