CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 56


__ADS_3

Malam semakin larut membuat setiap orang yang tertidur semakin terlelap. Suara kodok yang saling bersahutan juga ikut mengisi kesunyian.


Kaysa masih terjaga, bahkan dia sama sekali tidak merasa ngantuk. Rasa tegang dan malu memenuhi seluruh hati dan otaknya saat ini.


Bagaimana tidak, dia sudah menikah dan baru kali ini tidur satu kamar. Apalagi saat suaminya mencopot kemejanya, Kaysa semakin salah tingkah.


"Apa yang Kak Al lakukan?" tanya Kaysa panik.


"Kamu bisa melihat dengan jelas, aku sedang melepas kemejaku," jawab Alarik menggoda.


Kaysa semakin gugup, meskipun selama ini dia suka mencium Alarik tapi untuk melakukan hubungan badan dia belum siap dan masih takut.


"Kak, aku kan masih kuliah. Kata Ayah kita jangan punya anak dulu," ucap Kaysa terbata.


"Memangnya apa yang akan aku lakukan padamu? Aku melepas baju karena merasa gerah saja," jawab Alarik santai.


"Aduh, apa yang sudah aku pikirkan. Malu sekali rasanya," batin Kaysa.


Alarik tersenyum melihat istrinya yang seperti ini, entah kenapa setelah menikah Kaysa memang sudah seperti wanita yang memiliki rasa malu.


"Aku rindu Kaysa yang agresif dan nakal, kenapa sekarang jadi malu-malu begini?" bisik Alarik sambil memeluk Kaysa.


Kaysa bisa merasakan hangatnya tubuh suaminya yang bertelanjang dada.


"Aku tahu kamu masih takut, dan aku akan sabar menunggu sampai kamu siap," bisik Alarik mulai melepas jilbab istrinya. Kemudian menggerai rambut indah Kaysa.


Kecantikan Kaysa memang bisa membius orang, matanya yang memikat juga senyum centilnya yang menggoda membuat Alarik seperti tersihir.


Alarik tidak tahan mencium bibir itu dengan gemas, tangannya juga memeluk istrinya dengan erat.


Mereka terus berciuman, sampai akhirnya Kaysa mendorong tubuh suaminya dan menindih dari atas.


"Ini baru namanya Kaysa," kata Alarik senang.


Kaysa mulai mencium Alarik dengan penuh gairah, Alarik sendiri juga tidak mau kalah terus menyerang.


Mereka berdua bergumul dan membalas ciuman yang penuh bara cinta. Bahkan keduanya saling bergelut untuk mendapatkan posisi di atas.


Alarik sebenarnya bisa saja memberikan yang lebih untuk Kaysa, tapi pemuda itu ingat jika rasanya tidak sopan melakukan hal itu di rumah neneknya yang baru saja meninggal.


"Ayo tidur, besok pagi kita harus bersiap-siap kembali ke rumah," kata Alarik lembut.


"Tapi mengantar Syadev di bandara dulu ya?" pinta Kaysa manja.


"Tentu saja," jawab Alarik sambil mencium kening Alarik.


"Terima kasih Kak Al," ucap Kaysa bahagia.


"Kita ini sudah suami istri, jangan panggil aku Kak Al lagi," protes Alarik.


"Terus apa?" tanya Kaysa tertawa lucu.


"Suami," jawab Alarik mesra.


"Baiklah, suamiku," ucap Kaysa langsung menutup diri di balik selimut.


Alarik langsung menyusul dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"I Love you," bisik Alarik.


Tapi Kaysa tidak menjawab, Alarik hanya tersenyum sebab istrinya bisa dengan mudahnya terlelap.


"Ahh... rasanya sulit sekali menahan gelora ini. Mana bisa aku menahan sampai dia lulus kuliah jika setiap hari ada makanan yang enak di depan mata."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Syadev bangun sebelum adzan subuh berkumandang, dia merasa sangat kedinginan. Syadev semakin erat memeluk tubuh istrinya agar keduanya merasa hangat.


Berat juga rasa hatinya berpisah dengan istrinya, tapi ada banyak hal yang harus dia persiapkan sebelum Anggun menyusul ke Amerika.


Syadev membuka ponselnya dengan posisi tiduran, karena lengannya sejak semalam dijadikan bantal oleh istrinya.

__ADS_1


Sebenarnya Syadev merasa tangannya pegal, tapi dia juga tidak tega membangunkan istrinya yang masih tertidur.


"Sebaiknya aku mencoba menghubungi temanku di sana."


Syadev meraih ponselnya yang berada di atas kepalanya, semalam sengaja dia matikan karena tahu pasti akan diteror oleh saudara kembarnya.


Setelah ponsel miliknya dihidupkan, beberapa detik kemudian muncul tulisan panggilan tak terjawab dari Kaysa yang banyak.


Syadev hanya tersenyum, dia tahu pasti semalam saudaranya itu mencarinya.


Kaysa


Syadev bodoh! Kenapa kamu malah menginap di Darren? Aku bunuh kamu besok😈


Syadev semakin tak tahan untuk tertawa melihat pesan yang barusan di buka.


"Gini aja sudah marah, bagaimana kalau tahu aku sudah menikah? Pasti lebih heboh," batin Syadev tersenyum geli.


Syadev segera kembali ke niatan semula, yaitu menghubungi temannya di Amerika.


Syadev melihat-lihat rumah lewat gambar yang di kirim, dia lebih tertarik dengan rumah dengan desain minimalis dan unik.


Syadev tidak berminat pada rumah yang besar karena kasihan pada Anggun jika mengurusnya nanti. Lagi pula dia juga masih butuh mobil dan biaya pendaftaran untuk kuliah Anggun.


"Aku harus menjadi pekerjaan secepatnya, bagaimana mungkin aku menghidupi anak orang dengan meminta orang tuaku?"


Syadev ingin hidup mandiri dengan istrinya, tanpa perlu menyewa pembantu dia yakin pasti dia dan Anggun bisa hidup tanpa kesulitan.


Meskipun Syadev tidak memiliki teman akrab, tapi dia di sana punya beberapa kenalan orang hebat.


"Sesampainya di sana aku tinggal melihat rumah itu, semoga saja cocok."


Syadev mengecek uangnya di rekening, dia rasa masih cukup.


Tiba-tiba Anggun terbangun, Syadev langsung berpura-pura masih tertidur.


Anggun menatap wajah tampan suaminya yang masih terpejam, gadis itu bersyukur jika apa yang semalam dirasakannya bukanlah mimpi.


Tanpa sadar Anggun mulai mencium kening, hidung dan bibir Syadev dengan lembut. Rasanya Anggun tidak bisa berhenti mencium suaminya.


"Aku ini milikmu, jadi kamu bisa melakukan apapun padaku. Ayo cium aku lagi," goda Syadev sambil mendekap tubuh Anggun yang berselimut.


"Sudah, nanti kalau pemilik kios ini naik kita bisa malu," kata Anggun yang masih bersembunyi.


"Kenapa? Mereka juga pernah muda. Lagi pula kita ini pengantin baru," sergah Syadev sambil menarik selimutnya.


Saat Syadev berniat ingin mencium Anggun lagi, tiba-tiba pemilik kios beneran naik ke atas.


"Kalian sudah bangun?" tanya Bapak tua dengan senyuman ramah.


Syadev dan Anggun hanya meringis saja, apalagi Anggun yang rambutnya masih acak-acakan segera mengenakan jilbabnya.


"Sudah hampir subuh, hujannya juga sudah reda. Mari kita pulang," ajak Bapak tua.


"Iya, Pak," jawab Syadev bergegas bangun.


Sebelum Syadev berpamitan, dia memberikan sejumlah uang dua juta.


"Harga mie ayam tidak sampai segini, Nak. Kalian semalam menginap di sini juga tidak perlu membayar," kata Pemilik kios heran.


"Bahkan uang ini tidak cukup untuk membalas kebaikan Bapak dan Ibu, aku hanya berniat memberi sedikit Riski saja," ucap Syadev.


"Terima kasih banyak ya, Nak. Semoga kalian selalu bahagia, panjang umur dan murah riskinya," timpal Ibu tua itu sampai menangis.


"Amin, semoga keluarga Ibu dan Bapak juga iya. Mari Bapak sama ibu saya antar pulang sekalian?" tawar Syadev.


"Tidak, Nak. Bapak sudah bawa motor tua," tolak Bapak tua itu dengan lembut.


Setelah itu Syadev menggandeng tangan istrinya dan mengajak ke mobil.


"Mau aku antarkan ke mana?" tanya Syadev.

__ADS_1


"Ke rumah Anggun saja," jawab Anggun. Karena memang barang-barangnya masih tertinggal di sana.


"Kita mampir ke masjid terdekat dulu ya?" saran Syadev.


"Iya," jawab Anggun patuh.


Tak jauh dari sana ada sebuah musholla kecil, mereka berdua masih sempat ikut berjamaah sholat subuh di sana.


Selesai Sholat, Anggun terpana dengan ketampanan suaminya. Wajahnya yang cerah juga postur tubuh yang indah.


Syadev sendiri juga mengagumi kecantikan Anggun yang alami tanpa make up itu. Syadev segera menarik tangan istrinya ke dalam mobil.


"Masih ada orang banyak," ucap Angin malu.


"Tenang, tidak akan terlihat dari luar mobil," jawab Syadev santai.


Syadev langsung mencium bibir Anggun dan memeluk tubuhnya dengan erat seolah tidak ingin terpisah.


"Nanti aku akan berangkat ke Amerika, kamu jaga diri baik-baik ya? Aku tidak bawa uang tunai, nanti aku transfer lewat rekening Zahra," kata Syadev lembut.


Ahh, Anggun merasa sakit sekali. Gadis itu takut jika mereka tidak bisa bertemu lagi. Tanpa terasa air matanya berlinang.


"Jangan menangis! Perpisahan kita hanya sementara saja. Setelah itu kita akan tinggal bersama," bujuk Syadev manis.


Anggun memeluk suaminya dengan erat, dan mencium bibir Syadev dengan mesra.


Syadev tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung memeras habis lidah Anggun sampai gadis itu lemas.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Saat Kaysa terbangun, dia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari bagian tubuhnya.


"Apa aku mens?" batin Kaysa yang masih terpejam.


Sebelum semakin banyak, Kaysa segera bangun. Dia merasa beruntung karena suaminya belum bangun.


Kaysa keluar dari kamar pelan-pelan dan masuk ke kamar kakak sepupunya.


Di rumah neneknya ini tidak ada kamar mandi dalam kamar, jadi adanya kamar mandi umum sekeluarga.


Kaysa langsung mengambil pembalut dan baju ganti. Kaysa mandi sekalian biar segar. Saat keluar dari kamar mandi, keluarganya sudah mengantri di depan pintu untuk wudhu.


Rambut Kaysa yang terbungkus handuk menandakan jika dia habis keramas, semua orang menjadi memikirkan hal yang sama.


"Astaga, apa mereka mengira semalam aku..."


"Ah, Bunda. Perutku nyeri datang bulan," rengek Kaysa.


Semuanya tertawa, karena sudah salah paham.


"Sekarang istirahat dulu ya? Nanti Bibi buatkan jamu," sela Tia.


"Iya, Bibimu ini pandai membuat jamu pereda nyeri," jawab Zhia.


Kaysa langsung masuk ke kamar dan malah tertidur lagi.


Beberapa jam kemudian Kaysa merasa bibirnya ada yang menyentuh lembut, saat dia terbangun ternyata itu adalah perbuatan suaminya.


"Sudah hampir jam delapan, ayo sarapan dan berkemas-kemas. Nanti jam dua mengantar Syadev di bandara," kata Alarik manis.


"Iya," jawab Kaysa.


Alarik dengan sabar membantu istrinya utnuk bangun.


"Aku ini sehat," kata Kaysa.


"Katanya tadi sakit nyeri?" sergah Alarik.


"Kalau sakit beneran mana mungkin aku bisa tidur. Tari aku hanya berpura-pura agar semua orang tahu jika aku sedang datang bulan," jawab Kaysa enteng.


Takkk...

__ADS_1


Alarik menjitak kepala istrinya karena merasa kesal, sebab gadis cilik itu sudah membuat seisi rumah khawatir. Bahkan sampai Bibinya pergi ke pasar demi membeli bahan membuat jamu.


Terima kasih semuanya, jangan lupa beri dukungan terus dengan cara Like dan Vote yaaπŸ™πŸ™ Baca juga Novel Scorpio, lidahnya tidak kalah seru dan bikin greget yaaπŸ€—πŸ€—πŸ€— Bagi yang sudah baca SCORPIO komen di bawah dong😘 Biar Author tambah bersemangatπŸ€—


__ADS_2