
Selesai sholat subuh Kaysa dan Alarik keluar kamar. Di ruang tamu sudah ada Syadev, Anggun dan Darren yang merasa tegang seperti hendak di sidang.
Kaysa bersikap acuh tak acuh, Syadev langsung menarik tangan saudara kembarnya untuk duduk di sofa.
"Kaysa, aku tahu kamu marah. Tapi mengertilah situasiku saat itu," pinta Syadev.
"Iya," jawab Kaysa cuek.
Syadev sedikit lega, meskipun Kaysa masih terlihat marah tapi setidaknya saudara kembarnya itu masih mau berbicara dengannya.
"Dari mana kamu bisa tahu rumahku?" tanya Syadev penasaran.
"Kalau aku tidak mau menjawab bagaimana? Apa kamu kesal?" cetus Kaysa.
"Tidak, aku tidak akan marah," timpal Syadev secepatnya.
"Kaysa, maafkan aku ya?" ucap Anggun yang sudah hampir menangis.
"Aku maafkan, asalkan kamu mau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu," kata Kaysa tegas.
"Apa?" tanya Anggun dan Syadev bersamaan.
Alarik dan Darren juga ikut menunggu, kira-kira pertanyaan apa yang akan dilontarkan Kaysa.
"Kalian menikah kapan?" tanya Kaysa menatap tajam.
"Sehari sebelum aku ke Amerika," jawab Syadev pelan.
"Berarti saat kamu bilang menginap di rumah Darren itu bohong?" tanya Kaysa menatap kesal.
"Iya, malam itu aku jalan-jalan bersama Anggun," jawab Syadev jujur.
"Kalau begitu di mana kalian berdua melakukan malam pertama?" tanya Kaysa berubah antusias.
Anggun dan Syadev memerah, sedangkan Alarik dan Darren menahan tawa tapi juga sangat penasaran.
"Anak ini, sangat pandai kalau mempermalukan orang lain di depan umum," batin Alarik mengkritik istrinya yang nakal.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Kaysa berubah kesal lagi.
"Kaysa, pertanyaanmu ini konyol! Tapi aku dan Anggun belum pernah melakukan itu yaa," jawab Syadev tersinggung dan malu-malu.
"Aku tidak percaya!" kata Kaysa dengan nada tinggi.
"Tidak percaya ya sudah," balas Syadev habis kesabarannya.
"Kalau begitu bagaimana reaksi Ayah dan Bunda ya kalau mendengar kabar bahagia ini?" sindir Kaysa melirik ke arah Syadev dengan tatapan licik.
Anggun masih menunduk, sedangkan Syadev langsung terkejut dan membalas tatapan Kaysa dengan pandangan memohon.
"Kali ini sajalah, tolong saudara kembarmu ini. Jangan bongkar rahasia ini sampai aku lulus kuliah," pinta Syadev memohon.
"Wah, baru kali ini aku dengan kamu mengakui aku sebagai saudara kembar aku!" sela Kaysa dengan senyuman mengejek.
"Ayolah, sejak kecil aku selalu menolong kamu," bujuk Syadev.
"Tapi berbohong pada orang tua itu dosa loh, aku tidak mau jadi anak durhaka," jawab Kaysa mempermainkan Syadev.
"Demi kamu aku juga sering berbohong pada Ayah dan ibu kan?" bujuk Syadev setengah memaksa.
"Tapi apa kamu yakin jika aku diam tapi Ayah tidak akan tahu, kamu tahu sendiri Ayah bagaimana kan?" ucap Kaysa kali ini serius.
"Makanya kamu jangan bilang dulu! Soal itu biarlah waktu yang menjawab," ucap Syadev meyakinkan.
"Yah... Karena aku ini anak yang baik maka aku bersedia membantumu. Aku hanya penasaran jika kamu pulang ke Indonesia dengan membawa anak pasti bikin heboh," jawab Kaysa tersenyum geli.
Anggun langsung berdiri memeluk Kaysa, begitu juga dengan Syadev.
"Terima kasih, Kaysa," ucap Anggun.
"Panggil aku kakak ipar!" protes Kaysa.
"Iya, Kakak ipar," timpal Anggun.
Sebenarnya kuping Syadev terasa geli mendengar istrinya menyebut Kaysa Kakak ipar, tapi demi mengambil hati Kaysa dia harus menahan diri untuk berbaikan.
Alarik hanya melirik dengan senyuman yang tidak bisa di tebak.
"Kak Al..." rengek Syadev penuh arti.
"Bagaimana ya? Nyaliku tidak sebesar Kaysa jika untuk berbohong pada Ayah dan Bunda," jawab Alarik santai.
"Asalkan Kak Al diam saja, kan tidak termasuk berbohong," bujuk Syadev.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jika kamu tidak ingin ketahuan makan berhati-hatilah sendiri!" tutur Alarik mengingatkan.
"Iya, Kak," jawab Syadev patuh.
Sebenarnya Alarik curiga jika Ayahnya sudah mengetahui tentang semua ini. Apalagi yang memberikan alamat rumah Syadev juga Ayah mereka.
"Ayah sulit di tebak terkadang dia tahu tapi diam dan mengawasi dari kejauhan."
Alarik hanya bisa pasrah saja, mengenai Ayah dan Bundanya kelak pasti bisa menerima semua ini. Sebab kedua orang tua mereka memiliki sikap murah hati dan penyabar.
"Ayo kita makan dulu!" ucap Anggun mengajak semuanya pindah ke ruang makan.
"Wah, lumayan Syadev! Kamu masih bisa memakan makanan ini," kata Kaysa setelah membuka tudung makanan.
Syadev hanya tersenyum tanda setuju dengan ucapan saudara kembarnya itu.
Kaysa dan Alarik makan dengan lahap, berhari-hari mereka mencicipi makanan khas dari negara lain. Lidah mereka merindukan makanan ala Indonesia.
"Enaknya," puji Alarik setengah menyindir istrinya.
"Kak Al kan punya istri, suruh saja istrinya Kak Al masakin," goda Darren mewakili Syadev.
Syadev kali ini tidak bisa berkutik, pemuda itu lebih memilih Zona aman terlebih dahulu.
"Setelah kita di Indonesia nanti Kaysa katanya mau masak buat aku," ucap Alarik senang.
Kaysa hanya melirik tanda tidak suka diremehkan orang lain.
"Setelah ini kalian mau kemana? Aku, Anggun dan Darren harus masuk kuliah," tanya Syadev pada Kaysa dan suaminya.
"Jalan-jalan saja di sekitar rumah ini, sepertinya pemandangannya indah. Tadi pagi aku sekilas melihat, hanya saja masih gelap jari tidak jelas," jawab Kaysa.
"Baiklah kalau begitu, kami tinggal dulu ya?" ucap Syadev berpamitan.
"Aku pamit dulu ya? Kalau mau makan cemilan buka di kulkas saja," ucap Anggun ramah.
"Iya, iya," jawab Kaysa.
Kini hanya tinggal Kaysa dan Syadev saja.
" Di sini tidak ada pembantu, apa kamu tidak mau cuci piring?" sindir Alarik.
"Oh iya, kenapa mereka langsung kabur saja?" protes Kaysa kesal.
"Aku belum pernah cuci piring," rengek Kaysa.
"Sini biar Kak Al saja," kata Alarik berdiri dan mengambil piring-piring kotor tersebut.
"Stop! Aku mau mencobanya," sergah Kaysa merebut piring-piring dari tangan suaminya.
Alarik menyerahkannya dengan senang hati, pemuda itu merasa penasaran bagaimana kinerja istrinya itu.
Kaysa rupanya bisa, dengan bangga dia memamerkan pada suaminya.
"Aku bisa... Aku bisa..." teriak Kaysa girang.
"Iya, iya. Istriku kan hebat! Serba bisa," puji Alarik tertawa geli.
"Setelah ini kita cari kado untuk Syadev dan Anggun yuk?" ajak Kaysa bersemangat.
"Kado apa?" tanya Alarik.
"Aku juga bingung, kira-kira apa yang saat ini mereka butuhkan ya?" tanya balik Kaysa yang tengah kebingungan.
"Sebaiknya berikan mereka uang saja," saran Alarik.
"Benar juga, mereka bisa menggunakannya untuk keperluan mereka sehari-hari. Mau memberikan berapa? Pakai uang Kak Al ya?" rayu Kaysa.
"Iya," jawab Alarik mengalah.
Alarik langsung mengeluarkan ponsel, dan mengetik nominal uang yang besar untuk di transfer pada adik lelakinya.
"Berapa?" tanya Kaysa.
"Nih," ucap Alarik menunjukkan layar ponselnya.
"Wah, keren. Aku belum pernah di kasih uang segitu," rengek Kaysa.
Alarik langsung menjitak kepala istrinya lumayan keras.
"Uang ini kalau dibandingkan dengan barang-barang yang kamu minta tidak ada apa-apanya yah," kata Alarik.
Kaysa hanya tertawa lirih saja.
__ADS_1
ππππππππππππππππ
Syauqi memprediksi jika Kaysa sudah bertemu Syadev, diam-diam dia menyelinap dari istrinya dan menelepon putrinya.
"Sudah bertemu Syadev?" tanya Syauqi lewat ponsel.
"Sudah, Ayah. Tapi Dia dan Darren sedang masuk kuliah," jawab Kaysa tenang.
"Bagaimana keadaan Syadev?" tanya Syauqi basa-basi.
"Baik kok," jawab Kaysa riang.
"Ya sudah, kalau begitu Ayah tutup dulu ya?" ucap Syauqi memutus sambungan teleponnya.
"Kaysa ternyata ikut-ikutan menyembunyikan semua ini. Harus di hukum apa kalian biar jera?" batin Syauqi kesal.
Saat Syauqi berbalik ingin kembali ke kamar tiba-tiba istrinya sudah di depan mata. Syauqi kaget dan menjerit.
"Ah... Bunda, mengagetkan saja," pekik Syauqi.
"Mas Syauqi! Kenapa harus sembunyi-sembunyi dariku? Tadi itu telepon dari siapa?" tanya Zhia curiga.
"Kaysa," jawab Syauqi.
"Bohong, coba aku cek ponselnya," jawab Zhia sambil merebut ponsel milik suaminya.
Syauqi hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba cemburuan itu.
Setelah di cek ternyata memang nomor Kaysa.
"Kamu pikir aku teleponan dengan siapa?" goda Syauqi.
"Siapa tahu gadis-gadis muda di sana," balas Zhia.
"Gadis muda pun jika dibandingkan denganmu juga kalah jauh," rayu Syauqi meraih pinggang istrinya yang ramping.
"Bohong! Tapi kenapa akhir-akhir ini Mas Syauqi terlihat resah?" tanya Zhia penasaran.
"Aku hanya memikirkan Syadev semoga cepat lulus, dengan begitu dia bisa segera mengambil alih perusahaan. Aku ingin pensiun dan menikmati hari-hari bersamamu," jawab Syauqi jujur.
"Semoga saja Syadev bisa segera menyelesaikan belajarnya dengan baik," ucap Zhia penuh harap.
"Kalau saat itu tiba, kamu ingin tinggal di mana menikmati hari tua kita?" tanya Syauqi penasaran.
"Di villa, di sana pemandangannya sejuk. Rumah ini biar ditempati Syadev dan istrinya kelak," kata Zhia.
Mereka menyadari jika usia mereka sudah semakin bertambah, tidak menyangka waktu berlalu begitu cepat.
"Aku merindukan mereka," timpal Zhia.
"Iya, apalagi tingkah Kaysa dan Syadev di masa kecil sungguh susah di lupakan," jawab Syauqi ikut merenung.
"Dan mereka kini juga hidup terpisah menjalani kehidupan masing-masing, tidak seperti dulu yang kemana-mana bersama," ujar Zhia.
"Kita do'akan saja semoga dimanapun mereka selalu sehat dan bahagia," timpal Syauqi menenangkan istrinya.
"Iya, kita hanya bisa berdo'a," ucap Zhia.
Zhia menerawang kembali mengingat masa lalu, takdir hidup memang tidak bisa di tebak. Dulu merasa seakan-akan hidupnya hancur setelah Iyas meninggal. Namun ternyata di balik kesabarannya hidupnya kini bisa bahagia. Syauqi sebagai suaminya juga bisa menjadi imam yang baik dan penyayang. Anak-anaknya juga adalah anugerah terindah yang diberikan Alloh padanya.
"Mas Iyas, kenangan yang tidak bisa di lupakan. Namun tidak ku sangka jika aku bisa jatuh cinta begitu dalam pada suamiku melebihi rasa cintaku padamu dulu."
Zhia tiba-tiba memeluk Syauqi erat, iya, suaminya dulu memang sudah membuat dia pernah mengalami kenangan pahit. Namun suaminya juga sudah membuat hidupnya berarti dan penuh warna.
"Kenapa tiba-tiba manja begini?" tanya Syauqi.
"Aku rindu anak-anak, jadi aku peluk Ayahnya saja," jawab Zhia.
Syauqi membalas pelukan istrinya dengan erat.
"I love you, sayang," bisik Syauqi mencium bibir Zhia penuh rasa cinta.
Zhia tanpa malu-malu membalas ciuman itu penuh gairah.
"Nakal," umpat Syauqi saat bibirnya di gigit mesra oleh istrinya.
Zhia langsung berlari masuk ke dalam kamar. Syauqi tidak segan-segan menyusul istrinya dengan nafsu yang membara.
Setelah itu permainan masih berlanjut.
**Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yaπ Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authorπ€
Dan terima kasih sudah setia sampai di sini, tetap nantikan kisah mereka selanjutnya yaπ€π€π€π€
__ADS_1
Baca juga Scorpio ya, kisahnya tidak kalah bikin gregetπ€**