
Sampai di sekolah Kaysa langsung menyampaikan kabar baiknya pada Anggun. Teman barunya itu sangat bahagia dan bersyukur, karena dengan adanya pekerjaan sampingan dirinya bisa mendapatkan penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
“Kaysa, terima kasih banyak. Padahal kita baru kenal tapi kamu sudah sebaik ini padaku,” ucap Anggun tulus.
“Iya, sama-sama. Aku hanya tidak tahan jika melihat orang yang ada di sekelilingku tidak bahagia,” jawab Kaysa santai.
“Terima kasih Kaysa, aku bersyukur bisa mengenalmu. Meskipun kamu anak orang kaya tapi hanya kamu seseorang yang tidak memandang rendah diriku,” kata Anggun terharu.
“Aku bukan orang yang suka membedakan status, karena bagiku yang terpenting adalah perilaku orang itu tersebut. Dari pada mengenal orang yang memiliki status sama denganku tapi sikapnya buruk aku tidak sudi,” jawab Kaysa sungguh-sungguh.
“Lalu kapan aku mulai bisa bekerja?” tanya Anggun sudah tidak sabar.
“Nanti sepulang sekolah kamu ikut aku dulu, jadi nanti bisa menyesuaikan jadwal dengan adikku. Karena dia juga memiliki banyak les,” jawab Kaysa.
“Baiklah,” timpal Anggun tersenyum manis.
“kamu sudah sarapan?” tanya Kaysa.
“Sudah,” jawab Anggun terharu, karena teman barunya itu begitu baik. Bahkan selalu peduli padanya.
“Kaysa, kita ke perpustakaan yuk,” ajak Darren dan Zahra yang baru masuk di kelas Kaysa.
Kaysa mengangguk mantap. Kemudian matanya beralih pada Anggun.
“Kamu mau ikut nggak?” tanya Kaysa pada Anggun.
“Tidak, aku mau di kelas saja,” tolak Anggun secara halus.
“Ya sudah, aku keluar dulu ya?” pamit Kaysa berlalu pergi.
Syadev sedari tadi hanya diam, saudara kembar kaysa itu memang pendiam. Mau bicara kalau ada hal yang penting saja, selebihnya dia akan terus membuntuti Kaysa.
Untuk menuju ke perpustakaan harus melewati lapangan dulu, di sana sedang ada permainan basket dari murid kelas sebelas.
Kaysa tidak menyangka jika Gio juga baru kelas sebelas, tadinya dia mengira jika Ketua OSIS itu sudah kelas dua belas.
Saat gerombolan Kaysa melewati sisi lapangan, Gio dengan suara lantang menantang Syadev.
“Syadev! Mau ikut bergabung dengan kami?” tanya Gio, niatnya hanya untuk balas dendam pada murid baru yang pernah mempermalukan dirinya.
“Maaf Kak, saya tidak minat,” jawab Syadev datar.
“Kenapa? Santai saja, aku akan bermain halus padamu,” kata Gio setengah memaksa.
Syadev tahu apa motif yang tersembunyi di balik senyum palsu kakak kelasnya, dia tidak ingin terjebak dalam perangkapnya.
Namun tiada di sangka, saudara kembarnya yang ceroboh dan mudah emosi itu justru menerima tantangan itu.
“Bagaimana kalau denganku, Kak?” tantang Kaysa.
Gio tertawa, karena tidak mengira jika Kaysa memiliki nyali yang besar.
“Aku tidak mau melawan perempuan,” jawab Gio tersenyum mengejek.
Syadev yang awalnya ingin menghindari pertikaian tidak tahan juga melihat saudara kembarnya jadi bahan tertawaan kakak kelas.
“Baiklah aku terima, dua lawan dua. Kak Gio ajak Yuki dan aku dengan Kaysa,” ucap Syadev masih dengan gaya cueknya.
“Wah, itu ide bagus! Ayo Gio, jangan permalukan kelas kita di hadapan adik kelas kita yang manis ini,” jawab Yuki angkuh.
Kaysa mulai tersenyum, karena jiwanya menyukai tantangan. Sedangkan Syadev hanya berniat membuat saudara kembarnya puas. Karena jika Kaysa dalam keadaan hati yang bagus gadis itu akan selalu tersenyum riang dan tidak membuat rusuh.
“Kaysa, ganti bajumu dengan ini,” ucap Yuki sambil memberikan Kaysa setelan baju olah raga yang panjang untuknya dan pendek untuk Syadeva.
Gadis berjilbab itu menerima dengan senang hati. Hanya dua menit Kaysa dan Syadev sudah kembali ke lapangan.
Berita pertandingan mereka menjadi tersebar heboh. Semua murid kelas sepuluh dan sebelas bergerombol ke lapangan untuk mendukung kelas masing-masing.
“Semangat Syadev, Kaysa... Kita kalah tidak apa-apa. Karena kita adalah adik kelas. Tapi jika kita bisa menang itu luar biasa,” teriak Darren yang menjadi perhatian orang lain.
Semua orang juga berpikir begitu, kalah tidak masalah, menang itu suatu kebanggaan.
Berbeda dengan kelas Sebelas, mereka tetap harus memenangkan pertandingan untuk menyelamatkan harga diri.
Pertandingan di mulai, meskipun setiap hari Kaysa dan Syadev sering bertengkar, akan tetapi keturunan Syauqi Malik itu jika sudah bekerja sama akan menjadi pasangan yang kuat dan tidak mudah di kalahkan.
Semua tidak mengira, jika Kaysa yang sehari-hari memakai hijab itu sangat lincah bermain basket. Apalagi Syadev, gerakannya sudah seperti pemain profesional.
Kaysa dan Syadev memang sudah jago, karena sejak kecil mereka berdua selalu bersaing dalam hal apapun. Sedangkan Ayah mereka selalu memfasilitasi mereka supaya berkembang dengan baik.
Setelah setengah jam, akhirnya kemenangan di raih pasangan kembar itu.
Sorak-sorak bergembira terdengar sangat riuh. Murid kelas sebelas sangat bangga pada Kaysa dan Syadev. Karena kejadian ini bisa membuktikan jika menjadi adik kelas itu bukan berarti mudah untuk di tindas.
Meskipun yang bertanding hanyalah Gio dan Yuki, tapi kekalahan mereka berdua juga menjadi pukulan berat untuk semua anak kelas sebelas. Karena mereka berdua membawa nama harga diri sebagai senior.
Kaysa sangat senang dan puas. Tapi tidak dengan Syadev, pemuda tampan itu bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kalian memang hebat,” puji Zahra.
“Aku sampai mau menangis karena kalian menang,” timpal Darren.
“Darren, kamu ini lelaki. Tunjukkan kejantananmu!” kata Kaysa.
Darren hanya nyengir, karena dia mengakui jika dirinya mudah terharu.
__ADS_1
Tett... Teeett...
Bel berbunyi, waktu istirahat sudah berakhir. Semua murid membubarkan diri.
Kaysa dengan bangga masuk ke kelas, semua teman-temannya menyambut dia suka cita karena serasa menjadi pahlawan.
Bahkan saat pelajaran Kaysa masih senyum-senyum sendiri karena mendapat kemenangan.
Diam-diam syadev melirik ke arah saudara kembarnya. Entah kenapa melihat Kaysa yang cerah seperti itu membuat dirinya juga merasa lega.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Sepulang sekolah Kaysa langsung mengajak Anggun ke rumahnya. Gadis itu merasa sungkan jika ikut naik ke mobil mewah milik Kaysa. Tapi pada akhirnya naik juga karena Kaysa tidak berhenti memaksanya.
Guru-guru dari SMA Nusantara juga sedang membicarakan si kembar itu.
“Sebenarnya si kembar itu anak siapa? Bahkan jika aku bekerja selama dua puluh tahun tidak mungkin bisa membeli mobil itu,” kata Pak Amin, guru olah raga.
“Mereka berdua sangat beruntung, di lahirkan dari keluarga kaya raya, tampan dan cantik juga prestasi mereka sangat gemilang,” timpal Bu Yayas, wali kelas si kembar.
“Tadi katanya juga ada pertandingan basket antara si kembar dengan Gio dan Yuki, mereka sampai membuat heboh seisi sekolah,” sergah Pak Edwin guru Fisika.
“Menang siapa?” tanya semua guru penasaran.
“Si kembar itu, aku tidak menyangka jika Ketua OSIS dan Wakilnya bisa dipermalukan oleh murid baru itu,” jawab Pak Edwin heran.
“Kenapa kalian semua belum pulang?” tanya Pak Kepala Sekolah yang baru masuk ke kantor.
“Kami hanya sedang penasaran dengan murid baru yang kembar itu, Pak,” ucap Bu Yayas sopan.
“Oalah, mereka berdua adalah putra temanku saat sekolah di Amerika. Ayah mereka saja sangat hebat, aku sendiri selalu tertinggal jauh,” jawab Pak Kepala tenang.
“Memangnya siapa?” tanya para guru.
“Tuan Syauqi Malik,” jawab Pak Kepala sekolah.
“Apa? Yang sering masuk di berita kabar itu? Tapi kenapa tidak ada berita tentang keluarganya ya?” ucap Pak Amin penasaran.
“Namanya juga orang berpengaruh, mungkin hanya untuk melindungi kebebasan privasi keluarganya,” jawab Pak Kepala sekolah.
“Iya juga, karena orang yang berpengaruh pasti akan menjadi sorotan publik,” timpal Bu Yayas.
“Baiklah, aku permisi pulang dulu. Sampai bertemu lagi,” kata Pak Kepala sekolah berwibawa.
“Hati-hati di jalan, Pak,” kata para guru secara serempak.
Guru-guru pun juga mulai meninggalkan ruang kantor.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
“Iya, Bunda,” jawab Kaysa patuh.
“Ayo Anggun, kamu jangan merasa sungkan! Anggap saja seperti rumah sendiri,” ucap Kaysa pada Anggun.
Gadis sederhana itu hanya mengangguk dan tertunduk malu.
“Oh, jadi ini yang namanya Anggun ya?” tanya Syauqi yang baru turun dari tangga.
“Iya, ayah,” jawab Kaysa manja.
“Cepatlah ganti baju! Kemudian panggil Syadev sekalian. Kita makan siang bersama,” perintah Syauqi lembut.
“Siap, Ayah,” jawab Kaysa riang.
Kaysa langsung mengajak Anggun menuju kamarnya. Anggun sangat terpesona melihat kamar Kaysa yang seperti milik seorang Puteri.
“Kamar kamu bagus sekali!” puji Anggun.
“Aku yang desain sendiri loh,” jawab Kaysa senang.
“Kamu memang berbakat,” puji Anggun tulus.
“Tentu saja, kaysa,” jawab Kaysa membanggakan diri sendiri.
“Kehidupanmu sangat beruntung ya? Keluargamu juga sangat harmonis,” ucap Anggun yang merasa sangat iri.
“Jangan berkecil hati, karena aku yakin suatu saat nanti kamu bisa merubah nasibmu jika kamu mau berusaha,” hibur Kaysa.
“Iya, aku harus berjuang untuk masa depanku,” jawab Anggun bersemangat.
“Kaysa, siapa foto pemuda tampan di sisi kiri?” tanya Anggun penasaran, karena yang di sisi kanan adalah Syadev.
“Oh, dia Kakak pertamaku. Tapi belajar di Jerman,” jawab Kaysa.
“Seluruh keluargamu sangat cantik dan tampan ya?” ucap Anggun apa adanya.
“Dan yang paling cantik adalah aku,” cetus Kaysa dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Anggun ikut tertawa, tapi apa yang barusan diucapkan Kaysa memang benar.
Kaysa segera mengajak temannya keluar kamar, tapi Syadev juga baru saja keluar dari kamarnya.
Kemudian mereka bertiga berjalan beriringan menuruni anak tangga. Di bawah sudah ada Bunda Zhia, Ayah Syauqi dan Flora.
“Flora, ini adalah Kak Anggun. Mulai sekarang kamu belajar dengan Kak Anggun ya?” ucap Kaysa riang.
__ADS_1
“Iya, Kak,” jawab Flora patuh.
“Bagus, adikku ini memang pintar,” puji Kaysa sambil mencium pipi Flora.
Mereka mulai makan, Anggun sangat terkejut karena baru pertama kali ini memakan masakan yang seenak ini,”
Kaysa tahu apa yang di rasakan Anggun. Dia merasa kasihan.
“Flora, kamu harus makan yang banyak. Supaya cepat besar dan tumbuh sehat,” ucap Kaysa sambil mengambilkan sayuran.
“Kamu juga, Anggun. Makanlah yang banyak, supaya punya energi. Karena nanti saat mengajari flora membutuhkan kesabaran dan menguras tenaga,” ucap Kaysa beralih mengambilkan lauk untuk Anggun.
Setelah selesai makan, Syauqi mengajak mereka mengobrol di ruang tamu.
“Kaysa, sebentar lagi Ayah kembali ke kantor. Tapi sebelum itu Ayah ingin mendengar apakah tadi ada kejadian yang menarik?” tanya Syauqi. Daddy tampan itu adalah pendengar setia. Karena Kaysa selalu mengalami hal-hal yang menarik.
“Tadi Kaysa dan Syadev menang lomba basket melawan Ketua OSIS dan Wakilnya, Ayah,” kata Kaysa antusias.
“Benarkah? Ayah tahu, jika kalian ini memang hebat!” puji Syauqi merasa bangga.
“Tapi lain kali kalian berdua harus lebih hati-hati! Jangan sampai kejadian seperti itu menimbulkan permusuhan,” sela Zhia yang selalu cemas dan khawatir.
“Tadi sebenarnya yang di tantang Kakak kelas itu aku. Padahal aku sudah menolak tapi Kaysa Bodoh itu malah menantang mereka balik,” sergah Syadev dengan nada ketus.
Syauqi dan Zhia tertawa, mereka berdua bisa membayangkan kejadian itu. Ekspresi Kaysa yang menggebu-nggebu, juga wajah Syadev yang tidak minta tapi terpaksa mengikuti keinginan Kaysa.
“Kamu itu yang bodoh! Aku tidak Sudi kalau kelasku diremehkan Kakak kelas,” timpal Kaysa melirik tajam pada Syadev.
“Kak Kaysa hebat! Aku kalau sudah besar ingin menjadi seperti Kak Kaysa,” ucap Flora bersemangat.
“Jangan! Jadilah dirimu sendiri yang seperti ini. Justru Kak Syadev yang berharap jika Kakak perempuanmu bisa meniru separuh sifat darimu,” kata Syadev tegas.
“Bodo amat! Yang terpenting Ayah dan Bunda bangga padaku,” sergah Kaysa membela diri.
“Ayah dan Bunda sangat bangga pada kalian. Karena kalian bertiga adalah harta paling berharga kami,” kata Syauqi lembut.
“Ayah, sudah saatnya berangkat ke kantor,” ucap Zhia mengingatkan. Karena Syauqi jika sudah berkumpul dengan anaknya selalu lupa segalanya.
“Oh, iya. Hari ini Ayah ada rapat penting. Ayah berangkat dulu ya? Assalamualaikum,” pamit Syauqi berlalu pergi.
“Wa ‘alaikumsalam,” jawab semuanya.
“Kak Anggun, Ayo kita belajar di kamar aku saja,” ucap Flora pada Anggun.
“Iya, mari,” jawab Anggun tersenyum ramah.
Syadev kembali ke kamarnya. Sedangkan Kaysa mengikuti ke kamar Adik perempuannya.
Beberapa menit kemudian Zhia mengetuk pintu kamar.
“Kaysa, apa kamu bisa mengantar ibu ke rumahnya Darren? Tante Nindya sedang sakit. Sopir sedang mengantar pelayan belanja, sedangkan Syadev tidur,” pinta Zhia lembut.
“Tentu, Bunda,” jawab Kaysa patuh.
“Flora, kamu belajar yang tekun ya?” tutur Zhia perhatian pada putri kecilnya.
“iya, Bunda,” jawab Flora patuh.
“Anggun aku tinggal dulu ya?” pamit Kaysa pada temannya.
“Iya,” jawab Anggun tersenyum tenang.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Sampai sore hari Kaysa belum pulang. Hujan sudah turun deras, Anggun hanya berdiam diri di depan rumah yang megah itu menanti hujan reda.
Flora yang merasa kasihan pada Pembimbing lesnya itu segera naik ke kamar Kakak laki-lakinya.
Syadev baru saja turun dari tangga, kemudian Flora menunggunya di bawah.
“Ada apa?” tanya Syadev seolah tahu jika adiknya ingin berbicara sesuatu.
“Kak, maukah mengantarkan Kak Anggun pulang? Kasihan hujannya belum berhenti dari tadi,” pinta Flora manis.
“Di mana Kaysa?” tanya Syadev.
“Mengantar Bunda ke rumah Tante Nindya,” jawab Flora.
“Masih ada sopir kan?” tanya Syadev lagi.
“Mengantar Pak Koki belanja,” jawab Flora manja.
Koki handal di rumah Syauqi kalau belanja memang banyak sekalian, untuk persiapan dua Minggu.
“Ya sudah, tapi kamu ikut ya!” jawab Syadev setengah malas.
Syadev tanpa berkata apapun langsung mengambil mobilnya dan menanti di depan rumah. Sedangkan flora mengajak Pembimbing lesnya untuk masuk ke mobil.
Anggun sebenarnya merasa sungkan, karena meskipun dia dan Syadev sekelas tapi tidak bisa di sebut teman. Karena mereka memang tidak pernah saling menyapa.
Syadev yang malas berbicara, flora yang pendiam juga Anggun yang pemalu, membuat suasana menjadi hening. Berbeda lagi jika selandainya ada Kaysa, pasti suasana akan berubah menjadi heboh.
Syadev terkejut, karena jalan yang ditunjukkan Anggun menuju ke panti asuhan. Dia tidak menyangka jika teman Kaysa itu tidak memiliki keluarga.
Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author🤗
__ADS_1