CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Nakal Yang Keren


__ADS_3

Arkananta dan Sagara tidak menyangka jika Yudistira mengajak seorang wanita penghibur ke dalam kamar.


"Apa dia sudah gila?" tanya Sagara.


"Iya, aku kira dia ini anak yang alim," balas Arkananta.


"Kalau begitu sekarang kita ngapain di sini?" tanya Sagara melihat sekeliling.


"Astagfirulloh, kalau sampai orang tua kita tahu jika kita pergi ke tempat seperti ini mampuslah kita," ujar Arkananta.


Kemudian datang dua orang lelaki setengah baya yang tidak asing di mata Sagara.


"Oh tidak, itu adalah rekan bisnis papa. Jika dia melihatku di sini tentu saja akan laporan pada papa," pekik Sagara panik.


"Ayo kita lari!" jawab Arkananta bergegas pergi.


"Bagaimana dengan Yudis?" sergah Sagara cemas.


"Kita kasih tahu lewat ponsel saja, lagian dia juga berada di kamar," jawab Arkananta.


Sagara dan Yudistira masuk ke dalam menelusup ke kerumunan orang-orwng yang tengah disko.


"Ah... Aku benci ini!" teriak Sagara yang suka ketenangan.


"Kita nikmati saja," balas Arka yang kebalikan dari Sagara.


Di sisi lain Yudistira sedang di dalam kamar bersama seorang perempuan yang tampak masih muda.


"Siapa namamu dan berapa umurmu?" tanya Yudis.


"Pinky, usia 18 tahun," jawab Pinky tampak malu-malu.


"Masih muda, kenapa bekerja seperti ini? Lagipula pekerjaan yang lain masih banyak," sergah Yudis.


"Aku terpaksa, untuk biaya sekolah adikku di kampung dan ibuku yang sakit-sakitan. Jika aku bekerja yang hanya memiliki ijazah SMP maka tidak akan cukup untuk menghidupi mereka," jawab Pinky tak berdaya.


"Sudah lama kerja di sini?" tanya Yudis berbasa-basi.


"Tidak, ini hari pertama aku bekerja," jawab Pinky memerah wajahnya.


Yudistira merasa kasihan juga, sebab melihat dari gelagat gadis yang sebaya dengannya itu tampak begitu polos dan lugu.

__ADS_1


"Aku memanggilmu bukan karena ingin maksiat, aku hanya ingin menggali informasi mengenai Roji. Apa kamu mengenalnya? Jika kamu berhasil mengetahui informasi tentangnya maka aku akan memberimu uang. Dengan begitu kamu kembali ke kampungmu dan membuka usaha kecil-kecilan sambil menjaga ibumu. Dari pada kamu di sini sangat berbahaya dan merusak nama baik sekaligus masa depanmu," kata Yudistira serius.


"Roji? Walaupun aku anak baru tapi aku tahu dia. Karena beberapa teman seprofesiku sering membicarakan dia. Kemarin aku dengar dari seniorku, jika dia sering di ajak ke rumah yang sangat indah milik pribadinya dan katanya di sana dijadikan tempat judi untuk orang-orang kelas atas," jawab Pinky.


Yudistira tersenyum, filling dia mengenai gadis ini memang benar.


"Dia adalah pelaku kriminal yang sulit di lacak, dan anak buahnya sering menjual obat terlarang ke pelajar yang bahkan masih SMP," ujar Yudistira.


"Kamu ini sebenarnya siapa?" tanya Pinky takut. Gadis itu mengira jika Yudistira seorang polisi.


"Tak perlu cemas, aku tidak akan membahayakan kamu. Baiklah, carikan aku alamatnya. Setelah ini aku akan membantumu untuk pulang ke kampung dan berkumpul lagi dengan orang tuamu," jawab Yudistira serius.


Pinky terpana melihat ketampanan sekaligus sikap Yudistira yang sangat hangat. Akan tetapi gadis itu sadar jika dirinya hanya perempuan kampung yang hina.


"Kamu di sini dulu, aku akan menanyakan pada kakak seniorku. Tapi untuk mengeluarkan aku di sini kamu harus menebus 50 juta, apa itu tidak berat bagimu?" tanya Pinky harap cemas.


"Tidak masalah, kamu segeralah bertanya mengenai alamat Roji!" jawab Yudistira santai.


Entah kenapa Yudistira merasa kasihan saja melihat seorang gadis yang sebaya dengannya terjebak di tempat seperti ini karena uang. Dia benar-benar tulus ingin membantu dan tidak ada maksud lain.


"Coba aku cek dulu uangku," batin Yudistira mengambil ponselnya.


Pertama buka ponsel, muncul beberapa pesan dari sepupunya.


"Ya ampun, kenapa aku begitu percaya diri untuk menolong. Aku lupa jika kemarin uangku di ambil Sagara untuk membeli beberapa alat eksperimennya," batin Yudistira gelisah.


Yudistira langsung menelpon sepupunya.


"Arka, aku pinjam uang 50 juta. Transfer sekarang juga," pinta Yudistira.


"Gila, apa wanita penghibur itu kelas kakap sampai kamu tak mampu membayarnya?" pekik Arkananta dari seberang.


"Jangan bicara sembarangan, cepat transfer sekarang. Aku tunggu!" sergah Yudistira kesal karena dia yakin sedang disalah pahami oleh kedua saudaranya.


Setelah setengah jam menunggu, Pinky masuk. Yudistira lega sebab uangnya juga sudah di transfer. Sungguh memalukan jika sampai ternyata uangnya kurang karena tadi sudah terlanjur janji.


"Ini alamatnya," ucap Pinky


"Baiklah, sekarang juga kita temui bos kamu," ajak Yudistira.


"Apa kamu yakin?" tanya Pinky ragu takut.

__ADS_1


"Memangnya kamu tidak mau lepas dari dunia hitam ini?" tanya Yudistira memastikan.


"Aku ingin, tapi setelah keluar dari sini aku bingung harus bagaimana untuk mendapatkan penghasilan yang bisa mencukupi kebutuhan keluargaku," jawab Pinky.


"Sudah aku bilang, aku akan memberimu modal. Dengan uang itu kamu bisa membuat usaha warung sembako di warung pasti akan laris jika harganya miring," saran Yudistira.


"Terima kasih banyak, bagaimana aku bisa membalas hutang budi ini?" tanya Pinky merasa sangat bersyukur sampai hampir ingin menangis.


"Aku tidak akan meminta kamu untuk membalasnya, Karena aku iklas melakukan ini karena kita sesama mahluk Alloh. Aku berharap dengan begini kamu bisa terhindar dari kemaksiatan," jawab Yudistira santai.


Akhirnya Yudistira menemani Pinky untuk menemui bosnya, dengan membayar denda 50 juta akhirnya Pinky bisa bebas.


"Aku akan mengantar kamu naik travel, dan berikan rekening kamu, akan aku transfer uangnya," pinta Yudistira.


Pinky yang memang menganggap Yudistira sebagai dewa penolong hanya bisa mematuhi setiap perkataannya.


"Kalau boleh tahu siapa namamu? Nama asliku Jamila," ucap gadis yang bernama asli Jamila.


"Aku Yudistira," jawab Yudis tersenyum ramah.


Jamila bisa melihat jika Yudistira memang seseorang yang berhati baik dan tidak memiliki niat tersembunyi.


"Aku tidak tahu lagi harus mengucapkan apa untuk berterima kasih, tapi bantuanmu ini sangat berguna untuk keluargaku. Kelak jika Alloh mengizinkan aku ingin membalas budimu, jika di dunia ini aku tidak sanggup maka semoga Alloh mengganti kemurahan hatimu ini berlipat-lipat," ucap Jamila meneteskan air matanya sebab saking bahagianya.


"Ayo buruan, sebelum travel terakhir berangkat," ajak Yudistira.


Dengan sepeda motor Yudistira mengantarkan Jamila untuk menaiki travel.


"Pa, Ma. Aku tidak ada maksud untuk melanggar janji. Tapi aku yakin Alloh tahu jika aku berniat menolong perempuan ini, bukan bermaksud untuk bermaksiat," batin Yudistira.


Setelah itu Yudistira meminta kedua saudaranya untuk menemuinya di sebuah cafe untuk mengobrol.


"Yudis, Kamu masih perjaka tidak?" Goda Arka.


"Konyol, nih aku sudah dapat alamat Roji dan markasnya," jawab Yudistira.


"Hey, sebaiknya kamu jelaskan kenapa tadi sampai meminjam uang Arka 50 terlebih dahulu!" sergah Sagara tampak curiga.


Karena tidak ingin disangka buruk, Yudistira menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Oh, kalau begitu tak usah kamu kembalikan uang itu. Aku juga ikhlas menolong. Bagi kita uang segitu tak seberapa, tapi untuk orang yang benar-benar membutuhkan pasti sangat berarti," balas Arka.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca karya saya, jangan lupa Like dan komen ya. Baca juga Novel My Hot Husband, tapi bijaklah dalam memilih bacaan. Karena bukan untuk yang di bawah umur. Terima kasih


🥰


__ADS_2