
Syauqi dan Zhia sengaja menetap di Amerika karena ingin membantu merawat si kembar. Sebab jika tidak begitu Syadev bisa pecah konsentrasinya dalam menyelesaikan kuliahnya.
Tepat setelah kelulusan Syadev justru kondisi Zhia memburuk, awalnya hanya dikira masuk angin biasa. Tapi semakin lama keadaanya menjadi semakin lemah.
Walaupun Zhia sudah menutupi dari keluarganya akan tetapi Syauqi dan Syadev memiliki kepekaan yang tinggi. Mereka memaksa Zhia untuk ke rumah sakit.
Rupanya penyakit lama Zhia kambuh dan malah anak-anaknya apa a1q semakin parah, lamembuat Syauqi Frustrasi. Bahkan kini Zhia juga harus di rawat di rumah sakit yang besar di Amerika sana.
Tak lama kemudian Kaysa, Alarik serta Flora juga bergegas menyusul untuk menengok Bunda mereka.
Seharusnya ini menjadi perkumpulan yang membahagiakan, apalagi keluarga mereka bertambah tiga anggota baru. Dan setelah sekian lama baru kali ini bisa bersama.
Saat Zhia tergolek tak berdaya, anak - anaknya hanya bisa berdo'a sambil menangis pedih. Mereka masih belum rela jika harus kehilangan Bunda mereka secepat ini.
Sedangkan Syauqi sejak tadi pergi menemui dokter hebat untuk mencari solusi agar istrinya bisa disembuhkan.
"Ayah, sudah sejak kapan Bunda sakit?" tanya Syadev pilu.
"Sudah lama, setelah kamu berangkat ke Amerika," jawab Syauqi.
Syadev terdiam, waktu itu dia memang sempat memiliki firasat mengenai Bundanya.
"Lalu, bagaimana Ayah? Apakah Bunda masih bisa disembuhkan?" tanya Syadev sangat panik.
Syauqi terdiam, sebab pilihan yang diberikan oleh dokter sangat sulit.
"Ayah, coba katakan!" sela Kaysa.
"Bunda harus segera melakukan cangkok sumsum tulang belakang, tapi milik Ayah tidak cocok," jawab Syauqi lemas.
"Ayah, masih ada aku," sela Syadev.
"Aku, Ayah," timpal Alarik.
"Aku, juga," rengek Kaysa.
"Aku juga siap, Ayah," ujar Anggun.
"Aku, Ayah. Untuk Bunda aku rela melakukan apapun," teriak Flora antusias begitu mendengar ada harapan.
"Flora masih kecil, Ayah tidak akan mengizinkan. Karena prosesnya nanti menyakitkan. Sedangkan Anggun dan Kaysa juga tidak bisa. Kalian baru saja melahirkan, untuk memproduksi ASI yang bagus kalian tidak boleh sakit," sergah Syauqi.
Alarik dan Syadev saling bertatap mata, intinya siapapun itu yang penting Bunda mereka terselamatkan.
Akhirnya Syauqi mengajak Syadev dan Alarik untuk tes, apakah nanti bisa cocok atau tidak.
Setelah cukup lama dalam penantian, sang dokter keluar dengan raut wajah suram. Itu menandakan jika keduanya tidak cocok.
Syauqi tak habis akal, dia berani memberikan bayaran yang tinggi jika ada mau mendonorkan sumsung tulang belakang untuk istrinya.
Akan tetapi walaupun banyak yang tergiur, namun masih belum ada yang cocok juga.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Dewa sudah mulai bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Rasa belas kasihan pada Flora kecil sudah meluntur seiringnya berjalannya waktu.
Apalagi Eiji yang terus menggemblengnya dengan bisikan - bisikan mengenai Syauqi Malik yang menyebabkan orang tuanya meninggal secara tragis.
Kini Dewa sudah mulai disibukkan dengan jurusan apa yang akan dia pilih nanti saat memasuki Universitas. Tapi dia sendiri bingung juga mau kuliah di mana.
"Daichi, kamu jangan melupakan asal kamu dari mana. Sekolah di sini saja dan kamu juga bisa mulai mengambil alih perusahan papamu," ucap Eiji tegas.
__ADS_1
Dewa diam saja, dia masih merasa asing dengan namanya sendiri yang asli. Sebab semenjak kecil kupingnya hanya menerima panggilan dengan sebutan Dewa.
"Daichi, jadi seorang lelaki tidak boleh lemah. Kamu tahu sendiri bagaimana papamu dulu memperjuangkan usahanya sampai titik darah penghabisan. Dan kamulah satu - satunya penerusnya!" bujuk Eiji pada keponakannya.
Dewa sebenarya sangat dilema, sebab di sisi lain dia juga harus melanjutkan usaha Ayah angkatnya. Dia juga dijadikan sebagai sandaran orang tua yang sudah merawatnya sejak bayi.
"Paman, jujur saja aku tidak bisa jika harus masuk di dunia yang hitam. Karena aku takut akan membahayakan orang tua angkatku, mereka hanya orang biasa yang hidup damai. Jadi sebaiknya Paman Eiji saja yang melanjutkan bisnis papa," pinta Dewa.
"Apa kamu yakin melepaskan kesempatan ini begitu saja? Kamu bisa mendapatkan ketenaran, harta melimpah dan banyak wanita," bujuk Eiji tertawa lebar.
Dewa sama sekali tidak kepikiran sampai disitu, apalagi jika berbicara soal wanita. Dia sendiri tidak ada perasaan tertarik dengan lawan jenis. Hatinya sudah dipenuhi dendam sampai dia sendiri tidak memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk merasakan cinta.
"Yakin, Paman. Biar aku meneruskan usaha Ayah saja," jawab Dewa.
"Jika kamu ingin melepaskan tanggung jawabmu atas bisnis papamu, sebelumnya kamu harus bisa balas dendam terlebih dahulu membalas dendam pada Syauqi. Dengan begitu papamu tidak akan kecewa padamu," jelas Eiji.
"Iya, Paman. Itu pasti akan aku lakukan," jawab Daichi.
"Kalau begitu kamu masuk universitas di sini saja. Nanti segalanya bisa aku atur untukmu!" perintah Eiji.
"Aku akan meminta izin terlebih dahulu pada orang tua angkatku," jawab Dewa.
Dewa merasa hidup di antara dua dunia. Hitam dan Putih. Akhirnya justru membuat hidupnya menjadi berkelabu dan tak tentu arah.
Sebenarnya jauh di lubuk hatinya Dewa lebih merasa nyaman hidup sesuai ajaran orang tua angkatnya, tentang kasih sayang, memaafkan dan hidup damai.
Berbeda dengan yang diajarkan oleh Paman Eiji. Kekerasan, dendam dan kriminal.
Terkadang dalam hati Dewa merasa curiga, kenapa pamannya itu tidak pernah mau di ekpos di depan orang tua angkatnya. Apalagi jika di pikir - pikir mereka juga masih ada ikatan saudara.
Bagi Dewa Eiji seperti bayangan, bisa dilihat tapi tak bisa tersentuh. Datang dan pergi sesuka hati tanpa ada yang bisa menyadarinya.
Dewa kemudian menemui kedua orang tuanya yang tengah duduk bersantai di ruang tamu.
"Ada apa, putraku?" tanya sang Ayah berwibawa.
"Aku ingin kuliah di Jepang, apa boleh?" pinta Dewa secara perlahan.
Seketika Ibunya Dewa terperanjat kaget, seperti ada perasaan tidak rela.
Dewa tahu pasti akan terjadi seperti ini, sebab ibu angkatnya itu begitu mencintai dia lebih dari apapun.
"Kamu sudah besar Dewa, pasti sudah bisa membedakan mana yang baik atau tidaknya bagimu. Pesan Ayah jika setelah kamu selesai kuliah segera kembali dan menggantikan Ayah yang sudah tua ini," jawab Ayahnya Dewa lembut.
"Terima kasih, Ayah. Aku akan berusaha agar bisa lulus secepatnya," jawab Dewa senang.
Kemudian tanpa sepatah kata Ibunya Dewa langsung berlari menuju kamarnya sendiri sambil menangis. Dewa menjadi gelisah dan dilema lagi.
"Dewa, kamu harus bisa memaklumi bagaimana sifat ibumu yang sangat peduli padamu. Jadi kamu pintar - pintarlah membujuknya," ujar Ayahnya Dewa tersenyum lembut.
"Iya, Ayah. Saya permisi dulu," jawab Dewa sembari menyusul ibunya.
Sesampainya di kamar rupanya Ibunya itu sedang duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Yah… Dewa memang sangat menyayangi ibunya yang lemah lembut dan penuh kasih itu.
"Ibu, aku pergi untuk belajar dan hanya sementara. Nanti setiap dua bulan sekali aku akan pulang, lagi pula nanti Ayah dan Ibu juga bisa menengok aku ke sana," bujuk Dewa.
"Kau putraku, mana mungkin ibu bisa berpisah denganmu dalam waktu yang cukup lama," jawab Ibunya Dewa terisak pilu.
Dewa langsung bersujud di kaki Ibunya, tapi Ibunya itu segera mengangkat tubuh Dewa dan memeluk putranya erat.
"Ibu sadar kamu bukan anak kecil lagi yang butuh perlindungan Ibu. Jadi ibu hanya meminta tetaplah kamu menjadi diri sendiri dan jangan sampai terpengaruh oleh dunia luar. Dunia ini luas sayang, dan apa yang kamu lihat ataupun apa yang kamu dengar itu tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi jangan Bebani dirimu dengan hal - hal yang kelak hanya akan merugikan dirimu sendiri," tutur Ibunya Dewa sambil menepuk kedua bahu Dewa.
__ADS_1
"Ibu salah, aku masih selalu butuh perlindunganmu Ibu. Selamanya aku akan menjadi putramu yang butuh kasih sayang dan sandaran," jawab Dewa tersenyum riang agar ibunya tak menangis lagi.
"Hey, Sebentar lagi kamu ini akan menikah. Jadi Ibu minta kamu carilah istri yang baik dan tulus mencintaimu," sergah Ibunya Dewa ikut tertawa.
"Ibu, aku masih jauh membahas soal menikah, intinya di dunia ini cintaku hanya untuk Ayah dan ibu," balas Dewa.
Ibunya Dewa tersenyum riang, sebab putranya itu belum pernah mengenal cinta. Padahal biasanya anak remaja yang lain baru masuk SMP sudah bisa merasakan cinta monyet.
"Nak, kamu nanti juga akan mengalaminya," gumam Ibunya Dewa.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sudah tiga hari Syauqi belum menemukan juga pendonor yang cocok untuk istrinya, kini keadaan Zhia semakin lemah tak berdaya.
Syauqi dan anak buahnya sudah berusaha mencari tapi masih belum menemukannya.
Ada beberapa yang cocok, tapi sayangnya tidak bisa digunakan karena orang tersebut menderita penyakit menular.
Syauqi tak mau mengambil resiko, yang dia butuhkan adalah sumsum yang cocok tapi juga dari pemilik tubuh yang sehat.
Syauqi merasa marah, apa arti uangnya yang segunung kalau tidak mampu mengobati sakit istrinya.
Dony dan Nindya, serta Rendra dan Nayla yang baru saja sampai ikut terkejut melihat kondisi Zhia yang sudah tidak sadarkan diri.
Saat dokter bilang jika Zhia tidak bisa bertahan lama lagi, watak ganas Syauqi yang sekian lama meredup terpancing kembali seperti letusan lahar di gunung berapi. Dia langsung mengamuk dan hampir saja menghajar habis sang Dokter kalau saat itu Syauqi tidak di cegah Oleh Dony, Rendra dan Alarik.
Bahkan ketiga orang itu juga masih kewalahan mengendalikan Syauqi, Dony sendiri juga sempat terkena bogem mentah Syauqi tepat di pipinya.
"Untuk apa menyandang sebagai rumah sakit terbaik jika tak mampu menyembuhkan istriku!" teriak Syauqi dalam bahasa inggris.
Anggun, Kaysa dan Flora yang sedang menjaga tiga pangeran kecil itu tak sanggup lagi menahan air mata. Kejadian ini membuat semuanya tak bisa menjalani setiap detiknya dengan perasaan tenang.
"Ayah tenang, semua belum berakhir. Masih ada kesempatan. Mari kita berusaha mencari lagi," bujuk Alarik.
"Iya, Bro. Aku sudah menghubungi ke rumah sakit besar di berbagai negara," timpal Syauqi memegang bekas pukulan Syauqi yang sangat perih dan ngilu.
Dalam kondisi yang genting itu, tiba - tiba Syadev berlarian menuju ke arah mereka.
"Ayah, ada kabar baik. Di rumah sakit Jepang ada yang cocok sesuai yang dibutuhkan Bunda," teriak Syadev.
"Langsung saja hubungi dan suruh secepatnya ke sini melakukan pencangkokan. Dia meminta setengah dari hartaku akan aku beri," jawab Syauqi berubah cerah.
Syadev lalu menghubungi nomor seseorang yang tadi diberikan oleh pihak rumah sakit.
Mereka berdua mengobrol dengan bahasa Jepang, di sana hanya Syauqi dan Dony yang bisa memahaminya.
Tapi seketika wajah Syadev, Syauqi dan Dony berubah muram lagi.
**Terima kasih sudah membaca karya saya, jangan lupa Like ,Vote dan beri Kritik sarannya ya? Semoga kedepannya Karya saya bisa menjadi lebih baik lagi.
Huh... Jujur saja di episode ini Author sedih buat konflik yang seperti ini. bayangkan saja, biasanya keluarga Syauqi Malik selalu harmonis dan bahagia. Dan sekerang menjadi penuh kesedihan semenjak Bunda Zhia sakit.
Menurut kalian kenapa tadi Syauqi, Dony dan Syadev langsung berubah suram setelah menelpon calon pendonor?
Ayoooo... Siapa yang bisa menebak?
A. Pendonor Minta Seluruh harta Syauqi.
B. Pendonor Minta Menikah dengan Putri Zhia
C. Pendonor berubah pikiran dan menolak.
__ADS_1
Di jawab ya? 🤗🤗🤗🤗🤗**