
Pagi harinya Zhia sudah dijemput Syauqi di depan rumahnya, tak lupa juga dia membuat dua bekal makanan seperti yang sudah dijanjikan.
"Zhia, kamu sudah sarapan belum?" tanya Syauqi manis.
Syauqi yang sedang menyetir matanya menatap lekat wajah Zhia yang semakin hari terlihat semakin cantik.
"Sudah. Alangkah baiknya jika Mas Syauqi fokus melihat ke depan supaya kita bisa selamat sampai tujuan," sindir Zhia halus.
Zhia merasa gugup jika dipandang seperti itu.
Syauqi tertawa lirih dengan tingkah Zhia yang pemalu.
"Kulihat semakin hari wajahmu semakin cantik. Tubuhmu juga bertambah berisi, jadi semakin menarik," canda Syauqi tersenyum nakal.
Zhia tak menanggapi gombalan Syauqi, karena Zhia sadar bagian mana yang terlihat berisi.
"Bagaimana dengan anak kita? kamu rajin minum susu bumil kan?" kali ini Syauqi bertanya dengan wajah serius.
"Aku belum sempat cek, lagi pula mana mungkin di rumah aku minum susu bumil. Sama saja aku memberitahukan pada semua orang jika aku hamil," sahut Zhia.
"Sekarang kita ke dokter kandungan dulu. Nanti sepulang dari Kantor aku belikan susu bumil. Aku nggak mau tahu bagaimana caranya tapi kamu harus meminumnya," tegas Syauqi.
"Mas Syauqi pengalaman sekali soal kehamilan, apa jangan-jangan tanpa sepengetahuanku di luar sana sudah punya banyak anak?" tanya Zhia menyelidik.
Wajah Syauqi lansung menoleh dengan ekspresi jutek.
"Apa maksudmu?" tanya Syauqi.
"Bisa saja kan? Buktinya Mas Syauqi seenaknya sendiri melakukan apapun tanpa rasa malu padaku. Siapa tahu sebelumnya juga pernah melakukan hal yang sama pada orang lain," balas Zhia.
"Kamu kira aku ini orang gampangan? Aku hanya melakukan itu padamu saja," tegas Syauqi.
"Aku cuma bertanya lo ya," sergah Zhia.
Beberapa saat di dalam mobil yang mereka tumpangi menjadi sunyi.
Namun Syauqi merasa tak tenang jika harus berdebat dengan Zhia, dia berusaha bersabar supaya perlahan masuk ke relung hatinya Zhia.
"Zhia..."panggil lembut Syauqi.
Suaranya memang merdu sampai membuat bulu roma Zhia berdiri.
"Apa..?"jawab Zhia datar.
__ADS_1
"Nanti aku boleh ikut menengok Iyas?"
"Tidak! Aku takut malah semakin tambah parah jika Mas Iyas melihat Mas Syauqi," sergah Zhia jujur.
"Aku hanya berniat baik," jawab Syauqi kalem.
"Lain kali saja bila Mas Iyas sudah lebih baik, sekarang dia sedang butuh perhatian dari orang-orang terdekat supaya segera sembuh," tutur Zhia lembut, berharap calon suaminya bisa memahami.
"Baiklah, nanti pulangnya jam berapa?" tanya Syauqi.
Raut wajahnya dibuat setenang mungkin.
walaupun hatinya terasa sakit jika membayangkan Zhia bersama Iyas.
"Sekitar jam sembilan. Tapi nanti Nindy juga ke sana, pulangnya aku bareng dia saja ya dari pada Mas Syauqi bolak-balik," kata Zhia.
"Tapi sebelum ke ruangan Iyas kita ke dokter kandungan dulu, dan aku mau ikut," tegas Syauqi yang membuat Zhia tak bisa menolak lagi.
Usia kandungan Zhia masih muda, baru sekitar tiga mingguan. Dokter memberikan beberapa resep vitamin dan penambah darah. Zhia sendiri merasa malu pada dunia terlebih kepada Alloh karena belum menikah tapi sudah hamil duluan. Berbeda dengan Syauqi yang dari tadi tersenyum terus karena terlalu bahagia.
"Zhia, kamu hati hati ya. Jaga diri dan anak kita baik-baik. Aku akan langsung ke kantor dulu," pamit Syauqi.
Zhia hanya mengangguk, dia bisa merasakan ketulusan dan tanggung jawab Syauqi. Namun di sudut hati kecilnya masih ada sesuatu yang menahan dia untuk sepenuhnya bisa menerima Syauqi.
Di sana hanya ada Nayla yang menunggu sendirian.
"Assalamu'alaikum," sapa Zhia.
"Wa'alaikusalam," balas Nayla penuh semangat.
"Kamu sendirian? Di mana Abah dan Umi?" tanya Zhia.
"Baru saja pulang, aku sengaja menyuruh mereka pulang dulu supaya bisa mandi, sarapan dan istirahat mumpung aku sedang gak ada jadwal kuliah. Iyas dari tadi belum sarapan. Aku sudah mencoba menyuapinya tapi dia masih saja diam tak merespon," ungkap Nayla merasa sedih dan khawatir.
Zhia duduk di kursi samping Iyas sambil memegang bubur.
"Assalamu'alaikum, Mas Iyas. Bagaimana kabarmu? Aku rindu bercanda denganmu. Aku ingin kita bisa kembali seperti masa kecil yang hanya tahu tentang kebahagiaan," kata Zhia lembut.
Tak terasa air matanya berlinang.
Zhia menyesali perbuatannya sendiri yang telah membuat Iyas seperti ini, tak bisa di pungkiri jika hatinya masih terukir nama Iyas.
Namun kemudian Zhia teringat apa yang barusan dia katakan sama seperti mengeluh dan berburuk sangka pada rencana Alloh. Zhia mengucap istighfar berkali - kali supaya Alloh bisa mengampuni dosanya. Karena Zhia juga sudah bertekad tetap akan melanjutkan hidup ini dengan niatan mengharap ridho Alloh.
"Mas Iyas, buka mulutnya ya! Biar Zhia suapi," bujuk Zhia seperti merayu Alifya yang susah makan.
__ADS_1
Secara perlahan Iyas mau makan. Namun pemuda itu sama sekali tak menoleh. Tatapan matanya kosong seperti tak punya keinginan untuk hidup lagi.
Setelah makanannya habis, Zhia menyuruh Iyas minum, lagi - lagi Iyas menurut tanpa berbicara.
Tiba-tiba terdengar bunyi pesan dari ponsel Zhia. Setelah di buka ternyata dari kakak iparnya.
"Nayla, aku pulang dulu ya? Barusan Kakak Iparku kirim pesan mau gantian menjenguk ke sini. Jadi aku disuruh menjaga Ruko," kata Zhia pada Nayla.
"Oke siap," balas Nayla riang.
Zhia berdiri dan membereskan tempat bekas bubur yang tersisa sedikit. Tak diduga Iyas menoleh kearah Zhia.
"Jangan pergi Zhia," pinta Iyas dengan suara lirih.
"Mas Iyas.... kamu sudah bisa mengenaliku?" reflek Zhia dengan suara lumayan keras.
"Aku kira kamu hanya hayalanku saja, ternyata kamu benar-benar disini," jawab Iyas lemah.
"Aku di sini, aku akan selalu di sini,"balas Zhia tersenyum bahagia.
Iyas juga tersenyum, betapa rindunya Zhia dengan senyuman Iyas yang selalu mendamaikan hatinya selama ini.
Nayla bahagia akhirnya orang yang dicintainya sadar dan memiliki semangat hidup lagi, walaupun itu bukan karena dia.
"Aku panggil dokter dulu ya," pamit Nayla.
Gadis itu memberi ruang untuk mereka berdua agar saling mengobrol. Karena Nayla tahu obat yang bisa membuat Iyas sembuh adalah Zhia.
"Zhia, bagaimana mungkin kamu tega meninggalkan aku?" tanya Iyas terlihat sengsara.
Ada sejuta pertanyaan dibenaknya untuk Zhia, kenapa Zhia meninggalkannya? padahal Iyas sudah mau menerima Zhia apa adanya.
Zhia tak bisa menjawab apapun, dia takut salah bicara karena Iyas baru saja membaik. dia tak ingin menyakitinya tapi juga tak ingin memberi harapan palsu yang membuat Iyas terluka lebih dalam.
"Aku sampai berharap Alloh mencabut nyawaku saat itu juga setelah kamu meninggalkanku di Taman. Hati dan jiwaku terasa remuk. Bertahun - tahun kita tertawa bersama, membayangkan kamu tak ada lagi di sisiku membuatku tak punya arti dan tujuan dalam hidup ini. Tanpamu bagaimana aku bisa melanjutkan hidup lagi?" rintih Iyas.
Zhia hanya membisu dan kedua tangannya menutupi wajahnya. Zhia juga merasakan hal yang sama seperti yang dialami Iyas, dia sendiri selama ini juga selalu menanyakan pertanyaan itu pada diri sendiri. Namun Zhia tak pernah menemukan jawabannya...
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi.
__ADS_1