CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Extra Part 6. Kearifan Keluarga Syadeva


__ADS_3

Keluarga Syadev tergolong menjadi keluarga jenius, di usia yang masih kecil Yudistira sudah menjadi bintang kecil yang sering tampil sebagai musisi dan juga membintangi banyak iklan.


Sedangkan Sagara mulai tertarik membuat alat - alat canggih yang di luar nalar otak biasa.


Syadev tidak pernah menekan kedua putranya untuk menjadi pengusaha. Yang terpenting baginya putranya memiliki hobi yang positif dan tidak merusak masa depan. Akan tetapi Syadev ketat soal keagamaan, jadi bisa di bilang jika Yudistira dan Sagara adalah putra yang Sholeh dan keren.


Malam ini seperti biasanya, ketika makan malam tidak ada satupun yang berbicara. Mereka fokus makan, setelah selesai mereka duduk di ruang santai untuk mengobrol biar tetap erat kasih sayang anatara keluarga. Di sisi lain Syadev juga ingin memantau perkembangan anak.


"Yudistira, nilai kamu turun. Bermain musik dan membintangi iklan itu boleh, tapi jangan sampai mengganggu belajar pelajaran sekolah. Mengenai tawaran untuk bermain film di tolak dulu. Kamu masih terlalu kecil, kalau sudah bisa bertanggung jawab membagi waktu papa izinkan," tutur Syadev tegas tapi bijaksana.


"Iya, papa," jawab Yudistira patuh.


Kini giliran sang adik yang akan segera mendapat tuturan, biarpun tidak pernah kasar tapi karena Syadev yang jarang biasa membuat anak - anak menjadi segan.


"Kartu kredit kamu bulan ini tagihannya membengkak, papa hanya ingin tahu buat beli apa? Padahal papa sudah memberi jatah uang tunai, sedangkan kartu itu digunakan jika saat - saat mendesak saja?" tanya Syadev menatap ke arah putra bungsunya.


"Buat beli alat - alat, Pa. Aku ingin sekali membuat robot sendiri yang bisa aku ajak berbicara," jawab Sagara menunduk.


Syadev terkejut juga, sebab putranya itu masih kecil tapi sudah berpikiran sejauh ini. Sedangkan orang dewasa saja belum tentu bisa membuatnya. Akan tetapi demi mengembangkan bakat Sagara, Syadev pun mendukungnya.


"Baiklah, tapi lain kali kalau mau membeli apa - apa bilang dulu pada papa ya?" jawab Syadev memahami.


"Dek, kamu ini ini kurang kerjaan sekali. Kalau mau beli robot banyak yang jual kenapa mesti buat sendiri?" tanya Yudistira penasaran.


"Kenapa? Bagiku ini lebih menyenangkan di banding main musik yang tidak ada faedahnya sama sekali. Mending sholawatan saja sana malah dapat pahala," balas Sagara tidak mau kalah.


"Kamu ini berani sama kakak?" tantang Yudistira kesal.

__ADS_1


"Kakak apaan… Kita ini hanya terpaut beberapa menit saja jangan berlagak sok dewasa," balas Sagara.


Syadev ingin tertawa melihat kedua putranya yang hampir mirip dengan dirinya dan dan Kaysa saat masa kecil dulu.


"Kalian ini tidak boleh berantem, setiap orang memiliki hobi dan kesukaan sendiri. Jadi tidak boleh saling menghujat satu sama lain," tutur Anggun yang muncul dengan membawa segelas jus jeruk dan pisang goreng.


Melihat kedatangan sang mama kedua putra kembar tersebut berhenti berkelahi dan berhamburan mengambil gelas yang terlihat begitu segar.


"Pokonya selagi kalian tidak melalaikan kewajiban sholat dan sekolah papa dan mama akan mendukung hobi kalian? Dan satu lagi, sebagai kakak beradik harus saling menghormati dan menyayangi. Jangan bertengkar seperti tikus dan kucing! Itu tidak baik," tutur Anggun lagi.


"Iya, ma," jawab mereka berdua bersamaan.


"Setelah ini kalian tidur ya biar besok bisa bangun pagi," ucap Syadev.


"Iya, pa," jawab mereka serentak.


"Kenapa belum tidur? Bukankah besok libur kerja?" tanya Anggun lembut.


"Aku diberi tugas oleh ayah, aku di suruh mendesain sekolahan sekaligus asrama yang spektakuler," jawab Syadev lembut.


"Bukannya Ayah sudah membangun banyak sekolah, pondok pesantren dan juga panti asuhan?" tanya Anggun penasaran.


"Kali ini berbeda, sekolah modern tapi ada unsur keagamaan. Dan itu sekolah khusus untuk murid - murid yang cerdas, Ayah bahkan sudah menghubungi kenalannya untuk mencarikan guru yang istimewa. Jadi hanya anak - anak yang memiliki keistimewaan juga yang diterima. Tidak peduli kaya ataupun miskin, di sana nanti status orang tua tidak dipedulikan," jawab Syadev.


"Wah bagus sekali, dengan begini anak tidak mampu tapi berbakat juga memiliki kesempatan untuk sekolah dan mengejar cita - cita," balas Anggun ikutan senang.


"Kata Ayah sih kalau sekolahnya sudah selesai di bangun, Ayah juga berniat membuat universitas yang hebat. Bertujuan mencari bibit baru yang unggul untuk perusahaan. Jadi lulusan sekolah itu sudah akan di sediakan lapangan kerja," ujar Syadev lagi.

__ADS_1


"Ayah memang keren," puji Anggun lagi antusias.


"Tapi kamu tahu tidak niat Ayah yang sesungguhnya?" gantian Syadev yang bertanya dengan senyuman manis.


"Apa?" Anggun balik bertanya karena memang tidak tahu.


"Niat Ayah yang sesungguhnya membuat sekolah tersebut untuk generasinya agar bisa berkembang baik tanpa perlu sekolah ke luar negeri. Jadi pendidikan terjamin dan ayah juga bisa setiap saat bertemu dengan cucu - cucunya. Ayah membuat sekolah serta asramanya di bukit belakang villanya loh, dan kalau sudah masuk sekolah sana jangan harap bisa keluar bebas. Semua fasilitas akan di sediakan tapi orang tua hanya bisa menengok sebulan sekali," jawab Syadev.


"Kenapa tidak di bebaskan keluar? Jadi seperti di pondok pesantren dong," ujar Anggun.


"Peraturannya hampir begitu, jadi bagian timur asrama putri, bagian tengah sekolah SMP dan SMA sedangakan bagian barat Asrama putra. Kalau yang ini aku yakin pasti ide Bunda," terang Syadev.


"Terus Universitasnya di mana?" tanya Anggun lagi.


"Kalau soal itu aku belum tahu, kata Ayah fokus yang ini dulu. Dan Ayah mengingatkan agar nanti keamanan ketat, biar anak - anak tidak bisa menyelinap keluar. Ayah takut apabila nanti cucu - cucunya yang cerdas diam - diam keluar dari area asrama," ujar Syadev.


"Apa kamu yakin? Putra kita di tambah Yudistira kalau sudah menjadi satu tidak bisa di kontrol lagi. Mereka bertiga selalu saja melakukan hal - hal konyol yang kadang bisa membahayakan nyawa mereka," ucap Anggun cemas.


"Maka dari itu, ayah sengaja mengumpulkan anak - anak cerdas agar cucunya itu semakin tinggi semangat belajarnya untuk menjadi yang terbaik. Jadi tidak ada pikiran petualangan yang membahayakan nyawa, kamu tenang saja. Aku akan membuat sistem keamanan yang sulit di tembus," jawab Syadev.


"Aku percaya suami tercintaku ini pasti bisa," kata Anggun memberi semangat.


"Iya, jujur aku juga senang dengan ide ini. Sekarang kamu tidurlah terlebih dahulu, kalau aku sudah mengantuk pasti menyusul," pinta Syadev.


Syadev langsung mencium bibir istrinya cukup lama untuk perpisahan sejenak, setelah itu Anggun menuju kamar dan tidur.


Syadev hanya tersenyum sambil membayangkan betapa serunya kelak putra - putranya jika sekolah di situ. Syadev nanti juga ingin membuatkan berbagai tempat khusus untuk yang suka seni, olah raga, dan juga membuat penemuan - penemuan hasil anak genius.

__ADS_1


__ADS_2