
Soal fashion Kaysa memang jagonya. Karena dari kecil gadis itu suka sekali dandan layaknya seorang model. Hanya saja karena dia dulu dipaksa Bundanya memakai hijab sehingga penampilan Kaysa sekarang tergolong sopan.
Sedangkan Anggun yang jarang sekali masuk ke Mall menganggap semua baju yang dipilihkan Kaysa terlalu mahal.
"Kaysa, apa tidak sayang mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli gaun ini?" tanya Anggun merendah.
"Bagiku harga diriku lebih mahal dibanding uang, karena aku selalu ingin tampil tercantik diantara para tamu," jawab Kaysa enteng.
Anggun tertawa, karena sikap Kaysa dan saudara kembarnya itu jauh berbeda.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Kaysa heran.
"Tidak, aku hanya heran saja. Kenapa Syadev justru sebaliknya. Sepertinya dia kurang minat dengan keramaian," jawab Anggun.
"Dia memang pemalas, dulu semasa sekolah dasar kalau tidak aku paksa bermain keluar mungkin dia hanya tiduran di dalam kelas saja. Dia juga tidak suka bergaul dengan orang lain," cetus Kaysa.
"Tapi kalian berdua ini meskipun sering berantem tapi di saat - saat penting kalian sangat hebat jika berkolaborasi. Aku teringat saat dulu kalian lomba basket melawan kakak kelas dan lomba kontes kecantikan saat MOS itu," puji Anggun jujur.
"Begitulah kami, selalu bertengkar tapi juga bisa diandalkan," jawab Kaysa tertawa karena bangga pada diri sendiri.
Anggun hanya tersenyum, sebab di balik sikap sombongnya Kaysa, gadis itu juga baik hati dan peduli pada sesama teman.
"Kamu sangat cocok memakai ini, coba di ruang ganti dulu sana," perintah Kaysa bersemangat.
Anggun tidak berani menolak lagi, gadis itupun menuruti perintah Kaysa.
Beberapa menit kemudian Anggun keluar dengan memakai baju pilihan Kaysa.
"Aku memang hebat, sangat cocok sekali denganmu. Nanti tinggal aku sulap supaya wajahmu semakin cantik dengan make up ala Kaysa," kata Kaysa memuji diri sendiri.
Anggun hanya tersenyum malu-malu, karena gadis itu memang tidak tahu sama sekali soal begituan. Karena selama ini Anggun hanya fokus pada belajar dan bekerja saja untuk menghidupi diri sendiri.
"Kenapa kamu belum memilih?" tanya Anggun heran.
"Aku masih belum menemukan gaun yang cocok untukku. Menurutku masih lebih bagus desain Tante Nindya," jawab Kaysa.
"Mamanya Darren?" tanya Anggun memastikan.
"Iya, karya Tante Nindya sangat luar biasa. Beliau adalah lulusan luar negeri dengan banyak prestasi. Selama ini aku selalu memakai rancangan dia," ujar Kaysa.
"Tapi apakah gaunnya bisa sampai di sini tepat waktu? Pestanya nanti malam loh," ucap Anggun cemas.
"Santai, barusan aku sudah menghubungi Tante Elly dan Tante Nindya. Jadi sekarang mereka menyuruh Darren dan Zahra untuk mengantarkannya ke sini," jawab Kaysa tenang.
"Wah hebat, biar Darren dan Zahra ikut pestanya sekalian. Dan mereka bisa jalan berduaan," ucap Anggun ikut senang.
"Maksudku juga begitu. Aku bisa melihat jika Darren mulai menyukai Zahra, tapi cowok itu payah. Belum berani mengungkapkan perasaannya pada Zahra," ejek Kaysa kesal pada Darren.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Zahra meminta pendapat.
"Tenang saja, nanti akan aku buat keduanya mengakui perasaan masing-masing," kata Kaysa tertawa puas.
Anggun percaya, karena Kaysa memang anak yang cerdik. Namun sayangnya Anggun sendiri tidak sadar jika dirinya juga sedang di comblangkan dengan Syadev.
"Anggun ini polos sekali, liat ya nanti akan aku buat kamu dan Syadev juga saling mengungkapkan perasaan masing-masing," batin Kaysa cengar cengir sendiri.
Kaysa membeli alat make up komplit, sepatu dan lain-lain. Gadis itu memang suka kalap kalau sudah memegang kartu kredit.
Makanya Zhia meminta pada Syauqi untuk membatasi Kartu kredit anak-anak. Bukannya karena pelit tapi mengajari supaya anak mereka tidak boros dan menghambur-hamburkan uang.
Tapi namanya juga Kaysa, sekiranya ingin barang yang mahal langsung merayu Ayahnya tanpa sepengetahuan Bundanya. Kalau tidak ya meminta Alarik, karena kekasihnya itu terlalu memanjakannya.
Tiba-tiba ponsel Kaysa berdering, gadis itu tahu kalau yang memanggil adalah Alarik.
"Sudah kuduga," kata Kaysa.
"Apanya yang sudah diduga?" tanya Alarik heran.
"Tidak, aku tahu pasti yang menelpon pasti adalah Kak Al," jawab Kaysa riang.
__ADS_1
"Itu karena kamu yang terlalu merindukanku," goda Alarik.
"Mana mungkin," elak Kaysa.
"Huu... Tidak mau mengakui. Belanjanya sudah belum? hampir empat jam loh. apa tidak capek muter-muter?" tanya Alarik mesra.
"Kenapa? Takut kalau nanti tagihan kartu kreditnya membengkak?" tanya Kaysa kesal.
"Bukan begitu, aku hanya mengkhawatirkan jika kamu kecapean saja," jawab Alarik tertawa ngakak.
"Ini sudah selesai kok, mau siap-siap pulang," kata Kaysa.
"Aku jemput ya?" pinta Alarik.
"Tidak, sebaiknya Kak Al menyiapkan kepentingan Kak Al dulu. Nanti malam kan acara pesta Kak Al sendiri," tolak Kaysa tegas.
"Iya, eh apa kamu punya nomornya Gio?" tanya Alarik lagi.
"Punya, memangnya kenapa?" tanya Kaysa penasaran.
"Undang Gio dan Mamanya yah! Bagaimanapun juga Gio menjadi saudaraku," pinta Alarik.
"Siap," jawab Kaysa langsung memutus sambungannya.
Kaysa sendiri juga tidak mengira jika ternyata Gio adalah sepupunya Alarik. Namun yang membuat Kaysa heran kenapa mereka selama ini tidak tahu? Setidaknya Alarik dan Mama Gio bisa saling mengenal.
Tapi Kaysa terlalu memikirkan tentang pesta nanti malam, jadi dia segera melupakan hal-hal yang menurutnya tidak penting.
πππππππππππππππ
Jam 8 Malam
Dua jam Kaysa berada di kamar lain bersama Anggun dan Zahra.
Kaysa sudah mendandani keduanya dengan optimal. Kini giliran merias wajahnya sendiri, dan waktu yang dibutuhkan lebih lama karena Kaysa menginginkan segala sesuatu dengan sempurna.
Setelah dirinya merasa puas, Kaysa segera merapikan alat make up nya yang tercecer di bantu kedua temannya.
"Kaysa! Kamu sudah di dalam selama dua jam, cepatlah keluar! Kita menunggu kamu sampai mau mati kelaparan," teriak Syadev dari luar kamar.
Kemudian juga terdengar suara Alarik.
"Sudah, tunggu saja sebentar lagi! Kamu seperti tidak tahu saudaramu saja," kata Alarik.
"Kak Al curang ah, yang di bela Kaysa terus," jawab Syadev merasa iri.
Kaysa yang masih di dalam kamar tertawa lirih membayangkan wajah kesalnya Syadev.
"Anggun, cepat bukakan pintunya!" pinta Kaysa.
Anggun segera membuka pintu, Stadev yang masih berdiri disitu langsung terkejut melihat wajah Anggun yang berubah total. Sangat cantik!
Syadev sampai terbengong, membuat Anggun tersipu malu.
"Heh, kenapa bengong? Tidak jadi marahnya?" sindir Kaysa yang sudah berdiri di belakang Anggun.
Syadev mengerjapkan matanya dan berbalik arah, pemuda itu terlalu malu karena ketahuan terpesona dengan kecantikan Anggun.
Darren yang melihat Zahra setelah dipoles make up juga ikut terkejut, pemuda itu baru menyadari jika Zahra juga cantik. Hanya saja selama ini Darren terlalu fokus pada Kaysa yang memang kecantikannya di atas rata-rata.
"Wah, kalian cantik sekali," puji Zhia.
"Tentu dong, semua berkat tangan Kaysa yang berbakat ini," jawab Kaysa bangga.
Zhia mengakuinya, karena dirinya sendiri juga tidak bisa melakukan seperti putrinya.
"Putri Papa ini memang hebat!" puji Syauqi merasa bangga.
Biasanya setiap Kaysa dipuji, Syadev menjadi orang pertama yang protes dan berbalik mengejek. Tapi sepertinya kali ini saudara kembar Kaysa itu mengakuinya. Buktinya hasil karya Kaysa membuat dirinya semakin mengagumi Anggun.
__ADS_1
Alarik sendiri hanya senyum-senyum saja. Pemuda itu merasa tidak sia-sia Kaysa menghabiskan banyak uangnya. Karena hasilnya sangat memuaskan.
Pesona Kaysa memancar seperti seorang permaisuri, karyawan hotel saja sampai terbengong melihat putri Syauqi Malik itu.
Diam-diam Alarik merasa tidak rela jika kekasihnya di pandang seperti itu oleh setiap lelaki.
"Kenapa bengong? Kak Al sama sekali belum memuji aku," rengek Kaysa.
Alarik tertawa, pemuda itu lupa kalau Kaysa adalah seorang wanita yang gila pujian.
"Kamu cantik sekali, sampai aku tidak bisa melepaskan pandanganku pada wajahmu," bisik Alarik dengan senyuman menggoda.
"Senyumnya jangan terlalu tampan seperti itu! Aku jadi tidak tahan untuk menciummu," jawab Kaysa tak kalah menggoda.
Takk..
Alarik langsung menjitak kepala Kaysa.
"Auh..." teriak Kaysa membuat semua orang menoleh ke belakang.
Kaysa dan Alarik berjalan paling belakang, jadi semua orang tidak bisa mendengar obrolan mereka berdua.
"Kamu kenapa?" tanya Syauqi.
"Tidak apa-apa, Ayah," jawab Kaysa meringis menahan malu.
Semua orang berbalik lagi dan berjalan ke depan.
Syauqi semobil dengan Istri dan putri bungsunya yang pendiam.
Syadev bersama Anggun. dan Zahra semobil dengan Darren.
Kaysa tersenyum puas. Karena rencanya sudah mulai berjalan dengan baik.
"Apa yang sedang kamu pikirkan gadis nakal?" tanya Alarik.
"Aku hanya senang, semoga nanti malam Syadev dan Darren punya keberanian menyatakan perasaan mereka," jawab Kaysa.
"Tidak semua orang memiliki rasa percaya diri sepertimu," jawab Alarik.
"Itu tandanya mereka yang payah," balas Kaysa tidak mau kalah.
"Baiklah, Kaysa lah yang terhebat. Sialahkan masuk Tuan Puteri," kata Alarik sambil membuka pintu mobil untuk kekasihnya.
Dengan senang hati Kaysa masuk layaknya seorang putri.
Mobil yang lainnya sudah berjalan sejak tadi, tapi Alarik dengan sengaja memperlambat lajunya.
"Kaysa, kamu belum memberi aku hadiah ulang tahun. Tadi pagi kuenya saja kamu ambil kembali," sungut Alarik pura-pura marah.
"Memberi apa? Uang Kak Al sangat banyak, bisa membeli apapun yang kamu mau," jawab Kaysa cuek.
"Kok gitu, setidaknya beri sesuatu yang spesial," pinta Alarik.
"Apa?" tanya Kaysa penasaran.
"Peluk cium juga boleh," jawab Alarik tertawa lirih.
"Tidak! Aku nggak mau make up aku jadi berantakan," tolak Kaysa tegas.
"Tumbenan menolak, biasanya kamu uang suka inisiatif duluan," sindir Alarik.
"Kak Al!" teriak Kaysa karena malu.
"Nanti setelah pesta ya?" goda Alarik.
"Nggak mau. Mulai sekarang aku mau jual mahal. Aku nggak mau dikatakan cewek nyosoran," jawab Kaysa marah.
"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang biar aku yang duluan," balas Alarik dengan senyuman menggoda.
__ADS_1
Kaysa justru merasa malu, sedangkan Alarik sangat senang sekali menggoda Kaysa yang menggemaskan itu.
Terima kasih sudah mendukung Author selama ini, jangan lupa Like dan Vote yaπ Semoga Novel Cinta Yang Terpaksa bisa berkembang lebih baik lagiπ€